NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Psikopat itu cintaku / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Jika Laudia

[JANGAN LUPA LIKE SETIAP MEMBACA]

Setelah bertahun-tahun hancur akibat dicampakkan tanpa alasan oleh sang istri, akhirnya Nevandra Ardiona kembali menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru.

Namun, rupanya takdir masih belum bosan bercanda dengannya karena sang masa lalu justru kembali menyapa dan membuat perasaan yang susah payah ditata Nevan kembali jungkir balik.

Gantari Dihyan Irawan, seorang gadis manis yang pernah mati-matian dicintai Nevan hadir kembali dengan sikap berbeda. Begitu dingin dan ... galak.

Akankah Nevan kembali dengan kisah lamanya? Atau tetap melanjutkan kisah yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh

Sesampainya kembali ke Jakarta, Gantari langsung mampir ke rumah sakit untuk menemui ibunya. Tanggung jawab mengenai laporan hari ini ia serahkan pada Fikri agar diberikan pada Nevan. Fikri mengangguk menyanggupi intruksi, meski ia masih bertanya-tanya dengan tujuan Gantari ke rumah sakit.

"Pak Sasongko batal minggat, Pak. Dia jadi CLBK dengan kita," lapor Fikri setibanya di kantor.

Nevan tersenyum kecut. Dia tidak suka dengan istilah yang digunakan Fikri, bawa-bawa CLBK segala.

"Rekan lo mana?" tanya Nevan akhirnya. Sebenarnya dia sudah penasaran dari tadi, karena yang menghadap padanya hanya Fikri seorang.

Fikri yang sedari tadi berdiri hormat, langsung melempar tubuhnya ke atas sofa. Kalau Nevan sudah bicara santai dengannya itu tandanya status mereka sekarang bukan atasan-bawahan lagi, melainkan teman.

"Mampir ke rumah sakit tadi," jawab Fikri. Kemudian ia melepas jaketnya.

Nevan mengangguk maklum. Ia tahu persis tujuan Gantari ke rumah sakit.

"Apa dia mabuk udara, ya?" ucap Fikri tiba-tiba, kemudian memukul keningnya sendiri. "Dasar nggak peka."

Fikri meraih kembali jaketnya, lantas berdiri, "Gue susul Gantari dulu, ya."

Nevan mendengus, lalu melemparkan sekaleng minuman soda yang baru diambilnya dari dalam kulkas mini pada Fikri. Si pemuda berambut keriting itu dengan sigap menangkapnya.

"Minum dulu," kata Nevan sembari menutup kulkas. Tak lupa ia mengeluarkan satu kaleng lagi untuk dirinya sendiri.

"Bentar, gue mau ngecek Gantari dulu," tolak Fikri.

Mendengar penuturan Fikri barusan membuat Nevan membelalakkan mata, "Anda sudah berani melawan, ya, akhir-akhir ini."

Fikri duduk lagi. Kalau Nevan sudah bicara formal begini, nyali Fikri pasti langsung ciut.

"Segitu nggak sukanya, ya, bapak sama Gantari," gumam Fikri, lantas membuka kaleng minumannya.

Nevan sempat tercenung mendengar ucapan Fikri barusan, lalu ia ikut membuka kaleng minuman dan menyeruputnya sedikit.

"Memang," jawabnya kemudian.

***

Hingga sore Shanessa belum juga mendapatkan kabar dari Gantari. Apakah sang sepupu sudah tiba kembali ke Jakarta atau belum? Apakah urusannya berjalan lancar atau ada kendala? Pikirannya jadi tak tenang, takut kakek murka lagi pada Gantari. Jadi dia memutuskan untuk menjenguk tantenya, ibu Gantari, di rumah sakit.

Kasihan seharian ini nggak ada yang melihat kondisinya, pikir Shanessa. Ia berinisiatif mengantikan peran Gantari hari ini saja.

Shanessa sudah tiba di rumah sakit, lantas langsung bergegas menuju ruang inap sang tante. Tangannya sudah akan memutar kenop pintu, ketika gelak tawa terdengar dari dalam sana. Shanessa memutuskan untuk mengintip terlebih dahulu dan mendapati Gantari dan Farez ada di dalam ruangan sambil tertawa.

Gantari sudah pulang? Syukurlah.

Tapi bukan itu yang aneh. Gantari tertawa selepas ini adalah hal yang langka, bahkan nyaris mustahil.

Sempat dilanda kebingungan, akhirnya Shanessa membuka pintu juga. Dua orang yang tadi sedang terbahak sontak menoleh, namun rasa terkejutnya terhadap tawa Gantari belum apa-apa ketimbang saat Shanessa melihat sang tante juga ikut menatapnya.

Shanessa sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat sempurna. Sempat tergagap ketika ia bertanya, "Tante udah sadar?"

Gantari menoleh pada sang ibu dan berkata dengan lembut, "Shaness, anak Om Ardiman."

Ibu tersenyum hangat, kemudian membuka tangan minta dipeluk.

Shanessa sedikit berlari dan masuk ke dalam pelukan itu. Air matanya menetes deras. "Kapan tante sadar?" tanyanya di sela isakan.

"Dua hari yang lalu," Gantari bantu menjawab.

Shanessa melotot kaget, lantas bangkit dan melayangkan tatapan kecewa pada Gantari yang tidak memberi tahunya kabar sebaik ini.

"Shaness udah besar, ya?" Suara ibu masih terdengar lemah. Pergerakannya pun sangat lamban.

Shanessa kembali membalas tatapan Tante dengan hangat. Kemudian, dengan ceria menceritakan kalau sewaktu kecil, dia sangat suka memakan masakan tantenya itu dan berharap masih bisa mencicipinya lagi. Ibu terkekeh mendengarnya, lantas terbatuk kecil, hingga membuat semua orang panik.

Kondisi ibu masih sangat lemah, sehingga waktu berkunjung dibatasi. Shanessa pamit dan Gantari berinisiatif untuk mengantarnya sampai ke depan. Sebelum mereka keluar, tiba-tiba ibu bertanya, "Dihyan, Dion mana?"

Pertanyaan yang Gantari tahu bakal dilontarkan sang ibu cepat atau lambat, namun tetap saja membuatnya tergugu. Tubuhnya menegang ketika menyadari Shanessa memperhatikan. Beruntung nama yang tercetus adalah nama Dion, jadi Gantari bisa sedikit lega.

"Kerja," jawabnya cepat.

"Dari kemarin ibu belum lihat soalnya," kata ibu tersenyum hambar.

Ibu belum tahu tentang perpisahan mereka. Biarlah sementara waktu tidak perlu tahu dulu.

Gantari menghela napas pelan, kemudian tersenyum tipis. "Dion kerja diluar kota. Tadi malam nelpon, nitip salam," jelasnya lembut, lantas ia melangkah dan mengecup kening ibu dan memintanya agar segera tidur selagi ia mengantar Shanessa.

Baru saja pintu ditutup, Shanessa langsung menumpahkan rasa kecewanya pada Gantari yang menyembunyikan kabar sang ibu. Gantari hanya tersenyum dan berdalih kalau waktunya belum tepat yang dibalas Shanessa dengan cibiran. Namun, amarahnya terlupakan ketika ia geringat sesuatu. "Eh, Dion itu siapa?" tanyanya cengengesan sambil menyenggol lengan Gantari.

Gantari gelagapan dan cepat-cepat menjawab, "Teman dekatku dulu." Kemudian ia mendorong tubuh Shanessa agar segera pergi dan melambaikan tangan padanya.

Masih di pelataran parkir Rumah Sakit, sebelum melajukan mobil, Shanessa memutuskan untuk menghubungi Nevan dan berbagi kabar bahagia. Ia tahu tunangannya itu pasti masih berkutat dengan berkas-berkas di kantor sembari menunggu waktu pulang. Telepon baru saja dijawab, dan Shanessa dengan tak sabar langsung menceritakan tentang kabar ibu Gantari yang telah siuman dengan nada haru.

Nevan yang mendengarkan sontak mengembangkan senyum. Ia merasakan hatinya menghangat dan diam-diam mengucapkan syukur berkali-kali. Ia merasa sangat lega dan turut bahagia.

Seperti yang diduga, Gantari kembali ke kantor pada sore hari seperti biasa. Nevan sudah menunggu dan berharap mendengar kabar baik langsung dari Gantari, namun tidak. Gantari tidak menceritakan apapun, hingga pak Sarif datang menjemput dan fakta itu membuat Nevan melepas kepergiannya dengan tatapan sedih.

***

Pagi ini, Nevan tidak datang ke kantor tepat waktu. Fikri datang lagi dan mondar-mandir karena belum mendapati sang atasan berada di ruangan.

Tumben-tumbennya Nevan terlambat, pikir Fikri.

Sambil mengisi waktu luang, dia kembali menggoda Gantari dan mengutarakan rasa bahagianya yang melihat Gantari makin ceria belakangan ini. Hal ini juga diamini Nanda dan Widia. Apa lagi pagi ini Gantari membawa empat tingkat kotak makan yang disesaki makanan yang dimasak khusus oleh dirinya sendiri.

"Wah! Akhirnya nyicip masakan Gantari juga." Nanda mulai mencapit jamur krispi dengan jarinya.

"Ini belum ada tuannya, kan, Tar? Kayak waktu itu," goda Widia cekikikan.

Elma yang baru datang, langsung berlari heboh ketika melihat Nanda mengangkat jamur kripsinya hendak pamer.

Fikri yang terjebak dengan para wanita memilih membawa kabur sekotak roti selai alpukat telur yang langsung disambut oleh teriakan tak terima teman-temannya. Sedangkan, yang disoraki tak ambil peduli. Roti selai alpukat telur sukses membuatnya lupa dengan misinya menemui Nevan.

Sosok yang ditunggu Fikri rupanya sedang galau di depan ruang inap, antara mau masuk menyapa atau hanya mengintip saja. Namun, kemudian tekadnya bulat untuk masuk. Toh, hubungannya dengan mantan mertuanya itu baik-baik saja.

"Assalamualaikum."

Ibu membuka kelopak matanya pelan, lantas senyum terkembang di bibirnya. Ia menjawab salam Nevan meski terdengar lemah.

"Dion?"

Nevan tersenyum, lantas mengangguk. Kemudian, ia berjalan mendekat. Diciumnya punggung tangan ibu, lalu menanyakan kabar.

"Kamu pasti capek. Pulang dari luar kota langsung kesini," raut ibu berubah sendu.

Nevan tidak mengerti, tapi dia tahu satu hal kalau Gantari pasti telah mengarang cerita. Makanya ia ikuti saja alurnya.

"Maaf, ya. Demi ibu dan Dihyan kamu jadi menderita," ada air mata di pelupuk mata ibu, maka Nevan buru-buru menggeleng.

"Ibu ngomong apa? Kalian kebahagiaan baru untukku," Nevan tercekat. Air matanya juga ikut tumpah dan dengan cepat dipeluknya wanita rapuh itu.

Tepat jam makan siang, giliran Gantari yang datang. Dia membawa sup ayam jahe dan langsung menyuapi sang ibu.

"Dion kerjanya sekarang bagus, ya?" Ibu tersenyum lembut, kemudian melanjutkan, "Dia makin ganteng kalau pakai baju rapi begitu. Kayak orang kantoran," kenangnya bangga.

Gantari mengernyit bingung.

Halusinasi ibu saja atau Nevan memang kesini?

Setelah sup ayam jahe buatan Gantari sudah dimakan ibu dengan lahap meski tidak sampai habis, maka Gantari pamit untuk bekerja kembali.

Di kantor, lidah Gantari berkali-kali bergerak hendak bertanya pada Nevan perihal pernyataan ibu ketika melihat sang atasan sedang sendiri atau tidak sengaja berpas-pasan, namun selalu ia urungkan.

Tidak boleh ada jalan terbuka antara dirinya dan Nevan, tegas Gantari pada dirinya sendiri.

1
betters
Kecewa
betters
Buruk
Cinta Rodriques
thour blm nikah kok udh. selesai aja....
Wiwik Widyaningsih
seperti bang maher ya
Syakilla
novel pertama ku baca...dan sampai skarang ku ulang2 karna suka...pokoknya the bast
Hikmah Mashuroh
Kecewa
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
ehhh bru lulus Sekolah atau lgi kuliah kali yaa 18 taun
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
apa Kakek gantari engga tau klo cucunya udah menikah?

lanjutttt bau bau Clbk ini sih 🤭
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
ini alurnya mundur kak kak?

menarik nihh
lanjut baca deh
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
mampir yg kedua kali di krya kak jika Claudia setelah suprbia yg entah endingnya blm tahu🤭🙏
Joeiksa Tree
aku mampir kak,
Ova
loe bener bener sedeng y thooor....

cerita loe ga ke detack...😎
Ama
tubuhkan = tubuhnya
Ama
kamu yang cemburu
Ama
gak.
Ama
Adiwiyata
Ama
keluarga Ardiwinata atau Adiwinata. ?????
Eti
dia mantan istriku.......kata Nevan.
Eti
kata 'pada' kok berasa ganggu yah 🤔🤔🤔
Ditta
ngelamar orang tuh pake cinta Bang,bukan pake kasihan 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!