Hans seorang pemuda yang giat belajar. Berteman dengan dua orang Andika dan Febri.Mereka seperti saudara saling membantu dan menolong.
Tiba-tiba persahabatan itu sedikit tergoyahkan setelah datang seorang gadis jelmaan.Dia adalah cucu angkat dari nenek yang ditolong oleh Hans dan gadis yang sudah lama hilang.
Bagaimana persahabatan mereka selanjutnya,nantikan karyaku yang kedua ini
Nantikan detik-detik terkuaknya misteri Gedung Tua ini.
Terimakasih sudah membaca novelku yang kedua ini kritik dan saran dangat author harapkan agar menjadi naskah yang sempurna
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utiks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Dia
Hans yang siuman bercerita pada pak ustad Hasan tentang ditemukannya cincin di halaman gedung tua itu. Pak Hasan mendengarkan dengan cermat satu persatu perkataan Hans kemudian bertanya.
" Mana cincin itu sekarang nak? "
Ibu Hans datang dan menyuguhkan kopi hitam.
" Maaf pak ustad diminum dulu kopinya! " ucap ibu Hans yang sudah diserang kantuk sejak tadi.
" Trimakasih bu " pak Ustad meminum kopi yang masih panas untuk menghilangkan rasa kantuknya.
" Lanjutkan nak ceritanya! "
" Bisa besuk saja pak sudah ngantuk sekali, besuk harus sekolah "
" Baiklah kalau begitu kita lanjut besuk saja tidurlah " ucap pak ustad melihat Hans sudah kelihatan letih sekali.
" Pak saya permisi pulang dulu, besuk kalau ada apa-apa hubungi saya ini nomer telpon saya !"
" Iya pak Ustad terima kasih sudah membantu kami " ucap ayah Hans.
Pak ustad diantar ayah Hans sampai di halaman rumah dan segera masuk ke dalam.
" Letih sekali bu, ayo tidurlah dulu biarkan Hans juga tidur.Ibu juga istirahat sekarang "
Ayah Hans melihat istrinya kasihan seharian sudah capek ikut kerja membantunya sekarang malah disibukkan dengan urusan anaknya.
Walau bagaimanapun dalam darah Hans mengalir darahnya yang punya sedikit kelebihan bisa melihat makluk halus. Ia harus lebih banyak bersabar.
Malam itu dilewatinya dengan tenang tanpa ada gangguan dan mimpi-mimpi aneh. Mereka tertidur nyenyak hingga tak mendengar suara azan subuh.
" Astaghfirulloh... sudah kelewat subuh yah, kita ke pasar tidak? " ucap ibu Hans kaget terbangun dari tidurnya.
" Gak usah bu, istirahat saja ayo sholat dulu biar ayah yang bangunkan Hans"
Ayah Pergi ke kamar anaknya ternyata sudah bangun dan melihatnya membereska buku pelajran
" Hans kamu sekolah hari ini? "
" Iya yah, ada ujian matematika " sahutnya dari kamar mandi.
Mereka lalu sholat subuh berjamah walaupun sudah lewat azan. Setelah itu ibu yang lelah tidur lagi sedangkan ayah menyiapkan sarapan untuk mereka dibantu Hans.
Ibunya pergi ke kamar untuk istiharat karena semalaman menjaga Hans.
" Tidak jualan yah? " ucap Hans merasa bersalah telah merepotkan kedua orang tuanya.
" Tidak kasihan ibumu kecapekan ayah takut sakitnya kambuh lagi " ibunya memang punya sakit mag kronis kalau capek selalu kambuh.
" Sudah cepat beres - beres nanti telat. Langsung pulang jangan mampir lagi ke gedung tua itu sekarang ini! " ucap ayahnya tegas.
" Iya yah, maafkan Hans ya telah merepotkan kalian he.. he.. " Tidak menyangka bahwa karena ulahnya orang tuanya jadi tidak pergi bekerja.
" Dasar anak menjengkelkan, sudah dibilangi orang tua masih ngeyel saja " ayahnya mengusap lembut kepala anaknnya. Walau bagaimanapun ia tetap menyayanginya.
Ayah Hans mengambilkan makanan untuk istrinya " Makan dulu bu, seadanya ya? dan minum obatnya "
Dengan telaten menyuapi istrinya. Ia tak ingin istrinya sakit karena ulah anaknya. Dia sangat menyayangi keluarganya, bahkan walaupun tidak punya uangpun tidak pernah ditunjukkan pada anak istrinya.
Ibu tersenyum melihat perlakuan suaminya kepadanya. Walupun tidak punya uang mereka tetap merasakan kasih sayang yang tidak terhingga. Dengan ulah anaknya yang bikin susah tidak membuat mereka menghentikan kasih sayangnya
**
Hans berangkat sekolah hari ini ujian sedangkan dia tidak belajar sama sekali tadi malam. Modal nekat saja mengerjakannya. Untunglah setiap pulang sekolah ia selalu mengulangi pelajarannya di rumah.
Dengan masih ngantuk ujian hari itu dilaluinya dengan lancar. Walau sesekali ditegur oleh gurunya karena ngantuk. Hans istirahat menunggu Andi keluar dari kelasnya.
" Hooii ,lemes banget kayaknya ?" temannya Radit ikut nimbrung.
" Iya sarapan dikit gak bawa bekal, males ke kantin antri " jawab Hans.
" Itu mata kamu layu banget, habis begadang ya? " lanjut Radit.
" Iya tadi malam kurang tidur jadi kesiangan semua, gimana ujianmu tadi ?" tanya Hans.
" Lumayanlah sudah dapat nulai tujuh paling tidak ha.. ha.. " ucap Radit tertawa.
" Syukurlah, ini Andi kog belum keluar ya ?"
" Kenapa nungguin Andi? "
" Biasa curhat ha... ha.. "
" Tuh dia, kog loyo paling juga dapat nilai jelek itu ha.. ha.. "
" Napa Ndi, nilaimu jelek ya ?"
" Ngarang aja kamu, aku tuh lapar Hans kamu gak bawa bekal ya?" ucap Andi yang duduk di dekat Hans.
" Enggak, aku juga lapar tapi males ke kantin antri "
" Eh gimana kemaren di sana ? "tanya Andi membuat Radit bengong.
" Itu dia, aku pingsan di sana ?"
" Hahh!!! pingsan kog bisa sih!! " ucap Andi setengah teriak.
Andi memeriksa tubuh Hans barangakali ada yang ganjil.
" Ya gak tahu itu, tempat itu tiba-tiba gelap dan aku sadar sudah di rumah dijemput ayah "
" Lo ayah kamu tahu ya, kamu ke sana? "
" Ya untungnya pagi itu aku pamitan, kalau tidak mungkin aku tetap disana gak ada yang tahu "
" Apa kubilang, hati-hati jangan sendirian gak denger aku sih "
" Aku penasaran brow dengan gedung itu, seperti menyimpan sesuatu yang belum terungkap "
" Ya tapi gak nyrempet-nyempet gitu Hans "
" Pada ngomongin apaan sih, kog bingung aku? "tanya Radit
" Sudah gak usah kepo, nanti lari kamu! "
" Aduh ya udah deh, dengerin aja " ucap Radit.
" Lanjut Hans, gak usah dengerin dia "
" Iya itu, aku tadi malam pingsannya lama banget sampai manggil pak ustad buat bagunin aku "
" Apa !!! sampai manggil ustad segala. Gila kamu Hans, kog sampai gini sih ? ngeri tahu gak? "
"Udah -udah bel bunyi ayo lanjut besuk saja." Mereka kembali ke kelas masing-masing.
Pulang dari sekolah Hans beriringan naik sepeda dengan Andi." Ayo mumpung aku bawa sepeda kira mampir ke geding tua itu gak? "
" Enggak lah, aku sudah di pesan ayah jangan ke sana dulu. Kelihatannya ayah sangat khawatir sekali padaku "
" Yah, gak seru dong!! ya udah ayo pulang!! "
Sampai di gedung tua mereka akan berpisah menuju arah rumah masing -masing. Tapi Andi melihat sesuatu " Hans.. Hans.. itu siapa di sana ?"
Hans menoleh ke arah yang ditunjuk Andi. " Mana? oo.. itu.. itu seperti gadis yang ada di dalam mimpiku "
" Mimpi?? kapan?? " tanya Andi.
" Waktu aku pingsan Ndi, ia nyuruhbaku pergi dari sini " ucap Hans sambil mengingat mimpinya.
" Berarti itu firasat gak baik Hans! "
" Seperti dukun saja kamu!! tapi aku penasaran dengan gadis itu. Ingin kenal lebih dekat buat apa nyuruh aku pergi? "
" Kamu jangan nekat broww, ingat pesan dari ayah dan ibumu!! " ucap Andi.
" Iya juga, Ehh... dia mendekati kita gimanana ini ?? "
"Sudah tenang saja, kemaren kamu sendiri berani tapi sekarang kog cemen banget "
"Gak tahu kemaren nekat saja, gak takut. Ini juga gak takut kalau gak ingat pesan orang tua "
" Kamu lihat kakinya napak gak?" ucap Andi juga takut.
" Ha.. ha.. kamu lucu Ndi tadi nasehati aku sekarang ketakutan "
" Gak takut brow, nerves aja he.. he! "
" Eh....eh.. dia semakin dekattt !!!"
" Hans kita gak pa-pa ada disini? "
" Kenapa?? takut?? "
" Enggak, lapar.. !!" kriukkk.. perutnya bunyi.
" Aduh kamu ini piye iki terusan. Kita pulang sajav?? "
" Iya, lagian alu lapar banget kalau tarung gak kuat aku "
" Ngeles saja kamu?? ayo. pulang saja!! "
Mereka mengayuh sepedanya dengan cepat menuju rumah masing-masing
🌼🌼🌼🌼
Tunggu Up selanjutnya.. 😄😄
tetap semangat thorr.💪
Thanks thorr udah mau mampir🙏🤗😁