Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jumat jam 10 pagi
Jumat jam 9 pagi. Sinta udah duduk di kursi tunggu Poli Kandungan RS Hermina lantai 3.
Daster batik, jilbab segi empat, sendal jepit. Penampilan "istri yang nganter adek USG". Map item dia selipin di totebag, dipeluk kenceng.
Jantungnya kayak genderang. Tiap ada nama dipanggil dia noleh. Takut telat.
Jam 9 lewat 50, suster manggil: "Rayya Putri!"
Rayya muncul dari arah toilet. Dress item selut lagi. Rambut digerai, perutnya... belum keliatan. Baru 2 bulan.
Di belakangnya Mas Arga. Jas item, rambut klimis, bawa map yang sama kayak di foto. Map "client".
Sinta nutup muka pake jilbabnya. Ngintip dari sela. Nafasnya ditahan.
"Sayang, duduk sini," Mas Arga narik kursi buat Rayya. Lembut banget. Suara yang Sinta denger 10 tahun terakhir cuma pas Sinta demam doang.
Rayya duduk, nyender ke bahu Mas Arga. "Mas, aku takut jarumnya."
"Gak apa-apa. Mas temenin." Mas Arga ngusap punggung Rayya. "Demi dedek juga."
Dedek.
Dada Sinta kayak ditusuk jarum beneran. Tangannya nge-remes map item sampe kancingnya hampir lepas.
Nama Sinta dipanggil suster: "Ibu Sinta, pendamping pasien Rayya Putri, silakan masuk."
Sinta berdiri. Kaki goyang. Dia jalan masuk ruangan USG, nunduk. Akting bego level dewa.
Ruangannya dingin. Ada alat USG gede, layar monitor ngadep ke dokter.
"Selamat pagi Bu. Ini suaminya ya?" Dokternya senyum ke Mas Arga.
Mas Arga kaku. Keringat dingin. "Eh... iya Dok."
Sinta nunduk makin dalem. "Iya Dok, saya kakaknya. Yang daftarin kemarin."
Bohong lancar. 10 tahun nikah ngajarin dia akting.
Gel USG dioles ke perut Rayya yang masih rata. Terus suara "duk duk" kedengeran dari speaker.
Detak jantung bayi.
"Normal Bu, 160 kali per menit. Usia kehamilan 8 minggu 3 hari," kata dokter sambil nunjuk layar. Bintik putih kecil. Jari, tangan... calon anak.
Mas Arga genggam tangan Rayya. Mata mereka ketemu. Senyum. Senyum bahagia. Senyum yang Sinta kejar 2 tahun terakhir pas dia keguguran.
"Mas, mirip Mas nggak?" Rayya bisik.
"Mirip. Hidungnya mancung kayak Mas," jawab Mas Arga. Bangga banget.
Sinta di pojok ngerasain dunia runtuh pelan-pelan. Tapi mukanya tetep datar. "Alhamdulillah sehat ya Dek," katanya pelan. Akting kakak penyayang.
Dokter ngasih hasil print USG. Foto hitam putih. Bayi 8 minggu.
Rayya ngelipat fotonya, nyelipin ke tas Mas Arga. "Simpen Mas. Buat kenang-kenangan kita."
Mas Arga nyium kening Rayya. Nggak peduli ada Sinta + dokter di situ.
"Udah ya Bu, bisa keluar. Minggu depan kontrol lagi," kata dokter.
Sinta jalan keluar duluan. Pas di pintu, dia berhenti. Nengok dikit.
Mas Arga lagi ngelap keringat Rayya pake tisu. Tingkahnya... persis kayak dulu pas Sinta hamil Naya. Beda nya, dulu dia ngelap keringat Sinta. Sekarang ganti orang.
Sinta keluar. Duduk di kursi tunggu lagi. Tangannya gemeter buka map item. Foto USG itu... dia foto pake HP dari jauh. Bukti ke-4.
HP-nya bunyi. Chat Mas Arga ke Sinta:
"Sayang, Mas lembur sampe malem ya. Jangan ditunggu. Love you ❤️"
Sinta ngeliat chat itu. Terus ngeliat Rayya + Mas Arga jalan keluar dari poli. Rayya nyengir ke arah Sinta. Senyum "makasih udah nganterin USG, Mbak" tapi matanya bilang "gimana rasanya Mbak?"
Sinta bales senyum. Senyum paling tulus seumur hidupnya. Palsu 100%.
"Mas hati-hati di jalan," teriak Sinta ke arah mereka. Suaranya manis.
Mas Arga nengok kaget. "Eh Sayang... kok ada di sini?"
Sinta garuk kepala, akting kaget. "Lho Mas? Aku anterin adek aku USG. Kebetulan banget ya kita ketemu. Mas kok di sini?"
Mas Arga panik 2 detik. "Oh... ini... client Mas. Hamil. Suaminya di luar negeri. Mas yang anterin. Kasihan."
Rayya langsung nyaut, pegang lengan Mas Arga: "Iya Mbak, makasih banyak ya Mas Arga udah baik banget. Nolongan orang."
Sinta manggut-manggut. "Iya Mas emang baik. Suka nolongin orang. Makasih ya Mas udah nolongin adek aku juga."
Mas Arga keringetan. Rayya senyumnya makin lebar.
"Udah Mas, buruan. Clientnya nunggu," Sinta dorong punggung Mas Arga pelan. "Jangan telat. Nanti dedeknya kedinginan."
Kata "dedek" dia tekan. Mas Arga langsung pucat.
Mereka buru-buru pergi. Rayya sempet bisik ke Sinta pas lewat: "Akting Mbak bagus. 10/10."
Sinta nggak jawab. Dia nunggu mereka ilang dari lift. Baru napasnya dia lepas.
Lututnya lemes. Dia jongkok di lantai RS. Nggak peduli orang ngeliatin.
Map item dia buka. Foto USG + foto Mas Arga peluk Rayya + surat "aku hamil" dia susun sejajar.
Sinta ketawa pelan. Ketawa yang nggak ada suaranya. Air matanya jatuh ke foto USG itu. Netes pas di bintik putih kecil.
"Selamat ya Mas... selamat ya Rayya... selamat ya dedek," bisiknya.
Tapi tangannya... tangannya ngepal kenceng. Kuku nancep ke telapak tangan sampe berdarah.
Jumat jam 10 pagi itu, Sinta ngubur "Sinta istri sabar". Yang bangkit dari lantai RS Hermina... Sinta versi baru.
Versi yang nggak nangis lagi. Versi yang ngitung.