Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20
Suasana di ruang kerja Tuan Denis yang biasanya tenang mendadak berubah tegang ketika sekretarisnya mengabarkan kedatangan seorang tamu.
"Maaf, Pak. Nyonya Yusi ingin bertemu dengan Anda. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan."
Denis mengangkat kepala dari tumpukan berkas di mejanya. Dahinya berkerut. Yusi tidak membuat janji sebelumnya, tiba-tiba datang ke kantornya? Apa yang terjadi?"
"Suruh dia masuk," ucapnya singkat.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Yusi melangkah masuk dengan wajah datar, tetapi sorot matanya menyimpan amarah yang sulit disembunyikan. Ia berdiri tepat di depan meja Denis tanpa sedikit pun basa-basi.
"Alvaro tidak bisa memutuskan hubungan secara sepihak dengan Elizabets, Tuan Denis. Kita sudah sepakat waktu itu," katanya dengan nada bergetar.
Denis menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tajam meneliti wajah calon besannya. Ia sama sekali tidak menyangka Yusi datang hanya untuk membahas persoalan pertunangan yang mulai retak.
"Sepakat? Saya tidak mengerti apa maksudmu?" Denis tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan.
"Bukankah sejak awal Alvaro sudah menjalankan semua yang kita inginkan? Apa lagi yang Anda khawatirkan?"
Yusi mengepalkan kedua tangannya.
"Saya tidak datang untuk berdebat. Saya hanya ingin mengingatkan Anda agar tidak membiarkan Alvaro mengingkari janjinya. Elizabets sudah terlalu banyak berharap."
Ucapan itu membuat sorot mata Denis berubah dingin. Ada nada ancaman yang jelas terdengar dari setiap kata Yusi.
"Kalau sampai Alvaro membatalkan pertunangan ini," lanjut Yusi dengan suara bergetar menahan emosi, "saya tidak akan tinggal diam. Nama baikmu akan hancur terutama kariermu."
Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di antara tatapan tajam dua orang tua yang sama-sama mempertahankan kepentingannya.
Denis menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata pelan, "Tenanglah, Bu Yusi. Saya lebih mengenal putra saya daripada siapa pun. Alvaro tidak akan berani melawan keputusan saya."
Meski mengucapkannya dengan penuh keyakinan, jauh di lubuk hati Denis muncul kegelisahan. Beberapa hari terakhir ia melihat perubahan pada Alvaro. Tatapan putranya tak lagi menyiratkan kepasrahan, melainkan tekad yang perlahan tumbuh untuk melawan.
Dan jika hari itu benar-benar datang, bukan hanya pertunangan yang akan hancur, tapi semua perusahaan yang telah ia rintis selama ini juga akan ikut runtuh. Denis tak ingin hal itu sampai terjadi.
"Jangan dibesar-besarkan masalah ini. Aku akan bicara baik-baik dengan Alvaro," sahut Denis meyakinkan Yusi.
"Alvaro dan Elizabets harus segera menikah, jangan ditunda lagi. Aku muak dengan sikap dingin Alvaro terhadap Elizabets."
Mendengar itu, Denis membantah dengan nada dingin, "Seharusnya Elizabets menerima risiko dari kelakuan Alvaro padanya. Dia tahu Alvaro dan Anna saling mencintai, tapi kenapa masih ngotot ingin memiliki Alvaro?" Ucapan itu seperti dentuman keras di telinga Yusi. Denis tiba-tiba mengucapkan hal yang seharusnya tak pernah keluar dari mulutnya. Untung saja Elizabets tidak ada di tempat itu.
" Kamu tahu sendiri, kan, Eliz sangat membutuhkan Alvaro," kata Yusi dengan nada tak mau kalah.
"Saya sudah melakukan berbagai cara, bahkan saya sengaja menyuruh mereka berobat ke luar negeri supaya Alvaro dan Eliz bisa saling mengenal lebih dalam. Tapi... kamu pasti lihat, Elizabet tak pernah berhasil meraih cinta Alvaro."
"Justru karena itu, Anda harus lebih tegas lagi, jangan biarkan Alvaro melakukan sesuatu yang merugikan semua orang." Tegas Yusi.
***
Dalam perjalanan pulang, Denis merenung dalam-dalam. Apa sebenarnya yang dilakukan putranya, hingga Yusi datang ke kantornya dengan wajah emosi? Belakangan ini, tekanan terus menghimpitnya karena ancaman Yusi yang selalu menghantui pikirannya.
“Kesalahan apa yang kamu buat, Al? Apakah kamu berniat meninggalkan Eliz dan kembali pada Anna? Awas, kamu,” bisik suara dalam kepalanya dengan rahang yang mengeras.
" Tidak akan kubiarkan kamu meninggalkan Eliz." Gumamnya.
Pelan-pelan mobil hitam itu memasuki halaman rumah megah yang berdiri angkuh di tengah taman yang tertata rapi. Lampu-lampu taman memantulkan cahaya keemasan di atas kaca mobil, menciptakan kesan hangat di tengah senja yang mulai meredup. Denis mengulas senyum tipis saat melihat sosok istrinya sudah berdiri menunggu di teras depan.
Lidya.
Perempuan itu menyambutnya dengan senyum teduh yang selalu berhasil meredakan lelah di dada Denis. Satu hal yang tak pernah berubah dari istrinya adalah kesabaran dan kelembutan yang seolah tak habis dimakan waktu.
Denis turun dari mobil, lalu mendekati istrinya. “Kenapa Mama tidak masuk dan istirahat?” tanyanya lembut, matanya menatap penuh perhatian.
Lidya menggeleng kecil.
“Aku sengaja menunggu Papa di sini.”
Denis mengangkat sebelah alis, lalu tersenyum samar.
“Kangen? Seperti Papa baru pulang dari perjalanan jauh?” godanya.
Lidya sontak mencibir pelan, namun ada semburat merah tipis di pipinya. Sudah lama sekali suaminya tidak berbicara selunak ini. Biasanya Denis selalu sibuk, wajahnya serius, pikirannya dipenuhi urusan kantor dan masalah keluarga yang tak ada habisnya. Namun hari itu, ada sesuatu yang berbeda.
“Tumben Papa bercanda,” ujar Lidya lirih, setengah heran.
Denis terkekeh pelan. Ia lalu meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Hangat. Nyata. Dan untuk sesaat, rumah itu terasa jauh lebih tenang dari biasanya.
“Aku juga manusia, Lid,” ucap Denis pelan. “Sesekali aku ingin pulang dan merasa disambut seperti ini.”
Lidya menatap suaminya lama, lalu senyumnya mengembang. Sejak beberapa hari terakhir, suaminya memang sering tampak gelisah. Meski mencoba bersikap biasa, tetap saja Lidya bisa membaca ada rahasia yang sedang ia simpan rapat-rapat.
“Papa terlihat lelah,” katanya pelan. “Ada masalah lagi?”
Denis diam sejenak. Senyum di bibirnya memudar, digantikan tatapan yang lebih berat. Angin semilir berembus pelan, menggoyang dedaunan di halaman rumah mereka. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa ganjil.
“Ada sesuatu yang harus Papa bicarakan,” jawab Denis akhirnya, suaranya rendah dan hati-hati.
Lidya menegang. Ada firasat tak enak yang tiba-tiba merayap di dadanya.
“Malam ini, kita masuk dulu,” katanya kemudian.
“Papa tidak mau membicarakannya di luar.”
Lidya mengangguk pelan, meski rasa penasaran kian menguat.
Ia ikut melangkah masuk bersama Denis, melewati pintu besar rumah yang terbuka lebar. Dari luar, rumah itu tampak sempurna. Megah, rapi, dan mewah.
" Papa yakin Alvaro akan menurut pada kata Mama. Karena itu, Papa mohon, bicaralah pada Alvaro agar segera menikahi Eliz."
"Tapi kenapa, Pa? Mama tidak ingin memaksa Alvaro. Cukuplah Papa dulu yang memaksa dia bertunangan dengan Eliz."
Denis menatap istrinya dengan sungguh-sungguh.
"Papa mohon, Ma. Ini demi masa depan Alvaro dan keluarga kita." Denis mengatupkan kedua tangannya di depan istrinya. Lidya menunduk, ragu.
"Mama tidak berani, Pa." Kata Lidya terdengar berat.
"Kalau begitu, katakan pada mereka berdua agar segera pulang. Pernikahannya akan dilangsungkan di sini."
Lidya tak mampu menolak lagi permintaan suaminya ketika melihat tatapannya yang penuh harap, seperti pengemis yang memohon belas kasihan.