Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Nasib Long Wei dan Selir Ning
Satu bulan telah berlalu sejak pertempuran di tebing utara. Istana Daxuan kini tidak lagi suram. Tembok-tembok yang dulu hangus telah diperbaiki, namun kali ini dengan sentuhan ukiran khas Bangsa Tang yang gagah, sebagai simbol persatuan dua bangsa yang kini setara.
Di Aula Utama yang baru, Han Shuo duduk di atas singgasana emas. Namun, ada yang berbeda. Di samping singgasananya, sejajar dan sama tingginya, terdapat sebuah kursi kebesaran untuk sang Permaisuri. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi dalam sejarah Daxuan.
Lin Yue melangkah masuk ke aula. Ia mengenakan jubah permaisuri berwarna merah darah dengan bordiran naga dan harimau yang saling melilit. Tubuhnya kini benar-benar ideal—ramping, atletis, dan memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan. Tidak ada lagi yang berani menyebutnya "Gunung Lemak". Kini, rakyat mengenalnya sebagai "Dewi Harimau dari Tang".
Di pengadilan terakhir itu, Ibu Suri dan Selir Ning dibawa masuk dengan rantai di kaki mereka. Mereka telah kehilangan segalanya—kecantikan, harta, dan martabat.
"Hukumannya telah diputuskan," suara Han Shuo menggema. "Kalian akan diasingkan ke wilayah perbatasan paling tandus untuk bekerja di ladang gandum sisa hidup kalian. Kalian akan merasakan sendiri apa artinya kelaparan, hal yang selama ini kalian timpakan pada Bangsa Tang."
Setelah pengadilan selesai, Han Shuo turun dari singgasananya. Ia menghampiri Lin Yue di depan para menteri dan jenderal. Di hadapan semua orang, sang Kaisar berlutut di depan permaisurinya.
"Lin Yue," ucap Han Shuo, suaranya dipenuhi ketulusan. "Kau memberiku hidup saat aku hanyalah bayangan. Kau memberiku tahta saat aku tak punya harapan. Hari ini, aku bukan hanya memintamu menjadi permaisuriku, tapi menjadi penguasa bersama di sampingku."
Lin Yue tersenyum, lalu ia menarik Han Shuo berdiri. "Aku tidak butuh pria yang berlutut di depanku, Han Shuo. Aku butuh pria yang bisa berlatih tanding denganku sampai fajar."
Han Shuo tertawa dan menarik Lin Yue ke dalam pelukan yang erat di depan seluruh istana. Sorak sorai "Hidup Kaisar dan Permaisuri!" bergemuruh, menandai berakhirnya era penindasan.
***
Enam Bulan Kemudian – Di Perbatasan Utara yang Gersang
Angin musim dingin di perbatasan menusuk hingga ke tulang sumsum. Di sebuah gubuk reot yang atapnya bocor, Selir Ning meringkuk kedinginan. Tidak ada lagi sutra halus atau parfum mahal. Kulitnya yang dulu ia banggakan kini kusam, pecah-pecah, dan penuh luka akibat mencangkul tanah beku setiap hari.
"Cepat bergerak! Jangan malas!" bentak seorang pengawas ladang sambil memecutkan cambuk ke tanah.
Ning menangis, air matanya membeku di pipi. Ia teringat betapa dulu ia membuang-buang makanan di depan Lin Yue. Kini, ia harus berebut sepotong roti keras yang berjamur dengan tikus tanah demi bertahan hidup. Kecantikannya telah layu sepenuhnya, digantikan oleh wajah tua penuh penderitaan.
Di sisi lain gubuk, Ibu Suri telah kehilangan akal sehatnya. Ia duduk di pojok ruangan yang gelap, menggumamkan kata-kata tak jelas sambil memakan rambutnya sendiri.
"Aku Ratu... aku Ratu..." rancaunya berulang-ulang, tertawa histeris pada dinding kosong. Kegilaan menjadi satu-satunya pelariannya dari kenyataan pahit bahwa ia kini hanyalah nenek tua yang dibenci oleh seluruh negeri.
Dan Long Wei? Nasibnya adalah yang paling menyedihkan.
Ia tidak bisa bekerja karena kelumpuhannya, jadi ia diletakkan begitu saja di depan gubuk, menghadap ke jalan utama. Ia menjadi tontonan bagi rakyat jelata yang lewat. Setiap hari, ia harus mendengar nyanyian dan puji-pujian rakyat tentang kehebatan Kaisar Han Shuo dan Permaisuri Lin Yue.
Ia masih memiliki kesadaran penuh. Ia tahu ia telah kehilangan permata (Lin Yue) demi sebuah batu kerikil (Selir Ning). Matanya yang melotot namun tak berdaya menyimpan teriakan penyesalan abadi yang tak akan pernah terdengar oleh siapa pun
***
Happy Reading ❤️
Mohon Dukungan untuk :
• Like
• Komen
• Subscribe
• Follow Penulis
Terimakasih❤️ ^_^
🧐