Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Mutlak
Sembilan naga naga raksasa setengah langkah Transformasi Dewa itu bahkan tidak sempat melengking. Tebasan pedang Huang memotong tubuh mereka menjadi dua bagian dengan begitu mudahnya, sebelum akhirnya Api Purba yang membakar di luka tebasan tersebut menguapkan kerangka mereka menjadi abu dalam sekejap. Garis cahaya itu terus melesat, menembus barisan ratusan kultivator elit faksi Iblis di belakangnya, memusnahkan mereka semua dari muka bumi tanpa menyisakan sepeser pun esensi jiwa.
Satu tebasan, meratakan seluruh garda depan pasukan Benua Barat.
"Luar biasa..." Kepala Akademi Empat Jagat bergumam tak percaya. Para ksatria Peri di belakang Raja Peri bahkan langsung menurunkan senjata mereka, terpaku menatap punggung tegap Lin Huang yang berdiri bagai dewa perang tak terkalahkan.
Penatua Jiu yang baru saja mendesak mundur Ketua Faksi Gagak Hitam langsung melompat mundur, tertawa geli sembari menggelengkan kepalanya. "Bocah ini... dia benar-benar telah melampaui masa jayaku."
Di tengah lapangan yang kini telah bersih dari musuh, Lin Huang mengalihkan pandangannya langsung kepada Tian Ming yang kini berdiri sendirian di depan kereta kencananya. Rambut ular sang Ratu Iblis mendesis ketakutan, beberapa di antaranya bahkan mulai saling menggigit karena kegilaan mental yang hebat.
"Ratu Tian Ming, giliranmu," ucap Huang, tubuhnya bergeser seketika dan langsung muncul tepat di depan wajah sang Ratu Iblis, memutus seluruh jarak spasial seolah dia adalah pemilik dari dimensi ini.
Gorgon terbelalak, buru-buru melepaskan Kutukan Mata Merah Pembatu tingkat penuh dari sepasang matanya, mencoba mengubah tubuh Huang menjadi batu. Namun, sebelum cahaya kutukan itu menyentuh kulit Huang, mata ketiga di dahi Jiwa Nascent Huang berkilat di dalam Dantian. sebuah gelombang energi pembalik surga meledak keluar dari dahi Huang, membalikkan kutukan tersebut kembali kepada pemiliknya.
KRETEK!
"AAAKHHH!" Gorgon menjerit histeris saat melihat lengan kanannya sendiri mulai mengeras dan berubah menjadi batu abu-abu akibat kutukannya yang berbalik.
Tanpa memberikan kesempatan sedikit pun, Huang mengangkat Pedang Eksekusi Asura-nya tinggi-tinggi. Kobaran api dan petir di bilah pedangnya menderu kencang, siap menjatuhkan vonis terakhir bagi dinasti kegelapan Benua Barat.
Mata ungu keemasan Lin Huang berkilat tajam, menatap musuh besar yang telah menghancurkan masa kecilnya itu dengan kepastian mutlak bahwa hari ini, sejarah baru akan dituliskan di atas keruntuhan tirani kegelapan Tian Ming.
"TIDAK! Aku adalah penguasa Benua Barat! Aku tidak akan kalah dari sisa-sisa ras yang sudah punah!" Tian Ming melengking gila.
Dalam upaya terakhirnya untuk bertahan hidup, sisa lengan kirinya yang tidak membatu bergerak menghantam dadanya sendiri. Inti jiwanya—sebuah Inti Transformasi Dewa Tingkat Puncak berwarna hitam pekat—dipaksa keluar dari tubuhnya, memancarkan retakan energi yang siap meledakkan seluruh dimensi Dataran Darah Kuno ini. Dia berniat mati bersama Lin Huang.
Namun, di hadapan Lin Huang yang sekarang, trik pengorbanan diri seperti itu hanyalah lelucon yang rapuh.
"Di hadapan seorang Asura sejati, kau bahkan tidak memiliki hak untuk memilih kematianmu sendiri," ujar Huang dingin.
Mata ketiga di dahi Lin Huang memancarkan seberkas cahaya ungu keemasan murni yang langsung mengunci Inti Transformasi Dewa milik Tian Ming di udara. Kitab Pembalik Surga Sembilan Putaran bekerja secara absolut, membalikkan aliran energi distruktif dari inti tersebut dan membekukannya dalam hitungan detik.
Bersamaan dengan itu, Pedang Eksekusi Asura di tangan Huang mengayun turun dalam garis lurus yang sempurna.
SHRIIIKKK!
Bilah pedang hitam obsidian itu memotong tubuh Tian Ming tanpa hambatan. Api Purba merah darah yang menyelimuti pedang langsung merembes masuk, membakar habis tubuh fisik sang Ratu Iblis beserta seluruh jalinan ular di rambutnya, sementara petir kesengsaraan ungu menghancurkan sisa-sisa kesadaran jiwanya hingga menjadi debu spiritual yang melayang di udara.
Jenderal Agung Tian Ming, penguasa tirani kegelapan yang telah meneror dua benua selama ratusan tahun, tewas seketika tanpa menyisakan satu sel pun di dunia nyata.
Melihat kematian pemimpin tertinggi mereka, sisa-sisa pasukan faksi Iblis dan faksi Gagak Hitam langsung runtuh secara mental. Ketua Faksi Gagak Hitam mencoba melarikan diri menggunakan sihir bayangan, namun Penatua Jiu tidak memberinya celah; dengan satu tebasan pedang Qi transparan, sang ketua faksi hitam itu ditebas putus menjadi dua.
Di sisi lain, Long Jiao, sang Raja Naga Kegelapan yang ketakutan setengah mati, langsung berlutut di atas tanah gersang, menundukkan kepala naganya yang terluka ke arah Huang demi memohon ampunan bagi rasnya.
Huang perlahan menurunkan pedangnya. Senjata spiritual itu meleleh kembali menjadi energi Asura dan menyerap masuk ke dalam tubuhnya. Sepasang sayap hitam di punggungnya mengepak perlahan sebelum akhirnya menyusup kembali ke bawah kulit jubahnya. Warna matanya kembali menjadi hitam pekat, tenang dan dalam bagai telaga purba.
Medan Perang Alam Kuno mendadak sunyi, sebelum akhirnya gemuruh sorak-sorai kemenangan yang luar biasa dahsyat pecah dari barisan pasukan Benua Pusat dan ksatria Peri.
Raja Peri melangkah maju bersama Kepala Akademi, menatap Huang dengan pandangan yang kini dipenuhi rasa hormat yang setara dengan para leluhur agung. "Lin Huang... hari ini, kau tidak hanya membalaskan dendam klanmu, tapi kau telah membebaskan seluruh dunia kultivasi dari bayang-bayang kehancuran."
Penatua Jiu berjalan mendekat, menepuk pundak Huang dengan tawa bangganya yang khas, lalu menyerahkan kendi arak barunya. "Kerja bagus, Bocah. Mulai hari ini, nama Lin Huang akan diukir di puncak tertinggi sejarah ketiga benua sebagai Sang Penguasa Asura Baru."
Huang menerima kendi arak tersebut, meminumnya dalam satu tegukan panjang, lalu menatap langit Dataran Darah Kuno yang perlahan mulai kembali cerah. Sinar matahari spiritual yang hangat menerobos awan merah yang pecah, menyinari wajah tampannya.
Utang darah masa lalunya telah lunas, dan belenggu yang mengikat takdirnya telah hancur. Dengan kekuatan Ranah Transformasi Dewa dan warisan Asura sejati yang kini mengalir kokoh di dalam tulangnya, Lin Huang tahu bahwa perjalanannya di dunia fana ini telah mencapai puncaknya. Di hadapannya kini terbentang jalan baru yang lebih luas—jalan menuju Ranah Keabadian (Ascension) dan rahasia langit yang lebih tinggi. Dan ke mana pun jalan itu membawanya, dia siap melangkah sebagai badai yang tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh siapa pun lagi.
Kemenangan di Dataran Darah Kuno menandai akhir dari era kegelapan. Dalam hitungan minggu, peta politik dunia kultivasi berubah total. Faksi Gagak Hitam dibubarkan hingga ke akar-akarnya, sementara Klan Naga Kegelapan dari Benua Barat mengirimkan upeti dalam jumlah besar ke Akademi Empat Jagat setiap tahunnya, bersumpah untuk tidak akan pernah lagi melewati perbatasan Benua Pusat.
Lin Huang tidak mengambil takhta kekuasaan di Benua Barat ataupun menjadi Kepala Akademi. Baginya, kedudukan fana seperti itu hanyalah belenggu yang memperlambat kultivasi.
---
Satu tahun setelah pertempuran besar tersebut, Lin Huang memilih untuk tinggal di puncak sunyi Puncak Arak, menemani Penatua Jiu yang semakin tua sembari membimbing beberapa murid baru akademi—termasuk menjalin hubungan yang erat dengan Kerajaan Peri melalui Putri Elysa.
Namun, kedamaian itu tidak membuat jiwa Asura di dalam tubuh Huang tertidur.
Kini, di puncak tertinggi Puncak Arak, tepat di bawah langit malam yang dipenuhi gugusan bintang, Lin Huang duduk bersila di tepi tebing. Jubah hitam kemerahannya berkibar pelan ditiup angin malam. Di dalam Dantiannya, Jiwa Nascent Asura Bermata Tiga miliknya telah tumbuh menjadi sosok spiritual yang begitu padat, memancarkan aura Ranah Transformasi Dewa Tingkat Puncak.
Hanya dalam waktu satu tahun, berkat pemurnian sisa esensi Kolam Darah Asal dan ketekunan tiada batas, Huang telah menyentuh langit tertinggi dari dunia fana ini.
HUMMM...
Mata ketiga di dahi Huang perlahan terbuka, memancarkan seberkas cahaya ungu keemasan langsung ke arah langit malam. Detik berikutnya, Huang merasakan sesuatu yang aneh. Hukum ruang di dunia fana ini mendadak terasa begitu tipis dan rapuh, seolah-olah penutup kain yang siap robek kapan saja.