Assalamu'alaikum...
Selamat datang di karya pertamaku.
Kisah seorang muslimah yang berasal dari keluarga sederhana.
Fatimah,ia rela bekerja keras demi adik kembarnya dapat melanjutkan sekolah.
Mengalami kekerasan dan pelecehan di pabrik,tak menyurutkan tekadnya.
Meskipun memiliki ilmu beladiri ia tak ingin menunjukkannya di hadapan orang lain.
Hingga kehormatannya hampir di jual oleh sepupunya sendiri.
Berawal dari memesan ojek melalui sebuah aplikasi online.
Perkenalannya dengan seorang pemuda rupawan namun tengil dan selengean.
Dialah Rojali pemuda jenaka yang ternyata menyimpan kisah kelam dalam hidupnya.
Sebagai putra yang terbuang,mampukah ia menyadarkan sang ayah?
🐾mohon kritik dan sarannya... 🐾
jangan lupa tinggalkan jejaknya... 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip Soang
💫Tuhan akan menguji hambanya, sesuai dengan levelnya.
Setiap kau lulus ujian tersebut, maka bersiaplah untuk naik versi.
Selalu ada jalan keluar di setiap masalah.
Tinggal kau pilih untuk menyelesaikannya dengan cara yang seperti apa, dan bagaimana. 💫
****~~~~****
Treeettt.....!
Ketika alarm tanda istirahat pegawai berbunyi.
Seketika itu juga aku setengah berlari menuju toilet.
Setelah sebelumnya, aku menyimpan jubahku di bawah meja line.
Karena peraturan dari pabrik, bahwa kami seluruh karyawan tidak boleh menggunakan jubah diluar jam kerja kami.
Aku sudah tidak tahan, ingin segera membasuh mukaku dengan air dingin.
Sesampainya di toilet, aku segera membasuh wajahku dengan air berkali-kali.
Berharap suhu dinginnya mampu mendinginkan hati dan otakku.
Aku tidak habis pikir siapa yang melakukan ini semua padaku?
Semua anggota tim satu line membenciku, kecuali Mina.
Mereka menyalahkan ku atas apa yang terjadi dua hari ini.
Padahal selama ini hasil kerjaku selalu memuaskan, aku termasuk pekerja baru yang cepat tanggap, dan cekatan.
Aku bisa di tempatkan dimana saja.
Tapi, karena kesalahan dua hari ini, aku layaknya manusia bodoh yang tak becus melakukan apa-apa.
Memang kejadian dua hari ini cukup menguras waktu dan tenaga kami.
Tapi itu semua, sungguh diluar kendaliku.
Aku adalah tipe orang yang perfeksionis dan teliti.
Seharusnya mereka faham sifat dan kebiasaan ku bukan?
Hatiku tidak tenang, seperti ada sesuatu yang akan terjadi lagi.
Aku ingin ke musholla saja, melaksanakan kewajiban ku, kemudian mengadu dan mengeluh kepada yang kuasa.
Selesai dari toilet, aku beranjak ke loker.
Aku ingin mengambil hapeku, juga uang untuk makan siang.
Setelah aku mengunci pintu lokerku, segera kuhidup kan gawai ku itu. Seketika ku lihat notifikasi pesan dari Nur, ia sudah menungguku di musholla ternyata.
Tapi yang membuatku tiba-tiba merasa cemas adalah notifikasi panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali dari adik-adik kembar ku.
Ada apa mereka telpon? apa ada yang terjadi di rumah?sehingga tidak seperti biasanya,mereka menghubungi kakaknya di jam kerja.
Sekelebat aku memikirkan ayah.
(Semoga ayah baik-baik saja)
Aku memutuskan untuk balik menghubungi si kembar sehabis sholat saja.
Kemudian aku masukkan gawai dan juga uang makan ku, kedalam saku samping rok panjang ku sambil berlalu. Dan... ,
Prakk!!
"Astagfirullahal adzim...! "
pekik ku kemudian membungkuk untuk meraih hapeku yang mental ke depan,dan mendarat dengan tidak mulus di lantai. Sehingga penutup dan baterainya tercerai-berai.
" Ya Allah, "gumamku lirih, segera ku ambil gawai yang sudah bercecer di lantai penuh gompalan itu.
Aku segera menoleh kesamping, menatap mereka yang sepertinya sengaja menyenggol lenganku barusan.
" Apa yang baru saja kalian lakukan?"tegurku tegas, kepada dua orang gadis yang selalu berpenampilan modis di pabrik.
Mereka yang kutanya hanya saling pandang, dan melempar senyum smirk satu sama lain.
(Aku semakin yakin, kalau kejadian barusan memang di sengaja)
" Hape butut kayak gitu aja, gak di jatohin juga bentar lagi bakalan rusak dan gak guna,"
ledek salah satu perempuan yang ku tau bernama Liana.
" Mau butut atau nggak, ini kan hape gue, punya gue, terus apa hak kalian, hah!! "hardikku dengan emosi yang sudah memenuhi dadaku.
Tanganku mengepal dan nafasku memburu.
" Dia marah tu Nit, "sindir gadis yang bernama Liana, kepada gadis satu lagi yang ku kenal bernama Nita.
" Biar aja dia marah, emang gue peduli? "sentak gadis yang bernama Nita, yang notabene adalah tetangga sebelah kamar kosan.
(Jadi dia dendam padaku, karena perihal peneguran waktu itu?)
Mereka berdua pun tertawa," hahaaa...! "
"Kuy lah kita ke kantin, ngapain ngurusin cewek sotoy kayak dia! "cela gadis yang bernama Nita sambil berlalu.
" Berhenti kalian berdua!! "teriakku menghentikan langkah kaki mereka.
"Kalian melupakan sesuatu bukan? " sindirku pelan.
Mereka pun menghentikan langkah mereka yang hendak keluar dari ruang loker.
Gadis yang bernama Liana menoleh ke arahku, dengan senyum sinis nya ia bertanya,
"Lupa apa? "
"Lupa minta maaf dan tanggung jawab! " jawabku tegas, dengan mengarahkan hapeku yang berantakan, ke depan mereka.
"Dih, BOMAT!! "
Seru mereka berdua, kemudian berbalik dengan acuh dan angkuh.
"Hei, lu berdua gak bisa pergi gitu aja! " Teriakku dan berusaha mengejar mereka.
Aku pun menarik salah satu tangan Nita, "Berhenti gue bilang! "
"Akh, apaan si ni cewek! "
"Lepasin gak tangan gue, lecet ni kulit mulus gue di pegang sama tangan kasar lu! "
Pekiknya sembari mencoba melepaskan cekalan ku.
"Gue bakal lepasin,kalo lu minta maaf dan janji bakal benerin hape gue! "geram ku, sambil mencekal erat lengan Nita.
"Cih, gak sudi gue! "sentaknya kencang, hingga cekalan ku lepas.
Kemudian dia mendorong bahu ku hingga aku terhempas,dengan bokong yang mencium ubin gompal.
" Dasar cewek belagu!"
"Lu tu dah kena SP satu, masih gak kapok juga?"
"Mending lu jangan nyari gara-gara,kalo gak mau di tendang secara tidak hormat dari sini!"
bentak liana dengan berkacak pinggang dan menudingku dengan salah satu jarinya.
" Nama lu tu lagi jelek, jadi gak usah kebanyakan gaya! "
"Dasar cewek sialan! "
Hardik nita sambil menendang kakiku. Kemudian mereka berdua berlalu.
(Ya Allah, apalagi ini)
Aku menatap nanar kearah mereka pergi, kemudian beralih menatap hapeku.
(Semoga saja tidak rusak)
Beberapa karyawan yang berada didepan pintu loker, tidak berani masuk sebelum dua gadis itu keluar.
Jangankan membelaku,bahkan untuk sekedar menolongku pun tidak.
Beberapa dari mereka hanya bisa menatapku iba.
Hingga salah satu nya berucap seraya membantuku untuk bangun.
"Ya udah, gak usah di ladenin mereka berdua itu, anggap aja kamu lagi sial. " Kemudian ia berlalu tanpa menoleh.
Rasa lapar ku. menguap sudah, sirna oleh masalah bertubi-tubi hari ini.
Aku harus segera menentramkan hatiku dengan bersujud, mengadukan semua masalah yang menimpaku, mungkin dengan menangis, sesak yang serasa menghimpit dada ini akan berkurang.
Sesampainya di musholla, Nur menghampiriku dengan mimik penuh kekhawatiran.
"Lama banget si Kak? "
"Ada apalagi emangnya? "
cecar nya, kemudian menggiringku untuk duduk di pojokan.
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apalagi, semua kata-kata tercekat di tenggorokan,dan nafasku sesak karena menahan emosi.
"Kebetulan aku bawa minum Kak, nih. "
tawarnya memberiku air putih.
Segera ku tenggak hingga habis.
"Maaf Nur, Kakak abisin airnya," ucapku sedikit meringis
"Jarin amat Kak abis, bisa beli lagi entar di kantin," jawab Nur dengan gaya ketusnya.
"Sekarang Kakak solat aja dulu ya, biar tenang,"
"Aku ke depan dulu beli somay buat makan siang kita, nanti aku balik lagi kesini," katanya lagi seraya beranjak pergi.
Ya, aku pun bangkit menuju bilik wudhu khusus wanita.
Hatiku sekarang sudah lebih tenang, tidak seemosi tadi.
Ketika kita sudah menyerahkan permasalahan kita kepada pakarnya, yaitu Allah Sang Maha Kuasa.
Untuk apalagi kita resah,lakukan hanya di bagian kita dan biarkan DIA yang melakukan bagiannya dengan segala kekuasaannya.
Lagipula aku tidak bersalah, suatu saat kebenaran itu akan terungkap bukan?
Doakan saja mereka yang jahat semoga segera tobat, sebelum masuk ke liang lahat.
Sembari menunggu Nur balik, aku mencoba merangkai kembali hapeku yang berhamburan tadi.
(Alhamdulillah, masih bisa nyala)
Aku tersenyum penuh syukur, karena hapeku masih bisa nyala dan hanya ada keretakan sedikit di layarnya.
Aku pun mencoba menghubungi kembali adikku.
Kemudian Nur datang dan menyerahkan siomay yang di bungkus mika,juga es teh manis yang di bungkus plastik.
"Tengkiyu Adek manisnya Akak,"
ucapku dengan seulas senyum, sambil menyerahkan uang dua puluh ribuan ketangan nya.
"Gak usah Kak, itu aku traktir," tolaknya seraya menepis tanganku yang menyodorkan uang.
"Eh, tumben, dalam rangka apa?" tanya ku heran, sambil mengerutkan kening.
"Ye, dalam rangka menghibur Akak ku yang abis jatoh terus ketiban tangga,"jawabnya dengan nyeleneh dan asal bicara seperti biasa.
"Ih, kok doain Kakak ketiban tangga, barusan jatoh aja masih berasa ini ngebetnya," gerutu ku sambil memanyunkan kedua bibirku.
" Kakak kalo manyun gitu mirip deh,"kata Nur sambil terkekeh.
" Eh,mirip siape emang? "tanyaku dengan polosnya.
" Mirip si beti Kak,"ucapnya lagi kali ini, ia terkikik sambil menutup mulutnya.
" Beti itu siapa, yang jelas nape Nur?"ucapku dengan gemas.
" Beti ituh Kak..., "
"Adalah... soangnya aku, Hahaha...!! "
Kali ini ia benar-benar tertawa lepas, menertawakan kepolosan ku yang mudah saja dikerjai olehnya.
Aku pun ikut tertawa, sekejap aku melupakan serentetan kejadian yang baru saja menimpaku.
Itulah gunanya sahabat sejati, ia yang bisa membuatmu tertawa di atas kesedihan bahkan lukamu.
Aku baru saja akan menyuap siomay, ketika hapeku berdering.
Aku pun segera menggeser tombol hijau tersebut, kemudian terdengarlah suara parau salah satu adik kembar ku, Farhan.
Aku seketika tersentak mendengar kabar dari seberang sana.
"INNALILLAH"
(Ya Robb...)
Semangat kan mak chibi dengan jempol kalian🥺🥺