Perpisahan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap saat bersama orang yang kita cintai adalah anugrah yang tidak boleh di sia-siakan.
Sama seperti gadis cantik yang sederhana bernama Lidya Anggraeni, gadis mandiri yang harus hidup sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya. Sampai pada suatu keadaan mempertemukan dia dan seorang pengusaha muda Anggara Pradipta.
Perlahan-lahan kehidupan keduanya mulai berubah, mulai di warnai oleh cinta. Ketika masa lalu dari orang tua mereka terungkap, membuat keduanya berada dalam di lema. Ditambah dengan munculnya orang dari masa lalu Angga, kekuatan cinta mereka mulai di uji. Semuanya tahu bahwa Angga begitu mencintai orang dari masa lalu, Bahkan setelah 2 tahun perpisahan sangat sulit untuk melupakan nya.
Cinta memang memberikan kenangan indah, tapi cinta juga memberikan luka yang bisa menjadi kenangan. Di sinilah kepercayaan dan kekuatan cinta itu di uji, memilih kembali pada orang di masa lalu, ataukah memuali dengan orang baru dan mulai membuka lembaran baru pula.
Sedalam apa kekuatan cinta Lidya dan Angga? Sekuat apa mereka bisa bertahan?
Akankah Angga memilih Lidya ataukah kembali kepada dia, wanita di masa lalunya?
Penasaran kisah mereka seperti apa?
Yuk! ikuti kisah Angga dan Lidya, perjuangan Lidya untuk cintanya.
Let's go!! Mulai baca Guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna azahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Ada sebuah waktu, dimana aku jatuh cinta kepadamu di titik paling dalam. Ialah diantara tengah malam dan senyummu. Tidak banyak yang ku pinta, cukup dengan hadirnya dirimu, karena di situ bahagia bermula.
...~Anggara Pradipta~...
***
Malam semakin larut, dinginnya malam semakin terasa. Gelapnya langit menjadi terang karena rembulan, bintang-bintang pun ikut melengkapi.
Hembusan angin semakin terasa dingin, menggoyang goyangkan gorden kamar seorang gadis. Mendadak semua menjadi sunyi hanya ada suara jarum jam yang berputar.
Semakin malam semakin terasa hawa dingin nya, angin yang berhembus menggoyangkan kan gorden menelusup keatas permukaan kulit seorang gadis cantik yang tengah tertidur.Tiba-tiba saja gadis itu berteriak.
"AAAAAHHHHH....."
"Jangan.....Ayah! tidak jangannnnnnnn." Teriak nya seraya membuka mata nya. Dia terduduk langsung, sekujur tubuh nya bergetar, keringat bercucuran membasahi tubuh nya.
Hiksss...... Hiksss...... Hiksss.....
Gadis itu terisak tersedu-sedu, dengan keadaan tubuh yang masih bergetar hebat karena takut. Keringan yang bercucuran pun tidak hentinya membasahi tubuh.
"Apa maksud semua ini?"
"Aku hanya ingin petunjuk untuk kotak ini. Bukan mimpi buruk itu lagi."
"Ayah aku takut sekarang. Aku takut mereka."
Hikss....
Dia semakin terisak, suasana malam yang hening menyelimuti semakin membuat ketakutan nya menjadi. Dia sendiri di rumah itu, tidak ada orang lain yang bisa di minta tolong.
Tiba-tiba saja sekelebat bayangan kabur terlintas begitu saja. Bayangan seorang gadis di ikat di ruang gelap, lalu beberapa pria bertubuh kekar dan berotot menjaga di sekeliling nya.
"Gadis cantik, tapi sayang nasib mu tidak seindah wajah mu."
"Hahah...kita lenyapkan dia sekarang?"
"Tidak, tidak, jangan dulu. Kita tunggu sampai sang Ayah datang, biarkan dia menyaksikan secara langsung kematian mengenaskan putrinya."
"Hahahaha....." mereka tertawa tapi tawa mereka sangat menyeramkan bagi gadis itu.
Seketika saja ingatan itu datang, penggalan percakapan yang berhasil membuat tubuhnya gemetar terputar di ingatan nya.
Lidya, ya dia Lidya ingatan tentang masa lalu nya muncul dan berhasil menggetarkan tubuh nya karena takut.
"Kenapa mereka harus muncul lagi dalam ingatan ku. Aku takut, sekarang aku sendiri tidak ada ayah yang akan melindungi ku. Aku harus apa, siapa yang akan menolong ku....Hiksss...." Lidya terus bergumam ketakutan dia tidak hentinya terisak.
Jika sudah seperti ini akan apa dia, mau meminta bantuan siapa di malam hari seperti ini.
***
"Shit sial!" pekik seorang pria karena kesal.
"Kenapa baru sekarang memberi tau ku. Jangan bilang kau lupa." seru nya lagi.
Dia kemudian menyandarkan kepalanya, memijit pelan pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa berat.
"Maaf! aku benar-benar lupa. Kau tau bukan tadi banyak sekali pekerjaan ku di kantor." imbuhnya membela diri. Tapi dalam hatinya dia juga mengutuki kebodohan nya yang bisa melupakan hal penting ini.
"Sesibuk apa hah? kau tau ini jauh lebih penting dari apa pun bukan. Lalu Lidya, bagaimana bisa aku tidak menyadari ini." kesal Angga seraya mengacak rambutnya frustasi.
Dia mengerahkan banyak orangnya untuk mencari tahu tentang gadis ini, putri dari tangan kanan ayahnya. Tapi dia tidak menemukan apa-apa, dan sekarang muncul fakta bahwa gadis itu adalah Lidya.
Bagaimana bisa dia tidak menyadari ini? oh tentu saja bisa bukankah di antara mereka belum ada yang secara gamblang menceritakan tentang kehidupan pribadi masing-masing.
"Bukan hanya kau, tapi aku juga tidak menyadari ini. Padahal aku sudah mengenalnya lama, dia sering datang bersama Sarah. Tapi ya, dia tidak terlalu terbuka tentang ayahnya." sahut David menjelaskan.
"Ahh sudahlah. Kepala ku tiba-tiba saja terasa berat, aku akan tidur kau pulang lah." katanya yang terdengar seperti mengusir David.
David hanya mendengus kesal, tapi dia juga tidak komplen seperti biasa. Dia lebih memilih untuk pulang saja. Toh dia juga butuh istirahat sekarang.
Setelah David pulang Angga langsung merebahkan diri di atas ranjang. David menceritakan semua yang dia tahu dari pria yang dia temui itu, dan sekaligus fakta yang membuatnya jadi berada dalam rasa khawatir.
"Semoga kau akan baik-baik saja, aku tidak ingin kau terluka meski hanya sedikit." lirih Angga dengan ke khawatiran yang mendominasi.
"Beruntung aku sudah tau ini sekarang, meski belum semuanya tetapi setidaknya aku tau bahwa kau orang yang seharusnya. Seharusnya mendapat perlindungan dari ku." Gumam Angga di tengah lamunannya.
Ddrrrttt......dddrrrttt.....dddrrrttt.....
Tiba-tiba saja Angga di kejutkan oleh deringan ponselnya, dengan malasnya Angga mengambil benda pipih itu. Seketika saja matanya membola melihat nama kontak pada panggilan tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi Angga langsung menjawab panggilan itu.
"Hallo" ucap seseorang di seberang sana. Nada bicara nya terdengar sangat pelan dan bergetar.
Angga bingung di buatnya apa kah semenakutkan itu dirinya, sampai orang di sebrang sana bergetar ketkutan gara-gara menghubungi nya.
"Iya, ada apa? tumben malam-malam begini hubungin aku." sahut Angga sambil terkekeh sendiri.
"................" jelas seseorang di sebrang sana lagi. Orang ini adalah Lidya.
Angga di buat terkejut dengan apa yang di ucapkan si penelpon tersebut. Tanpa pikir panjang dia langsung menuju rumah Lidya, dan ya panggilan telepon nya masih terhubung.
"Aku kerumah kamu sekarang ya." putus Angga.
Memang di sengaja sambungan itu tidak boleh di putus, dengan alasan Angga tidak ingin Lidya merasa takut. Setidaknya dia punya teman bicara meski lewat sambungan telepon untuk saat ini.
"Jangan putus sambunngan telponnya. Setidaknya dengan berbicara padaku meski lewat telon untuk saat ini, kau tidak terlalu takut." pinta Angga.
Akhirnya di malam yang semakin larut ini dia pergi menuju rumah gadisnya. Gadis yang sudah dia anggap miliknya meski belum resmi, tetapi dia sudah mengklaim itu miliknya.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia terus mencengkeram kuat stir. Tidak ada yang tahu saja jika dia sekarang di penuhi kekhawatiran yang mendalam, tetapi sebisa mungkin dia mencoba tenang dengan terus berceloteh tidak jelas pada Lidya di sebrang sana.
'Ya Tuhan, tolong jaga dia. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu pada nya, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri jika dia terluka sedikit saja. Dia adalah hidup ku sekarang, dia nyawaku. Aku tidak akan bisa hidup tanpa nya sekarang, kumohon jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.' Batin Angga memohon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next>>
Jangan lupa berikan dukungan nya 🤗🌹💕
Happy reading 🤗
Jika berkenan mampir di judul
"Cinta Devan Untuk Naya" semangat aku datang bawa like, rate dan bunga
mampir juga yok ke Hati Terbelah Di Ujung Senja 😊