NovelToon NovelToon
Mahar Sandiwara Sang Papa

Mahar Sandiwara Sang Papa

Status: tamat
Genre:CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Amira masuk dan melihat pameran lukisan. Atmosfer galeri yang tenang, harum aroma kopi, dan deretan karya seni sempat membuat Amira melupakan sejenak ketegangannya semalam.

Setiap langkah kaki yang diayunkannya di atas lantai marmer galeri yang sejuk terasa seperti terapi bagi jiwanya yang lelah.

Bunyi langkah kaki pengunjung lain yang teredam dan bisikan-bisikan apresiasi yang samar menciptakan harmoni yang damai.

Sebagai pelukis, imajinasinya mulai bermain. Matanya berpindah dari satu kanvas ke kanvas lain, meresapi setiap goresan kuas, tekstur cat, dan emosi yang ditinggalkan oleh sang seniman.

Di dalam kepalanya, untaian kata dan narasi fiksi yang sempat mandek selama beberapa bulan terakhir mulai menari-nari kembali, mencari bentuk sebuah cerita baru.

Hingga akhirnya, langkah Amira terhenti di depan sebuah lukisan yang sangat menyentuh hatinya.

Tubuhnya terpaku, matanya tak berkedip menatap selembar kanvas besar yang dipajang di sudut ruangan yang agak temaram.

Sebuah lukisan abstrak dengan perpaduan warna gelap dan secercah cahaya fajar di sudutnya.

Warna hitam dan abu-abu kelam mendominasi sebagian besar kanvas, menggambarkan badai, kekosongan, dan rasa sakit yang begitu pekat.

Namun, tepat di sudut kanan atas, sang seniman menggoreskan warna kuning keemasan dan garis putih yang lembut—sebuah simbol harapan yang rapuh namun gigih.

Ia membeli lukisan yang berjudul Fajar yang Terenggut itu tanpa ragu sedikit pun.

Setelah menyelesaikan administrasi dengan pihak galeri, Amira kembali berdiri di depan karya tersebut.

Lukisan itu seolah merepresentasikan perjalanan hidupnya selama dua tahun ini.

"Fajar yang terenggut..." bisik Amira lirih pada dirinya sendiri.

Dua tahun lalu, hidup dan kebahagiaannya direnggut paksa oleh kesalahpahaman dan kekejaman masa lalu Daniel.

Ia dipaksa berjalan dalam kegelapan benua Eropa yang dingin seorang diri.

Namun, kehadiran Devan dan ketulusan Ferdinand adalah secercah cahaya fajar di sudut hidupnya, yang perlahan-lahan mengikis warna gelap yang hampir menenggelamkannya.

Amira menghela napas panjang, merasa emosinya tersalurkan lewat lukisan itu.

Setelah satu jam berlalu, ia keluar sambil membawa lukisan itu yang sudah dikemas rapi oleh pihak galeri.

Merasa pikirannya sudah lebih segar, ia berniat ke kafe yang terletak di seberang jalan galeri untuk menulis beberapa ide cerita atau sekadar minum teh.

Lembaran kertas kosong di tasnya seolah sudah tidak sabar untuk dipenuhi oleh jalinan kata yang baru saja terinspirasi dari pameran tadi.

Amira berjalan menuju area luar galeri yang agak sepi, berniat mencari jalan menyeberang.

Angin siang Yogyakarta berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya.

Amira memeluk erat bungkusan lukisan di dadanya, melangkah menyusuri trotoar yang dinaungi pepohonan rindang.

Namun, suasana mendadak terasa janggal. Langkah kaki terdengar cepat dari arah belakangnya.

Insting Amira menyuruhnya untuk menoleh. Tapi tiba-tiba ada yang menutup mulutnya dengan kain sampai pingsan.

Amira sempat memberontak sekuat tenaga. Tubuhnya menggeliat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman lengan kekar yang mengunci pergerakannya dari belakang.

"MMMMPPHH!!" jerit Amira tertahan, suaranya teredam sempurna oleh kain tebal yang menekan hidung dan mulutnya.

Namun aroma menyengat dari obat bius di kain itu dengan cepat merenggut kesadarannya.

Rasa pusing yang hebat mendadak menyerang kepalanya, membuat seluruh sendi di tubuhnya seketika mati rasa.

Lukisan berjudul Fajar yang Terenggut di tangannya jatuh ke tanah, menyentuh semen trotoar dengan suara berdebum pelan.

Dalam pandangannya yang mengabur sebelum benar-benar gelap, ia tidak tahu siapa yang menculiknya dan ke mana ia akan dibawa.

Kesadaran Amira hilang sepenuhnya, menyisakan tubuhnya yang lunglai yang dengan cepat dibopong oleh dua orang pria berbadan tegap ke dalam sebuah mobil bermesin hidup yang sudah menunggu di tepi jalan.

Mobil itu melesat cepat, membelah jalanan Yogyakarta, membawa Amira masuk kembali ke dalam jerat badai yang sengaja disiapkan oleh Daniel.

Sementara itu suasana di ruang rapat kantor cabang Yogyakarta terasa hambar bagi Ferdinand. Fokusnya pecah.

Presentasi grafik perkembangan perusahaan yang dipaparkan oleh manajer regional di depan layar proyektor sama sekali tidak masuk ke dalam benaknya.

Pria itu menyandarkan punggungnya dengan tegang, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati itu dengan ritme yang tidak beraturan.

Ia terus-menerus melirik jam tangan dan ponselnya yang diletakkan di atas meja.

Perasaan tidak tenang mulai merayapi dadanya sejak satu jam yang lalu.

Pameran seharusnya sudah selesai dua jam yang lalu, namun tidak ada satu pun pesan atau telepon dari Amira. Ini sangat tidak biasa.

Amira bukanlah tipe wanita yang tidak berkabar, terutama saat berada di kota yang sudah lama tidak dikunjunginya.

Ferdinand mencoba menghubungi ponsel Amira, namun suara operator sialan itu yang terus merespons.

"Sial," umpat Ferdinand tertahan, membuat beberapa peserta rapat sempat menoleh ke arahnya dengan bingung.

Tidak ingin membuang waktu dengan firasat buruknya, Ferdinand memutuskan meninggalkan rapat begitu saja di tengah jalannya diskusi, dan menyuruh anak buahnya memeriksa galeri lukisan sekarang juga.

Ia berjalan cepat keluar gedung kantor sambil terus mencoba menghubungi nomor Amira, namun hasilnya tetap nihil.

Ketegangan itu memuncak lima belas menit kemudian.

Ponsel Ferdinand bergetar hebat. Ia langsung menggeser layar dengan cepat.

"Bagaimana? Amira ada di sana?" tanya Ferdinand tanpa basa-basi.

Ketakutannya terbukti saat anak buahnya menelepon dan mengabarkan bahwa mereka menemukan bungkusan lukisan Fajar yang

Terenggut tergeletak rusak di trotoar sepi, sementara Amira lenyap.

"Kami menemukan lukisan yang Nyonya beli, Pak. Bingkainya sedikit retak dan tergeletak di dekat semak-semak luar galeri. Tapi Nyonya Amira tidak ada di sekitar sini. Ponselnya juga tidak aktif," lapor anak buahnya dengan suara gemetar.

Mendengar laporan itu, darah Ferdinand rasanya mendadak bergolak.

Matanya menatap tajam ke depan dengan kilatan amarah yang bercampur dengan rasa takut yang teramat sangat.

Pikiran Ferdinand langsung tertuju pada satu nama: Daniel.

Pria dari masa lalu Amira yang tadi malam menatap mereka dengan penuh dendam.

Ferdinand langsung bergerak dengan kepanikan yang memuncak.

Ia berlari menuju mobilnya, membanting pintunya dengan keras, dan menginjak pedal gas dalam-dalam.

"Daniel, jika kamu berani menyentuh seujung kuku pun dari Amira, aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu," desis Ferdinand dingin membelah jalanan kota Yogyakarta.

Pandangan Amira perlahan memulih dari efek obat bius yang menyengat.

Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah dihantam oleh benda tumpul yang tak kasat mata.

Rasa mual melanda perutnya saat ia mencoba menggerakkan lehernya yang kaku.

Rasa dingin dan aroma ruangan yang asing menyergap indranya.

Ia menyadari dirinya berada di sebuah kamar mewah namun asing dengan gorden tertutup rapat, menghalangi setiap berkas cahaya matahari sore untuk masuk.

Kamar itu begitu kedap suara, menciptakan keheningan yang justru terasa mencekam dan mengintimidasi.

Saat mencoba mengumpulkan kesadarannya, mata Amira menangkap siluet seorang pria.

Di tempat lain Amira sadar dan melihat Daniel duduk menatapnya.

Amira terlonjak kecil, mencoba memundurkan tubuhnya di atas kasur berseprai sutra itu hingga punggungnya membentur headboard tempat tidur.

Daniel duduk di kursi seberang tempat tidur, menopang dagu dengan tatapan mata yang dingin, tajam, dan penuh dengan kilat amarah yang tertahan.

Pakaian bisnisnya sudah sedikit berantakan, dasinya telah dilonggarkan, memberikan kesan

berbahaya yang pekat.

Daniel tidak memaki. Ia hanya menatap Amira seolah-olah wanita itu adalah seorang terdakwa yang tertangkap basah melakukan kejahatan besar.

Kesunyian di antara mereka terasa begitu berat, hanya menyisakan suara napas Amira yang memburu karena ketakutan.

"Sudah bangun, Amira?" suara Daniel memecah keheningan, begitu rendah dan datar, namun sanggup membuat bulu kuduk Amira berdiri.

"Dua tahun berlalu, dan kamu masih saja suka melarikan diri."

Pikiran Amira langsung tertuju pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi kenyataan.

Bagaimana jika Daniel tahu? Bagaimana jika putranya dalam bahaya? Ketakutan itu memberi kekuatan pada tubuhnya yang masih lemas.

Amira bangkit dari duduknya dan mencoba membuka pintu kamar.

Dengan langkah gontai sisa efek bius, ia berlari ke arah pintu kayu besar yang menjadi satu-satunya jalan keluar.

Handle pintu ditekan berulang kali, namun nihil. Pintu itu dikunci dari luar.

Tak ada celah sedikit pun untuk meloloskan diri.

Amira mulai menggedor pintu dengan histeris. Suaranya melengking memenuhi ruangan, dipenuhi rasa takut yang teramat sangat.

Telapak tangannya memukul-mukul permukaan kayu tebal itu hingga memerah.

"Daniel, buka pintunya!! Putraku menungguku di rumah!!" teriak Amira dengan air mata yang mulai menderu.

Ia tidak peduli lagi pada harga dirinya, yang ia pikirkan hanya Devan yang mungkin terbangun dan mencarinya.

Di tengah badai kepanikan Amira, Daniel hanya diam dan tidak menjawab.

Ia tidak bergerak dari kursinya, tidak pula membalas teriakan Amira.

Sorot matanya datar, dingin, mengamati setiap keputusasaan yang ditunjukkan wanita itu.

Kebisuan Daniel justru terasa lebih mengancam daripada bentakan.

Di dalam benak Daniel, sebutan "putraku" dari mulut Amira justru menjadi bahan bakar yang membakar rasa sakit hatinya.

Ia mengira anak itu adalah hasil cinta Amira dengan Ferdinand.

Rasa cemburu yang memuakkan mencengkeram dadanya.

Daniel perlahan berdiri. Langkah kakinya terdengar begitu berat saat mendekati Amira yang masih menangis di depan pintu.

"Putramu?" tanya Daniel dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah.

"Lalu bagaimana dengan Felia, Amira? Kamu pergi begitu saja tanpa memikirkan Felia yang setiap hari menangis menunggumu pulang! Kamu tega menelantarkannya demi anak hasil hubunganmu dengan lelaki itu?!"

Mendengar tuduhan itu, Amira mendongak dengan tatapan terluka.

Namun, rasa takut yang lebih besar mendadak menguasai dirinya.

Amira takut jika Daniel tahu yang sebenarnya, ia akan memisahkan Devan dengan Amira. P

Pria di depannya ini memiliki kekuasaan mutlak, dan jika Daniel tahu Devan adalah darah dagingnya, Daniel pasti akan merebut putranya.

Dengan sisa keberaniannya, Amira membalas tatapan Daniel dengan tajam.

"Iya! Dia anakku dengan Ferdinand! Jadi lepaskan aku! Jangan usik kehidupan kami lagi!"

Daniel tersenyum sinis dalam hati, merasa bahwa mengurung Amira adalah balasan yang setimpal untuk "pengkhianatan" yang ia asumsikan.

Pengakuan Amira bagai belati yang menghujam jantungnya, mematikan sisa-sisa rasa bersalah yang ia miliki semalam.

Amira yang lemas terduduk di balik pintu, tenaganya terkuras habis oleh emosi dan sisa obat bius.

Sementara Daniel berjalan mendekat perlahan, menciptakan ketegangan psikologis yang mencekam.

Bayangan tubuh tinggi Daniel kini sepenuhnya menutupi Amira yang bersandar di pintu.

"Bukankah kamu sudah bersama Selena, Daniel? Lalu buat apa lagi kamu mengurungku lagi?" bisik Amira parau, menatap benci pria yang dulu sangat dipujanya.

"Pergilah pada wanita pilihanmu itu!"

Mendengar nama Selena disebut, kilatan amarah di mata Daniel semakin menjadi-jadi.

Kesalahpahaman dua tahun lalu kini benar-benar telah menjadi racun yang menghancurkan mereka berdua.

Daniel tidak ingin mendengar kalimat penolakan lagi dari bibir Amira.

Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar sapu tangan yang sudah disiapkan sejak awal.

Melihat benda itu, mata Amira membelalak seketika.

"Daniel, jangan—"

Daniel terpaksa membiusnya lagi agar Amira tidak berteriak.

Dengan cepat dan tanpa ampun, Daniel membekap mulut Amira untuk kedua kalinya.

Amira mencoba memberontak, namun tubuhnya yang sudah lemas tak mampu memberikan perlawanan berarti.

Dalam hitungan detik, jeritan batin Amira kembali tenggelam seiring dengan kesadarannya yang perlahan-lahan meredup menjadi kegelapan total.

1
falea sezi
lanjut q kasih hadiah
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!