Yuk senam bibir, cerita Sarasvati yang kocak dalam menghadapi majikannya yang lumpuh.
Terlahir kaya raya membuat Dewa bersikap arrogant dan dingin kepada siapa saja. Terutama mahluk yang bernama wanita. Namun, ketika melihat mantan pacarnya bermesraan di suatu pesta, ia menyeret dengan asal seorang gadis dan mengaku pada semua tamu undangan, mereka akan segera menikah.
Sartika Sarasvati, si gadis miskin yang tidak tahu apa-apa. Ia harus terlibat dengan bongkahan es tersebut gara-gara mengantar dompet pelangan yang tertinggal di cafe tempatnya bekerja. Ya, Tika hanya gadis pelayan di sebuah cafe. Tapi, malam ini semua mata tertuju pada gadis manis yang tangannya digengam oleh CEO Diamondland, perusahaan real estate nomor satu di Indonesia. Apa mereka akan menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunga Yang Mekar Kembali
Rumah Sakit Bedah Mitra Husada
Di sebuah ruangan kelas tiga, terlihat Tika sedang berbicara dengan pasien lainnya. Satu kamar dengan 3 ranjang pasien. Tika nampak santai bicara pada seorang kakek yang sudah sepuh serta seorang nenek-nenek yang juga dirawat di kamar yang sama.
“Piye Nduk tanganmu?” (Bagaimana, Nak dengan tanganmu?) tanya si Nenek yang terlihat ngeri menatap tangan Tika yang digips. Ia penasaran, mengapa tangan Tika bisa dibungkus seperti itu. Sudah mirip makanan lontong.
“Ora opo-opo, Mbah. Ora ono rasane.” (Tidak apa-apa, Nek. Tidak terasa apa-apa). Tika menjawab sembari melempar senyum ramah.
“Lah kepiye ceritane, nyapo tanganmu sampek cuklek kui?” (Bagaimana ceritanya, kenapa tanganmu bisa patah begitu?) Ganti si Kakek dengan rambut yang nyaris botak itu bertanya pada si Tika.
Tika hanya tersenyum, “Mbuh ... ujuk-ujuk ondo sing tak idak mengsle Mbah.” (Tidak tahu, tiba-tiba saja tanganya bergeser).
“La opo didudul demit?” (Lah, apa di dorong hantu?) potong si Nenek yang gemas mendengar penuturan si Tika.
“Kok nyalahne demit to, Mbah?” (Mengapa menyalahkan hantu?) Seketika tiga pasien itu terkekeh, suara tawa mereka yang renyah sampai terdengar dari luar. Dari pada kamar orang sakit, malah seperti di rumah sendiri.
Ketika masih asik berseda gurau, Tika langsung mengatupkan bibirnya. Ketika melihat dari luar jendela sosok wanita yang ia kenal. Bayangan Nyonya besarnya terlihat sepintas di depan jendela yang transparajn itu.
“Nyonya!” pekik Tika saat menyadari itu pasti mamanya Dewa.
Klek
Pintu kamar terbuka lebar.
“TIKA!” panggil Dewa. Pria itu langsung menjalankan kursi rodanya menuju Tika tanpa bantuan dorongan dari mamanya. Ia khawatir melihat kondisi Tika.
“Ada apa dengan tanganmu?” Dewa terlihat khawatir, wajahnya nampak cemas. Karena tangan kanan Tika telah digips. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa baby sitternya itu sampai terluka.
“Anu ... itu ... jatuh,” jawab Tika dengan ragu.
“Kui bar tibo ko ondo, Le!” (Itu jatuh dari atas tangga, Nak. Le merupakan sebutan untuk anak laki-laki) sela Nenek yang masih ada di sana.
Dewa menatap sekilas pada teman sesama pasien Tika tersebut. Kemudian fokusnya kembali pada tangan Tika. Ia mengamati Tika dari ujung kepala sampai kaki. Sepertinya tidak ada luka yang lainnya, Dewa pun menghela napas lega.
“Ma, bisa pindah rumah sakit?” Dewa menoleh dan menatap sang Mama. Ia ingin Tika dirawat di rumah sakit yang besar. Rumah sakit dengan fasilitas yang nomor satu tentunya.
“Nggak usah, Tuan. Besok sudah boleh pulang. Nggak apa-apa, cuma retak sedikit.” Jelas saja Tika menolak dengan keras. Lagian ia sudah merasa mendinga. Dokter di sana sudah menangani dengan baik. Jadi tidak perlu berlebihan dengan ganti rumah sakit. Sayang uangnya, mending buat Tika saja.
“TIKAAA!”
Seketika Tika tidak berani membantah lagi, ia hanya menundukkan wajah dalam-dalam.
“Ojo kasar-kasar karo bojomu!” sindir si Kakek. (Jangan kasar-kasar sama istrimu). Di Kakek malah menatap sini ke Dewa. ia kurang suka pria yang kasar dan bicara nada tinggi pada wanita. Nggak gentle, beraninya sama perempuan.
Tika dan Dewa langsung saling menatap dengan tatapan aneh.
“Dudu Mbah ... ora, dudu bojoku Mbah. Mas nganteng iki bosku ning kuto, Mbah,” terang Tika dengan buru-buru. Takut Dewa dan mamanya marah karena salah paham. (Bukan Kek, bukan suamiku. Mas tampan ini bos ku di kota, Kek).
Si Kakek langsung diam, ia segan karena sudah salah paham.
Beberapa saat kemudian.
Karena sebenarnya kondisi Tika sangat fit, maka dokter tidak menyarankan pindah rumah sakit. Gadis itu juga sudah bisa pulang. Asal tidak melakukan pekerjaan yang berat.
“Maaf, Nyonya. Tangan Tika terluka,” Tika merasa bersalah, karena harusnya ia sudah balik ke kota beberapa hari lalu.
“Nggak apa-apa. Malam ini kita balik ya.” Mama Dewa ingin mereka langsung balik malam itu juga.
“Malam ini, Nyonya?” tanya Tika tidak percaya.
Mama Dewa mengangguk. Sedangkan Dewa, ia tersenyum di dalam hati.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Mereka bertiga tiba dengan penerbangan paling akhir, sepanjang jalan Tika hanya tidur saja. Duduk di kelas VIP, di mana kaki bisa selonjoran, membuat penerbangan terasa nikmat. Baru kali ini Tika naik pesawat kelas yang mahal. Biasanya ia mencari yang paling murah brand lokalan. Biar bisa hemat, malah kadang memilih baik kereta, biar murah di ongkos. Maklum, Tika harus hemat, agar cepet Kaya.
Tidak terasa, pukul satu dini hari mereka akhirnya sampai di rumah. Tika yang masih memakai gips, langsung disuruh ke kamar dan istirahat. Sedangkan Dewa, pria itu malam ini tidak bisa memejamkan mata. Sepertinya insomnianya mulai kambuh. Ketika akan mengambil obat tidur di dalam laci, ternyata tinggal tempatnya saja. Isinya hilang, pasti pekerjaan si Tika. Nanum, bukannya marah, bibir pria itu malah mengulas senyum. Ya, sudut bibirnya terangkat ketika memikirkan Tika yang kini sudah kembali.
Pagi hari, karena pulang larut malam, alhasil Tika masih ngorok di atas kasur. Gadis itu tidur dengan posisi terlentang. Lelah perjalanan, membuat tidurnya sangat nyenyak. Kalau ada gempa, mungkin Tika tidak akan bangun. Saking nyenyaknya.
Tok tok tok
Dewa nampak menunggu di depan kamar Tika.
“Tika ... Tik!” panggilnya.
Tok tok tok
Tika yang mendengar ketukan pintu yang berulang, ia pun mulai terbangun. Ia mengerja kemudia n menguap yang lebar.
“Jam berapa ini?” Tika mengucek mata, dan dilihatnya sudah pukul enam pagi.
“Astaga! Waktunya Tuan Muda mandi!” Tika langsung turun dari ranjang.
“Aduh!” Ia mengaduh kesakitan karena gerakan cepat yang tidak hati-hati.
“Tik ... Tika!” panggil Dewa sekali lagi. Ia penasaran, kenapa Tika lama sekali membuka pintunya.
“Iya, Tuan.” Belum cuci muka, Tika langsung membuka kamar. Ia menyapa Dewa meski belum membasuh muka.
“Ya ampun, Tika! Mandi sana!” usir Dewa yang melihat Tika bangun tidur bak seperti lakon dalam misteri gunung merapi. Bersambung.
Oalah, Tika. Hemm ....