Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Pengakuan di Dalam Mobil
Sirene belum berhenti ketika Reuben masuk ke dalam sedan hitam itu.
Pintu tertutup, memisahkan mereka dari hujan, lampu polisi, dan suara Kirana yang masih berusaha menjelaskan sesuatu kepada petugas di luar. Di dalam mobil, udara terasa pengap. Aroma parfum Jessica bercampur bau lembap dari jas Reuben yang basah.
Jessica duduk di kursi belakang, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Wajahnya tampak pucat di bawah cahaya lampu halaman, tetapi matanya tidak lagi selembut saat ia berdiri di samping Reuben tadi.
"Kenapa kamu minta aku masuk?" tanya Reuben. Suaranya rendah dan tegang. "Polisi sudah di luar."
"Karena kalau kamu keluar dengan wajah seperti itu, semua orang akan tahu kamu panik."
Reuben menoleh cepat. "Jessica."
"Dengarkan aku." Jessica mengangkat wajah. "Kamu tidak punya banyak waktu."
Di luar, seorang petugas bertanya kepada penjaga rumah. Nama Alexander Sim terdengar samar, lalu nama Kirana. Setiap kali nama itu muncul, rahang Reuben bergerak seperti menahan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Reuben bertanya. "Kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa."
Jessica menatap tetesan hujan yang mengalir di kaca. Lama sekali ia diam. Lalu ia tersenyum, kecil, hampir malas.
"Aku memang tahu."
Reuben membeku.
Jessica memutar cincin tipis di jarinya. Gerakannya pelan, terlalu tenang untuk malam ketika seorang kepala keluarga baru saja ditemukan tewas.
"Pak Alexander seharusnya tidak ikut campur," katanya. "Dia tahu terlalu banyak tentang rencana pemindahan saham itu. Dia juga tahu aku pernah bicara dengan orang kantor akuntan."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, kalau dia tetap hidup, semuanya akan hancur." Jessica menatap Reuben sekarang. "Termasuk kamu."
Wajah Reuben kehilangan warna. "Jangan bicara sembarangan."
"Aku tidak sedang sembarangan."
Suara hujan semakin deras, tetapi di dalam mobil, setiap kata Jessica terdengar terlalu jelas.
Reuben mencondongkan tubuh. "Jessica, katakan padaku kamu tidak melakukan apa yang kupikirkan."
Jessica tertawa pendek. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Reuben merinding.
"Kamu selalu seperti ini. Ingin menang, tapi takut melihat darah. Ingin keluar dari bayang-bayang keluarga besar Sim, tapi tidak berani mengambil satu langkah kotor pun."
"Kamu membunuh Pak Alexander?"
Pertanyaan itu keluar seperti napas yang patah.
Jessica tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka tas kecilnya, mengambil sepasang sarung tangan tipis yang sudah dibungkus tisu. Pada bagian ujungnya ada noda gelap, tertutup setengah oleh kain.
Reuben mundur sampai punggungnya menabrak sandaran kursi.
"Kamu gila."
"Tidak." Jessica memasukkan kembali bungkusan itu. "Aku hanya lebih cepat daripada mereka."
"Dia keluarga kita."
"Keluargamu," ralat Jessica. "Bukan keluargaku."
Reuben menatapnya seolah baru pertama kali mengenal perempuan itu. Perempuan yang beberapa bulan terakhir menempel di lingkarannya, mendengar keluhannya tentang Kirana, tentang tekanan keluarga, tentang dirinya yang selalu dianggap cabang kecil tanpa pengaruh.
Perempuan yang selalu tahu kapan harus terlihat rapuh.
Dan malam ini, ia duduk di depannya dengan mata dingin.
"Kenapa Kirana?" tanya Reuben.
Kali ini senyum Jessica hilang.
"Karena dia selalu punya semua yang seharusnya menjadi milikku."
"Apa?"
"Dia punya nama baik. Punya kamu. Punya kesempatan masuk ke keluarga Sim lewat pernikahan. Semua orang melihatnya seperti perempuan bersih yang harus dilindungi." Jessica mendekat setengah badan. "Padahal dia bukan siapa-siapa. Anak angkat keluarga Li yang hampir bangkrut. Apa hebatnya dia?"
Reuben menelan ludah. "Jadi kamu menjebaknya?"
"Aku hanya memakai kesempatan."
"Kamu memukulnya?"
"Cukup untuk membuatnya pingsan." Jessica mengatakannya seperti membahas noda lipstik. "Pesan dari ponselnya sudah kuhapus. Ponselnya kulempar ke saluran air dekat gudang. Batu yang kupakai ada sidik jarinya karena tangannya kutekan ke sana saat dia tidak sadar."
Reuben memejamkan mata. Napasnya berat.
"Polisi akan memeriksa."
"Mereka akan menemukan perempuan dengan gaun pengantin berlumur darah, lari dari lokasi kejadian, berteriak tidak bersalah." Jessica memiringkan kepala. "Kira-kira siapa yang akan mereka percaya?"
Di luar, suara Kirana terdengar lebih keras.
"Aku tidak melakukannya! Tanya Jessica, dia tahu!"
Reuben membuka mata.
Kata-kata itu menembus kaca mobil seperti tangan yang menarik dadanya. Ia melihat Kirana berdiri di bawah payung polisi yang miring, bahunya menggigil, rambutnya menempel di pipi. Gaun pengantinnya sudah kotor oleh lumpur di bagian bawah. Salah satu petugas memegang lengannya, tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa mendekat ke rumah.
Kirana menoleh ke arah mobil.
Mata mereka bertemu.
Reuben hampir membuka pintu.
Jessica menangkap pergelangan tangannya.
"Kalau kamu keluar dan membelanya, kamu ikut tenggelam."
"Dia tidak bersalah."
"Dan siapa yang akan percaya kamu kalau kamu tiba-tiba bilang begitu?" Jessica bertanya pelan. "Kamu tadi berdiri di depan semua orang. Kamu melihat darah di bajunya. Kamu mendengar dia menyebut namaku. Kalau sekarang kamu membelanya, polisi akan bertanya kenapa. Keluargamu akan bertanya kenapa. Mereka akan menggali hubungan kita, Reuben."
Wajah Reuben menegang.
Jessica melihat celah itu. Ia menekan lebih dalam.
"Mereka akan tahu kamu sudah lama dekat denganku sebelum pernikahanmu. Mereka akan tahu calon pengantin yang katanya setia itu sebenarnya sudah ragu sejak awal. Kamu pikir keluarga Sim akan membiarkan skandal seperti itu?"
"Diam."
"Kirana masuk penjara atau kamu hancur bersamanya. Pilih."
Reuben menarik tangannya, tetapi tidak membuka pintu.
Di luar, seorang petugas mulai membacakan sesuatu kepada Kirana. Kirana menggeleng berkali-kali. Bibirnya bergerak cepat, memohon, menjelaskan, menyebut nama Reuben lagi.
Reuben menunduk.
"Dia pernah menolongku," katanya tiba-tiba.
Jessica menatapnya tanpa berkedip.
"Saat semua orang di keluarga bilang aku cuma anak cabang yang tidak berguna, dia yang bilang aku bisa membuktikan diri." Reuben menekan kedua tangan ke wajahnya. "Malam ini seharusnya aku menikah dengannya."
"Dan setelah menikah?" Jessica bertanya. "Kamu akan tetap menjadi laki-laki yang diselamatkan oleh perempuan yang lebih bersih darimu. Selamanya kamu akan merasa berutang. Selamanya dia akan menjadi saksi bahwa kamu pernah lemah."
Reuben menurunkan tangan. "Berhenti memutar semuanya."
"Aku hanya mengatakan apa yang selama ini kamu takut katakan." Suara Jessica menjadi sangat pelan. "Kamu tidak benar-benar ingin menikah dengan perempuan yang membuatmu merasa kecil."
Reuben menatapnya tajam, tetapi kali ini ia tidak membantah secepat tadi.
Di luar, Kirana masih menunggu.
Tunggu itu yang paling menyiksa, karena ia percaya Reuben akan keluar membawa kebenaran.
"Aku tidak bisa," katanya nyaris tanpa suara.
Jessica menghela napas seperti orang yang akhirnya mendengar jawaban benar.
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Itu bagian paling mudah."
"Kau mau aku diam saat dia dibawa?"
"Ya."
"Kirana akan hancur."
"Dia sudah hancur sejak berlari ke sini dengan gaun itu."
Reuben menatap Jessica dengan marah, tetapi kemarahannya tidak punya tempat untuk berdiri. Di luar mobil, garis hidup Kirana sedang diputus satu per satu. Di dalam mobil, Jessica menggenggam rahasia yang bisa menyeretnya juga.
"Kamu monster," bisik Reuben.
Jessica mendekat, suaranya turun menjadi lembut.
"Mungkin. Tapi aku monster yang berdiri di pihakmu."
Reuben tertawa hampa. "Pihakku?"
"Kamu ingin hidup, kan?" Jessica menatapnya tanpa berkedip. "Kamu ingin tetap punya tempat di keluarga Sim. Kamu ingin pernikahan itu batal tanpa kamu terlihat sebagai pengkhianat. Malam ini memberimu semuanya."
Kata-kata itu terlalu kejam.
Dan terlalu tepat.
Reuben memukul sandaran kursi di depannya. Suaranya tumpul, tertelan kabin mobil.
"Aku tidak pernah ingin dia masuk penjara."
"Kalau begitu berdoalah hukumannya ringan."
Reuben menoleh tajam.
Jessica kembali memasang wajah pucat. Di luar, salah satu petugas berjalan menuju mobil mereka. Dalam sekejap, matanya basah, bahunya gemetar, bibirnya menggigil seperti perempuan yang baru saja menyaksikan tragedi.
"Reuben," bisiknya, "buka pintu. Dan ingat, kamu tidak tahu apa-apa."
Petugas mengetuk kaca.
Reuben memandang Jessica untuk terakhir kalinya sebelum membuka pintu. Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu mati di tenggorokannya.
Hujan langsung menyambut mereka.
Kirana berdiri beberapa meter dari mobil, kedua tangannya sudah ditahan di depan tubuh. Bukan diborgol, belum. Tetapi posisi itu cukup membuatnya terlihat seperti tersangka.
"Reuben!" Ia memanggil dengan suara parau. "Tolong bilang pada mereka. Aku datang kepadamu. Aku tidak kabur."
Reuben melangkah keluar.
Jessica berdiri di belakangnya, menunduk, memeluk tubuh sendiri.
Petugas bertanya, "Bapak mengenal perempuan ini?"
Reuben membuka mulut.
Kirana menatapnya dengan harapan yang tersisa sangat tipis.
Reuben melihat gaun pengantin itu. Melihat cincin di jari Kirana. Melihat darah yang seharusnya membuatnya mencari kebenaran, bukan menyelamatkan diri.
Lalu ia berkata, "Saya mengenalnya."
Kirana menarik napas lega.
Tetapi kalimat berikutnya menghancurkan napas itu.
"Tapi saya tidak tahu apa yang dia lakukan sebelum datang ke sini."
Mata Kirana kosong.
Jessica menunduk lebih dalam agar tidak ada yang melihat senyumnya.
Petugas membawa Kirana menuju mobil polisi. Ia tidak berteriak lagi. Setelah Reuben bicara, semua pembelaan seperti kehilangan kaki. Ia hanya menoleh sekali, menatap rumah keluarga Sim yang terang, menatap pria yang seharusnya menjadi suaminya, lalu menatap Jessica.
Saat pintu mobil polisi dibuka, Jessica mengangkat tangan sedikit.
Dua jarinya membentuk tanda kemenangan yang santai, seolah ia baru memenangkan permainan kecil.
Kirana melihatnya.
Reuben juga melihatnya.
Namun tidak satu pun dari mereka bergerak ketika pintu mobil polisi tertutup di depan wajah Kirana.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔