NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05

Kediaman Arga tidak berada di rumah utama Pradipta.

Mobil membawa Alya keluar dari pusat Jakarta menuju kawasan perumahan elite yang sunyi. Rumah itu besar, tetapi tidak hidup. Lampu taman menyala redup. Pagar tinggi. Kamera di setiap sudut. Tidak ada suara keluarga menunggu pengantin baru, tidak ada musik, tidak ada tawa.

Hanya dua satpam, seorang sopir, dan Marni yang tadi sudah lebih dulu kembali.

Marni berdiri di depan pintu dengan wajah pucat.

Bekas peristiwa di hotel masih menempel di matanya.

"Selamat datang, Nyonya."

Alya turun dari mobil.

Gaun akadnya sudah diganti dengan kebaya sederhana. Rambutnya masih rapi, tetapi wajahnya tidak lagi seperti pengantin. Ia lebih mirip seseorang yang datang untuk mengambil alih tempat kerja.

"Di mana Arga?"

Marni tampak tidak nyaman. "Tuan Arga beristirahat."

"Saya tanya di mana."

"Kamar utama lantai dua."

"Siapa yang menjaganya?"

"Perawat malam."

"Nama."

"Lilis."

Alya menatapnya. "Panggil semua orang yang bertugas malam ini. Perawat, koki, asisten, keamanan dalam rumah. Sepuluh menit."

Marni terkejut. "Nyonya, sekarang sudah malam. Mereka--"

"Saya baru saja menikah. Malam pertama saya di rumah suami saya. Kalau penghuni rumah ini terlalu mengantuk untuk mengenalkan diri, mereka boleh mengundurkan diri besok pagi."

Wajah Marni menegang.

"Nyonya Ratna biasanya--"

"Saya bukan Nyonya Ratna."

Kalimat itu pendek, tetapi cukup.

Marni menunduk. "Baik."

Alya masuk ke ruang tengah.

Rumah itu mahal. Marmer putih, lukisan abstrak, sofa kulit, vas tinggi, aroma diffuser impor. Namun suasananya seperti ruang tunggu rumah sakit. Bersih, sepi, dingin, tanpa satu pun benda pribadi yang menunjukkan Arga benar-benar tinggal di sana.

Ia berjalan ke meja konsol.

Ada foto keluarga Pradipta. Bima, Ratna, Daren, Dira, beberapa cucu dari kerabat, dan Rafi berdiri di ujung.

Tidak ada Arga.

Alya mengambil foto itu, melihatnya sebentar, lalu meletakkannya menghadap ke bawah.

Sepuluh menit kemudian, enam orang berdiri di ruang tengah.

Marni. Koki bernama Sari. Sopir bernama Joko. Dua petugas keamanan dalam rumah, Yusuf dan Andi. Seorang perawat muda dengan wajah tegang, Lilis.

Alya langsung mengenali mata Lilis.

Takut.

Orang yang mengirim pesan.

Lilis menunduk cepat, tidak berani menunjukkan apa pun.

"Mulai malam ini," kata Alya, "saya tinggal di sini sebagai istri sah Arga Pradipta. Saya tidak peduli selama ini kalian menerima perintah dari siapa. Mulai sekarang, semua yang menyangkut makanan, obat, jadwal dokter, kunjungan, dan laporan kondisi Arga harus melewati saya."

Marni mengangkat kepala. "Nyonya, selama ini semua laporan dikirim kepada Nyonya Ratna. Beliau yang dipercaya keluarga untuk--"

"Saya tidak bertanya sejarah."

"Tapi Tuan Arga sudah lama berada dalam pengawasan Nyonya Ratna."

"Itulah masalahnya."

Ruang itu hening.

Sari menunduk lebih dalam. Yusuf dan Andi saling lirik.

Marni memaksakan senyum. "Nyonya masih baru. Mungkin belum memahami kondisi Tuan Arga. Beliau mudah kambuh. Semua perubahan harus atas izin dokter keluarga."

"Nama dokter?"

"Dokter Hamzah."

"Nomor kontak, jadwal kunjungan, daftar obat, hasil pemeriksaan tiga bulan terakhir, dan catatan makanan. Saya ingin semuanya di meja saya dalam satu jam."

Marni membeku. "Satu jam?"

"Kamu kepala rumah tangga, bukan?"

"Iya, tapi--"

"Kalau dokumen itu tidak ada di tanganmu, artinya selama ini kamu mengurus pasien tanpa catatan. Kalau ada tapi kamu tidak mau menyerahkan, artinya kamu menyembunyikan sesuatu. Pilih salah satu."

Wajah Marni memerah. "Nyonya menuduh saya?"

"Saya memberi pilihan."

Lilis menahan napas.

Alya memandangnya sekilas. "Perawat Lilis."

Lilis tersentak. "Iya, Nyonya."

"Obat malam sudah diberikan?"

"Belum."

Marni langsung menoleh tajam. "Lilis."

Alya melihat reaksi itu.

"Kenapa belum?"

Lilis menunduk. "Tuan Arga tertidur. Saya... saya menunggu beliau bangun."

Marni menyela, "Biasanya tetap diberikan sesuai jadwal."

"Dalam kondisi tidur?" tanya Alya.

"Tuan Arga sudah terbiasa."

"Obat apa?"

Marni diam.

Alya mengulurkan tangan. "Bawa ke sini."

Lilis ragu. Matanya bergerak ke Marni.

Alya berkata pelan, "Lilis, mulai malam ini, kalau ada sesuatu terjadi pada Arga karena obat yang kamu berikan tanpa instruksi saya, namamu akan masuk laporan pertama."

Wajah Lilis pucat.

Ia segera berjalan ke arah tangga. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa nampan kecil berisi tiga tablet, satu kapsul, dan botol cairan cokelat.

Alya mengambil botol itu.

Labelnya bukan label apotek resmi. Hanya tulisan tangan: malam, sepuluh tetes.

"Siapa yang menulis ini?"

Marni menjawab, "Dokter Hamzah."

"Resepnya?"

"Ada di arsip."

"Ambil."

Marni tidak bergerak.

Alya memandang Yusuf. "Kamu."

Yusuf menunjuk dirinya. "Saya, Nyonya?"

"Antar Marni mengambil arsip. Kalau dia menelepon siapa pun sebelum kembali, catat."

Marni tersinggung. "Nyonya!"

"Yusuf."

Yusuf ragu, lalu menunduk. "Baik."

Marni pergi dengan langkah kaku.

Alya menatap obat di nampan.

"Lilis, berapa lama kamu merawat Arga?"

"Tiga bulan."

"Sebelumnya?"

"Perawat lain."

"Kenapa diganti?"

Lilis menggigit bibir. "Katanya tidak disiplin."

"Atau terlalu banyak bertanya?"

Mata Lilis melebar.

Sari, koki, mulai gelisah.

Alya memandangnya. "Makanan Arga dimasak di sini?"

"Iya, Nyonya."

"Menu siapa yang menentukan?"

"Nyonya Ratna mengirim daftar mingguan. Kadang Dokter Hamzah juga memberi catatan."

"Mulai besok, tidak ada menu dari luar. Kamu memasak berdasarkan daftar yang saya setujui."

"Baik."

"Kalau ada bahan makanan datang dari rumah utama, pisahkan dan beri label. Jangan masuk dapur sebelum saya periksa."

Sari menelan ludah. "Baik, Nyonya."

Ponsel Marni berdering dari arah koridor.

Alya menoleh.

Yusuf terdengar berkata gugup, "Bu Marni, Nyonya melarang telepon dulu."

"Ini dari Nyonya Ratna!"

Alya tersenyum dingin.

Cepat sekali.

Ia mengambil ponselnya sendiri dan mengirim pesan kepada nomor Hadi.

`Pa, tolong simpan salinan perjanjian yang menyatakan saya istri sah Arga dan bertanggung jawab atas kepentingan medisnya. Kalau besok ada yang bilang saya membuat keributan, ingat pesan ini.`

Hadi tidak langsung membalas.

Alya tidak menunggu.

Ia naik ke lantai dua dengan Lilis mengikuti di belakang.

Kamar utama berada di ujung lorong. Pintu kayu tebal terbuka sedikit. Bau obat dan antiseptik menyergap sebelum Alya masuk.

Arga Pradipta berbaring di ranjang besar.

Tubuhnya lebih kurus daripada foto remaja yang tadi dilihat Alya. Wajahnya pucat, bibirnya kering, rambut hitamnya jatuh sedikit menutupi dahi. Ada infus kecil di tangan kiri. Mesin monitor portabel berdiri di samping ranjang, tetapi tidak menyala penuh, hanya menunjukkan detak yang lambat.

Untuk seseorang yang katanya hanya sakit kronis, ruangan ini terlalu mirip ruang isolasi pribadi.

Alya mendekat.

Arga membuka mata.

Matanya gelap.

Tidak lemah.

Itu hal pertama yang Alya sadari.

Tubuhnya boleh dibuat rusak, tetapi matanya belum mati.

"Jadi," suara Arga serak, "kamu pengantin yang membuat Mama Ratna dipermalukan?"

Lilis membeku.

Alya menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

"Kalau kamu memanggilnya Mama Ratna dengan nada seperti itu, berarti kamu juga tidak terlalu menyukainya."

Sudut bibir Arga bergerak samar. "Berani."

"Kata itu terlalu sering dipakai untuk perempuan yang hanya tidak mau diinjak."

Arga menatapnya lama.

"Kamu datang untuk apa?"

"Menjadi istrimu."

"Jawaban dokumen."

"Baik. Aku datang untuk memastikan kamu tidak mati sebelum berguna."

Lilis hampir menjatuhkan nampan.

Arga justru tertawa pendek, lalu batuk. Batuknya dalam, menyakitkan. Alya mengambil tisu dan menunggu sampai ia selesai, tidak menyentuhnya tanpa izin.

Setelah napasnya stabil, Arga berkata, "Keluarga Wiratama mengirim perempuan seperti kamu ke sini?"

"Mereka tidak tahu aku seperti apa."

"Lalu kamu tahu aku seperti apa?"

"Belum."

"Tapi kamu sudah memutuskan aku berguna?"

Alya mengangkat botol obat cokelat. "Orang yang dijaga dengan obat tanpa label biasanya antara sangat berbahaya atau sangat berharga."

Mata Arga berubah.

"Dari mana kamu dapat itu?"

"Dari nampan obat malammu."

Arga menatap Lilis.

Lilis menunduk ketakutan.

Alya berkata, "Jangan menatap dia. Kalau dia ingin mencelakakanmu, obat itu sudah masuk tubuhmu sebelum aku tiba."

Arga kembali menatap Alya.

"Kamu mau apa?"

"Daftar semua obatmu. Riwayat sakitmu. Nama dokter yang kamu percaya, kalau masih ada. Dan izin untuk menghentikan obat yang tidak jelas sampai diperiksa."

"Kalau aku menolak?"

"Aku tetap akan menghentikannya."

"Itu bukan izin."

"Benar. Itu pemberitahuan."

Arga diam.

Di luar kamar, suara Marni terdengar mendekat dengan panik. "Tuan Arga! Nyonya Ratna ingin bicara!"

Alya tidak berdiri.

Arga menatap pintu, lalu menatap botol di tangan Alya.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak sinis.

Hanya lelah.

"Kamu tahu akibatnya melawan mereka?"

Alya meletakkan botol itu di meja, jauh dari jangkauan Lilis.

"Aku pernah hidup cukup lama untuk tahu akibat menunduk."

Arga menyipitkan mata.

Sebelum ia bertanya, pintu kamar terbuka. Marni masuk membawa ponsel, wajahnya pucat karena marah.

"Nyonya Ratna ingin bicara dengan Tuan Arga."

Alya mengulurkan tangan.

Marni terkejut. "Apa?"

"Berikan padaku."

"Ini untuk Tuan Arga."

"Tuan Arga sedang sakit. Aku istrinya. Aku yang menerima."

Marni memandang Arga, berharap lelaki itu membantunya.

Arga menatap Alya beberapa detik.

Lalu ia menutup mata.

"Berikan padanya."

Marni seperti ditampar.

Alya mengambil ponsel dan menempelkannya ke telinga.

Suara Ratna langsung terdengar tajam.

"Marni, apa yang terjadi di sana?"

"Ini Alya."

Hening satu detik.

Lalu suara Ratna turun, dingin dan halus.

"Alya, kamu baru masuk rumah itu beberapa menit dan sudah membuat kekacauan?"

Alya menatap Arga yang masih memejamkan mata.

"Bukan kekacauan, Bu Ratna. Saya hanya sedang memeriksa obat suami saya."

"Obat Arga bukan urusanmu."

"Kalau begitu, besok kita bahas di depan Pak Bima, dokter independen, dan pengacara keluarga."

Ratna diam.

Alya tersenyum.

"Atau Bu Ratna ingin saya langsung membawa botol tanpa label ini ke laboratorium malam ini?"

Napas Ratna terdengar berubah.

Di ranjang, Arga membuka mata.

Kali ini, ia benar-benar melihat Alya.

Bukan sebagai pengantin pengganti.

Sebagai bahaya baru di rumahnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!