Warning
Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.
Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.
Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.
Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Buta
Sayang, dimana? Udah sampai pulau seribu?”
Pesan itu datang dari Elang. Rindu pun tersenyum. baru saja ia sampai di Marina Ancol dan hendak berganti transportasi, dari transpirtasi darat menjadi transportasi air. Karena untuk menuju resort yang mereka pesan, butuh menyeberangi laut dan melewati beberapa pulau kecil lain yang ada di kepulauan itu.
“Ini baru sampe Marina, Ancol. Lagi ganti transportasi.”
Rindu membalas pesan itu.
“Meeting kamu gimana? Lancar?”
Pesan itu masih centang dua dan belum berubah warna. Rindu pikir, suaminya masih bekerja. Ia pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas tanpa menunggu jawaban pesan dari Elang.
“Rin, ayo!” ajak Lita yang sudah menaiki kapal speedboat yang sengaja dipesan dua untuk membawa semua timnya.
“Rin, kamu naik kapal yang mana?” tanya Rayen yang tiba – tiba mendekat.
“Mana saja, Pak,” jawab Rindu tersenyum.
“Yang itu aja ya, bareng saya.”
Rindu mengangguk, karena kapal yang ditunjuk Rayen kebetulan adalah kapal yang sudah dinaiki Lita.
“Ayo!” ajak Rayen.
Rindu kembali mengangguk dan mengikuti Rayen dari belakang. Melihat Rindu mengekorinya di belakang, langkah kaki Rayen pun terhenti. Ia mempersilahkan Rindu untuk jalan lebih dulu.
“Ladies first. Silahkan!”
Senyum Rindu kembali terulas dan jalan mendahului bosnya.
Seandainya, Elang bisa bersikap seperti yang dilakukan Rayen saat ini, ia pasti akan semakin jatuh hati. Meski apa yang dilakukan Rayen adalah hal kecil, tapi sangat berarti untuk Rindu. Ia merasa dihargai, padahal hanya bawahan saja.
Di dalam kapal kecil itu, Rindu duduk bersebelahan dengan Lita. Tanpa Rindu sadari, Rayen meliriknya beberapa kali.
Pria berusia kepala empat itu diam – diam mengamati apa yang dilakukan Rindu sejak perjalanan terjadi. Rindu yang tampak senang menikmati alam, membuat pria itu mengulum senyum. Rambutnya yang panjang dan tergerai diikuti oleh terpaan angin laut, membuat sesuatu dalam diri Rayen hanyut. Belum lagi sinar matahari yang memantulkan wajah putih nan mulus itu, membuat Rayen diam – diam melirik dan mengagumi keindahan itu.
“Cantik,” ujar Rayen dalam hati.
Kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain. Meski, Rindu dan Rayen duduk berjauhan, tapi ia dapat menjangkau wajah cantik itu. Rayen merasa Elang adalah pria paling beruntung karena mendapatkan istri secantik, sebaik, dan selembut Rindu.
Terlebih yang Rayen tahu, Rindu juga mampu memaafkan kelakuan buruk Elang yang sudah dilakukan lebih dari satu kali.
“Bos.”
Rayen didekati oleh seseorang, hingga mereka berbincang. Cukup lama berbincang, Rayen menatap Rindu dan melihat lekat wajah yang sedang tak baik – baik saja.
“Masih mual, Rin?” tanya Lita sembari memijat tengkuk sahabatnya.
“Iya, Lit. Aduh perutku kaya dikocok – kocok. Masih lama ga sampai?” Rindu mengaduh.
Lita ikut panik hingga Rayen datang menghampiri. “Lita, Rindu kenapa?”
Mata Rayen yang semula tertuju pada Lita, beralih kepada Rindu yang terlihat kepayahan. “Rin, kamu kenapa? Mabuk laut?”
Rindu mengangguk. “Iya.”
“Sebentar!”
Tanpa berkata lagi, pria itu bergerak cepat untuk mengambil obat sebagai pertolongan pertama. Rayen kembali dengan membawa minyak angin.
Sepanjang perjalanan hingga sampai, Rayen terus mendampingi Rindu dan memastikan sekretarisnya baik – baik saja.
“Ah, akhirnya sampe juga.”
Rindu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, usai memasuki kamar hotel bersama Lita.
Lita menoleh ke arah sahabatnya yang sudah tak lagi pucat seperti saat berada di dalam kapal kecil yang mengantarkan mereka ke pulau ini.
“Payah banget kamu, Rin. baru naik kapal kecil gitu udah muntah – muntah,” ledek Lita.
“Aku ga pernah naik kapal, Lit. Mau gede atau pun kecil, sama aja. Ngga enak. Perutku kaya dikocok – kocok.”
Lita kembali tertawa dan duduk di samping tubuh Rindu yang berbaring. Kepalanya masih sedikit pusing.
“Mungkin, kalo kapalnya gede, kamu ngga kaya gini. Gede sama kecil pasti beda, Rin. Yang gede lebih enak.”
“Dih, apaan sih?” Rindu bangkit dan menjauh dari sahabatnya. “Dasar cewek mesum!”
“Lah, kan emang iya. Gue udah dua kali janda jadi tau yang gede sama yang kecil. Kalau lu kan cuma tahu punya Elang doang.”
Rindu menggelengkan kepala.
“By the way. Pak Rayen tadi perhatian banget sama kamu.”
Rindu membuka kopernya dan mengambil isinya untuk dipindahkan ke lemari yang tersedia. “Memang Pak Rayen orangnya perhatian kan? Bukan sama aku aja. Sama Mas Dwi juga.”
Rindu menyebut nama salah satu rekan divisinya yang juga mabuk laut, padahal dia laki – laki.
“Iya sih.” Lita mengangguk, mengiyakan pernyataan itu.
Rindu dan rombongan timnya menyeberang menuju resort di pulau Bidadari menggunakan kapal speedboat dari Marina Ancol.
Kemudian, Lita memperhatikan gerakan Rindu. Ia melihat setelan pakaian Rindu yang sedangkan digantung oleh pemiliknya.
“Kamu bawa setelan baju berapa?”
“Tiga.”
“Cuma tiga? Ngga kurang?” tanya Lita lagi.
Rindu menggeleng. “Ngga lah, cukup.”
“Ck, ah iya aku lupa.” Tiba – tiba Rindu memukul pelan keningnya.
“Kenapa?” Lita yang melihat keanehan sahabatnya pun bertanya.
“Belum ngabarin Elang lagi.”
“Ya udah. Kabarin sana!”
Usai memindahkan pakaian itu, Rindu menutup rapat lemari dan beranjak menghampiri ponselnya yang tergeletak di atas meja rias.
“Eh, iya. Kamu hutang cerita,” ujar Lita.
“Bentar, aku ayang – ayangan dulu,” jawab Rindu ceria.
Rindu yang memang sudah setuju dengan sepenuh hati untuk memulai semuanya dari awal, tampak sumringah, terlebih saat Elang sudah mulai memanggilnya sayang.
Rindu melihat chat‑nya yang sudah dibalas sang suami. centang yang sebelumnya berwarna abu – abu kini sudah biru.
“Syukurlah kalau kamu sudah sampai. Jangan lupa makan! Dan have fun.”
Rindu tersenyum. Baru saja ia hendak mengetikkan pesan untuk membalas pesan itu, tiba – tiba pintu kamarnya diketuk.
Tok
Tok
Tok
Lita menoleh ke arah pintu dan Rindu bertanya, “Siapa?”
Lita mengangkat bahunya. “Ngga tahu. Paling petugas hotel ngasih tahu kita buat makan siang.”
Ceklek
Lita membuka pintu itu. Namun yang berdiri di depannya ternyata si Bos.
“Pak Rayen.”
“Eh, ya. maaf mengganggu kalian. Saya hanya ingin tanya keadaan Rindu. Bagaimana?”
Lita langsung membuka lebar pintu itu, hingga dari tempat Rayen berdiri, pria itu dapat melihat Rindu.
Seketika, Rindu tersenyum. “Saya baik – baik aja, Pak.”
“Sudah tidak mual lagi?” tanya Rayen
dengan penuh perhatian.
Rindu menggeleng. “Tidak.”
“Oh, syukurlah. Kalau begitu, jika sudah selesai beres‑beres, langsung ke restoran.”
Rindu mengangguk.
“Kamu juga, Lit.”
Lita yang juga diajak makan siang oleh bos besarnya pun ikut mengangguk. “Siap, Pak.”
Rayen yang ditemani oleh asistennya pun pamit dan pergi lebih dulu.
Usai melihat si bos pergi, Lita menutup kembali pintunya. “Gila ya, si bos perhatian banget sama lu.”
“Ya kan, kamu juga diajak makan.”
“Beda, Rin. Masa sih kamu ga ngerasa?” Lita mencoba mengajak sahabatnya untuk peka. Ia merasa Rayen memiliki sesuatu rasa yang berbeda pada sahabatnya.
“Dia itu udah punya istri. Dan Pak Rayen, tipe suami setia,” ucap Rindu, meski dalam hati ia kembali bicara. “Padahal istrinya ngga setia.”
“Kasihan, Pak Rayen.” Rindu mengasihani Rayen, padahal diri sendirinya pun harus dikasihani.
“Kasihan kenapa?” tanya Lita yang tak tahu apa‑apa.
“Ah, ngga. Kasihan aja, istrinya di mana, dia nya di mana. kasihan ditinggal‑tinggal terus sama istrinya,” jawab Rindu sekenanya.
“Iya, istrinya Pak Rayen sosialita banget. Hobbynya jalan‑jalan. Ke Singapore udah kaya ke Bandung. Bolak balik terus.”
“Oh ya?” tanya Rindu yang justru baru mengetahui fakta ini.
“Iya. Udah bukan rahasia umum kali, kalau Pak Rayen itu suka ditinggal‑tinggal istrinya pergi. Istrinya mah hambur‑hambur uang, jalan‑jalan ke Eropa, Pak Rayennya mah kerja teros.”
Rindu mematung, mendengarkan penuturan Lita. Sejujurnya, ia tak tahu banyak tentang Rayen dan keluarganya. Meski, ia pernah bertemu beberapa kali saat acara keluarga yang melibatkan Bella, tapi Rindu tak pernah mau tahu.
“Katanya, istri Pak Rayen itu selingkuh,” ucap Lita lagi.
Dan, Rindu pura‑pura terkejut. “Oh ya?”
“Iya.” Lita mengangguk. “Katanya lagi. ngga tahu ya ini bener apa ngga.”
Rindu meluruskan duduknya dan mendengarkan ucapan itu dengan tampang serius.
“Siapa deh nama putrinya Pak Rayen? Miska ya?”
Rindu mengangguk.
Mendengar nama itu disebut, hatinya kembali mencelos. Perselingkuhan yang sempat ia pergok langsung dengan mata kepalanya sendiri di hotel beberapa waktu lalu, masih menyisakan sebuah luka yang menyesakkan dada. Meski saat ini, ia memutuskan untuk bertahan dan melupakan semua yang terjadi.
“Miska itu bukan anak kandung Pak Rayen.”
Jedar
Rindu pun terkejut. “Oh ya?”
"Dih, lu kan sekretarisnya, masa ga tahu?"
"Ngga tahu," sahutnya dengan menggelengkan kepala.
Jujur, meski mereka dekat tapi hanya dekat dalam hal pekerjaan. Rindu tidak ingin bertanya jauh soal rumah tangga bosnya. Meski, dia tahu bahwa Vera selingkuh.
Selingkuh berjamaah, karena wanita itu juga mendukung putrinya berpacaran dengan suami orang.
“Iya. Katanya nih, Pak Rayen nikahin Bu Vera karena kekasihnya ga bertanggung jawab pas dia hamil. Gentle banget ya,” ujar Lita. “Segitu cintanya Pak Rayen sama Bu Vera.”
Rindu meringis. Posisi Rayen memang sama seperti dirinya. Meski keadaannya berbeda, tapi mereka mencintai orang yang salah.
Love is blind. Cinta itu memang buta, karena buta, Rindu pun memilih bertahan dan melupakan semua yang terjadi.
Tring
Tiba‑tiba sebuah pesan datang dari Sam. Pria jahil yang suka menggodanya meski sudah bertunangan itu bukan mengirim pesan teks melainkan sebuah foto dan video.
Penasaran, Rindu pun membuka foto itu.
“Ini Elang kan? Laki lu kan? Dia di Singapore sama cewek. Di hotel tempat gue nginep.”
Sontak, Rindu pun kembali lemas.
Di dalam foto yang dikirimkan Samudera, tampak Elang menggandeng wanita muda dengan mesra. Meski, Sam membidik pasangan itu dari belakang, tapi Rindu cukup mengenali dengan pasti postur dan gaya keduanya.