Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon istri.
...23. Calon istri...
Biru melipat tangan di dada, menatap datar Jihan yang tengah menyesap segelas capuccino. Baru duduk bersama kurang dari 15 menit, bisa dihitung berapa kali ia menghela napas panjang.
“Pokoknya Mama nggak setuju kalau anak perempuan sialan itu yang pegang perusahaan Awan!” ucap Jihan.
Biru mengambil gelas kopi miliknya lalu menyesap perlahan.
“Namanya Senja, Mah, bukan perempuan sialan,” Biru mendapat lirikan tajam akibat dari meralat ucapan kasar Jihan.
“Kalau kamu nggak berani bilang sama Papamu, biar Mama yang bilang sama dia! Papa kamu itu udah dibawah kekuasaan Senja, makanya semuanya dia ambil buat anak-anak kandung dia, dasar perempuan licik!” umpat Jihan dengan napas memburu.
Lagi lagi Biru menghela napas, pembicaraan ini nggak akan berlangsung hanya sebentar.
“Bisa tidak, Mama nggak selalu menyudutkan Mama Senja? Mama Senja nggak seburuk itu, Ma,”
“Kamu nggak tahu apa-apa, Bi! Kalau dia perempuan baik-baik, dia nggak mungkin rebut Papa dari Mama,”
“Bukannya Mama yang tinggalin aku sama Papa?!” sindir Biru. Jihan tak menjawab Biru, ia hanya mengepalkan tangan dan kembali meminum kopinya.
“Ma... Bukan Papa nggak minta Biru buat ambil jabatan di perusahaan. Papa minta, Mah, bahkan maksa Biru, tapi memang bukan passion Biru buat jadi anak kantoran yang kerjaannya seharian duduk diruang ber AC,”
“Lantas! Sekalipun kamu nggak suka, kamu juga nggak boleh mengabaikan masa depan kamu, Biru! Mau jadi apa kamu kalau cuma mengandalkan usaha ecek-ecek kayak gitu!”
“Mama lihat bagaimana selama ini Biru menjalankan studio photo? Mama lihat hasil dari usaha yang lagi Biru rintis?" Jihan tak menjawab, perempuan didepannya itu malah membuang pandangan.
“Bahkan Mama nggak pernah peduli dengan hidup Biru, Ma,”
“Mama peduli, Bi! Itu sebabnya Mama nggak mau kamu hidup susah nantinya, Mama mau kamu pegang perusahaan Papa kamu karena memang itu hak kamu!”
“Hak Barid sama Barsha juga! Mereka juga anak-anak Papa kalau Mama lupa.”
Jihan mendengus kesal. Biru meraih tangan Jihan lalu mengusap lembut, berusaha menenangkan Jihan meski ia sendiri dibuat kesal.
“Jangan khawatir tentang bagaimana nasib Biru nanti, Ma, sebab semua yang sudah tertakar tak akan pernah tertukar.”
“Tolong kasih kepercayaan Biru, kasih kebebasan untuk aku memilih jalan kehidupanku sendiri, Doakan setiap langkahku, aku janji nggak akan pernah kecewakan, Mama,” Biru mengecup lembut tangan Jihan “Biru janji, Ma.”
Jihan menggeleng, ia menegaskan bahwa keputusan Biru tak sepenuhnya ia terima. Jihan tetap ingin Biru menjadi bagian dari perusahaan keluarganya.
“Nggak, Bi! Sampai matipun Mama nggak akan terima kalau anak-anak Senja yang menguasai harta Papa kamu! Mama nggak sanggup melihat kalau suatu saat nanti semuanya jatuh ke tangan Senja!”
Biru tercekat. Satu kata yang tidak ingin ia dengar, lolos begitu saja dari mulut Jihan.
“Jadi selama ini Mama hanya memikirkan harta, Papa?”
Jihan terdiam, Biru membuang muka frustasi. Ia terus menghela napas dengan mata terpejam, sesak rasanya mendengar Jihan berkata seperti itu. Ternyata kekhawatiran Jihan dengan masa depan Biru tidak lain adalah soal harta.
“Biru pulang! Obrolan kita nggak akan berhasil kalau ternyata tujuan Mama hanya karena urusan harta,” Biru merapikan tas, ingin berdiri namun urung dilakukan karena ada seorang gadis menghampiri mereka berdua.
“Tante?? Tante Jihan ngapain?”
Jihan berdiri, menyalami lalu bercipika-cipiki dengan gadis itu. “Ya ampun, Jecin, kamu makin cantik aja....”
“Ah, Tante, bisa aja,”
Jihan memperhatikan paper bag bawaan gadis tersebut. “Habis shopping, ya?”
Gadis itu tersenyum sembari menyembunyikan anak rambut dibelakang telinga. “Iya nih, Tante, shoping tipis-tipis, bantuin Papa abisin uang.” kedua wanita itu pun tertawa bersama.
“Oh iya. Tante sampai lupa,” Jihan menarik tangan Biru agar duduk kembali di kursi. “Kenalin ini anak Tante, namanya Biru,”
Gadis itu menyalami Biru lebih dulu. Sebenarnya Biru malas, penampilan dia sama saja dengan Jihan, membuatnya risih.
“Hai, Namaku Jacinda. Panggil saja Jecin.” Biru hanya menyambut uluran tangan tanpa memperkenalkan dirinya.
Kalau saja tak mengingat Jihan datang ke kafe ini satu mobil dengannya, Biru ingin pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Tetapi Jihan melarang dan meminta dirinya untuk menunggu.
Telinga Biru menangkap bahan obrolan mereka seputar dunia modeling. Kalau tidak salah terka, Jecin juga seorang model sama seperti Mama Jihan.
Hampir 30 menit ia menunggu, bosan mulai menghampirinya. Namun kedua perempuan didepannya masih terlihat asik mengobrol. Apa memang seperti itu? Perempuan kalau sudah ketemu sama satu circle nya tidak akan pernah kehabisan bahan untuk bertukar cerita. Entahlah...
*****
“Mau Biru anterin sampai Apartemen, biar mobil Mama nanti Biru yang bawa?” tawar Biru.
“Nggak perlu, Mama masih ada urusan habis ini. Kamu fokus saja sama perintah Mama! Masuk perusahaan Papamu, Ambil jabatan yang menjanjikan.”
Biru tak lagi menanggapi. Keputusannya untuk membuka usaha sendiri sangat kuat, dan tidak goyah dengan permintaan Jihan sekalipun. Ia lebih memilih diam selama perjalanan pulang, membiarkan Jihan sibuk berselancar dengan gawainya.
Biru turun lebih dulu, memutari mobil dan membukakan pintu untuk Jihan yang kemungkinan belum menyadari jika mereka telah sampai depan ruko.
Jihan turun dengan langkah anggun.
“Kamu tahu PT Yudistira Tbk?”
Biru mengernyit. Nama perusahaan yang Jihan sebutkan seperti tidak asing.
“Anak gadis yang tadi kamu temui tadi, dia anak tunggal pemilik Perusahaan besar itu,” ujar Jihan.
“Lantas?”
“Mama bakal relain kamu buat lupain perusahaan Awan.”
Biru terhenyak. Beberapa menit yang lalu Jihan masih bersikeras agar dirinya masuk bekerja di kantor Papa, tapi berubah pikiran hanya dalam hitungan menit.
“Tapi ada syaratnya! Kamu harus bisa dekati Jecin, terus nikah sama perempuan itu. Lagian Jecin juga cantik, model baru tapi namanya sudah sejajar dengan model terkenal lainnya.”
Hampir saja Biru menghambur memeluk Jihan, berterima kasih karena pada akhirnya Jihan mengerti tentang keinginannya. Tetapi ternyata ada udang di balik batu.
“Kali ini kamu harus ikutin syarat Mama kalau tidak mau menuruti kemauan Mama tentang kantor Papa,”
Biru mematung di depan mobil, menghadap Jihan yang berdiri dengan melipat tangannya. Sebenarnya ia sedang mencari jawaban yang tepat untuk menolak semua tawaran Mama tapi dengan alasan yang masuk akal. Detik berikutnya, Ia melihat seorang perempuan tengah berjalan keluar ruko, kepalanya bersandar pada bahu perempuan yang lebih tua darinya, disusul 3 laki-laki lain dibelakang.
“Sebentar, Ma.”
Biru melepas tas kamera dan menaruh asal di teras studio. Langkah kakinya semakin dekat dengan perempuan itu. Begitu tiba didepannya, Biru melepas jaket untuk di letakkan di lengan si perempuan.
“Maafin aku....” ucap Biru kemudian menarik tangan yang terbungkus jaket itu ke hadapan Jihan.
“Ma... Kenalin. Dia Kha, calon istri Biru.”
“Mas!”
“Biru!”
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf