Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Rumah Baru
Kamar Erlyn benar-benar berada di sebelah kiri.
Pintu kedua dari tangga utama. Jendelanya menghadap pohon flamboyan tua, seperti yang Chisen katakan. Ketika tirai dibuka, cahaya sore masuk dengan lembut, jatuh ke meja belajar baru, lemari pakaian putih, dan tempat tidur yang seprai birunya masih terlalu rapi untuk disebut miliknya.
Erlyn berdiri di tengah kamar sambil memegang tali ranselnya.
Di Belitung, kamarnya sempit. Kalau jendela dibuka, ia bisa mendengar tetangga menyalakan motor, anak kecil menangis, atau penjual kue lewat sambil berteriak. Di sini, jendela hanya memperlihatkan halaman luas, pagar besi, dan bunga melati yang bergoyang di bawah. Terlalu tenang. Terlalu bersih.
"Bagus, ya?" Mama bertanya dari belakang.
Erlyn menoleh. Jing sedang menata pakaian dari koper ke lemari, gerakannya cepat, seperti orang yang takut kalau berhenti sebentar saja, rasa canggung akan mengejarnya.
"Bagus," jawab Erlyn.
Mama tersenyum. "Kalau ada yang kurang, bilang Mama."
"Nggak ada yang kurang."
Justru itu masalahnya.
Semua sudah tersedia. Meja, lampu belajar, selimut, bahkan rak buku kosong yang menunggu diisi. Kamar ini seperti disiapkan untuk seorang anak perempuan yang rapi, pandai, dan tahu cara menjadi bagian dari keluarga kaya. Bukan untuk Erlyn yang masih menyimpan pasir Belitung di dasar sepatu.
Sore itu, Jing bersikeras turun ke dapur.
Om Changli sempat melarang. "Kamu baru sampai. Istirahat saja."
"Tidak apa-apa," jawab Jing sambil menggulung lengan blusnya. "Saya malah lebih tenang kalau memasak."
Erlyn tahu itu benar. Mama selalu memasak ketika gugup. Di rumah lama, setiap kali ada tagihan yang belum bisa dibayar atau kabar buruk dari keluarga jauh, dapur mereka akan penuh bau bawang putih, jahe, dan minyak panas.
Malam pertama di Jalan Kenanga, Mama membuat ikan kukus kecap, tumis kangkung, telur dadar, dan sop ayam jahe. Masakannya sederhana untuk ukuran meja makan panjang yang bisa menampung sepuluh orang, tetapi begitu wangi memenuhi ruang makan, wajah Jing akhirnya terlihat seperti dirinya sendiri.
Chisen turun tepat ketika semua orang hampir duduk.
Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada langkah tergesa. Ia muncul dari arah tangga, memakai kaus gelap yang sudah bersih dari noda cat, rambut sedikit basah seperti baru cuci muka. Wajahnya tetap tidak menunjukkan apa pun.
"Duduk, Chisen," kata Om Changli.
Chisen duduk di seberang Erlyn.
Erlyn langsung menunduk pada mangkuk nasinya.
Makan malam itu berjalan hati-hati. Om Changli bertanya tentang penerbangan. Jing menjawab sambil sesekali menyuruh Erlyn mengambil sayur. Chisen makan dalam diam. Sendoknya hampir tidak bersuara menyentuh piring.
"Chisen," kata Jing pelan, "coba ikannya. Tante masak agak Belitung."
Chisen mengangkat mata. "Terima kasih, Tante."
Ia mengambil sepotong ikan, mencicipinya, lalu mengangguk. "Enak."
Hanya satu kata, tetapi senyum Mama langsung mengembang.
Erlyn menatap Chisen sebentar. Mungkin pendiam memang bukan berarti tidak sopan. Mungkin ia hanya terlalu hemat memakai wajah.
Di piring tengah, tersisa satu potong ikan paling lembut dekat tulang pipi. Biasanya, Mama selalu memberikan bagian itu pada Erlyn. Tetapi malam ini Jing sedang sibuk menjawab pertanyaan Om Changli tentang bumbu, dan Erlyn tidak ingin terlihat seperti anak kecil yang menunggu disuapi.
Ia baru saja hendak mengambil tumis kangkung ketika sumpit Chisen bergerak.
Tanpa melihatnya, ia memindahkan potongan ikan terakhir itu ke sisi piring Erlyn.
Gerakannya cepat. Wajar. Seolah ia hanya memindahkan makanan yang mengganggu posisi sumpitnya.
Erlyn terdiam.
Jing melihatnya dan tersenyum kecil. Om Changli juga melihat, tetapi tidak mengatakan apa pun.
Chisen tetap makan, wajahnya datar.
Erlyn menatap potongan ikan di piringnya, lalu menatap Chisen. "Terima kasih."
"Kamu dari tadi lihat itu," katanya.
Erlyn hampir tersedak.
"Aku nggak lihat."
"Oh."
Jawaban itu membuat pipi Erlyn panas. Ia tidak tahu apakah Chisen sedang menyindir atau hanya menyatakan fakta. Yang jelas, ia mengambil ikan itu dan memakannya pelan-pelan. Rasanya sama seperti masakan Mama di Belitung, hanya kali ini setiap kunyahan terasa disaksikan oleh rumah yang terlalu besar.
Setelah makan, Erlyn membantu Mama membereskan meja, tetapi orang rumah segera mengambil alih. Jing tampak ingin menolak, lalu ingat bahwa ia sekarang tinggal di rumah dengan aturan yang berbeda. Akhirnya ia hanya berdiri canggung di dapur, memegang lap bersih yang tidak dipakai.
"Ma," bisik Erlyn, "besok kita cuci piring sendiri saja."
Jing tertawa pelan. "Nanti orang rumah bingung."
"Aku yang bingung."
Mama mengusap kepala Erlyn. "Pelan-pelan."
Kata itu kembali lagi. Pelan-pelan. Seolah hidup baru bisa ditelan kalau dipotong kecil-kecil.
Malamnya, Erlyn sulit tidur.
Kamar barunya terlalu sunyi. AC terlalu dingin. Seprai terlalu halus. Dari jendela, bayangan pohon flamboyan bergerak di dinding seperti tangan panjang. Ia memejamkan mata, tetapi pikirannya terus kembali ke loteng, ke bau cat, ke Chisen yang tahu letak kamarnya, ke potongan ikan yang berpindah tanpa suara.
Menjelang tengah malam, tenggorokannya kering.
Erlyn turun pelan-pelan tanpa menyalakan lampu koridor. Ia tidak ingin membangunkan siapa pun, apalagi membuat orang rumah tahu bahwa anak baru ini bahkan tidak tahu letak dispenser. Dari tangga, ruang bawah tampak gelap kecuali cahaya kecil dari dapur.
Ia mengikuti cahaya itu.
Saat sampai di ambang dapur, langkahnya berhenti.
Chisen berdiri di sana, bersandar pada meja marmer, memegang gelas air. Lampu kulkas yang baru tertutup menyisakan cahaya putih pucat di wajahnya. Rambutnya berantakan, kausnya longgar, dan untuk pertama kalinya ia terlihat seperti anak laki-laki biasa yang juga bisa haus tengah malam.
Mereka saling menatap dalam gelap.
Erlyn memegang ujung lengan piyamanya, tiba-tiba sadar ia turun dengan sandal rumah yang kebesaran.
Chisen mengangkat alis sedikit.
"Oh," katanya. "Belum tidur?"