NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Pelukan di Pagi Hari

"Hangat," bisik Reynard.

Keira tidak mendengarnya.

Ia masih tidur, napasnya pelan, satu tangan melingkar di bahu Reynard seperti takut pria itu jatuh dari tempat tidur. Cahaya pagi merayap dari celah tirai, menyentuh wajahnya yang lelah. Semalam ia tidur sambil duduk terlalu lama, lalu entah bagaimana berakhir setengah berbaring dengan Reynard berada dalam pelukannya.

Reynard tidak bergerak.

Untuk beberapa menit, ia hanya menikmati keadaan itu.

Keira yang biasanya rapi dan tajam kini rambutnya sedikit berantakan. Ujung jarinya masih menyentuh lengan Reynard. Ada bekas merah di pergelangan tangannya karena posisi tidur yang salah. Semua itu seharusnya membuat Reynard mendorongnya pergi, menjaga jarak, kembali memasang topeng sebelum ia bangun.

Namun ia justru menutup mata lagi.

Keira bergerak lebih dulu.

Alisnya berkerut, lalu matanya terbuka pelan. Selama satu detik, ia tidak sadar apa yang terjadi. Detik berikutnya, seluruh tubuhnya membeku.

Wajah Reynard berada terlalu dekat.

Terlalu dekat.

Pipinya hampir menempel di dada Keira, rambutnya menyentuh lehernya, dan tangan Keira sendiri, yang paling memalukan, masih memeluk bahunya.

"Rey."

Reynard membuka mata dengan ekspresi polos yang sangat mencurigakan. "Pagi."

Keira menarik napas. "Kenapa kamu di sini?"

"Kei peluk Rey."

Kalimat itu telak.

Keira mencoba menarik tangannya. Reynard langsung menangkap ujung bajunya.

"Mau peluk."

"Tidak. Aku harus bangun."

"Wangi."

Keira kaku lagi ketika Reynard menggeser wajahnya sedikit, hidungnya menyentuh dekat tulang selangka Keira. Gerakannya lembut, seperti anak kecil mencari tempat nyaman. Tapi Reynard bukan anak kecil. Tubuh di hadapannya adalah tubuh pria dewasa, dengan bahu lebar dan napas hangat yang membuat kulit Keira meremang.

"Rey," suaranya turun setengah nada, "jangan begitu."

Reynard mengangkat kepala, mata bening. "Tidak boleh?"

"Tidak boleh... sembarangan."

"Kei istri."

Keira kehilangan kata-kata.

Secara hukum, benar. Secara situasi, rumit. Secara detak jantung, sangat berbahaya.

Ia akhirnya melepaskan diri dengan hati-hati, lalu hampir jatuh saat turun dari tempat tidur karena kakinya kebas. Reynard mengulurkan tangan refleks, tetapi Keira sudah lebih dulu berdiri.

"Aku ke kamar mandi."

"Kei kabur?"

"Aku mencuci muka."

"Wajah Kei merah."

Keira berbalik cepat. "Karena kurang tidur."

Reynard menunduk, bibirnya bergerak seperti menahan senyum. "Oh."

Keira masuk kamar mandi dan menutup pintu lebih keras dari yang ia niatkan.

Di depan wastafel, ia menyalakan air dingin dan membasuh wajahnya. Pantulan cermin memperlihatkan pipinya memang merah. Ia menatap diri sendiri beberapa detik, lalu menekan kedua telapak tangan ke pinggir wastafel.

Gawat.

Ia tidak boleh lupa bahwa pernikahan ini dimulai sebagai perhitungan. Reynard adalah orang yang harus ia lindungi secukupnya, bantu secukupnya, lalu suatu hari nanti ketika ia pulih dan mendapatkan kembali posisinya, ia bisa membalas budi.

Jadi kenapa satu kata wangi bisa membuat pikirannya kacau?

Keira menghela napas panjang.

Saat ia keluar dari kamar mandi setelah mandi singkat, kamar tidur terlalu sunyi.

"Rey?"

Ia melangkah masuk dan berhenti.

Reynard duduk di tepi tempat tidur dengan kursi roda di sampingnya. Kancing piyamanya sudah terbuka. Ia sedang mengganti baju, punggungnya menghadap Keira. Kulitnya pucat, tetapi garis bahu dan punggungnya jelas. Di lengan kiri terlihat bekas luka memanjang yang sebagian tertutup kain. Tubuh itu tidak lemah seperti bayangan orang luar.

Keira langsung membuang muka. "Kenapa tidak panggil pelayan?"

"Tidak suka."

"Kalau begitu bilang aku dulu sebelum ganti baju."

"Kei istri."

"Jangan pakai kalimat itu untuk semua hal."

Reynard menoleh sedikit, mata polos. "Tidak boleh juga?"

Keira mengambil kemeja dari kursi dan melemparkannya pelan ke pangkuannya tanpa menatap. "Pakai."

Ia mendengar suara kain bergesek. Beberapa menit kemudian, Reynard sudah duduk kembali di kursi roda dengan kemeja putih rapi, Rubik di tangan, wajahnya seperti tidak pernah membuat Keira hampir tersedak.

Sarapan pagi itu lebih baik daripada dua hari sebelumnya. Ada nasi hangat, telur, sup ayam bening, dan buah. Keira memastikan Reynard makan setengah mangkuk sup sebelum membuka tablet untuk mengecek pesan dari Jessica Purnama, seniornya di dunia film.

Jess mengirim alamat Studio Film dan jadwal pertemuan.

"Aku harus keluar sebentar," kata Keira.

Rubik di tangan Reynard berhenti.

"Ke mana?"

"Studio Film. Bertemu Kak Jess dan Pak Leo. Aku perlu membicarakan proyek."

"Rey ikut."

"Tidak bisa setiap kali. Studio ramai, panas, banyak suara. Kamu bisa pusing."

"Tidak pusing."

"Semalam kamu baru sakit kepala."

Reynard menunduk. "Rey baik-baik saja."

Keira bangkit untuk mengambil tas. Saat ia berbalik, ujung blusnya tertahan.

Jari Reynard menggenggam kain itu.

"Rey."

Ia mengangkat kepala.

Untuk sepersekian detik, mata itu tidak polos.

Dingin. Gelap. Terlalu tajam untuk seseorang yang katanya tidak mengerti apa-apa.

"Jangan pergi."

Keira terdiam.

Udara di ruang makan kecil terasa berubah. Reynard menyadarinya lebih cepat dari siapa pun. Ia berkedip, lalu menundukkan kepala, suaranya kembali kecil.

"Bawa aku ikut?"

Keira menatapnya lama. Kecurigaan naik seperti benang tipis, tetapi wajah Reynard sudah kembali menjadi wajah yang sama seperti semalam saat menggigil di tengah badai.

Pada akhirnya, rasa khawatir menang lagi.

"Baik. Tapi kamu harus duduk diam. Jangan membuat keributan."

Reynard langsung mengangguk. "Rey diam."

"Dan jangan sembarang minta disuapi di depan orang."

"Kalau lapar?"

"Makan sendiri."

Ia tampak kecewa. Keira nyaris tertawa, lalu cepat-cepat menahan diri.

Sebelum berangkat, Keira memeriksa tasnya dua kali. Laptop, map naskah, power bank, tisu basah, obat sakit kepala ringan yang semalam ia ambil dari kotak P3K, dan sebotol air mineral untuk Reynard. Ia bahkan memasukkan biskuit tawar kecil, lalu berhenti saat menyadari tindakannya sendiri.

Sejak kapan ia menyiapkan tas seperti membawa anak sekolah?

Reynard melihat biskuit itu. "Untuk Rey?"

"Untuk keadaan darurat."

"Rey keadaan darurat?"

"Kadang-kadang."

Ia tersenyum kecil. "Kei baik."

Keira cepat menutup tas. "Jangan terlalu senang. Kalau kamu membuat masalah, aku pulangkan."

"Kei ikut pulang?"

"Tentu."

"Kalau begitu boleh."

Jawaban itu membuat Keira kehabisan bahan omelan.

Saat membantu Reynard masuk mobil, Keira menahan kepalanya agar tidak terbentur pintu. Gerakan itu kecil, tetapi Reynard menatap tangannya lama.

Lama sekali.

Satu jam kemudian, mobil Keira keluar dari Kediaman Liem menuju Studio Film. Reynard duduk di kursi belakang, kursi rodanya terlipat di bagasi. Di pangkuannya ada Rubik, diputar pelan dengan jari-jari yang terlihat malas.

Dari depan, Keira sesekali melihatnya lewat kaca spion. Reynard menunduk, tampak sangat patuh.

Namun di kaca jendela samping, pantulan wajahnya berbeda.

Matanya dingin, menghitung, dan sama sekali tidak terlihat seperti milik seorang pria yang tidak tahu dunia sedang bergerak ke arah mana.

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!