Season 1 (tamat)
Farida tak menyangka, keputusan terlalu cepat yang diambilnya ternyata sangat mempengaruhi kehidupannya di masa depan. Yaitu menikah dengan pria yang sudah menikah sebelumnya dan telah mempunyai anak.
Sifat alpha suami istri yang masing-masing selalu ingin mendominasi juga terkadang menjadi problema. Ditambah lagi dengan usia yang terpaut jauh sehingga mereka harus berhadapan dengan karakter yang berbeda.
Mampukah pernikahan mereka bertahan dengan segala pelik permasalahan di dalamnya?
...
Season 2 (On going)
Segala bentuk keplagiatan bisa dilaporkan ya!
Area dewasa 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan terjadi di kamar
Vano berangkat ke kantor dengan mood yang jelek sehingga membuat seisi kantor semakin merasa segan. Kemarahan yang dia bawa dari rumah membuatnya enggan untuk membalas sapaan dari siapapun.
Vano pernah mendengar saat dirinya berkonsultasi dengan dokter kepercayaannya. Segala jenis kontrasepsi wanita akan mempengaruhi hormon dari wanita yang memakainya. Dan itu yang dia khawatirkan. Bagaimana kalau seandainya dia akan lama menunggu setelah ini? Bagaimana kalau--
Oh tidak-tidak. Berbagai pikiran buruk berkelebat menguasai dirinya dan membuatnya merasa tak fokus untuk bekerja.
"Kenapa kamu lakukan ini sama aku Da?" Hatinya berkecamuk dan berkali-kali mengusap wajahnya.
Tok...tok...tok.
"Masuk!"
"Ada berkas yang harus ditanda tangani." Ucap Bobby singkat, lalu meletakkannya di atas meja depan Vano duduk. Kemudian Vano langsung menandatanganinya.
"Jelek banget sumpah!"
"Kamu bilang saya jelek?"
"Yang bilang kamu jelek siapa, kan kamu yang bilang sendiri." Bobby menunjukkan gambar cewek gendut di layar ponsel miliknya kepada Vano. "Jangan suudzon dosa." Ucap Bobby. "Sudah 2021 masih saja percaya sama sosial media. Bisa saja gambar profil disana editan kamera OP*. Iya kan?" Gumam Bobby pada dirinya sendiri. Rupanya dia sedang mencari santapan.
"Sudah sana keluar! Kenapa kamu malah bahas betina disini. Bikin pusing saja." Vano mengusir Bobby. "Oh iya nanti tolong bilang sama OB jangan buatkan saya kopi-- Hoekk!" Vano buru-buru ke kamar mandi. Belum juga makan sudah dikeluarkan semua makanan semalam. Gerutu Vano didalam hati.
"Bos, kamu ngidam ya?" Bobby mengekor di belakangnya. "Jangan dibuatkan kopi berarti ganti susu prenagen saja. Iya?"
"Jangan ngawur!" Tukas Vano. Tiba-tiba terlintas dipikiran Vano tentang enaknya buah mangga yang masih muda. Mulutnya sampai terasa berair membayangkannya. Bukannya memikirkan hal lain, malah kepikiran mangga terus dari kemarin. "Tolong pesankan saya jus mangga dua gelas."
Bobby mengkerut. "Siapa pagi-pagi minta jus mangga?" Tanya Bobby selidik.
"Kamu cerewet sekali, pesankan saya jus dua gelas sekarang!" Titah Vano meninggikan suaranya satu oktaf. Kesal sekali gak dirumah, gak disini, semua orang yang dia temui benar-benar memuakkan. Kan tinggal dibuatkan saja. Apa susahnya sih?
Bobby lantas meninggalkan Vano sendiri dikamar mandi. Memesankan apa yang Vano tadi perintahkan padanya dan membuat para OB berbisik ditempat saat mendengar kelakuan barunya bos besar.
Masih berada di kamar mandi, Vano belum juga merasa lebih baik. Dia menatap cermin. Apa dirinya memang sudah jadi laki-laki yang penyakitan? Tanya pada diri sendiri.
***
Di rumah
Semenjak perdebatannya barusan dengan Vano, Farida masih belum keluar dari kamar. Perasaan bersalah juga menguasai dirinya. Terlalu merasa tidak enak jika Mama ataupun orang lain melihat matanya yang sembab. Rasa pusing juga mendera di kepalanya yang membuat dia tak mampu berdiri. Akhirnya dia memutuskan untuk tak kemana-mana hari ini.
Entah berapa lama Farida tertidur. Hingga Mama Nuning yang sedari pagi berada dibawah merasa ada yang tidak beres. Tidak seperti biasanya Farida mengurung dirinya dikamar, mengabaikan sarapan dan tidak datang ke tokonya.
"Apa menantuku sakit?" Gumam Mama. Beliau lantas memanggil Mina. "Mbak Mina? Mbak Mina?"
"Iya Bu?" Mina mendekat pada Mama Nuning.
"Tadi sudah melihat menantu saya turun?"
"Nggak kayaknya Bu, saya dari tadi nggak lihat." Jawab Mina. "Apa perlu saya cek ke kamarnya, soalnya tadi saya dengar Non Farida sama Pak Vano habis bertengkar."
"Ya Allah... Pantes aja!" Mama terhenyak mendengar mereka berantem. "Mbak Mina dengar mereka berantem?" Tanya ulang Mama Nuning untuk memastikan.
"Sudah sering gitu mah Bu, kemarin malah ada pecahan barang dari kamar." Jawab Mbak Mina jujur.
"Memang mereka berdua itu sama-sama keras." Mama Nuning langsung naik ke atas bertujuan ke kamar Farida. "Kalau dengar mereka berantem lagi beri tahu saya!" Ucap Mama.
Sesampainya di depan kamar. "Nak... Mama masuk ya?" Mama berbicara di depan pintu sambil mengetuknya. "Nak, kamu baik-baik saja kan didalam? Mama bawain sarapan ya.."
"Nak, sayang! Mama masuk ya, kamu sakit? Kita ke dokter yuk!"
Sekian menit Mama membujuk, tapi tetap tidak ada jawaban. Mama tidak peduli jika Farida mengatakannya tidak senonoh karena memutuskan untuk membuka pintu. Beliau tidak ingin mengambil resiko. Dan saat pintu itu terbuka, terlihat Farida yang sedang tidur meringkuk. Mama mendekat, diusapnya kepala menantunya pelan dan menempelkan tangannya pada bagian wajah dan leher. Terasa hangat.
"Nak, kamu sakit?" Tanya Mama. Mama semakin khawatir saat melihat bibir Farida memucat. "Nak, kamu pingsan?" Bertanya sambil mengguncang tubuh menantunya.
"Ya Allah?!" Pekik Mama. "Mbak Mina !! Mbak Mina??" Teriak Mama dari kamar.
Beliau terkejut saat menyingkap selimut tebal yang membalut tubuh Farida, terlihat ada darah yang mengalir dari sela pangkal pahanya. Mama terus mengucap istighfar berulang-ulang. Jadi Farida hamil? Kenapa Farida tidak memberi tahunya. Seandainya Farida memberi tahunya pasti Mama ikut andil dalam menjaganya. kenapa bisa sampai seperti ini? Apa yang baru saja mereka lakukan tadi pagi?
Mama Nuning berhenti bermonolog saat terdengar suara langkah kaki seseorang.
"Ada apa Bu?" Tanya Mbak Mina yang baru saja lari tergopoh-gopoh. Kepanikan terjadi di dalam kamar itu. Mbak Mina seketika menutup mulutnya saat melihat darah segar membasahi sprei putih dibawah Farida tertidur.
"Hubungi Vano dan Pak Marjo segera! Kita kerumah sakit sekarang!" Titah Mama pada Mbak Mina.
....
To be continued.
@ana_miauw.