Pria tampan yang jutek, super bersih dan perfeksionis tak pernah menyangka akan terjebak dalam pernikahan konyol dengan Sheena, wanita jorok, ceroboh dan suka seenaknya saja. Perbedaan 180 derajat di antara keduanya menjadi ujian dalam pernikahan mereka.
Bersama? Atau perpisahan adalah jalan terbaik bagi keduanya? Kisah unik yang pastinya membuatmu penasaran.
**Yukkkk kepoin ceritanya.... Follow IG @dydyailee536
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Serbuk Berlian ke-2
Di kediaman Tuan Darwin...
Setelah bertemu dengan Sheena siang itu di rumah sakit, Arthur kini tampak duduk termenung di halaman samping rumah mewahnya. Tiba-tiba suara Tuan Darwin mengagetkannya.
''Arthur!" kata Tuan Arthur sambil menepuk pundak putranya itu.
''Eh Papa. Ada apa Pah?''
''Kamu tadi sudah berkunjung ke rumah sakit? Apa semuanya baik-baik saja atau ada peralatan medis yang perlu kita tambah?''
''Tidak ada, Pah. Hari ini tidak ada keluhan apapun. Hari pertamaku sebagai direktur rumah sakit cukup mengejutkan.''
''Memangnya kenapa?''
''Banyak pasien Ibu-Ibu dan remaja yang meminta foto. Bahkan para dokter perempuan pun juga seperti itu.'' Ucapnya.
''Hahahaha kamu ini ada-ada saja. Lalu apa yang kamu lakukan?''
''Tentu saja aku meladeni mereka, Pah. Aku tidak mau di anggap direktur baru yang sombong.''
''Bagus, Arthur. Keramahan itu memang sangatlah penting apalagi kita sebagai seorang pemimpin. Papa percayakan semuanya padamu. Dan besok Papa minta kamu temui Arsen di kantornya ya.''
''Arsen? Untuk apa Pah?''
''Papa bergabung dengan proyek gelang kesehatannya dan sekaligus Papa ingin menanam saham untuk bergabung dengan ON CLEAN!"
''Kenapa Papa tidak berunding dulu denganku? Aku malas bekerja sama dengan orang sok bersih itu. Saat SMP sampai SMA kita sama-sama di Korea, eh kuliah ketemu lagi di London terus sekarang urusan bisnis ketemu lagi. Dia itu rivalku sejak dulu, Pah.''
''Rival apanya sih? Kalian ini sama-sama hebat. Kalian dulu kan masih remaja jadi wajar lah berlomba-lomba seperti itu. Anak Papa juga tidak kalah hebat kan? Kamu bisa mendirikan stadion sepak bola, sekolah musik dan seni, beberapa rumah sakit dan pusat perbelanjaan di dalam bahkan luar negeri. Kalian ini anak muda yang berprestasi jadi tidak usah rival-rival segala.''
''Papa kan tahu kita ini tidak bisa bersatu.''
''Itu karena kalian sama-sama egois dan merasa paling hebat sendiri. Papa dan Tuan Keenan saja selalu akur. Bahkan kami berniat menjodohkan kamu dengan Belinda.''
''Belinda? Oh No, Papa! Dia terlalu manja dan menyebalkan. Lagi pula kami juga sering sekali bertengkar. Dia sifatnya 11-12 seperti Arsen.''
''Kalian ini sama-sama sudah dewasa tapi masih saja seperti itu. Pokoknya besok kamu harus ke kantor Arsen karena Papa ada urusan lain.''
''Oh ya Pah, misalkan aku mempunyai pilihan lain bagaimana?''
''Pilihan apa maksudmu?''
''Ya pilihan seorang wanita lah. Menurut Papa bagaimana?''
''Ya, itu terserah kamu tapi diskusikan dulu dengan Mama mu, oke? Sebaiknya kamu segera istirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan,'' kata Tuan Darwin sembari berlalu dengan senyumnya.
-
Sedangkan Arsen di kamarnya, sedang menonton beritanya yang heboh hari itu sambil mengenakan sheet mask di wajahnya.
''Hmmm Mama ini memang ada-ada saja. Masa iya si dekil di sandingkan denganku. Lihat saja dari televisi saja sudah terlihat jelas bahkan kulit kami sangat kontras. Apa yang harus aku katakan pada semua orang dengan berita ini. Flora dan selingkuhannya pasti sedang menertawakanku. Ya sekalipun settingan, setidaknya Mama bisa lah memilih gadis yang di atas Flora untuk pura-pura akting di depan kamera. Pamorku sebagai serbuk berlian akan runtuh seketika dengan pemberitaan ini. Astaga, Mama.'' Kata Arsen yang sedang mengoceh dengan dirinya sendiri.
-
Keesokan harinya di kantor, kedatangan Sheena mendapat tatapan sinis dari seluruh karyawan.
- Ihhh masa iya Tuan Arsen milih Office girl sih? Dia pakai pelet apaan bia membuat Nyonya Dira mengakuinya di depan umum.''
- Dasar tidak malu! Dia pasti menjebak Tuan Arsen supaya di akui.
- Secara selera Tuan Arsen itu sangat tinggi, bagaimana mungkin bisa memilih office girl yang baru bekerja beberapa hari disini.
- Dia lebih licik dari Nona Flora.
Itulah omongan yang Sheena dengar begitu ia masuk ke kantor. Bahkan tatapan mereka seolah mendiskriminasi dirinya yang sebenarnya tidak tahu apa-apa dan terjebak dengan situasi yang salah.
''Sheena, kuatkan hatimu! Kamu sudah biasa menerima cacian dan makian jadi anggap saja mereka itu angin,'' gumam Sheena dalam hati berusaha memberi semangat untuk dirinya sendiri.
''Sheena, elo pakai pelet apaan buat menarik perhatian Tuan Arsen.'' Kata salah satu teman seprofesinya saat Sheena tiba di ruangan khusus loker pekerja OB atau OG.
''Pelet apa sih? Aku sendiri tidak tahu. Aku tiba-tiba jalan dan di panggil Nyonya Dira. Sudah ya aku mau kerja dulu.'' Kata Sheena sambil berlalu begitu saja. Sheena lalu memulai pekerjaannya dengan membersihkan beberapa ruangan, di antaranya ruang meeting, gedung pertemuan dan ruangan Arsen tentunya. Pekerjaan terakhirnya adalah membersihkan ruangan Arsen. Ruangan Arsen memang selalu bersih karena ia memang sangat menjaga kebersihan. Bahkan toilet dan wastafel pun tak lolos dari tangan Sheena. Sheena pun melakukan pekerjaannya dengan baik untuk menghindari perdebatan dengan Arsen.
''Huft kinclong, sesuai dengan keinginannya.'' Gumam Sheena. Setelah semuanya selesai, Sheena lalu kembali namun belum sempat kembali Arsen sudah terburu datang. Matanya membulat dan tubuhnya kaku saat Arsen datang. Kali ini tatapan mata Arsen sangat menyeramkan.
''Untuk apa disini?''
''Memang tidak lihat apa?'' ucap Sheena tergagap.
''Biar aku periksa dulu. Jangan sampai ada yang debu yang menempel di mejaku.'' Kata Arsen. Sheena hanya terdiam sambil memeperhatikan Arsen yang memeriksa setiap sudut ruangannya. Bahkan toilet dan wastafel tidak ketinggalan.
''Bagus juga pekerjaanmu. Buatkan aku secangkir mocca latte no sugar.''
''Iya.''
''Jawab yang sopan! Aku ini atasanmu! Jangan karena ucapan Mama kemarin, kamu menjadi besar kepala ya.'' Kesal Arsen.
''Iya Tuan Arsen, saya permisi.'' Kata Sheena yang berusaha menahan kesalnya. Sheena kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan Arsen dan segera menuju ke pantry.
''Ya Tuhan, jauhkan aku dari manusia yang namanya Arsen. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dengannya kalau setiap hari penuh tekanan? Yang ada aku makin kurus kering seperti ini.'' Gumak Sheena dalam hati.
-
Dan pagi itu di hebohkan lagi dengan kedatangan serbuk berlian ke-2. Semua mata tertuju padanya. Pria tampan, berperawakan tinggi, kulit putih dan mata yang sipit, membuat pesonanya memancarkan aura yang menyilaukan.
- Wah, ada serbuk berlian yang lain juga disini.
- Ini sih tampannya sejajar dengan Tuan Arsen.
- Aku semakin betah kerja disini. Banyak pria tampan disini.
- Oh my god! Ini manusia atau apa sih?
- Tuhan, ciptaanmu sungguh indah sekali.
Itulah kasak-kusuk yang terdengar saat kedatangan Arthur di kantor Arsen. Ia kemudian berjalan bak seorang model menuju ruangan Arsen yang berada di lantai 3.
''Pagi,'' sapanya dengan cuek lalu duduk di sofa begitu saja.
''Arthur? Untuk apa kemari?'' ketus Arsen.
''Aku sebenarnya juga malas sekali datang kemari kalau bukan karena Papa yang memintanya.''
''Sudah lama kita tidak bertemu juga. Bagaimana kabarmu?''
''Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik-baik saja.''
''Apa sebelum masuk ke ruanganku, tubuh dan tanganmu sudah di bersihkan?''
''Tanpa kamu bertanya, aku pun sudah melakukannya. Dan hal itulah yang membuatku sangat malas datang untuk menemuimu.''
''Kalau begitu pulang saja, biar aku menelepon Om Darwin.''
''Sial! Beraninya mengancam saja. Oh ya turut berduka cita ya.''
''Berduka cita? Untuk apa?''
''Untuk perasaanmu yang telah mati,'' kata Arthur yang di iringi tawa menggelegarnya.Tawa mengejek tentunya. Arsen mengeratkan rahangnya merasa kesal dengan ledekan Arthur.
''Aku tidak menyangka kalau dirimu sangat bodoh soal urusan cinta. Mencari kekasih yang sempurna. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Arsen. Ingatlah itu!''
''Kalau kedatanganmu kemari hanya untuk menceramahiku, sebaiknya keluar saja.''
''Siapa yang menceramahimu? Kenyataan kan? Seorang Arsen dengan IQ di atas rata-rata, tampan, menawan, materi berlimpah tapi masih bisa di tipu oleh seorang wanita. Astaga, menyedihkan sekali.'' Ledek Arthur semakin menjadi dengan tawanya. Arsen yang kesal, meremas kertas di hadapannya lalu melemparnya ke arah Arthur.
''Hahaha kamu memang mudah sekali terpancing emosi,'' ucapnya dengan kesal pula. Arthur lalu membalas dengan melempar remasan kertas itu ke arah Arsen. Dan terjadilah aksi saling melempar.
''Permisi Tuan, ini mocca lattenya.'' Kata Sheena seraya membuka pintu ruangan Arsen. Namun Arsen tidak mendengarnya karena ia sedang sibuk berkelahi dengan Arthur. Sebuah pemandangan yang sangat langka saat melihat dua pria tampan bermain bersama.
''Tuan!" seru Sheena dengan suara meninggi. Arsen dan Arthur pun kompak menoleh ke arah Sheena.
''Kamu?'' kata Arthur saat melihat Sheena.
''Tuan?'' kata Sheena juga saat melihat Arthur. Arsen menatap penuh selidik saat melihat keduanya.
''Sheena, bawa minuman ku kemari.'' Perintah Arsen.
''I-iya.'' Sheena kemudian mendekat kearah Arsen dan meletakkannya di atas meja Arsen.
''Hei, kita bertemu lagi. Kamu bekerja disini juga rupanya?'' tanya Arthur.
''Iya, Tuan.''
''Panggil saja aku, Arthur. Tidak usah memakai Tuan. Jadi namamu Sheena ya?''
''Iya, namaku Sheena.''
''Nama yang bagus. Nama itu memiliki arti anugerah Tuhan yang sangat indah.'' Kata Arthur.
''Terima kasih.''
''Sheena, kembali ke tempatmu. Kamu disini bekerja bukan untuk menggoda tamuku.'' Sahut Arsen dengan ketus. Sheena menatap kesal Arsen, ingin sekali mencakar bibir Arsen itu.
''Oh ya karena aku tamu jadi buatkan aku minuman juga.''
''Baiklah. Tuan mau apa?''
''Jangan panggil aku Tuan, panggil nama saja, oke.''
''Arthur, kamu mau minum apa?''
''Aku mau cappucino ice yang manis.''
''Baiklah, aku akan segera membuatkannya.''
''Disini bukan cafe jadi berikan saja dia air putih.'' Sahut Arsen.
''Tapi dia kan tamu juga, Tuan?''
''Aku ini atasanmu jadi menurut saja.'' Kata Arsen dengan suara meninggi.
''Baiklah Sheena, ambilkan saja aku air mineral. Kamu harus sabar ya, atasanmu sedang tidak baik-baik saja. Karena dia sedang berduka.''
''Berduka kenapa Arthur?''
''Berduka karena perasaan dan cintanya telah mati,'' kata Arthur sambil tertawa. Sheena pun kelepasan ikut tertawa juga. Arsen benar-benar dibuat kesal karena dua orang di hadapannya sedang mentertawakannya.
''Sheenaaaaa!!! Jaga batasnmu dan segera pergi!" bentak Arsen. Mendengar suara menggelegar Arsen, Sheena pun terdian begitu pula dengan Arthur.
''Sudah-sudah, kamu pergi ambilkan aku minum. Sabar ya.'' Kata Arthur dengan suara pelan sambil menepuk pundak Sheena. Sheena mengangguk lalu meninggalkan ruangan Arsen.
''Arsen, tenangkan dirimu. Kamu galak sekali padanya. Kasihan dia.''
''Untuk apa kamu membelanya? Kamu mengenalnya?''
''Tidak juga. Aku bertemu dengannya di rumah sakit kemarin. Sudah itu saja.'' Jawab Arthur dengan santainya. Sementara Arsen benar-benar kesal karena pagi-pagi sudah ada yang membuatnya marah.
Visual Arthur
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏🙏😘😘
tapi kayaknya cowok si serbuk berlain itu bakalan luluh deh sama Shena.. hihihi
"Gadis Pejuang Bisnis Kecantikan Oriflame"