21+
[Penuh dengan adegan dewasa yang explicit (jelas), pertengkaran, alkohol, kata-kata kasar, dan gaya hidup bebas]
Sebuah cinta segitiga yang menghadapkan Kenny Charlotte Cullen pada sebuah kisah yang penuh amarah, nafsu, cinta, tawa, dan tangis dengan dua pria yang benar-benar mencintainya dengan cara yang berbeda.
-Kau adalah kelemahanku-
~Scout Damian Sharp
-Aku bertahan karena tanpamu aku tidak tau bagaimana caranya hidup-
~Harry Julio Smith
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keegoisan
Selamat Hary Raya Idul Fitri. Di manapun kalian berada semoga dalam keadaan sehat begitupun keluarga kita. Happy Reading Gaiss, kasih like dan koment and bintang. Love you gais.
****
Harry POV
"Naik mobilmu saja..." ucapku setelah kami di parkiran. Lolita nampak kalut. Kenapa dia?
"Okay..." dia setengah menarikku karena aku memang butuh itu. Aku sudah sangat sempoyong.
Kami masuk ke dalam mobilnya. Dia di bangku pengemudi dan aku di sampingnya. Dalam gelap, aku mendengar kuncinya yang bergemerincing yang bertanda bahwa dia gugup. Aku segera menarik perhatiannya dengan memegang wajahnya dengan tanganku. Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu.
"Jangan gugup..." bisikku.Aku mengelus wajah itu lembut. Dan aku bisa merasakan kulitnya meremang.
"Yah..." bisiknya
"Kendarai dengan baik." aku mengecup bibirnya dan kembali duduk bersandar.
Lalu mobil itu segera melaju. Dan aku setengah menggigil karena udara yang begitu menusuk, padahal pemanas mobil sudah dinyalakan. Aku berusaha menjaga kesadaranku.
"Jangan tidur, Harry... Please.." ucap Lolita.
Well... Wanita mana pun sangat menarik jika sudah memohon.
"Tenanglah..." aku mengambil ponselku. Belum ada balasan. Sialan Ken... Dia membuatku gila.Aku mulai mengetikkan apapun yang di otakku.
"Harry... Jangan menghubunginya. Please."
Aku melirik Lolita. Dia terlalu sering menguca please.
"Aku milikmu malam ini dan lakukanlah sesuai sesuai yang kau inginkan. Dan itubenar-benar erotisss seperti yang kau katakan. Jadi jangan khawatir." Aku lalu fokus pada ponselku dan melihat wajah Kenny. Sangat cantik. Benar-benar cantik. Dia benar-benar malaikatku, tetapi dia dalam kungkungan seseorang.
Tanganku menekan tombol memanggil. Tidak di angkat. Sialan... Aku tidak menyerah... Ken, kumohon, angkat ponselmu. Sekali saja.
"Harry... Jangan memanggilnya!!" Lolita setengah berteriak.
"Stt.. Fokus pada jalan, sayang.."
"Harry...." suaranya benar-benar memelas.
"Lolita..." ucaku lagi dengan lembut. Aku benar-benar b*jin*ngan. Aku ingin tidur dengannya malah menghubungi orang lain.
"Kau menyakitiku...."
"Hey..." tangan kiriku memegang ponsel yang memanggil dan tangan kananku mengelus pahanya, "Aku milikmu malam ini, ingat?"
"Kalau begitu jangan panggil dia." dia marah, namun tak berusaha menyingkirkan tanganku. Haus akan nafsunya lebih besar dibanding rasa marahnya.
"Lolita, jangan memerintahku."
"Berikan ponselmu, kau mabuk." lalu tangannya kirinya berusaha menggapai ponselku.
"Fokus, Lolita. Fokus"
Tapi dia tidak menyerah. Aku tidak bertenaga karena mabuk.
"Sayangku, Lo..." bisikku tepat saat Kenny mengangkat panggilanku. Oh, ternyata sayangku tidak ditakdirkan untuk Lolita.
"Hallo." suara Kenny lembut, ringan dan menghidupkan setiap sendi hidupku. Hanya dia yang kubutuhkan. Hanya dia. Aku mencintainya, Tuhan. Aku menyayanginya. Aku menginginkannya. Dia kuatku dan dia lemahku. Dia segalanya untukku.
Suara sekitarku bagikan terdam oleh suara Kenny yang memanggilku. Maafkan aku Lolita, namun suaramu dikalhkan oleh wanitaku yang sesungguhnya.
"Ken..." bisikku padanya saat dia terus memanggil namaku.
Lalu aku meraskaan hantaman keras pada tubuhku saat mobil tidak terkendali. Lokita kehilangan fokus. Jalanan licin dan aku semakin mengacaukan konsentrasi Lolita.
Suara decitan mobil kami beradu di jalan dan mobil menabrak sesuatu. Suara Ken tetao memenuhi otakku walau aku terpacu adrenalin. Dan setelahnya gelap.
****
Kenny POV.
Bruk
Aku menjatuhkan ponselku sesaat mendengarnya.Suara itu sangat keras dan memekakkan telinga.. Astaga. Apa yang terjadi? Aku buru-buru mengambil ponselku lagi.
"Harry... Harry...." aku panik sekarang. Sejak tadi aku mendengar suara marah Lolita dan itu membuatku khawatir karena Harry hanya menggumam namaku saja terus dengan tidak jelas.
Aku melirik khawatir ke pintu dapur. Takut jika Scout mendengarku. Aku tidak mendengar apapun sekarang. Tak mungkin mati. Ayolah. Itu bisa jadi mimpi buruk untukku seumur hidup.
"Sedang selingkuh yah?" Sial.
Aku mematikan ponselku dan menatap Jenn di pintu dapur. Dia memutar roda kursinya menujuku. Senyumnya selalu memuakkan bagiku.
"Lanjutkan saja, aku hanya ingin minum..." dia tersenyum lebar dan sok manis di depanku. Hey Nona, di dapur ini banyak pisau...
"Bukan urusanmu.."
"Kau tidak boleh begitu, Kenny..." dia membuka lemari pendingin, mengambil botol anggur, dan menuangkan di gelas untuk dirinya. Dia sok bijak lagi, "Ragamu di sini, tetapi hatimu di sana. Karma berjalan."
"Aku tidak perlu mendengar nasihat dari seorang ular..." Aku berjalan meninggalkannya di dapur. Bukan levelku bertengkar dengan makhluk seperti itu.
"Pada akhirnya, ucapan seorang ular itu akan benar suatu saat."
Aku mengabaikan ucapannya dan menuju ruang lain. Karena dia, aku hampir melupakan Harry. Aku menaiki tangga dan menuju sayap kanan rumah karena sayap kiri adalah kamar kami dan ruang kerja Scout. Aku masuk ke salah satu kamar tamu lalu mencoba memanggil Harry.
Panggilan di terima.
"Halo, Harry..."
"Sorry Mrs, ini perawat Rumah sakit Luncaster New York, pemilik ponsel ini sedang tidak bisa menerima panggilan karena mengalami kecelakaan."
Jantungku berdetak keras. Aku berjalan mondar-mandir. Oh Tuhan... Harry.. Harry. Mataku sekarang nanar oleh air mata dan mulai berjatuhan.
"Mrs, saya akan menutup telepon. Untuk mengetahui keadaannya lebih lanjut, anda dapat datang ke Rumah Sakit Luncaster." Lalu sambungan dimatikan saat aku hanya diam. Sial. Aku membanting ponselku ke kasur dan aku menjambak rambutku frustasi.
Aku frustasi akan sikapku pada Harry. Aku mengabaikan semua pesan dan panggilannya, padahal dia tulus untukku. Aku sekarang takut dan menyesal. Dan aku frustasi karena aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak mungkin pergi selarut ini, Scout tidak akan mengijinkanku.
Aku menjatuhkan diriku ke lantai dan menangis, menangis, dan menangis dalam hening. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Astaga, aku tidak bisa membayangkan hidupku di bumi tanda Harry. Hatiku remuk membayangkannya. Oh Harry..
Aku menangis beberapa saat sebelum akhirnya aku menetralkan pikiran dan hatiku. Aku meyakinkan diriku bahwa Harry baik-baik saja. Aku bangkit dan mengambil ponselku. Sebelum pergi, aku mencuci wajahku. Lalu melihat mataku sangat merah melalui pantulan cermin. Sial.
Aku menarik napas dan berjalan keluar menuju kamar. Di kamar, Scout sudah berbaring. Aku segera membaringkan badanku di sampingnya lalu berusaha tidur dengan posisi memunggunginya.
"Ken.." Jantungku hampir meledak. Oh my..
"Yah.."
"Kau mau bepergian besok denganku?"
"Ke mana?"
"Ada yang ingin kutunjukkan padamu."
Tidak bisa. Aku harus ke rumah sakit besok.
"Bisakah lain hari, besok aku mengurus sesuatu."
Hening yang cukup lama.
"Baiklah..."
"I'm really sorry."
"Bisakah.... Bisakah aku memelukmu?" suara Scout bergetar. Oh Scout. Bagaimana mungkin aku menolak.
"Well.. Tak apa, jangan paksakan dirimu." sambung Scout.
"Peluk.." bisikku.
"Apa?"
"Kau bisa memelukku." bisikku lagi dan aku segera mendengar Scout bergerak di belakangku. Aku merasakan napasnya di telingaku dan menggetarkan seluruh badanku. Dia melekukkan badannya pada badanku, melingkarkan tangannya di tubuhku. Aku merasakan kedamaian saat merasakan detak jantung Scout di punggungku.Dia mengelus tanganku dan itu benar-benar menenangkanku.
Ini membuatku rileks dan merasa bersalah di waktu yang sama. Aku baru menangisi pria lain tadi dan mendapatkan kehangatan dan penghiburan dari pria lain. Aku benar-benar manusia kurang ajar.
"Thank you, Ken." aku merasakan Scout mencium kepalaku dan aku berharap dengan egoisnya bahwa kenyamanan ini tidak pernah berakhir.
****
Aress
So sorry bila lama update, reviewnya makan waktu lama. Love you gais dan tetap beri like dna koment. Pliss