Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Max menatap penampilannya, tidak ada yang aneh… hanya kancing kemejanya yang sudah terlepas semua. Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat, lalu kakinya melangkah mendekati istrinya yang masih menutup mata.
Ia menarik tangan Leticia yang sejak tadi menutupi mata, Max dengan sengaja menaruh tangan istrinya ke perut kerasnya.
Leticia membeku, saat tangannya merasakan betapa kerasnya perut sang suami. Matanya langsung terbuka dan mulutnya sedikit terbuka.
“Kakak gila!” Pekik perempuan itu yang langsung menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya.
Leticia kembali membeku, saat Max memeluknya dari belakang. Pria itu sangat sengaja menggoda dirinya.
“Aku ini suamimu, jadi kau bisa bebas melihat atau memegang tubuhku,” bisikan itu membuat Leticia sangat merinding.
“Dan sebenarnya aku tidak suka tidur memakai atasan, jadi biasakan dirimu saat melihat penampilanku saat akan tidur,” Max menarik tubuhnya dan membalikkan tubuh sang istri.
Leticia menahan napasnya, saat melihat begitu jelas delapan kotak di perut suaminya. Tidak hanya wajahnya yang tampan, perut Max tidak kalah tampan. Pria itu benar-benar sangat sempurna.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang diminta oleh Daddy?” Tanya Max yang membuat Leticia tersadar kalau matanya sudah melihat ke mana-mana.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, kedua pipinya mulai memerah dan Max sangat menyukai pemandangan cantik di depannya.
“Daddy meminta cucu,” jawab Leticia yang tidak berbohong.
Max sedikit terkejut mendengarnya, tetapi ia juga merasa senang mendengar permintaan sang daddy.
“Aku akan bicara dengan Daddy agar tidak terlalu menekan permintaanmu,” ucap pria itu yang tidak ingin memaksa istrinya untuk menerima permintaan tersebut.
“Jangan!” Kata Leticia dengan cepat.
Perempuan itu tidak ingin membuat Daniel maupun Calistha merasa sedih, karena Max sampai membahas masalah ini.
“Sayang, aku hanya tidak ingin membebani pikiranmu. Aku ingin kau fokus dengan dirimu sendiri, aku juga masih menunggu hatimu benar-benar siap untuk memiliki seorang anak. Setidaknya, biarkan hatimu benar-benar yakin kepadaku… baru nanti kita memikirkan masalah keturunan,” ujar Max sambil mengusap pipi istrinya.
Leticia memang masih ingin memastikan perasaannya kepada Max. Tetapi kedua mertuanya sudah begitu baik kepadanya dan ia tidak tidak mengecewakan mereka. Max juga memperlakukannya dengan baik.
“Baiklah, aku tidak akan langsung menemui Daddy untuk membahas masalah keturunan. Nanti kalau Daddy bertanya, aku akan mengatakan kalau kita sedang mengusahakannya. Kau tidak boleh banyak pikiran dan fokus dulu dengan balas dendammu.”
Leticia menganggukkan kepalanya, ia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Max yang sangat mengerti keadaannya. Perempuan itu tidak akan membuat Max menunggu begitu lama, ia akan berusaha keras menyakini perasaannya sendiri.
“Aku mandi dulu, biar makan malam aku ambil sendiri,” pria itu berjalan ke arah kamar mandi.
Leticia segera menyiapkan piyama untuk suaminya, karena ini adalah salah satu tugasnya sebagai seorang istri… menyiapkan keperluan suaminya.
Setelah menaruh piyama di atas sofa di walk-in closet, perempuan itu bergegas keluar dari kamar utama dan pergi ke dapur untuk mengambilkan makan malam untuk suaminya.
“Aku memang sangat bodoh kalau ingin bercerai dari suami sebaik Kak Max, tapi hatiku masih belum siap untuk menerima nama baru… setelah aku dikhianati oleh Ashvin. Kalau dibilang aku masih mencintai Ashvin, itu sudah tidak! Justru aku sangat membenci bajingan itu! Aku hanya ingin menata kembali hatiku yang sebelumnya dihancurkan oleh orang-orang yang aku anggap sebagai keluarga dan kekasih.”
Leticia memejamkan matanya, dengan satu tangannya yang berada di dadanya yang masih terasa sakit.
“Aku juga baru menikah selama tiga hari dan belum mengenal suamiku sangat jauh, jadi tidak masalah ‘kan kalau aku masih ingin mengenal Kak Max lebih jauh dulu, sebelum memastikan perasaanku yang sebenarnya sudah nyaman dengannya?”
...***...
Max sedang makan dengan ditemani istrinya yang terlihat sudah sangat mengantuk.
“Tidurlah! Kau pasti lelah seharian ini!” Pria itu menggendong tubuh istrinya untuk dibawa ke tempat tidur mereka.
“Tapi Kak Max masih belum selesai makan,” ucap Leticia yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya.
“Hanya tinggal sedikit, sebentar lagi juga selesai. Aku tidak tega melihatmu yang sudah mengantuk, jadi tidur!” Max menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
“Maaf, aku tidur duluan… selamat malam, suamiku,” ucap Leticia yang tidak sadar kalau panggilan yang diberikan kepada Max akan berefek pada detak jantung pria itu.
“Aku memiliki penyakit jantung?” Bingung Max sambil menyentuh dadanya yang berdebar begitu gila, hanya karena Leticia memanggilnya dengan sebutan suamiku.
Bahkan pria itu kini tidak jadi melanjutkan makannya, karena jantungnya tidak bisa tenang. Biasanya memang berdebar kencang saat berdekatan dengan Leticia, apalagi ketika mereka sedang berciuman,
Namun, sekarang efeknya jauh luar biasa. Max benar-benar tidak bisa menenangkan debaran jantungnya yang semakin menggila.
“Suamiku? Apa itu artinya, Leticia mulai menaruh hati kepadaku?” Pria itu menatap wajah lelap Leticia.
Apa Max boleh percaya diri, setelah mendengar panggilan manis itu dari bibir sang istri?
Baru juga diberi panggilan seperti itu, bagaimana nanti kalau Leticia memanggilnya sayang? Atau saat perempuan itu mengatakan kalau sudah mencintainya?
“Aku harus berkonsultasi dengan dokter spesialis jantung, agar nanti tidak terkan serangan jantung!” Max akan berjaga-jaga, sebelum apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.
“Kau membuatku benar-benar menjadi gila, istriku!” Pria itu mengecup kening istrinya dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.
Sedangkan di waktu yang sama, tetapi di negara berbeda. Leila dan Ashvin akan pulang, karena jatah cuti yang diambil Ashvin tidak banyak dan pria itu harus kembali bekerja agar namanya tetap baik di rumah sakit.
“Semua taksi yang kita pesan tiba-tiba menolak, ini sudah keempat kalinya!” Seru kesal Leila yang sudah tidak kuat berdiri di pinggir jalan.
“Biar aku saja yang pesan!” Ashvin mengeluarkan ponselnya.
Tetapi baru saja ia hendak mencari taksi, seseorang merebut ponselnya dan membuat Ashvin langsung mengejarnya. Leila yang ditinggalkan, terihat semakin kesal dan memilih untuk masuk kembali ke dalam hotel sambil menunggu Ashvin kembali.
Namun wanita itu tidak membawa tiga kopernya untuk masuk ke dalam, ia membiarkannya di pinggir jalan. Sehingga ada seseorang yang mengambil koper tersebut dan membawanya pergi dari sana.
Ashvin sudah kembali, tetapi ponselnya tidak bisa diambil kembali.
“Ke mana Leila?” Panik pria itu yang mencari keberadaan istri dan ketiga kopernya.
Tidak ada di sekitar hotel, Ashvin memilih untuk mencari ke dalam hotel dan ternyata istrinya duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
“Ke mana kopernya?” Tanya Ashvin saat tidak melihat koper di sisi istrinya.
“Bukannya ada di luar?” Tanya balik Leila dengan ekspresi santainya.
“Tidak ada! Makanya aku bertanya kepadamu!” Marah Ashvin yang membuat Leila terkejut.
Keduanya bergegas keluar dan Leila benar-benar panik saat tidak melihat tiga koper yang berisi barang-barang belanjaannya tidak ada.
“Tadi ada di sini! Aku cuma meninggalkannya sebentar,” jelas Leila yang rasanya ingin menangis.
“Bodoh! Dompetku ada di dalam koper! Paspor dan yang lainnya juga ada di dalam koper!”
Ashvin memaki istrinya yang sudah menangis, karena mereka akan kesulitan untuk pulang… kalau sampai tidak menemukan keberadaan koper yang sudah dicuri.
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️