Lima tahun yang lalu dia mengubah identitasnya, membuang jauh masa lalunya karna rasa kecewa pada suaminya.
Dan kini di saat dua buah hatinya menanyakan sang ayah, apakah yang akan di lakukan ALEA, akankah dia berkompromi pada hatinya demi kebahagian buah hati tercinta. Atau dia mengabaikan demi gengsi dan harga dirinya walau sebenarnya dia masih sangat mencintai pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku akan menunggumu
"Maukah kau memberikanku kesempatan sekali lagi?" tanya Ziga masih dengan memeluk erat tubuh Leea dari belakang.
Tangis Leea pun pecah, dia tak dapat lagi membendung air matanya. Semua kejutan yang di berikan Ziga dan semua kata kata yang baru saja di ucapkan Ziga seolah menusuk relung hatinya. Meleburkan semua perasaan yang ada di dalam hatinya.
Mendengar tangisan Leea, Ziga panik. Dia pun segera membalikkan tubuh Leea ke dadanya.
"Hei, mengapa kau menangis ?" tanya Ziga khawatir.
Leea tak menjawab, tangisnya semakin keras. Dia merundukkan kepalanya, Leea menangis di atas dada Ziga.
Ziga semakin merasa bersalah, dia membelai rambut Leea berusaha menenangkan wanita itu.
"Jika kau belum dapat memaafkanku aku tidak akan memaksa" ucap Ziga lemah dia merasa terpukul mendengar tangisan Leea.
"Kumohon berhentilah menangis, aku tak sanggup melihatmu menangis" pinta Ziga.
Tapi Leea malah semakin terisak, kali ini dia melingkarkan tangannya di pinggang Ziga. Leea memeluk erat tubuh Ziga dan menumpahkan segala perasaan yang di milikinya ke dalam tangisnya.
Ziga mengecup puncak kepala Leea,
"Aku tahu kesakitan yang ku berikan padamu takkan mudah terhapuskan hanya dengan kata maaf saja" ucap Ziga, air matanya mengembang mengingat bagaimana dia menyakiti Leea lima tahun lalu. Membayangkan kehidupan yang harus di jalani Leea selama lima tahun belakangan ini membuat air mata tak terasa menetes membasahi pipinya. Mengingat Leea yang seorang diri mengandung, melahirkan hingga membesarkan kedua anak mereka hingga seperti sekarang membuat rasa bersalah Ziga semakin bertambah.
"Aku akan menunggumu hingga kau dapat menerimaku kembali" ucap Ziga.
"Tak perduli berapa lama pun bahkan jika aku harus menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk menunggumu" tambah Ziga.
"Tapi ku mohon padamu, jangan menjauh lagi dariku apalagi menjauhkan anak anak dariku" pinta Ziga.
"Walau kau belum menerimaku, aku ingin anak anak merasakan mempunyai keluarga yang utuh" tambah Ziga.
Kata kata yang di ucapkan Ziga bukan menenangkan Leea, hal itu malah membuat Leea semakin terpuruk dengan perasaannya.
Ingin rasanya ia mengucap kata "Ya aku menerima" tapi kenyataannya kata kata itu tertelan di bibirnya tak mampu ia ucapkan.
"Sudahlah, ayo kita temui anak anak, kasihan mereka mungkin sudah lelah" ucap Ziga sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi Leea.
"Jangan menangis lagi, apa kau tidak malu jika anak anak sampai melihat" goda Ziga.
"Aku perlu ke kamar mandi" ucap Leea.
Ziga mengangguk, dia memperhatikan langkah wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku akan menjagamu dan anak anak Via" gumam Ziga dalam hatinya.
Dia telah bertekad untuk tetap berada di sisi Leea dan anak anak, walaupun Leea belum menerimanya tapi dia berjanji tidak akan menyerah untuk membahagiakan istri dan anak anaknya tersebut.
Di dalam kamar mandi Leea membasuh mukanya, dia merapikan riasan wajahnya yang berantakan karena tangisnya tadi.
"Apakah aku harus menerimanya kembali?" tanya Leea dalam hatinya saat ia berkaca.
"Ataukah aku harus menunggunya untuk membuktikan keseriusan ucapannya" gumam Leea kembali.
"Belum selesai ?" tanya Ziga dari luar kamar mandi saat Leea sedang berdebat dengan kata hatinya.
"Sudah" jawab Leea sambil melangkah keluar dari kamar mandi.
Kali ini wajahnya sudah lebih cerah, tak ada lagi sisa sisa air mata di sana.
Ziga menggenggam tangan Leea kemudian menggandengnya keluar kamar untuk menemui anak anak mereka.
Di rumah sakit Erik yang tampak kelelahan tertidur di sofa yang terdapat di kamar rawat Nenek Mila. Mia menatap wajah tampan Erik yang sedang tertidur.
"Uncle, mengapa kau begitu baik padaku" gumam Mia sambil terus memperhatikan wajah Erik.
Tak di sangka Erik membuka matanya, Mia pun langsung merasa gugup. Dia memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Maaf, aku tertidur" ucap Erik dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Suara yang terdengar sexi dan menggoda di telinga Mia.
"Tidak apa Uncle, mungkin Uncle lelah" ucap Mia sedikit gugup.
"Bagaimana keadaan Nenekmu ?" tanya Erik.
"Sudah lebih baik, tadi Nenek sempat terbangun tapi kini tertidur lagi. Mungkin karena pengaruh obat" jawab Mia.
Erik menganggukkan kepala kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Sudah malam, apa kau sudah makan ?" tanya Erik lagi.
"Sudah, aku sudah makan Uncle" jawab Mia berbohong. Entah mengapa sejak Erik memeluknya tadi siang Mia merasa canggung. Erik sendiri sepertinya tak merasakan apa apa, dia bersikap seperti biasa pada gadis itu.
"Baiklah, aku harus pulang. Tuan Ziga mungkin mencariku" pamit Erik pada Mia.
"Iya Uncle, terima kasih atas semua yang Uncle lakukan hari ini" ucap Mia.
Erik mengacak lembut rambut Mia
"Kau juga harus istirahat" pesan Erik
"Jika ada sesuatu hubungi nomor ini" ucap Erik sembari memberikan kartu namanya pada Mia.
"Baik Uncle" jawab Mia menerima kartu nama yang di berikan oleh Erik.
Erik pun pergi meninggalkan rumah sakit. Mia pun segera kembali ke kamar Neneknya setelah melihat Erik pergi dari kejauhan.
"Mom, Dad, ayo ikut bermain" teriak Zeline setelah melihat Leea datang bersama Ziga.
Ziga pun langsung naik ke atas kemudian berseluncur dan mendarat di tumpukan bola.
"Zel, ayo cari Daddy" ucap Ziga yang kemudian langsung membenamkan diri ke dalam lautan bola.
Zeline segera menghampiri tempat ayahnya tadi menghilang, dia mengais bola dan mencari Ziga di dalam tumpukan tapi ternyata tak di temukannya.
"Kakak, bantu Zel cari Daddy" pinta Zeline kepada Aiden yang kini sibuk memanah.
Aiden pun segera menghampiri Zeline, dan mereka berdua sibuk mencari cari Ziga yang bersembunyi di bawah lautan bola.
Leea sendiri hanya memperhatikan dari sisi, dia melihat kedua anaknya yang tengah sibuk mencari cari Ziga.
"Aiden, Zeline hati hati" teriak Leea setelah melihat Zeline yang beberapa kali terjatuh.
Bocah tersebut tak menggubris peringatan ibunya, dia dengan semangat terus mencari ayahnya.
"Kak cepat, nanti Daddy hilang" ucap Zeline yang tampak mulai lelah.
"Ini juga lagi di cari" gerutu Aiden kesal dengan adiknya yang cerewet.
"Mom mana Daddy" ucap Zeline yang hampir menangis karna tak juga berhasil menemukan ayahnya.
Leea pun akhirnya menyusul kedua buah hatinya masuk ke dalam lautan bola untuk mencari Ziga. Mereka terus mencari Ziga yang bersembunyi entah di mana.
Saat Leea terus meraba raba di bawah bola akhirnya dia menemukan tangan Ziga.
Baru saja Leea ingin berteriak pada anak anaknya tiba tiba Ziga menarik tangannya sehingga tubuh Leea terjatuh di atas tubuh Ziga.
Ziga langsung bangkit dan secara tak sengaja bibirnya bertemu dengan bibir Leea yang hampir menindihnya.
Leea hampir terguling tapi dengan sigap Ziga menarik Leea ke dalam pelukannya kemudian mendaratkan ciuman sekilas di bibir Leea.
"Hore, Daddy ketemu" teriak Zeline senang melihat Ziga yang kini telah muncul bersama dengan Leea di pelukannya.
Leea yang merasa salah tingkah di hadapan anak anaknya berusaha untuk bangkit dan berdiri, tapi lagi lagi Leea terjatuh ke dalam pelukan Ziga.
Sementara Ziga sendiri dengan senyum penuh kemenangan langsung mengangkat Leea ke dalam gendongannya.
Membuat Leea berteriak histeris karna malu dengan anak anaknya.
Zeline dan Aiden malah tertawa lepas melihat ibunya yang kini berada di dalam gendongan sang ayah.