Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI DI ATAS KERTAS
Sepulangnya mereka dari kediaman Tiger, Aziz membiarkan Raniya dan Taufiq berbicara empat mata di teras rumahnya.
Mereka berdua masih enggan membuka suara. Hanya isak Raniya yang terdengar di antara mereka, dan hal itu membuat Taufiq tersurut.
"Apa mungkin aku ditolak?" Taufiq akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Raniya terperangah. Tangisnya terhenti seketika. "Ma-maksud kamu?" Tanya Raniya bingung. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang diucapkan Taufiq saat itu.
"Hanya satu syarat dari kamu, Raniya. Tapi aku bahkan tidak mampu memenuhinya." Ucap Taufiq kecewa.
"Eh...?" Raniya bingung sendiri. Kesedihannya tadi terlupakan begitu saja dari benaknya.
"Tidak apa-apa, Raniya. Aku mengerti. Kamu pasti sangat mencintai almarhum suamimu. Aku juga tidak bisa egois dengan memaksa 'mu, meskipun alasannya demi anak-anak." Ucap Taufiq seraya bangkit dari duduknya.
"Ta-tapi... Tapi jika itu demi anak-anak, aku tidak akan menolaknya, Fiq. Demi anak-anak, bukan...?" Cegat Raniya cepat. Entah kenapa dia merasa tidak rela jika Taufiq menyerah seperti itu.
Hanya demi anak-anak, Raniya? Kamu tidak merasakan cintaku sama sekali?
Taufiq kembali duduk. "Benar tidak apa-apa?"
Raniya mengangguk.
"Kamu yakin?" Tanya Taufiq lagi.
"Iya... Aku yakin, Fiq." Sahut Raniya benar-benar tampak yakin.
"Lalu? Mertua mu, bagaimana?"
"Tolong... Aku akan pikirkan nanti. Jangan begini, Fiq. Aku bersedia jadi ibu sambung mereka, karena aku sudah terlanjur menyayangi mereka." Rengek Raniya mengiba.
"Tapi dengan menjadi istriku?" Mungkin membuat Raniya ragu adalah jalan yang terbaik bagi Taufiq. Bukan untuknya, tapi demi Raniya. Dia tidak ingin Raniya tersiksa ke depannya dengan hidup bersama dirinya, dan mengasuh ke tiga keponakannya.
"Tidak apa, Fiq... Aku rela jadi istrimu meski hanya di atas kertas." Ucap Raniya. Kerongkongannya tersekat. Pahit sekali ucapan yang baru saja dikeluarkannya itu.
Istri di atas kertas? Bahasa milenial mana itu? Dia tidak ingin menjadi istriku yang sesungguhnya?~ Gumam Taufiq kecewa.
"Fiq?" Panggil Raniya membuyarkan lamunan Taufiq.
"Oh... Eh... I-iya..."
Aku tidak ingin menjadikan kamu istri yang seperti itu, Raniya... Aku ingin menjadikan kamu permaisuri dalam hidup aku selamanya. Aku mencintaimu sudah dari lama...
Yaa Allah... Kenapa Kau mengujiku sejauh ini? Seberapa sakit lagi yang Engkau torehkan di dalam dadaku dengan mempertemukan aku bersama Raniya?~ Batin Taufiq berteriak marah. Ucapan Raniya begitu menyiksa perasaannya.
"Memangnya tidak apa-apa?" Tanya taufiq berusaha meredam perasaannya.
"Tidak buruk juga. Itu jauh lebih baik, dari pada menjadi babby sitter mereka. Aku ini seorang dokter, Fiq..." Ujar Raniya juga mengupayakan ketenangan dirinya. Dia sedikit tersenyum, tapi siapa yang tahu kalau senyumnya begitu pahit untuk hatinya sendiri.
Taufiq mengangguk. "Terima kasih, Raniya."
*****
Waktu terus berlalu. Raniya lebih sering mendatangi rumah Taufiq sejak keputusan itu disepakati.
Anak-anak tampak bahagia dengan kehadiran Raniya yang hampir setiap hari, apalagi Bu Lian. Bu Lian sangat terbantu karenanya. Beliau tidak lagi merasa cemas-cemas, jika harus meninggalkan anak-anak apabila beliau ada keperluan mendesak di luar.
"Tante..." Panggil Samudra begitu manja.
"Iya sayang..." Sahut Raniya seraya mendekati Sam di pojok ruangan. "Kenapa, Nak?" Tanya Raniya lembut.
"Daddy bilang, sebentar lagi Sam sekolah..." Ujarnya lirih.
"Iya... Kenapa? Samudra tidak mau?"
"Mau Tante... Tapi Sam takut."
"Loh, kenapa Samudra takut?"
"Tidak ada yang akan temani, Sam. Coba kalau ibu masih ada, pasti ibu akan menemani Sam..." Ucap Samudra getir.
Raniya tersurut.
Jika ibumu masih ada, Tante tidak mungkin ada di sini...
"Kan ada Tante, Sayang..." Bujuk Raniya lembut. Hatinya sakit, tapi senyumnya tetap dipaksakannya untuk menenangkan Samudra.
"Tapi, Tante kan tidak tinggal disini. Tante cuma datang pagi, kemudian malamnya pergi lagi." Sungut kecil Samudra.
"Eh?" Raniya bingung. Dia malu ingin menjawab ucapan Samudra, bahwa sebentar lagi ia akan di rumah itu setiap harinya. Dua puluh empat jam penuh, siang dan malam.
"Siapa bilang? Sebentar lagi, Tante Raniya akan bersama-sama kita terus loh..."
Raniya menoleh dengan cepat ke ambang pintu. Taufiq sudah berdiri di sana sambil berpangku tangan, menatap mereka dengan senyum lebar.
"Daddyyy..." Samudra berlari mengejar posisi Taufiq. Dengan tangkas, Taufiq mengangkat tubuh Samudra ke dalam gendongannya.
"Benar, Daddy? Tante Raniya akan bersama-sama kita terus?" Tanya Samudra bersemangat.
"Benar dong, Sam. Tanya saja sama Tante Raniya." Sahut Taufiq membenarkan.
"Benar, Tante?" Desak Samudra berharap.
"Hah?" Raniya gelagapan. Dia semakin malu, apalagi menjawabnya di depan Taufiq sendiri.
"Tante akan sama-sama dengan kami terus?" Ulang Samudra lagi.
"I-iya, Sayang. Tentu..." Jawab Raniya gugup.
"Horeee..." Seru Samudra seraya turun dari gendongan Taufiq. "Dek Sunnyyyy... Dek Sunnyyy..." Dia berlarian ke kamarnya sambil menyerukan nama adiknya. Sepertinya Samudra hendak memberitahukan kepada Sunny tentang kebahagiaannya saat itu.
"Lihat... Sam begitu bahagia denganmu, Raniya. Terima kasih sudah menerimaku." Ucap Taufiq lirih.
"Iya, sama-sama, Fiq. Kan demi mereka..."
Taufiq termangu, dia merasa terpukul dengan jawaban Raniya yang masih saja mengatakan demi anak-anak.
Tidak bisa dipungkiri, semua salahnya. Berawal dari ketidak jujurannya terhadap Raniya tentang perasaannya yang sesungguhnya. Tentang statusnya, dan juga tentang Renima beserta ketiga keponakannya itu.
Tapi di sisi lain, Taufiq takut akan kehilangan kesempatan untuk bisa menikahi Raniya. Dia tidak peduli Raniya bisa mencintainya atau tidak di suatu hari nanti, tapi dia akan berusaha dengan perlahan menaklukan hati Raniya.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍