Entah suatu kemalangan atau permainan takdir untuk Faranisha Gayatri, menjelang hitungan jam pelaksanaan akad nikah dengan sang kekasih yang telah menjalin kasih selama 3 tahun dengannya, pihak mempelai pria malah membatalkan pernikahan tanpa alasan. Sebagai gantinya, hadirlah sesosok pria yang bersedia menjadi pengganti mempelai pria.
Ialah Naufal Kenan, sosok pria yang sangat sensasional. Seorang dokter spesialis bedah dan penyakit dalam dengan segudang prestasi dan pencapaian. Berparas tampan, kaya raya nan dermawan. Dan ternyata, ialah sosok pria yang menjadi cinta pertama Fara. Cinta yang dulu hanya bisa dipendamnya dalam diam tanpa dapat tersampaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hikmah Di Balik Musibah
Hari berikutnya...
Pagi ini Kenan sarapan seorang diri di ruang makan. Sejak kemarin, tepatnya setelah Kenan meluapkan emosinya pada Fara yang walaupun hanya sedikit, keduanya saling mendiamkan. Bahkan Fara tidak menjawab pertanyaan Kenan yang menanyakan alasan mengapa dirinya banyak melamun kemarin. Alih-alih menjawab, ia malah berkilah ingin ke toilet usai menghabiskan makan siangnya, dan baru kembali saat jam istirahat selesai. Dan Kenan pun tidak mempertanyakan perihal itu lebih lanjut.
Jujur, Kenan sangat menyesal dan merasa bersalah. Bukannya tidak bisa tegas dengan mempertanyakan kecurigaan yang membuatnya cemburu buta. Hanya saja, jika diperpanjang, ia yakin akan berujung ke pertengkaran. Ia sangat tidak menginginkan hal itu, sebab telah berjanji pada Farzan bahwa ia tidak akan menyakiti Fara. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Sebagai manusia biasa, ia juga memiliki emosi.
Jadilah kemarin hingga saat ini mereka saling mendiamkan. Bahkan saat akan pulang bekerja kemarin, Fara meminta untuk pulang sendiri. Tapi, tentu saja Kenan tidak mengizinkannya. Di situ juga sempat terjadi perdebatan, untungnya tidak berujung pertengkaran.
Usai sarapan, Kenan belum juga melihat keberadaan Fara keluar dari kamarnya. "Hufh..." menghembuskan nafas berat, Kenan beranjak menuju kamar Fara untuk memeriksa keadaan istrinya itu.
Tok tok tok...
"Nis!"
Kenan mengetuk pintu kamar Fara sembari berseru keras namun lembut memanggil nama si empunya kamar. Berulang kali Kenan melakukan itu, namun tidak mendapatkan reaksi apapun dari dalam. Dengan harap-harap cemas, Kenan menempelkan telinganya ke daun pintu.
Hening...
Sunyi senyap, seakan tidak ada kehidupan di dalam sana. Begitulah yang ditangkap oleh pendengaran Kenan. Entah datang dari mana, tiba-tiba kekhawatiran melanda Kenan. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Fara di dalam sana. Pasalnya, ia tahu bahwa sejak semalam istrinya itu tidak makan.
Bruk bruk bruk...
"Nis, kamu di dalam kan? Tolong buka pintunya!"
Saking khawatirnya, Kenan bukan lagi mengetuk, melainkan menggedor serta berseru dengan suara yang lebih keras. Namun setelah sekian gedoran serta seruan, ia masih belum juga mendapatkan reaksi atau jawaban dari dalam. Dalam kekhawatirannya yang kian membuncah menuju panik, Kenan berusaha menenangkan diri dan berpikir positif.
"Baiklah Nis, maaf jika Kakak tidak sopan. Kakak akan membuka pintu ini dengan paksa." setelah berujar, Kenan segera beranjak dengan langkah tergesa untuk mengambil kunci serep.
Tidak butuh waktu lama, Kenan sudah kembali ke depan kamar Fara. "Baiklah Nis, Kakak buka ya!"
Ceklek...
Gelap remang, itulah pemandangan yang pertama Kenan saksikan saat pintu kamar terbuka. Yang menjadi sumber pencahayaan di dalam sana hanyalah lampu tidur temaram yang berada di atas nakas, samping ranjang. Setelah retina Kenan menyesuaikan dengan pencahayaan di dalam, barulah visinya dapat melihat keadaan dengan baik. Tatapannya langsung terkunci ke atas ranjang. Sayup-sayup ia melihat sosok Fara masih berbaring dengan selimut yang hampir menyelimuti seluruh tubuh istrinya itu, kecuali kepalanya. Ia juga melihat gerakan samar tubuh sang istri dari balik selimut yang lebih terkesan gemetar.
Tanpa ba bi bu be bo, Kenan bergegas mencari-cari saklar lampu utama dalam ketemaraman di dinding balik daun pintu.
Klik...
Lampu menyala, dan menampakan lebih jelas keadaan dalam kamar. Namun Kenan tidak punya waktu untuk menyapu setiap sudut, pandangannya terus terkunci ke atas ranjang. Dan benar saja apa yang dipikirkannya soal pemandangan yang ia saksikan dalam temaram tadi. Sekarang jelas terlihat sosok Fara yang tampak gemetar menggigil dari balik selimut.
"Oh Tuhan, Nis?" bergegas Kenan menghampiri ranjang. Dan benar seperti yang ia khawatirkan, Fara sedang demam. Bahkan bibirnya terlihat membiru pucat. Tanpa membuang waktu, ia langsung meraih remote AC dan menekan tombol shutdown.
"Nis, sayang? Kamu, astaga, kenapa bisa begini?" sebagai seorang dokter yang kemampuannya tidak diragukan lagi, Kenan bisa langsung mengetahui sakit apa yang Fara alami hanya dengan melalui pengecekan suhu tubuh, denyut nadi, serta gejala luar. Ternyata asma Fara kambuh. "Oh Nis, sayang! Bangun dulu, dimana kamu meletakan obatmu?" Kenan semakin panik, namun tetap berusaha tenang.
Sebenarnya Kenan mempunyai stok obat lengkap untuk penanganan darurat penyakit-penyakit akut seperti ini di dalam ruangan khusus penyimpanan obat. Tapi, ia tidak punya waktu untuk mengambilnya dari sana. Oleh karena itu, ia lebih memilih membangunkan Fara yang berada diantara sadar dan tidak sadar tengah berusaha mengatur pernafasan. Namun Fara tidak bergeming, pernafasannya semakin menyesak. Dalam kepanikannya, Kenan berinisiatif mencari sendiri. Untungnya Fara meletakan obatnya di dalam tas kerjanya, sehingga Kenan bisa dengan cepat menemukannya. Segera Kenan melakukan penanganan awal dengan bantuan alat pernapasan khusus untuk pengidap penyakit asma yang ia temukan.
Jangan salah, Kenan bukanlah peramal atau seseorang yang mempunyai kekuatan supranatural yang bisa mengetahui sesuatu dengan mudah. Itu murni insting, lebih tepatnya pengalaman yang ia dapatkan dari sebuah adegan sinetron yang pernah ia tonton. Sejatinya, Kenan bukanlah pecinta sinetron. Sungguh ia tidak pernah merasa sebersyukur ini karena pernah menontonnya, walaupun secara tak sengaja. Sepertinya ia harus berterimakasih kepada sang sutradara. Tapi, bagaimana caranya? Wajah-wajah pemerannya saja ia tak ingat jelas, apa lagi judulnya yang bahkan tak sedikitpun diliriknya.
Beberapa saat kemudian, setelah penanganan telaten nan krisis dari Kenan, nafas Fara mulai teratur dan berangsur-angsur menjadi normal, disusul matanya yang terbuka sayu pertanda mulai sadar. Kenan pun bernafas lega.
"Alhamdulilah." cup cup cup... tanpa sadar Kenan menghujani hampir setiap inci wajah Fara dengan kecupan akibat terbawa suasana kesyukuran, lalu membawanya kedalam pelukan hangat "Akhirnya kamu sadar juga, sayang."
Fara yang kondisinya yang masih lemah dan masih berat menggerakkan anggota tubuhnya, hanya bisa memaku menerima semua perlakuan Kenan. Alih-alih sadar sepenuhnya, pikirannya malah blank.
"Bagaimana sayang? Apa kamu udah merasa baikan?" tanya Kenan setelah melerai pelukannya.
Fara diam tak bergeming, pikirannya masih blank.
"Sayang?" Kenan membelai lembut pipi Fara.
Barulah Fara tersadar, namun linglung "Eh, Kkenapa Kak KKen ada di kkamar Fara? Ddan aapa yang terjadi ssama Fara? Kkenapa ttubuh Fara tterasa berat digerakkin?" ia berbicara sedikit kesulitan, akibat masih lemah.
"Kamu gak sadar, sayang? Asma kamu kambuh. Tadi Kakak berniat nyusul kamu ke kamarmu buat ngecek keadaanmu. Tapi kamarmu terkunci. Kakak coba ketuk pintu kamarmu juga berteriak manggil kamu, kamunya gak menyahut." Sekali lagi Kenan memeluk hangat tubuh Fara serta memberikan beberapa kecupan sayang di puncak kepala Fara "Syukurlah Kakak punya kunci serep. Dan betapa khawatirnya Kakak saat tau asmamu kambuh. Untung saja cepat Kakak tanganin, kalau tidak..." Kenan tak menuntaskan ucapannya dan malah semakin erat mendekap tubuh Fara, seolah takut tubuh ramping itu menghilang dari pelukannya.
Deg...
Di balik lemahnya tubuh Fara, jantungnya malah berdebar hebat. Hatinya menghangat, sehangat pelukan Kenan padanya. Ia merasa sangat disayang oleh Kenan. Tak mampu melukiskan suka cita serta kebahagiaan yang tengah ia rasakan, Fara hanya bisa menangis di dalam pelukan Kenan.
Mendapati itu, Kenan malah panik. Saat hendak melerai dekapannya dari tubuh Fara, Fara malah membalas pelukannya dengan sangat erat. Entah dari mana asalnya kekuatan dalam tubun lemah istrinya itu hingga Kenan tidak bisa membebaskan diri dari dekapannya. Ralat, bukan tidak bisa, Kenan hanya tidak ingin memaksa membebaskan diri karena takut akan semakin melemahkan stamina sang istri yang memang sudah lemah sejak awal. Kenan pun mengurungkan niatnya dan kembali mendekap tubuh Fara seraya mengusap-usap lembut punggung instrinya itu. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu menangis? Apa Kakak menyakitimu lagi? Kalau benar begitu, Kakak minta maaf, ya. Sungguh Kakak benar-benar gak bermaksud."
Fara hanya menggeleng dan semakin mengeratkan dekapannya. Mungkin kini bukan hanya air mata yang membasahi kemeja navy favorit Kenan yang sedang dikenakannya, tapi juga ingus Fara. Namun bukan itu yang Kenan khawatirkan, tentu saja ia lebih mengkhawatirkan keadaan sang istri dibandingkan kemeja favoritnya.
"Sayang, ayo bicaralah! Kakak mohon, kalau kamu hanya diam, Kakak gak akan tau apa kesalahan Kakak dan gak tau cara memperbaikinya." Kenan merengek sekaligus memelas.
Kini tangis Fara sudah mereda. Perlahan ia melerai dekapannya dari tubuh Kenan, lalu mendongak dan bertemu tatap dengan suaminya itu.
ini kog ketus...
batal
pernikahan barat
why
apa sdh selesai ceritanya 😊