Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intrik Berdarah di Atas Dek
Pintu besi palka terbuka dengan derit yang memekakkan telinga. Dua orang penjaga bertubuh besar dengan senapan serbu tergantung di pundak melangkah masuk, bermaksud memeriksa kondisi enam siswi yang mereka anggap sebagai tawanan yang lemah.
"Hei! Kenapa kalian bisa lepas—"
Brak!
Kalimat penjaga pertama terputus ketika Aleyna melompat dari balik pintu, melayangkan tendangan lutut yang telak menghantam ulu hati pria itu hingga terjerembab ke lantai marmer palka. Senapannya langsung direbut oleh Aleyna dengan gerakan yang sangat lihai.
Penjaga kedua yang hendak menarik pelatuk senjatanya mendadak kaku. Sebuah jarum perak berukuran mikro telah tertancap tepat di urat nadi lehernya. Fyrline berdiri di belakangnya dengan senyuman manis yang mematikan, jemarinya masih memegang sisa jarum beracun dari balik lipatan rok seragam spannya.
"Tidur yang nyenyak, Gentleman," bisik Fyrline lembut saat pria besar itu ambruk tak sadarkan diri dalam hitungan tiga detik akibat reaksi racun neurotoksin dosis mikro.
Miya melangkah maju, merebut magasin cadangan dari sabuk penjaga yang pingsan. "Kerja yang bagus, Kutu Buku. Sekarang, bagaimana kita keluar dari kapal kargo bergerak ini?" Logat asingnya terdengar penuh wibawa di tengah ketegangan yang mendidih.
Eriza, sang Ratu Kematian, melangkah paling depan memimpin formasi. Belati karambit-nya berkilat tajam di bawah cahaya bulan yang menembus celah ventilasi dek atas. "Ikuti gue. Jangan ada yang mengeluarkan suara. Target utama kita adalah ruang kemudi kapten."
Keenam gadis itu bergerak menyusuri koridor kapal kargo yang sempit seperti segerombolan serigala malam yang sedang berburu. Seragam sekolah mereka yang putih-abu-abu kini menjadi kamuflase yang aneh di antara dinding-dinding besi kapal yang berkarat.
Di barisan belakang, Azrint berjalan dengan napas yang mulai teratur, tangannya yang halus memegang erat potongan besi tajam, matanya yang sewarna karamel tua terus mengawasi punggung tegap Aleyna yang berjaga di depannya. Ada ikatan emosional aneh yang mulai terbangun di antara mereka sebuah rasa saling percaya yang lahir dari tekanan maut yang sama.
"Amel, matikan mesinnya sekarang," perintah Aleyna lewat bisikan rendah.
Camellia yang berjalan di tengah barisan langsung menekan tombol eksekusi pada gawai modifikasinya.
Pet!
Seketika itu juga, seluruh lampu penerangan di dalam ruang palka kapal kargo padam total. Suara deru mesin utama kapal yang tadinya bergetar hebat mendadak senyap, menyisakan suara deburan ombak laut yang dihantam lambung besi dengan keras. Kapal kargo itu mati kutu di tengah samudra lepas Jakarta akibat sabotase digital yang dilakukan oleh Camellia lewat gawainya.
"Sialan! Apa yang terjadi dengan listriknya?!" Teriakan panik dari para penculik terdengar bersahutan dari arah koridor luar palka.
"Ini wilayah kita sekarang," gumam Eriza Tryanaz dengan nada dingin yang pekat.
Dalam kegelapan total yang membutakan mata manusia biasa, sepasang mata hitam legam milik Eriza justru melebar, menyesuaikan diri dengan sisa cahaya bulan yang menerobos celah ventilasi udara. Tubuh porselennya melesat maju ke arah pintu palka yang terbuka dengan gerakan yang sangat senyap, nyaris menyerupai embusan angin malam yang membawa maut. Jemarinya yang ramping mencabut belati karambit dari balik pinggang rok seragam spannya.
Sret!
"Akh!" Sebuah jeritan tertahan lolos dari mulut penjaga pertama yang berjaga di ambang pintu.
Eriza tidak berniat membunuh, namun tusukan presisi belatinya berhasil memotong urat tendon di pergelangan tangan pria itu, memaksa senapan serbu yang dipegangnya jatuh ke lantai. Sebelum senjata api itu menyentuh marmer, sebuah tangan tegap lain sudah menyambarnya dengan kecepatan luar biasa.
"Pinjam senjatanya ya, bajingan," bisik Aleyna Rossalind dengan seringai lebar yang tidak terlihat di kegelapan. Dengan satu sentakan popor senapan, Aleyna menghantam rahang penjaga tersebut hingga pingsan seketika.
Penjaga kedua yang berada di belakangnya panik, meraba-raba senter taktis di sabuknya. "Woi! Ada penyusup! Anak-anak itu le—"
Tlesb. Sebuah jarum perak berukuran mikro menancap tepat di urat nadi lehernya.
Fyrline Zyornaland berdiri di kegelapan dengan senyuman manis yang mematikan, meskipun tidak ada yang bisa melihatnya. Jemarinya menarik kembali sisa benang nilon yang mengikat jarum tersebut dari balik lipatan rok seragamnya. "Tidur yang nyenyak, Tuan," bisik Fyrline lembut saat pria besar itu ambruk tak sadarkan diri dalam hitungan tiga detik akibat reaksi racun neurotoksin dosis mikro buatan Tante Maya.
"Kerja yang bagus, Kutu Buku," puji Miya Fynezayn sembari melangkah maju, merebut magasin cadangan dari sabuk penjaga yang pingsan. Dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dan tubuh body goals-nya, Miya bergerak lincah menembus kegelapan, mengokang senjata yang ia rebut dari penjaga lain dengan wibawa taktis seorang pewaris kartel internasional. Logat asingnya terdengar sangat tajam di tengah koridor yang sempit. "Sekarang, kita harus amankan ruang kemudi kapten sebelum mereka menyalakan generator cadangan."
"Gue bakal pimpin jalan di depan. Amel, lo jaga Azrint di barisan tengah," perintah Aleyna tegas, insting gangster jalanannya mendidih melihat situasi pertempuran jarak dekat ini.
Azrint Breynerlanz menggenggam erat sepotong besi tajam yang ia temukan di lantai palka. Kulit perinya yang seputih peri tampak pucat di bawah kegelapan, namun sepasang matanya yang sewarna karamel tua memancarkan ketegasan yang murni. "Gue gak butuh dijaga ketat, Aleyna. Gue bisa jaga diri gue sendiri. Sialan, jangan remehkan nama Breynerlanz."
Camellia Putri tertawa kecil, suara renyahnya yang menggemaskan terdengar sangat kontras dengan situasi berdarah di sekeliling mereka. "Tenang aja, Azrint. Kalau ada yang berani mendekat dalam radius dua meter, gue bakal bikin ponsel mereka meledak lewat gelombang frekuensi pendek." Wajah imut (baby face) Camellia tampak bersinar samar akibat pantulan layar gawai modifikasinya yang terus memantau pergerakan musuh di lantai atas.
Keenam gadis itu bergerak menyusuri koridor kapal kargo yang sempit seperti segerombolan serigala malam yang sedang berburu. Seragam sekolah mereka yang putih-abu-abu kini menjadi kamuflase yang aneh di antara dinding-dinging besi kapal yang berkarat. Setiap kali ada penjaga yang mencoba menghadang di kegelapan, kombinasi tendangan fisik Aleyna, tembakan taktis Miya, jarum rahasia Fyrline, dan tusukan sunyi Eriza berhasil menyapu bersih jalur mereka tanpa ampun.
"Satu lantai lagi menuju dek utama," bisik Eriza, menghentikan langkahnya di bawah tangga besi yang menuju ke arah ruang kemudi. Matanya menatap ke atas, di mana beberapa lampu darurat berwarna merah mulai menyala berkedip-kedip, menandakan bahwa para penculik mulai menyadari ada yang tidak beres dengan tawanan mereka. Ketegangan romantis yang gelap kian memuncak di antara enam gadis dunia bawah ini, bersiap untuk memberikan pukulan terakhir pada faksi yang berani mengusik ketenangan mereka.