Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Ikut mengantri
Pagi seperti biasa, jika selesai sholat subuh, Alan akan bermalas malasan dengan berbaring baring di atas kasur, tetapi pagi ini tidak.
Setelah selesai mandi dan sudah pasti dengan tubuh yang harum, Alan melangkahkan kakinya ke arah dapur, terlihat Julie yang seperti biasa, dengan baju tidur Micky mouse atau bergambar Dora Emon, kalau tidak hello Kitty, sudah berdiri di depan kompor dengan memakai apron.
Bener kata Om Rei, cantik, imut, bisa masak, baik menurut kita, mau mencari yang seperti apa lagi.
" Bang, aku belum selesai membuat nasi gorengnya, Abang mau berangkat pagi pagi ya ? "
Lirik Julie melihat Alan yang sudah berdiri di sebelahnya dalam keadaan rapi.
" Enggak, cuma mau bantu kamu saja "
Sahut Alan pelan.
" Hah ? Tumben, mimpi apa tadi malam ? "
" Mimpi ....Ada deh "
Alan memberikan senyum andalannya.
" Gak perlu bang, sudah mau siap kok "
Terlihat Julie sudah membagi nasi goreng menjadi lima piring, Alan memaksa untuk membatunya dengan ikut memberi garnis irisan tomat dan timun, Julie memberikan sentuhan terakhir dengan masing masing satu buah telur ceplok.
" Juliette, kalau Abang memintamu kepada kedua orang tuamu, boleh gak ? "
Alan berucap pelan.
Julie yang sedang membuka apron yang menutupi tubuh depannya menatap Alan bingung.
Tangannya terulur menyentuh dahi Alan.
" Tidak demam "
Gumamnya pelan.
Alan berdecak.
" Sudah sana mandi ! Nanti Abang antar ke kampus "
Julie dengan kening yang masih berkerut berlalu dari hadapan Alan, dia berlari kecil menaiki anak tangga.
Reino hanya tersenyum sembari melipat kedua tangannya di atas dada.
" Kau terlihat tidak percaya diri sekali, Lan, padahal aku mendengar dari Bara dan Neo, kau banyak penggemarnya, tetapi setelah kehadiran Julie di rumah ini, kau mulai berubah, kau benar-benar jatuh hati pada gadis itu ya ? "
Reino melangkah menuju kursi makan, lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
Bara dan Neo terlihat keluar dari kamar mereka masing masing.
" Tidak harus diperjelas seperti itu kan ? "
Reino terkekeh.
" Kau terlihat seperti seorang pria yang sedang cemburu karena kekasihnya di incar oleh pria lain, sungguh terlihat manis "
" Om, berhenti menggodaku ! "
Alan terlihat jengkel, bagaimana tidak, kemarin sebelum Neo akan ditunangkan secara paksa, Neo seperti saingan yang tidak terlihat untuk merebut perhatian Julie, sekarang Reino terang terangan mengajak bersaing.
Entah kenapa, bersaing bersama Reino, Alan merasa kurang percaya diri.
Karena di mata Alan sebagai seorang pria, Reino memiliki karisma yang sulit untuk diabaikan, apalagi di mata seorang wanita.
Bara hanya bisa menyimpan senyumnya.
" Bang, kasihanilah keponakan kita ini, saat ini dia sedang menuai apa yang pernah dialami oleh para gadis gadis itu, bagaimana rasanya ketika mengejar ngejar seseorang tetapi yang di kejar entah gak tahu atau pura pura tidak tahu "
Imbuh Neo.
Alan tidak sempat membalas apa yang diucapkan oleh Neo karena terlihat Julie sudah buru buru menuruni anak tangga.
Dia merasa tidak enak hati jika keempat pria yang ada di rumah, menunggunya terlalu lama hanya hendak memulai sarapannya.
Julie memilih duduk di sebelah Reino seperti malam tadi.
Alan hanya menatap makanan yang ada di depannya, lalu memakannya dalam diam.
Reino melempar senyum kecilnya pada Julie ketika gadis yang menjadi bahan pembicaraan itu melirik ke arah dirinya.
Selepas sarapan Alan menarik tangan Julie untuk dipaksa-nya naik ke atas belakang jok motornya.
" Bang, gak perlu tarik tarik, aku bukan anak kecil "
Bibir Julie mengerucut ke depan.
" Kamu memang masih kecil Juliette, cepatlah ! Kamu tidak mau terlambat bukan ? "
Dimeja makan Bara dan Neo melongo menatap drama yang baru saja berlangsung di depan matanya.
" Bang, jangan gangguin Alan seperti itu kenapa ? Dia jadi kelihatan aneh tahu gak ? Ntar bisa kacau skripsinya kalau Abang mengusik Julie, biarkan saja dia mengejar Julie, toh gadis itu terlihat acuh "
Neo protes.
" Apa menurut kalian berdua aku terlihat bercanda ? "
Reino meneguk habis teh manis didalam gelasnya.
" Jadi Abang serius suka dengan Julie juga ? "
Bara bertanya tidak percaya.
" Ah, kalian bertiga ternyata tidak mengenal aku dengan baik ya ? Walaupun Papa Adam mendesak aku untuk segera menikah, aku tidak mungkin mengejar perempuan yang sedang Alan atau kalian kejar, aku hanya menguji Alan saja, apakah dia benar benar menyukai Julie atau menganggap Julie seperti pandangan kalian berdua terhadap gadis itu.
Tetapi kalau Alan tidak menaruh hati pada Julie, ya tentu saja aku yang akan mengejar gadis itu "
Neo dan Bara menghembuskan napas lega.
" Kalau seandainya Julie tidak mau menerima Alan, tidak ada salahnya juga kan kalau aku yang gantian mengejar Julie ? "
" Bang, Abang terlalu berbelit-belit, katakan saja kalau Abang juga menyukai Julie "
Neo terlihat sedikit kesal dengan permainan kata kata yang Reino ucapkan.
" Boleh dikatakan begitu, tapi aku akan maju setelah Alan, jika Alan berhasil aku akan mendukungnya, tetapi jika tidak "
Reino mengangkat kedua bahunya.
" Bang Reino dan Alan tidak mengejar Julie secara bersama sama, Neo.
Hanya maju jika Alan tidak berhasil, aku rasa itu tidak masalah, atau kau mau ikut ngantri juga setelah bang Reino ! "
Bara mencibir, Neo melengos.
Gara gara ucapan Bara, Neo mendadak ingat pada Alika, tapi bukan ingin bertemu, hanya sedikit jengkel saja.
Gadis yang bodoh, umpatnya dalam hati.
...******...
Fatimah menatap wajah Bara tidak berkedip, dia masih tidak percaya jika Bara ingin diajak diperkenalkan kepada kedua orang tuanya.
" Kenapa ? Masih marah pada Papamu ? "
Bara kembali membuat temu janji dengan Fatimah, di kampusnya setelah kelas Fatimah selesai.
Fatimah membuang tatapannya ke arah lain.
" Ketika aku memutuskan untuk menawari-mu agar mau menjadi kekasihku, itu bukan untuk main main, aku serius dan setelah aku wisuda, aku ingin melamar-mu "
Bara menatap lekat lekat wajah Fatimah yang menunduk, sontak Fatimah menatap wajah Bara.
" A-aku "
" Aku tidak suka berpacaran terlalu lama, kalau kamu bersedia dan orang tuamu mengijinkan, aku mau menikahi dirimu segera "
" Apa tidak terburu buru ? "
Bara menggelengkan kepalanya.
" Menikah, kita bisa melanjutkan berpacaran, dan kamu masih tetap bisa kuliah seperti biasa, orang tuaku dulu juga seperti itu, tidak masalah.
Menghindari dari hal hal yang menjerumuskan kita pada perbuatan dosa "
Fatimah menimbang nimbang, dia masih belum bisa menerima Ibunya rujuk dengan Papanya, kalau dia menikah, dia tidak harus kembali kerumah Papanya atau ke rumah Om Al.
" Tapi kita belum saling mengenal siapa diri kita masing masing "
" Kita tidak akan bisa mengenal dengan baik sampai kita tinggal dalam satu atap dalam ikatan pernikahan, baru kita akan tahu siapa kamu dan siapa aku "
Fatimah masih belum mengalihkan tatapan ke arah lain, begitu juga dengan Bara.
Fatimah tidak tahu apa Bara pria yang baik atau pura pura baik, tetapi ajakan untuk diperkenalkan kepada Papanya, membuat Fatimah bisa menarik kesimpulan jika Bara tidak bermaksud mempermainkan dirinya.
" Baiklah, tetapi kita ke kantor Papa bukan kerumah "
Bara tidak bertanya banyak apa sebab Fatimah sedikit marah pada orang tuanya, Bara menunggu sampai Fatimah akan mengatakan yang sebenarnya pada dirinya.
Naik ke boncengan motor yang Bara kendarai, tangan Fatimah hanya berani memegang tepi jaket yang Bara kenakan.
Bara melirik sekilas, lalu mengambil telapak tangan Fatimah untuk dilingkarkan ke pinggangnya sendiri, saat Fatimah menatap Bara lewat kaca spion, Bara pura pura tidak melihat.
Akhirnya dengan sedikit malu, Fatimah melingkari pinggang Bara dengan kedua tangannya.
Bara menyembunyikan senyumnya sembari memasangkan helm ke kepalanya sendiri
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...