Bunga Lestari bukan siapa-siapa.
Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.
Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.
Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.
"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.
Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?
🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014
Jangan Mati Dulu
Bunga menutup layar tepat ketika televisi kecil warung menayangkan berita siang. Di bagian bawah layar, judul yang sama mulai berjalan pelan, diikuti suara pembaca berita yang datar.
"Pergi dari sini," kata Tuan Misterius.
Suaranya begitu tenang sampai Bunga langsung tahu ia sedang panik.
Ia memasukkan ponsel ke tas dan berdiri. Pemilik warung menoleh karena bangkunya berderit, tetapi Bunga sudah berjalan keluar sebelum berita selesai dibacakan. Di jalan, matahari memantul dari kaca toko dan membuat kepalanya berdenyut.
"Kita harus lihat beritanya," kata Bunga.
"Tidak di tempat umum."
"Berarti di mana?"
"Tempat yang tidak ada orang memperhatikan wajahmu."
"Aku ini bukan artis."
"Kamu perempuan yang ada di lokasi insiden gala, keluar dari rumah sakit tanpa administrasi, sekarang bergerak di sekitar lingkaran Prawira. Jangan menambah pola."
Kalimat itu seharusnya membuat Bunga kesal. Namun ada getar kecil di bawahnya, seperti benang tegang yang bisa putus kapan saja.
Ia memilih masuk ke sebuah mal yang tidak terlalu ramai. Bukan untuk belanja sungguhan, hanya mencari toilet bersih, tempat duduk, dan Wi-Fi gratis. Tetapi begitu melewati etalase toko pakaian, ia teringat dress Melati yang terkena noda, blazer yang sedang diselamatkan laundry, dan semua pakaian pinjaman yang membuatnya terus merasa berutang.
"Aku perlu beli satu baju sendiri," katanya.
"Sekarang bukan waktu tepat."
"Justru sekarang. Kalau nanti semua pinjaman rusak, aku tidak mau telanjang secara sosial."
"Istilah yang buruk."
"Tapi akurat."
Ia masuk ke toko diskon di lantai dua. Raknya penuh blouse, celana bahan, dan dress sederhana. Bunga memilih yang harganya paling masuk akal, lalu memeriksa jahitan seperti orang memilih senjata. Tuan Misterius tetap diam lebih lama dari biasanya.
"Kamu masih di sana?" tanya Bunga sambil mengangkat blouse hijau tua.
"Ya."
"Menurutmu ini bagus?"
"Warnanya aman."
"Itu pujian?"
"Itu fakta."
"Kamu payah jadi teman belanja."
Tidak ada balasan.
Bunga menurunkan blouse. Di dalam dadanya, sesuatu mulai berubah. Bukan emosinya sendiri. Rasa itu datang dari tempat lain: lelah yang tidak punya ujung, dingin yang merayap naik dari tulang belakang, dan keinginan aneh untuk berhenti berada di mana pun.
Ia membeku di antara rak pakaian.
"Tuan?"
Tidak ada jawaban.
Lantai mal terasa miring. Suara kasir, musik toko, langkah pengunjung, semuanya menjauh seperti ditutup air. Bunga mencoba menarik napas, tetapi dadanya seperti bukan miliknya.
Ia menoleh ke luar toko.
Di seberang, ada void besar mal dengan pagar kaca menghadap lantai dasar. Eskalator turun perlahan. Orang-orang bersandar di pagar, melihat ke bawah tanpa takut. Bunga merasakan kakinya bergerak satu langkah.
Tidak.
Ia mencengkeram rak baju.
"Hei," bisiknya. "Jangan."
Rasa itu makin kuat. Bukan suara yang menyuruh, bukan kalimat jelas, tetapi dorongan kosong yang lebih mengerikan karena tidak perlu alasan. Seolah tubuh ini bisa condong sedikit saja, jatuh sedikit saja, dan semua kontrak, berita, keluarga, nama, luka, akan selesai.
Bunga menjatuhkan blouse dan berjongkok di lantai toko.
Seorang pegawai mendekat. "Mbak, tidak apa-apa?"
"Pusing," jawab Bunga cepat. "Saya pusing."
Ia menggenggam pergelangan tangannya sendiri, menekan bekas gigitan lama yang hampir hilang. Nyeri tipis muncul, tetapi tidak cukup. Dorongan itu masih menarik dari dalam, seperti lubang yang punya tangan.
Bunga menutup mata.
"Dengar, Tuan Misterius," katanya dalam hati, lebih keras daripada teriakan. "Kamu mau mati? Mati nanti. Sekarang jangan. Sekarang bantu aku dulu. Aku belum masuk ke ruangan Hartono. Aku belum bikin Ratih tersedak omongannya sendiri. Aku belum punya baju yang tidak pinjaman. Kamu tidak boleh mati sebelum semua itu selesai."
Hening.
"Kalau kamu mati sekarang," lanjut Bunga, suaranya bergetar, "aku tidak tahu cara mengembalikan tubuhmu. Aku tidak tahu siapa namamu. Aku bahkan tidak tahu harus marah ke siapa. Jadi jangan egois. Jangan pergi tanpa alamat."
Rasa kosong itu bergetar.
Lalu Tuan Misterius menarik napas.
Bukan dengan paru-paru. Bunga tahu itu. Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang seperti udara masuk setelah lama tertahan.
"Maaf," katanya.
Bunga membuka mata. Pegawai toko masih berdiri di depannya, cemas.
"Mbak mau duduk?"
"Iya," jawab Bunga. "Sebentar saja."
Pegawai itu membawanya ke kursi kecil dekat ruang fitting. Bunga duduk sambil menekan lututnya agar tidak gemetar. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia melihat pagar kaca di luar toko, lalu cepat memalingkan wajah.
"Kamu harus bilang sebelum jadi separah itu," katanya dalam hati.
"Saya tidak selalu tahu kapan datangnya."
"Bohong. Kamu tahu lebih cepat dari aku."
Tuan Misterius diam.
"Kamu punya dokter, kan?"
"Ya."
"Kamu minum obat?"
"Kadang."
"Kadang itu jawaban orang yang mau bikin dokternya tua sebelum waktunya."
"Kamu terdengar seperti dokter saya."
"Bagus. Berarti doktermu waras."
Ada jeda kecil. Lalu, untuk pertama kalinya sejak serangan itu, Tuan Misterius mengeluarkan sesuatu yang hampir seperti tawa, pendek dan patah.
Bunga menunduk, menatap tangannya sendiri. "Apa berita tadi yang bikin kamu begini?"
"Sebagian."
"Sebagian lain?"
"Saya memikirkan tubuh saya."
"Takut mati?"
Hening.
Bunga mengira ia tidak akan menjawab.
Lalu Tuan Misterius berkata, "Saya lebih takut tidak ada yang benar-benar keberatan kalau saya tidak kembali."
Kalimat itu menghantam Bunga lebih keras daripada tumpahan anggur Ratih.
Ia tidak tahu harus berkata apa. Biasanya ia punya jawaban kasar, candaan, atau ancaman. Kali ini semua terasa tidak cukup.
Akhirnya ia berkata, "Aku keberatan."
Tuan Misterius diam.
"Bukan karena aku baik," lanjut Bunga cepat, seolah takut kalimat itu terdengar terlalu lembut. "Karena kamu masih berutang. Kamu janji bantu aku naik. Kamu janji bantu jatuhkan Hartono. Orang yang punya utang tidak boleh hilang."
"Alasan yang sangat transaksional."
"Yang penting jelas."
"Terima kasih."
Bunga menelan ludah. "Jangan bikin kebiasaan."
Setelah cukup kuat berdiri, Bunga membeli blouse hijau tua itu. Harganya membuat dompetnya menangis, tetapi saat keluar toko, ia membawa kantong belanja kecil miliknya sendiri. Bukan pinjaman. Bukan sewaan. Miliknya.
Di depan eskalator, ia berhenti sejenak.
"Kita turun lewat lift," katanya.
"Itu tidak efisien."
"Hari ini aku yang menentukan efisiensi."
Tuan Misterius tidak membantah.
Di dalam lift kosong, Bunga membuka ponsel dan mengetik pesan untuk dirinya sendiri di notes.
`Kalau Tuan mulai hilang: duduk, jauh dari pagar/tangga, cari nyeri aman, bicara keras, minum air, makan manis, hubungi Melati kalau perlu, jangan sendirian.`
Tuan Misterius membaca bersama matanya.
"Kamu membuat protokol?"
"Kamu suka prosedur, kan?"
Lift turun pelan.
Bunga menatap pantulan dirinya di pintu stainless yang buram. "Mulai sekarang, hidupmu juga masuk daftar tugasku, mau atau tidak."