Maya adalah seorang wanita biasa yang dijodohkan dengan pilihan orang tuanya. Dia berkali-kali menolak karena sudah memiliki kekasih.
Sedangkan lelaki pilihan orang tuanya, bernama Prawira. Dia seorang abdi negara yang baru saja dipindah tugaskan di Jakarta.
Pernikahan mereka berlangsung seminggu setelah tragedi itu. Maya terpaksa menjalani semua ini. Masa lalu yang datang kembali, membuat dirinya terguncang.
Bisakah Maya melewati semua ini, akankah dia mendapatkan cinta dihidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deviss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SULIT MENERIMA
"Saya Prawira," ungkapnya.
"Hm? Kenapa kamu yang angkat? Maya ke mana?" cecar Juha.
"Maya? Dia sedang tidur, mungkin kelelahan," jelas Prawira.
"Sama kamu? Berdua doank?" Semenjak Juha tahu lelaki yang dijodohkan dengan kekasihnya itu adalah Prawira, hatinya selalu khawatir. Apalagi Rangga sudah memintanya untuk menjauhi.
"Iya." Terdengar helaan napas di seberang sana. "Boleh dinyalakan panggilan videonya! nanti saya jelaskan supaya gak ada yang salah paham," pinta Prawira.
Tidak lama kemudian Panggilan beralih ke video. Prawira mengganti kamera belakang agar Maya terlihat oleh Juha. "Tadi, dia pingsan. Saya yang membawanya ke dalam kamar," dustanya sembari memperhatikan Juha dengan kesedihan di raut wajahnya. "Maaf!" lanjutnya.
"Pucet sekali. Apa dia sakit?" tanya Juha.
"Tidak," jawab Prawira. Pikirannya melayang, tekat untuk membatalkan perjodohan ini gagal melihat Maya pingsan di rumah sakit saat dia menghubungi adiknya. Kemudian kembali meyakinkan hatinya ketika Juha dengan santai menenangkan Maya.
Akan tetapi, keraguan itu muncul kembali ketika tiba di rumah setelah pemakaman selesai, ada rasa ingin membantu Maya keluar dari kesedihannya. Namun, sekarang jadi ragu untuk melakukan itu. Dia tidak setulus Juha.
"Wir ... Wira ... WIRA!." Prawira berdehem. "Masih di situ kan?"
"Masih." Jawabnya singkat terkekeh sendiri.
"Dipanggilin berkali-kali, lagi ngelamunin apa, hm? Waah, jangan-jangan ...."
"Apa? pikirannya gak usah aneh-aneh." Mengingat Prawira pernah mengaku saudara dari Maya.
"Wajar donk saya curiga. Secara kamu itu kan calon suami pilihan almarhum dan Maya adalah pacar saya," sindir Juha.
"Hah? Em, Say—"
"Saya sudah tau siapa lelaki yang akan dijodohkan dengan Maya. Saya percaya, sangat percaya dengan kamu," potong Juha menjeda ucapannya sebentar, "saya akan membantu kamu membatalkan perjodohan ini, tatapi untuk sekarang saya minta tolong jaga dia selama saya tidak ada. Boleh?"
"Maksud kamu? kamu tidak bisa ke sini?" tanya Prawira.
"Hm ... saya sudah coba, tapi tetap tidak bisa. Kamu mau kan?"
"Saya tidak bisa berjanji."
🌷🌷🌷
Malam semakin larut. Beberapa jam yang lalu, tahlilan telah selesai. Satu persatu saudara Maya terlelap. Namun, tidak termasuk dirinya. Perasaannya sesak. Dia masih betah duduk di ruang tamu, mengitari seluruh sudut. Kadang menjelajah semua ruangan rumah yang menjadi kenangan.
"Ma, Pa, maya kangen," lirihnya.
"Maya." Maya menoleh, menghapus air matanya. "Sedang apa kamu? Belum tidur?"
"Belum, Bule," jawabnya tersenyum.
"Kangen sama mama, papa ya?"
Maya mengangguk, pelukan kakak dari mamanya ini membuat tangisan dia pecah. Sesak yang sedari tadi tertahan, akhirnya keluar dengan perlahan. Setelah lega, Bule membujuknya untuk beristirahat. Saat masuk kamar, dia mendengar deringan ponselnya.
Dengan cepat Maya mengambil. Namun, keburu mati. Dia melihat ada puluhan panggilan tidak terjawab dari kekasihnya. Sedikit tertawa melihat para sepupunya yang tertidur, mereka sama sekali tidak terusik oleh suara itu. Mungkin lelah, itu yang terlintas dipikirannya.
Maya menghubungi kembali. Tidak butuh lama untuk terjawab. "Hallo."
"Ya Allah, cantik. Bikin saya khawatir, kamu kemana saja? tidak apa-apa kan?" cecar Juha.
Maya berdehem. "Masih sibuk, Bang?"
"Iya, Dek. Maaf, belum bisa kasih pundak abang."
"Maksudnya?" Maya mengerutkan dahi, duduk di lantai, bersandar pada ranjang yang ditempati oleh sepupunya.
"Kalau Ade pengen ngilangin rasa sesak, paling nyaman adalah pundak seseorang yang kita percaya," jelas Juha, "saya belum bisa kasih itu."
Perlahan Maya tersenyum. Namun, jelas Juha tidak bisa melihatnya. "Sok tau, memang udah pernah ngerasain apa?"
"Udah." Senyum Maya perlahan menghilang, menunggu Juha melanjutkan ucapannnya. Namun, tak kunjung bicara.
"Ck, paling juga ditinggal pacarnya."
Juha tertawa. "Ditinggal pacar mah, gak ada apa-apanya, Dek. Cari pacar yang baru, beres kan." Maya terkekeh, memang kekasihnya itu sedikit badboy. "Ayah ... pergi lima belas tahun yang lalu. Almarhum, gugur saat ditugaskan di medan perang," ungkapnya.
"Maaf, Bang."
"Minta maaf buat? kalau untuk tentang tadi, saya tidak mau maafin."
"Loh, kenapa begitu?" tanya Maya heran.
"Iya. Kamu janji dulu sama saya. Kalau kamu hanya akan menangis di depan saya atau melalui telpon dan video call. Baru saya maafkan,"
"Hah?"
"Bagaimana, Dek? Jadi kalau kamu ingin nangis telepon saya atau video call. Setelah itu ambil air wudhu, kirim doa untuk papa, mama." Lama Maya terdiam. "Huh? Adek masih dengerin kan?" tanya Juha.
"Hm, masih, Bang. Terima kasih ya."
"Makasih doank. Gak dikasih yang la—"
"Apaan?" potong Maya sembari mengambil bantal, lalu menidurkan tubuhnya di lantai.
"Kasih apa kek gitu. Cium juga gak nolak," ucap Juha.
Maya tertawa kecil, tetapi masih bisa terdengar oleh Juha. "Ck, mesumnya gak ilang."
"Kalau gak mesum, gak bakalan dapet ciuman donk, Dek." Ucapan Juha sukses membuat Maya tertawa geli. Namun, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan, agar tidak membangunkan sepupunya.
Setengah jam berlalu. Maya sudah beberapa kali menguap. Juha pun sudah menyuruhnya untuk tidur, tetapi dia tidak ingin mengakhiri panggilannya. Berbagai topik yang menjadi pembahasan, termasuk soal sahabatnya.
"Dek, perjodohan kamu bagaimana?"
Maya terdiam agak lama. "Batal. Memang kenapa, Bang?"
"Dek ... lelaki yang dijodohkan sama kamu adalah rekan saya. Prawira namanya kan?" Maya sedikit terkejut hanya berdehem. "Kalau kamu memilihnya karena keinginan almarhum, saya bisa mundur."
Bersambung ....
nggak di dua in.
reader di prank ..