Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
"Hallo Pi, Papi gak apa apa??"
Adella sedang menelpon Papinya, karena merasa ada perasaan gak enak dan khawatir terhadap sang Papi
"Papi gak apa apa sayang, jangan khawatir, ini Papi lagi selesai mandi" bohong Papi Surya
Papi Surya saat ini berada di Rumah Sakit Permata, Rumah Sakit milik keluarga Papah Vano. Sudah dari kemarin sore, Roy sang asisten Papi Surya membawa beliau ke Rumah Sakit, karena melihat sang bos nya merintih kesakitan memegangi perutnya dengan wajah pucat
"Jangan beri tau Adel dulu" ucap Papi Surya kemarin kepada Om Roy ketika mengantarkan PapI Surya ke Rumah Sakit.
Sengaja Papi Surya tidak memberitahu Adel, karena hari ini hari terakhir kegiatan MOS di Sekolahnya, dan juga Papi Surya tidak ingin membuat sang putri bersedih
"Ya udah aku berangkat sekolah dulu ya"
"Hati hati, nanti siang biar dijemput Om Roy" ucap Papi Surya dengan menahan rasa sakit di perutnya
Adella turun, di lihatnya di meja makan sudah sepi yang tertinggal hanya Mam Delima dan Papah Kenzo
"Pagi Pap, Mam, kok sudah sepi??"
"Abang ma Kakak kemana?"
"Bang Zi ma Kak Za sudah berangkat dulu Del, ada acara di sekolahnya yang mengharuskan untuk berangkat pagi" ujar Mam Delima dengan mengisi nasi beserta lauk pauk ke dalam piring Adel
"Cukup Mam, ini kebanyakan" Tolak Adel ketika melihat nasi besera lauk pauk yang sudah menggunung di piringnya
"Biar sedikit berisi sayang"
Adel tersenyum lalu segera menghabiskan sarapannya
"Nanti berangkatnya Papah anter sayang"
Adel mengangguk, ada senyum kebahagiaan di wajahnya, sudah lama dia dan Papah Kenzo tidak semobil berdua
"Ayok Pap, Adel udah selesai" dan langsung salim kepada Mam Delima
~
"Del, Papah boleh tanya?"
Papah Kenzo dari tadi memperhatikan Adel, tidak biasa biasanya Adel diam saat berdua bersama Papah Kenzo
"Kenapa Pap?"
"Adel sengaja ngejauhin Papah sayang?"
Deg
Adel menoleh kearah Papah nya, dia tidak menyangka jika Papah Kenzo merasakannya
"Maaf"
Hanya itu yang keluar dari mulut Adel, kalau dia sudah berkata maaf, berarti memang benar.
Tangan kiri Papah Kenzo mengacak rambut Adel, beliau sudah menyangka jika lama kelamaan Adel akan menjauh darinya, belaiu paham betul dengan sikap Adel
"Jangan lagi ya sayang, Keluarga Mahendra adalah keluargamu, ingat itu ya Adella Mahendra"
Seperti biasa, Papah Ken tidak mengucapkan kata kata yang sifatnya menggurui atau menceramai putri bungsunya, karena Papah Ken tau jika Adella itu lebih suka di perhatikan dengan sedikit di beri kata kata mutiara, dibandingkan dengan di ceramahi panjang kali lebar kali tinggi
Adel mengangguk dan tersenyum, kemudian mengecup pipi Papah Kenzo "Adel sayang Papah"
"Papah juga sayang Adel"
Dan mobil yang dikemudikan Papah Kenzo sudah berada di depan gerbang Sekolahan Adella.
"Adel turun ya Pah, hati hati" Adella mengambil tangan Papah Kenzo dan menciumnya, kemudian bergegas keluar dari mobil
Di Sekolah
Nampak suasana pagi ini sudah ramai, tidak seperti biasa. Anggota Osis sudah sibuk menyiapkan panggung mini untuk pentas seni hari ini, sebagai penutup kegiatan MOS yang sudah berlangsung selama tiga hari.
Adel masuk ke kelas, juga sama, di dalam malahan lebih ramai, entah mengapa kelas Adel menjadi tempat berkumpulnya siswa siswi dari kelas X hingga kelas XII, tak lain dan tak bukan hanyalah modus untuk melihat idola sekolah, Adella.
Pukul 08.00 acara pentas seni sudah dimulai, semua perwakilan kelas menampilkan bakatnya masing masing.
"Adel, ayok lihat ke sana" tanpa menunggu jawaban dari Adel, Maya menarik tangan Adella untuk menuju di mana acara pentas seni itu berlangsung
Seperti biasa, tidak hanya Adel dan Maya saja, Doni juga Gilang langsung mengikuti dari belakang layaknya seorang pengawal. Sudah tampak disana siswa siswii SMA Nusantara sudah memadati tempat itu. Tetapi sayang tidak adanya Bintang di sana, yang ada hanya Marcel dan langsung ikut gabung dengan Maya dan sahabat sahabatnya
"Kak Bintang kemana?" bukan Adel yang bertanya, tetapi Maya, dan bukan jadi masalah, karena Marcel dan Bintang selalu berdua, tetapi sekarang tidak. Sedangkan Adel dari tadi masih sibuk dengan ponselny, tanpa memperhatikan sekitar
"Tuh" tunjuk Marcel ke atas panggung, dan benar Bintang sudah duduk di kursi dengan membawa sebuah gitar
Jreng.....Jreng
Maya menyenggol lengan Adel dan berbisik "Del....Kak Bintang intro tuh, mau tampil"
Mata Adel langsung melihat ke depan, dimana memang Bintang sudah duduk di kursi dengan sebuah gitarnya.
Jreng....
"Selamat pagi menjelang siang"
"Ijinkan gue di sini menyanyikan lagu Memandangmu, ya mungkin sekarang gue hanya bisa memandangmu, tetapi berharap besok bisa memilikimu" ucap Bintang sebelum memulai memainkan gitar nya dan bernyanyi, dengan matanya memandang lurus ke depan bertepan dengan dimana Adel berada
Dan langsung mendapat tepukan dari siswi siswi di sana, karena memang tidak diragukan lagi jika suara Bintang sangatlah merdu.
Memandangmu....walau selalu
Tak akan pernah beri.... jemu di hatiku
Menyapamu.....walau selalu
Masih terasa merdu....bagai di awal jumpa
Mencari...apa yang aku cari
Merangkai....rindunya yang hatiku
Bintang tiba tiba menghentikan bernyanyinya dan lansung memandang ke arah Adel
"Adella...."
"Adella Mahendra, bisa temani Kakak di sini"
Adel kaget ketika Bintang menyebutkan namanya, bahkan terdengar sampai dua kali.
Adel menggeleng, jujur dia tidak pede apalagi harus tampil berdua dengan Bintang, apalagi dari tadi sorot mata Bintang menatapnya tidak berkedip ketika melantungkan lagu milik Ike Nurjanah itu
"Ayo Del, kasian Kak Bintang" Maya mendorong Adel dan mengisyaratkam agar Adel ke depan menemani Bintang
Dengan langkah terpaksa, Adel akhirnya ke depan menemani Bintang, suara tepuk tangan siswa siswi SMA Nusantara kali itu membuat suasana menjadi ramai
"Mau pake gitar?" tawar Bintang, yang memang tau kalau Adel bisa memainkan alat musik petik itu
"Boleh"
Kemudian Bintang menyerahkan gitar yang di bawanya kepada Adel, lalu dia sendiri mengambil gitar yang ada di belakangnya yang memang sudah disiapkan
Jreng...tangan halus Adel mulai memetik di senar gitar
"Maaf teman teman, jika nanti suaranya fals"
Jreng.....jreng....Adel melanjutkan lagu yang sempat dengan sengaja di jeda oleh Bintang
Bulan bawa bintang menari......iringi langkahku
Malam hadir bawa diriku....berjumpa denganmu
Dua hati satu tujuan....melangkah bersama...
Cinta hadir bawa diriku....menyentuh indahnya
^^^Memelukmu.....walau selalu....^^^
^^^Tak akan pernah sanggup...aku melepasnya^^^
^^^Membelaimu....walau selalu^^^
^^^Masih terasa harum.....lembut di hatiku^^^
^^^Mencari....apa yang aku cari^^^
^^^Merangkai.....rindunya hatiku^^^
Kolaborasi yang sangat apik, di mana Adel dan Bintang sama sama bernyanyi dan memainkan gitarnya. Tak henti hentinya, siswa siswi SMA Nusantara itu memberikan tepuk tangan yang meriah karena merasa ikut larut dengan suara merdu Adel dan juga petikan gitar nya yang apik.
Dan mereka semua tidak menyangka, jika Adel yang menjadi idola karena kecantikannya, dan juga sempat di buat terpana dengan permainan bola volly nya kemarin, sekarang suara merdu Adel yang menjadi semakin membuat laki laki terpesona.