Haris tidak menyangka akan dijodohkan dengan seorang gadis yang tidak dikenalnya sama sekali bernama Hana. Ia di jodohkan oleh seorang ulama kharismatik bernama haji Zakaria yang sudah dianggap seperti ayah kandungnya sendiri. Padahal ia sudah memiliki gadis pilihannya sendiri bernama Arini untuk dijadikan calon istri. Tidak mendapat respon dari sang ibu akan gadis pilihannya dan juga ia berhutang budi terhadap sang ulama karena telah membiayainya dari kecil hingga dewasa, menjadikannya dilemma untuk membuat keputusan sehingga ia terpaksa menikahi gadis pilihan sang ulama.
Bagaimanakah nasib pernikahan Haris dan Hana? Bagaimana pula kisah pernikahan mereka dan nasib orang-orang yang tersakiti oleh pernikahan ini, apakah mereka akan Bahagia?
Simak ceritanya pada novel ini, dengan judul “Pernikahan karena Perjodohan (Haris dan Hana)” by Alana Alisha.
Ig: @alana.alisha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alana alisha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Kenyataan Pahit
Betapa malam cukup mampu melukiskan kepedihan
Rinai hujan merintik sendu
Sinar rembulan tenggelam dalam redupnya malam
Aku terpaku bersama keheningan
Angan-angan untuk melagu dalam indahnya purnama tak akan pernah ada
Kini yang tersisa hanyalah nestapa dan lara
***
Laa Hawlaa wa laa quwwata illaa billaah
Laa ilaa ha illaa anta subhanaka inni kuntu minazh zhaalimiin
Hasbunallah wa ni’mal wakiil
Ni’mal maula wa ni’man nashiir
Gibran larut dalam sujud panjangnya. Dosa besar apa yang telah ia lakukan hingga ia mendapat cobaan seberat ini. Ia menangis tersedu-sedu. Tangisan yang tidak pernah keluar kecuali ketika ia menghadap Rabb nya dalam malam-malam yang panjang. Kali ini ia tidak tahan untuk tidak menangis. Benar ia adalah seorang laki-laki. Namun
menghadapi kenyataan ini hatinya juga bisa rapuh. Bahkan sangat rapuh hingga ia tidak mampu untuk berkata-kata.
Ia tidak pernah menduga sama sekali bahwa kepulangan nya ke Indonesia untuk menjemput bahagia malah menjadi sebaliknya. Mirisnya lagi ia mengetahui berita yang mengejutkan ini bukan dari mulut Hana maupun Yura. Gibran sangat terpukul. Mengapa Hana begitu tega melakukan ini padanya. Adik kesayangannya juga menutupi hal ini rapat-rapat. Ia merasa seperti seorang pecundang yang mengharap terbang menuju rembulan namun dalam perjalanannya diterpa badai hingga lenyap melebur jatuh berkeping-keping.
Ia benar-benar larut dalam keheningan. Semenjak pulang dari café, ia hanya diam. Yura sendiri tidak mengerti mengapa kakaknya tiba-tiba saja berubah. Wajah memerah seperti menahan amarah, rahang mengeras dan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Tidak seperti kakak yang ia kenal. Gibran pun telah memastikan kata-kata Ridwan bahwasanya Haris yang menikahi sahabat adiknya memang benar adalah Hana. Ia telah melihat foto-foto serta video akad nikah yang berada di HP Ridwan. Iya. Gadis itu memang Hana. Wanita yang menjadikan alasan baginya untuk giat belajar dan ia telah bela-belakan untuk pulang demi melamarnya. Mengetahui kenyataan ini, ia
kembali mengadu pada Allah. Berharap rasa sakit yang ia derita dihilangkan oleh-Nya.
***
Malam semakin larut, ibu Fatma masih berada di kediaman Haris dan Hana. Sedari tadi mereka berbincang seru.
Hana memang pandai mengakrabkan diri. Ia dan bu Fatma sudah tidak merasa seperti mertua dan menantu, melainkan sudah seperti anak dan ibu kandung. Haris dan Hana memaksa ibu untuk menginap di rumah mereka. Hari ini, karenakan ibu hendak datang berkunjung, Hana sudah mempersiapkan segala halnya, termasuk
memindahkan pakaian-pakaian haris dari kamar kedua menuju kamar utama yang ia tempati. Ini semua ia lakukan agar ibu tidak curiga karena selama ini mereka tidur di kamar terpisah. Haris merasa lega atas sepak terjang Hana yang bergerak cepat dan lihai. Hari ini gadis itu tidak hanya berbelanja, memasak dan memindahkan barang-barang namun juga membersihkan seluruh bagian rumah. Istrinya yang masih berumur 19 tahun itu ternyata cukup matang dan dewasa menghadapi situasi mendesak. Haris menjadi tidak begitu khawatir atas rencana yang ia buat menjadi kacau. Sejauh ini memang berjalan lancar.
Hana masuk ke dalam untuk merapikan kamar yang akan bu Fatma tempati malam ini. Tinggal lah Haris dan Ibu
nya berdua di teras depan, masih berbincang dengan masing-masing ditemani secangkir teh hangat buatan Hana.
“Nak, ibu kok rasanya sangat senang ya sama Hana. Anaknya halus, lemah lembut tapi cekatan. Padahal usianya
masih sangat muda”
“Alhamdulillah kalau ibu cocok dengan Hana. Itu artinya haji Zakaria tidak salah memilihkan jodoh untuk Haris”
ucap Haris mengakui kelebihan istrinya tersebut.
“Jadi kalian memang sudah saling cinta kan?”
Haris hanya diam. Ia merasa sampai detik ini hubungan nya bersama Hana sama sekali tidak mengalami
kemajuan. Apalagi di sisi lain masih ada ibunya Arini yang menyuruh ia untuk menikahi putrinya. Jujur saja, perasaannya terhadap Arini belum memudar walau ia sudah berusaha keras melupakannya. Belum lagi nama Gibran yang masih tidak ia ketahui memiliki hubungan apa dengan istrinya tiba-tiba muncul. Menambah deretan daftar masalah yang mengantri untuk ia pikirkan. Semua masih abu-abu dan ia sama sekali tidak mengetahui bagaimana jawabannya.
“Hhhhhhhh” Ibu mendesah panjang.
“Nak, apa kamu masih menginginkan Arini? Kamu tidak boleh egois mengorbankan Hana istrimu atas perasaan yang tidak seharusnya kamu rasakan lagi”
“Walaupun Hana tidak mencintai saya bu??” Sergah Haris
“Apa maksudmu? Darimana kamu mengetahui Hana tidak mencintaimu?”
Haris kembali diam. Ia tidak ingin membicarakan perihal rumah tangga nya lebih jauh lagi. Karena ia sendiri tidak mampu untuk menjelaskan bagaimana hubungan yang dijalankannya ini bersama Hana.
“Bagaimana dengan Arini? Kamu tidak bermain api kan nak? haram hukumnya jika kamu memiliki hubungan dengan wanita lain di luar pernikahanmu” ibu menerawang begitu jauh.
“Jika saya harus menikahi Arini, apa ibu ridha?” Pertanyaan yang muncul begitu saja. Dua hari ini memang ibu Arini terus mendesak Haris untuk segera memutuskan nasib masa depan anaknya.
“Haris, dalam keluarga kita tidak ada istilah poligami!” suara ibu sedikit meninggi namun tetap dalam volume kecil. Jika Hana mendengar bisa-bisa akan bertambah runyam.
“Kamu tidak benar-benar akan menikahi Arini kan nak, jawab ibu!”
Haris hanya bisa diam.
“Kamu pikirkan masalah ini dengan matang nak, pertimbangan bagaimana perasaan istrimu. Kehidupan dengan
membimbing dua wanita sekaligus tidaklah mudah. Berlaku adil itu tidak segampang yang kita pikirkan. Pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT sangat berat nak” Ibu berkaca-kaca.
“Haris mengerti bu. Sebenarnya Haris sama sekali tidak berniat poligami. Ini hanya kemungkinan terburuk yang
terjadi kedepannya. Haris akan sangat-sangat mempertimbangkan hal ini. Haris hanya berharap apapun yang terjadi kedepannya, ibu mau mendukung dan merestui Langkah yang Haris tempuh dengan catatan Langkah tersebut Allah ridhai” Akhirnya Haris menjawab ibu dengan jawaban yang penuh diplomatis.
***
Di dalam kamar, Hana telah bersiap untuk tidur. Seperti biasa, ia sudah berwudhu dan membaca habis surah al-Mulk. Ada perasaan canggung yang menyelinap. Malam ini ia harus kembali berbagi kamar dan kasur yang sama bersama suaminya. Haris sendiri masih duduk di pojokan tempat tidur. Ia tenggelam bersama handphone nya. Entah apa yang laki-laki itu kerjakan.
“Mas…” Hana memanggil Haris. Haris menoleh.
“Ya? Ada apa?”
“Hmh… boleh aku tidur di dekat dinding? Aku mulai terbiasa tidur di sebelah situ” Hana menunjuk tempat yang
ditempati oleh Haris.
“Baiklah.” Haris beranjak bergerak menyebrang ke posisi kasur di sebelahnya.
“Aku sih tidak masalah tidur dimana saja. Yang perlu dikhawatirkan adalah gaya tidurmu yang bisa saja beralih tempat kemana saja sesuai kehendaknya” Haris menyindir gaya tidur Hana yang memang berantakan. Wajah Hana memerah.
“Mas mengada-ada, mana mungkin aku tidur seceroboh itu, apalagi ada mas disampingku” Hana mengelak, ia tidak
ingin dituduh sengaja mendekati Haris melalui gaya tidurnya yang tidak bisa ia kendalikan. Haris pun tertawa mendengarnya.
“Apa perlu aku rekam bagaimana posisi tidurmu nanti?” Haris kembali meledek Hana. Ia merasa berada di atas
awan.
“Baiklah. Kalau mas merasa terganggu, aku akan tidur saja di luar saja” Hana cemberut dan hendak keluar kamar. Namun dengan sigap Haris memegang tangan Hana.
“Jangan tidur di luar. Aku hanya bercanda. Tidak peduli apapun gaya tidurmu. Aku tidak masalah. Jikapun harus
ada yang keluar kamar. Itu adalah aku. Bukan kamu. Tapi tolonglah. Malam ini kita berdamai untuk berbagi kasur yang sama” Haris merendah dan mengalah agar Hana tidak marah. Mendengar penuturan Haris, hati Hana menjadi luluh seketika.
***
Haris dah sedikit tenang krn tdk ada lg tekanan utk menikahi Arini 😊😊😊😊
kebih baik di cintai dr pd mencintai.
maka terimalah cinta ny Romi 😋😋😋😋😋
pasti ada sesuatu yg memaksa atau mengancam Ummi Fatma 😬😬😬😬
semangkin seru ... dan memaksa emosi ikutan kesel 😆😆😆😆😆
sy yg gk sabar gmn reaksi nya Haris 😚😚😚😚😚😚
sy gk suka dgn Hj Aisya yg terlalu memaksa kehendak.
Hana ajak aja je New york biar Lisa gk bisa berkutik 😊😊😊😊😊