NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2.Kilas balik.

Angin sore yang makin dingin seakan menembus hingga ke tulang Raisa, namun ia tetap terpaku di tempatnya, menatap bangunan megah yang berdiri sunyi di hadapannya. Pertanyaan yang baru saja meluncur dari bibirnya masih menggantung di udara, tak ada jawaban yang datang selain suara gesekan daun kering yang ditiup angin kencang. Wajahnya yang pucat pasi kini teringat kembali pada segala hal yang baru saja ia tinggalkan di kota—segala kesulitan, kesepian, dan kepahitan yang membawanya hingga berdiri di sini. Pandangannya perlahan mengabur, seolah tirai waktu tersibak mundur, membawanya kembali ke pagi yang menentukan seluruh arah hidupnya beberapa hari yang lalu.

Kilas balik membawa Raisa menembus hari-hari yang masih terasa begitu nyata dan menyakitkan. Di sana, ia berdiri di dapur kecil yang lantainya terbuat dari papan kayu yang sudah mulai lapuk dan berderit setiap kali diinjak. Rumah itu begitu kecil, dindingnya terbuat dari papan kayu yang sebagian sudah mulai berlubang dimakan rayap, atap sengnya berkarat dan sering kali meneteskan air saat hujan turun deras. Namun bagi Raisa, rumah kecil itulah satu-satunya tempat yang paling berharga di dunia ini—tempat ia tumbuh besar, tempat ia mendengar tawa ayah dan ibunya, tempat di mana setiap sudutnya masih menyimpan jejak kehangatan yang perlahan mulai memudar seiring berjalannya waktu. Sejak kedua orang tuanya tiada, rumah inilah yang menjadi benteng pertahanan satu-satunya baginya, tempat di mana ia bisa bersembunyi dari tatapan sinis dan perkataan tajam orang-orang di luar sana.

Hidupnya selama ini hanya mengandalkan uang pensiun yang diterimanya setiap bulan—sisa hak yang didapatkan ayahnya yang dulu bekerja sebagai pegawai negeri sipil, sementara ibunya pernah mengabdikan diri sebagai tenaga kesehatan di puskesmas terdekat. Uang itu memang tak banyak, namun jika ia berhemat dengan sangat ketat, ia masih bisa menutupi kebutuhan makan sehari-hari serta membayar tagihan listrik dan air yang tak seberapa. Raisa tak pernah meminta lebih, ia hanya ingin bisa tetap tinggal di rumah itu, menjaga kenangan orang tuanya tetap hidup di sana, meskipun ia harus menelan kesepian sendirian setiap hari.

Pagi itu, udara pagi masih terasa sejuk dan lembap, kabut tipis masih menyelimuti halaman rumah yang sempit. Cahaya matahari baru saja menyelinap masuk melalui celah-celah jendela yang tertutup tirai kain tipis, menciptakan garis-garis cahaya yang berdebu di udara. Raisa berdiri di depan kompor tua yang sudah berkarat, tangannya bergerak perlahan menyiapkan sarapan sederhana—hanya sepiring nasi hangat dengan telur rebus dan secangkir teh manis yang tak terlalu pekat. Ia merencanakan hari itu dengan tenang, seperti hari-hari biasanya seperti merapikan rumah, menyiram tanaman di halaman, lalu duduk membaca buku sambil menatap foto keluarga yang terbingkai rapi di atas meja ruang tamu.

Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba terdengar suara samar sesuatu yang jatuh di balik pintu utama, disusul suara langkah kaki yang bergegas menjauh dengan cepat. Raisa seketika menegang, tangannya yang sedang memegang sendok berhenti bergerak. Hatinya berdegup kencang karena selama ini jarang ada orang yang datang berkunjung ke rumahnya—bahkan tetangga pun jarang menyapanya, apalagi mendatangi pintu rumahnya. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari menuju pintu, membukanya dengan cepat, namun tak ada siapa-siapa di sana. Jalanan depan rumah yang sempit itu tampak sepi, hanya ada selembar amplop berwarna cokelat tebal yang tergeletak rapi di ambang pintu.

Raisa membungkuk mengambilnya, jari-jarinya yang dingin meraba permukaan amplop yang terasa resmi dan berat. Saat ia membalikkan amplop itu, lambang instansi pemerintah tercetak jelas di sudutnya, membuat rasa cemas mulai merayap di dadanya. Ia kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, lalu duduk di kursi kayu yang goyah di meja makan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek segel amplop itu dan mengeluarkan selembar surat resmi yang tertulis dengan tinta hitam tegas.

Baru saja membaca baris pertama, seluruh tubuh Raisa seakan kehilangan tenaga. Darah terasa mengalir deras ke kepalanya, lalu seketika membeku saat ia mencerna isi surat itu sepenuhnya. Itu adalah pengumuman resmi dari pemerintah daerah yang menyatakan bahwa lingkungan tempat tinggalnya akan segera digusur untuk pembangunan proyek baru, dan seluruh penghuni harus mengosongkan rumah masing-masing paling lambat tujuh hari sejak tanggal surat itu diterima.

“Seminggu...” gumamnya lirih, suaranya pecah di tengah keheningan rumah yang kecil itu. “Hanya seminggu... kemana aku harus pindah?”

Pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepalanya, seakan menamparnya berulang kali. Ia menatap surat itu berkali-kali, berharap apa yang dibacanya hanyalah salah paham atau mimpi buruk yang akan segera berakhir jika ia menutup dan membuka matanya kembali. Namun tulisan itu tetap sama, tanggalnya jelas, stempel resminya sah dan tak bisa dibantah. Perlahan ia meletakkan surat itu di samping piring sarapannya yang belum tersentuh sama sekali, lalu menatap lekat-lekat bingkai foto keluarga yang berdiri tegak di sudut meja. Di sana terlihat wajah ayah yang tersenyum hangat, ibunya yang menatap penuh kasih sayang, dan dirinya yang masih kecil berdiri di tengah-tengah mereka dengan wajah polos dan ceria.

“Ayah... Ibu...” bisiknya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan agar air mata tak menetes membasahi pipinya. “Raisa harus pindah ke mana? Rumah ini satu-satunya yang Raisa punya. Kalian pergi meninggalkanku sendirian, dan sekarang tempat kita bersama pun akan dirampas juga...”

Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya menetes, jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan rasa takut dan putus asa merayap memenuhi seluruh hatinya. Ia tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini selain kenangan yang tersimpan di rumah kecil itu. Jika rumah ini hilang, maka ia benar-benar akan menjadi orang yang tak berakar, tak memiliki tempat untuk kembali, tak memiliki tempat untuk menaruh kepala saat lelah.

Saat sedang tenggelam dalam kepedihan itu, pandangannya jatuh pada sebuah buku telepon tua yang tersimpan di laci meja ayahnya. Sebuah harapan kecil tiba-tiba muncul di benaknya. Mungkin saja di dalam buku itu masih tersimpan alamat atau nomor telepon kerabat dari pihak ayah maupun ibunya yang belum pernah ia ketahui selama ini. Mungkin saja ada seseorang yang masih bersedia menolongnya, yang bersedia memberikan tempat berteduh meski hanya untuk sementara waktu.

Tanpa membuang waktu lagi, Raisa segera bangkit dan mengambil buku telepon itu dari laci. Sampulnya sudah menguning dimakan usia, kertas-kertasnya terasa tipis dan rapuh, namun tulisan tangan ayahnya masih bisa dibaca dengan jelas. Ia mulai menelepon satu per satu nomor yang tertera di sana—mulai dari kerabat jauh, teman lama ayah dan ibunya, hingga tetangga lama yang dulu pernah akrab dengan keluarganya. Ia menghabiskan sepanjang hari itu di samping telepon tua itu, berharap ada jawaban yang bisa meringankan beban di dadanya. Namun hasilnya sungguh jauh dari harapan.

Sebagian besar nomor tak lagi tersambung, ada yang menjawab bahwa mereka sudah lama pindah dan tak bisa membantu, ada yang dengan alasan halus menolak menampungnya dengan berbagai alasan—mulai dari ukuran rumah yang terlalu sempit, hingga kesibukan yang tak memungkinkan. Yang lebih menyakitkan lagi, ada yang langsung bertanya berapa besar uang kompensasi yang akan didapatkan Raisa akibat penggusuran itu, dan hanya sedikit yang menanyakan keadaannya namun tetap tak bisa memberikan bantuan tempat tinggal. Semua orang seolah hanya memikirkan keuntungan materi yang mungkin bisa didapatkan, tak ada satu pun yang benar-benar peduli pada nasib gadis muda yang akan kehilangan tempat berteduhnya.

Raisa perlahan meletakkan gagang telepon terakhir kali, menghela napas panjang yang terasa berat dan menyakitkan di dadanya. Kakinya terasa lemas, ia merosot duduk di kursi, menatap kosong ke arah dinding yang retak. “Kemana kerabat yang bisa aku minta tolong?” gumamnya cemas, air mata kembali menggenang di matanya. “Apakah tak ada satu pun orang yang mengingat kebaikan Ayah dan Ibu dulu? Mengapa semua orang hanya memikirkan kepentingan sendiri?”

Kesepian yang selama ini ia rasakan tiba-tiba terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan. Raisa teringat kembali mengapa ia sejak dulu jarang berteman dan lebih memilih mengurung diri di rumah. Semuanya bermula saat ia menginjak usia tujuh belas tahun. Pada masa itulah ia mulai menyadari bahwa tubuhnya berbeda dari manusia pada umumnya. Saat terluka, lukanya akan menutup dengan sangat cepat tanpa meninggalkan bekas, dan ia hampir tak pernah merasakan sakit yang luar biasa meski mengalami luka yang seharusnya parah. Hal itu perlahan diketahui oleh teman-teman sekolahnya, dan tak butuh waktu lama hingga ia mulai dipandang aneh, dijauhi, bahkan diejek sebagai “monster” yang tak wajar.

Puncaknya terjadi saat bus yang mengantar dirinya dan seluruh teman sekelas serta guru-guru pergi berwisata mengalami kecelakaan maut yang mengerikan. Bus itu menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang yang dalam. Semua orang yang ada di dalamnya—teman-teman yang dulu pernah bersamanya, guru-guru yang mengajarinya, hingga supir bus—semuanya meninggal di tempat dengan kondisi tubuh yang hancur. Namun entah bagaimana, Raisa ditemukan masih hidup di antara tumpukan besi yang remuk, hanya dengan luka ringan yang bahkan sembuh dalam waktu singkat. Ia keluar dari kecelakaan itu dengan kondisi yang masih utuh dan baik-baik saja.

Sejak hari itu, tatapan orang-orang di sekitarnya benar-benar berubah total. Tidak ada lagi yang berani mendekat, tidak ada yang berani menyapanya. Ia bukan hanya dipandang aneh, melainkan dikucilkan sepenuhnya. Orang-orang mulai berbisik bahwa ia pembawa sial, bahwa ia bukan manusia biasa, dan keberadaannya hanya akan mendatangkan musibah bagi siapa pun yang berada di dekatnya. Raisa akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah, mengurung diri di dalam rumah, dan jarang sekali keluar kecuali untuk keperluan yang sangat mendesak.

Belum lama setelah kejadian itu, musibah kembali menimpanya. Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Raisa yang masih sangat muda harus mengurus segalanya sendirian—mengurus jenazah ayahnya, mengurus surat-surat pemakaman, hingga mendampingi pemakaman ayahnya di tanah pemakaman. Tak ada satu pun kerabat yang datang membantu, tak ada satu pun teman yang hadir untuk memberikan penghiburan. Ia berdiri sendirian di pinggir liang lahat di tengah guyuran hujan rintik-rintik, merasakan betapa dinginnya dunia ini baginya. Bahkan mata para tetangga yang hadir pun seakan menuduhnya bahwa dialah penyebab kematian ayahnya, bahwa sial yang dibawanya telah merenggut nyawa orang tuanya satu per satu.

Sejak saat itu, Raisa semakin menutup diri dari dunia luar. Ia hidup dalam kesendirian yang panjang, menjaga rumah kecil itu sekuat tenaga sebagai satu-satunya peninggalan berharga yang ia miliki. Namun kini, bahkan tempat itu pun akan dirampas darinya. Semua jalan tampak tertutup rapat baginya, tak ada satu pun harapan yang tersisa. Pikiran untuk menjadi tunawisma, mengembara tanpa arah dan tujuan, mulai menghantui pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa, tak tahu siapa lagi yang bisa ia harapkan pertolongannya.

Di tengah keputusasaan yang mendalam itulah, tak lama kemudian sebuah surat lagi datang ke rumahnya—kali ini dari pengacara bernama Tuan Munir, yang memberitahukan tentang warisan sebuah rumah yang ditinggalkan oleh kakeknya dari pihak ayah, Raden Margono, yang selama ini tak pernah diketahui keberadaannya. Sebuah harapan kecil kembali muncul di hatinya, meskipun ia tahu betapa besarnya misteri yang menyelimuti rumah itu dan betapa asingnya sosok kakeknya baginya. Namun bagi Raisa, tak ada pilihan lain selain menerima tawaran itu dan berangkat menuju tempat yang tak ia ketahui itu.

Kilas balik perlahan memudar, membawa Raisa kembali ke hadapan pagar besar yang terbuka itu. Udara dingin masih menyelimuti tubuhnya, namun rasa takut akan masa depan yang tak pasti perlahan tergantikan oleh keteguhan hati. Apapun yang menantinya di dalam rumah itu, apapun rahasia yang tersimpan di sana, ia harus menghadapinya. Karena baginya, tempat ini adalah satu-satunya jalan keluar dari kepahitan hidup yang selama ini ia jalani. Dengan napas panjang yang ia hembuskan perlahan, Raisa melangkah mantap menuju pintu utama rumah yang megah itu, siap membuka lembaran baru yang penuh misteri.

Baru dua langkah dia maju,tiba-tiba saja pagar besar itu tertutup sendiri dengan keras.

Krek...brak..

Raisa yang terkejut menoleh langsung kearah pagar besar itu, tidak ada angin besar yang bisa membuatnya tertutup sendiri.

"Siapa yang...menutup pagar besar itu?." Ucap Raisa gemetar ketakutan.

Pandangannya mengamati sekitar depan gerbang rumah kakeknya,tapi tidak ada bayangan orang ada disana.

Itu hantu atau orang, batin Raisa.

Rasa ragu kembali menghantui dirinya, pandangannya tertuju kearah rumah besar itu.

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!