Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Begitu Arka pergi, ruang tamu apartemen Leon terasa jauh lebih dingin.
Leon berdiri di depan rak kosong tempat pi xiu tadi berada. Ia masih bisa membayangkan benda berat itu melompat sendiri ke tangan Arka. Logikanya sebagai polisi ingin menolak, tetapi pecahan giok di sakunya dan kecelakaan beberapa jam lalu membuat penolakan itu terdengar bodoh.
"Kak," Liana memanggil pelan.
Leon menoleh. "Kamu benar-benar tidak tahu dia orang seperti apa?"
Liana duduk di sofa dengan blazer menutupi bahu. Rambutnya masih agak berantakan, tetapi matanya sudah kembali hidup.
"Aku tahu dia sopir Bu Bianca, konsultan perusahaan, bisa membaca feng shui, bisa mengobati orang, bisa bikin Mario hampir meledak, dan bisa membuat Kakak memanggilnya adik ipar dalam waktu satu malam."
"Itu bukan jawaban."
"Memang bukan."
Leon menatapnya lama, lalu menghela napas.
"Aku tidak akan memaksa kamu dengan Mario lagi."
Liana mengangkat alis. "Serius?"
"Dia tidak cukup kuat untuk berdiri di sampingmu."
"Kakak baru sadar?"
"Jangan senang dulu." Leon duduk di kursi seberang. "Arka juga berbahaya. Orang seperti dia tidak mungkin hidup tenang. Di sekelilingnya pasti banyak masalah."
Liana memeluk bantal sofa dan tersenyum kecil.
"Aku kerja di samping Bu Bianca. Hidup tenang memang bukan paket perusahaan."
Leon ingin menegur, tetapi melihat wajah adiknya, ia menelan kata-kata itu. Liana biasanya cerewet untuk menutup kegelisahan. Malam ini, di balik leluconnya, ada sesuatu yang berubah.
"Kamu suka dia?"
Liana memalingkan wajah. "Kakak baru saja hampir mati. Fokus ke diri sendiri dulu."
"Itu artinya iya."
"Itu artinya Kakak menyebalkan."
Leon tersenyum pahit. Entah bagaimana, dalam satu malam posisinya berubah dari kakak yang mengawasi menjadi orang yang berutang nyawa.
Di pinggiran kota, Arka menghentikan mobil di depan halaman tua yang hampir tertutup semak. Pagar besi berkarat setengah terbuka. Di tengah halaman, pohon beringin besar berdiri dengan akar menggantung seperti tirai hitam.
Malam membuat tempat itu tampak lebih sepi dari seharusnya.
Arka mengambil cangkul kecil yang ia beli di toko bangunan dua puluh empat jam, lalu membawa pi xiu perunggu ke bawah pohon.
Tanah di sana lembap.
Ia menggali tanpa terburu-buru. Setiap ayunan cangkul membuat hawa dingin dari patung itu merayap ke pergelangan tangannya. Benda ini memang baru keluar dari makam, tetapi bukan makam biasa. Ada lapisan energi tua di dalamnya, dan di balik energi itu, sesuatu yang lebih bersih tersembunyi.
Arka tersenyum.
Ia tidak berbohong kepada Leon. Patung ini memang berbahaya.
Namun jika ia hanya datang untuk membuang bahaya, ia bukan Arka.
Lubang selesai digali. Arka meletakkan pi xiu di dalamnya, menutup tanah, lalu menggigit ujung jarinya. Setetes darah jatuh di atas tanah. Dengan qi Hantala, ia menggambar satu karakter kuno yang berarti lepas.
Tanah di bawah pohon bergetar halus.
Asap putih tipis keluar dari sela tanah.
"Nah."
Arka menggali kembali. Pi xiu perunggu itu kini penuh retak. Bagian perutnya runtuh seperti cangkang kosong, memperlihatkan ruang kecil di dalam.
Di sana terbaring sebuah cincin giok polos.
Warnanya hijau bening, tidak mencolok, tetapi begitu Arka mengambilnya, aliran qi di sekeliling pohon seperti menemukan jalan masuk ke tubuhnya. Rasa lelah setelah memakai teknik penglihatan, bertarung, dan mengurus kutukan Leon menghilang sedikit demi sedikit.
Cincin itu bukan sekadar perhiasan.
Ia menarik qi tipis dari udara, menyaringnya, lalu mengalirkannya ke pemakai.
Dengan benda ini, setiap kali Arka menggunakan kemampuan warisan Hantala, tubuhnya tidak akan langsung kosong seperti sebelumnya. Efek samping yang membuat keseimbangan tubuhnya kacau juga bisa ditekan.
Arka memasang cincin itu di jarinya.
Hawa dingin berubah menjadi hangat.
"Pantas disembunyikan di dalam benda jahat."
Ia menimbun kembali tanah, menekan permukaannya sampai rata, lalu meninggalkan halaman tua itu sebelum fajar.
Di mobil, ia menelepon Leon.
"Selesai. Jangan taruh benda apa pun di posisi tenggara rumahmu selama tujuh hari."
Leon menjawab cepat, "Terima kasih. Aku berutang nyawa padamu."
Suara Liana muncul dari belakang telepon. "Kakakku bilang kalau tidak punya cara membalas, adiknya boleh diserahkan."
Leon terdengar batuk keras.
Arka menahan tawa. "Keluargamu selalu membalas budi seperti ini?"
"Tergantung siapa penolongnya." Suara Liana lebih dekat, mungkin ia merebut ponsel Leon. "Besok aku tagih status pacar."
"Status palsu?"
"Setelah semua drama malam ini, kamu masih berani bilang palsu?"
Arka terdiam sebentar.
Liana tertawa pelan, puas karena berhasil membuatnya berhenti bicara.
"Tidur dulu, Arka. Besok jangan lupa datang ke kantor. Aku masih harus menagih banyak hal."
Telepon ditutup.
Arka menggeleng sambil tersenyum. Liana memang tidak pernah memberi orang kesempatan membalas dengan tenang.
Ketika ia kembali ke apartemen Yulia, langit sudah mulai pucat. Ruang tamu gelap, hanya cahaya televisi yang menyala tanpa suara.
Yulia tertidur di sofa.
Ia memakai gaun tidur sutra warna krem muda. Bahannya lembut, mengikuti lekuk tubuhnya saat ia meringkuk. Satu tali bahu turun ke lengan, memperlihatkan garis leher yang bersih dan kulit yang tampak makin pucat di bawah cahaya televisi.
Di meja kecil dekat sofa, beberapa brosur lowongan kerja berserakan. Guru privat, admin toko, kasir restoran, staf resepsionis.
Arka mengambil brosur itu satu per satu.
Yulia terbangun oleh suara kertas.
"Arka?" Ia mengerjap, lalu cepat-cepat duduk. "Kamu pulang?"
"Kenapa tidur di sini?"
"Menunggumu." Yulia baru sadar ucapannya terlalu jujur. Wajahnya memerah. "Maksudku... televisinya menyala, aku ketiduran."
Arka duduk di sebelahnya dan menunjuk brosur. "Mau cari kerja?"
"Aku tidak bisa terus tinggal di sini tanpa melakukan apa-apa." Yulia merapikan rambut. "Ayah masih pemulihan. Aku juga punya utang padamu."
"Utang yang mana?"
"Rp300 juta itu."
"Itu bukan utangmu. Itu uang untuk menampar Raka."
Yulia menunduk. "Tetap saja uangmu."
Arka meletakkan brosur di meja. "Daripada kerja untuk orang lain, lebih baik buka usaha sendiri."
Yulia menatapnya bingung.
"Kamu masak enak. Kita cari tempat kecil, buat rumah makan privat. Aku atur feng shui-nya. Kamu jadi pemilik."
"Tidak mungkin." Yulia langsung menggeleng. "Sewa tempat mahal. Modal bahan, pegawai, izin... kamu baru saja melunasi banyak uang. Jangan habiskan untukku."
"Aku sudah punya uang lagi."
"Dari mana?"
"Membantu Bianca."
Yulia tahu Arka tidak berbohong, tetapi perubahan hidupnya terlalu cepat. Beberapa hari lalu laki-laki ini masih tampak seperti mantan murid yang dipukuli hidup. Sekarang ia bicara membuka usaha seolah uang ratusan juta hanya masalah teknis.
"Kalau uang itu kamu simpan," katanya pelan, "nanti bisa untuk masa depanmu. Untuk menikah. Untuk rumah."
Arka menatapnya.
"Rumah bisa dibeli. Masa depan juga bisa dibangun."
Yulia merasa jantungnya mulai cepat.
Arka menggeser duduknya lebih dekat. Lengannya berada di sandaran sofa, hampir memeluknya tanpa benar-benar menyentuh.
"Istri juga tidak perlu dicari jauh-jauh."
Yulia membeku.
"Arka..."
"Di depan mataku sudah ada."
Wajah Yulia merah sampai telinga. Ia ingin berdiri, tetapi tubuhnya seperti lupa cara bergerak. Setelah malam di mobil itu, hubungan mereka memang sudah melewati batas yang tidak bisa disebut guru dan murid. Namun mendengar Arka mengatakannya langsung tetap membuat dadanya penuh.
"Aku pernah jadi gurumu."
"Dulu."
"Orang akan bicara."
"Biarkan."
"Aku lebih tua darimu."
"Tidak masalah."
Yulia menunduk. Suaranya sangat kecil. "Aku tidak sekuat Maya. Aku juga tidak sepintar Bu Bianca. Aku hanya..."
Arka mengangkat dagunya.
"Yulia."
Ia berhenti.
"Aku tidak sedang membandingkanmu dengan siapa pun."
Kalimat itu membuat mata Yulia bergetar. Ia menatap Arka beberapa detik, lalu pelan-pelan meraih ujung kemejanya.
"Kalau begitu..."
"Apa?"
"Bawa aku ke kamar."
Arka tidak bertanya lagi.
Ia mengangkat Yulia dari sofa. Wanita itu memeluk lehernya dengan wajah tersembunyi di dada. Gaun tidurnya bergeser di paha, membuat langkah Arka sedikit melambat, tetapi ia tetap membawanya masuk kamar dan menutup pintu dengan kaki.
Di dalam kamar, Yulia duduk di tepi ranjang dengan napas tidak stabil.
Di bawah gaun tidur krem itu, renda putih tipis terlihat sekilas setiap kali kain sutra bergeser. Tidak mencolok, tidak dibuat untuk pamer, tetapi justru kesederhanaan itu membuatnya terasa jauh lebih menggoda pada tubuh Yulia. Lembut, bersih, dan terlalu mudah membuat orang ingin merusak kerapian itu dengan tangan sendiri.
"Sebenarnya... perutku masih sedikit tidak nyaman."
Arka berlutut di depannya dan meletakkan telapak tangan hangat di perut bawahnya.
"Aku bantu."
Qi mengalir lembut. Rasa dingin di tubuh Yulia perlahan berubah hangat. Bahunya yang tegang mulai turun. Ia menggigit bibir saat Arka mendekat, bukan karena takut, melainkan karena tubuhnya mengingat terlalu jelas apa yang terjadi di mobil.
Arka mencium lututnya yang terbuka di bawah gaun tidur.
Yulia menarik napas.
"Jangan terlalu pelan," bisiknya, malu oleh ucapannya sendiri.
Arka tidak tertawa. Ciumannya justru turun lebih lambat dari lutut ke paha, berhenti di tepi kain sutra yang sudah kusut karena tubuh Yulia terlalu tegang menahannya. Yulia refleks merapatkan kaki, lalu membuka lagi sedikit demi sedikit, wajahnya panas sampai ia tidak berani melihat ke bawah.
"Arka..."
"Pegang aku kalau tidak kuat."
Jari Yulia masuk ke rambutnya. Awalnya hanya menyentuh, seperti takut tindakannya terlalu berani. Beberapa tarikan napas kemudian, genggamannya berubah erat. Ia menundukkan kepala, bahunya bergetar, suara kecil keluar dari bibir yang ia gigit sendiri.
"Ah... Arka..."
Arka menahan pinggangnya agar tubuh Yulia tidak mundur setiap kali rasa malu dan panas datang bersamaan. Ujung kakinya menegang di sisi ranjang, lalu melemas, lalu menegang lagi ketika napas Arka menyapu kulitnya. Ia mudah panik, mudah menutup mata, dan selalu terlambat menyembunyikan reaksi tubuhnya sendiri. Justru itu yang membuat setiap desah kecilnya terasa begitu nyata.
"Jangan lihat aku terus," bisik Yulia, suaranya patah.
"Aku sedang melihat istriku."
Kalimat itu membuat genggaman Yulia di rambutnya makin kuat.
Ketika Arka naik ke ranjang dan mencium bibirnya, Yulia langsung membalas. Tangannya awalnya salah tempat, lalu perlahan menemukan bahu Arka, punggungnya, dan tengkuknya. Ia menarik laki-laki itu lebih dekat, seolah takut keberaniannya hilang kalau diberi waktu terlalu lama.
Gaun tidur sutra itu bergeser di bawah telapak Arka. Renda putih yang tadi hanya terlihat sekilas kini benar-benar kehilangan tempat bersembunyi. Yulia gemetar saat tubuh mereka makin dekat. Ia masih malu setiap kali suara kecil keluar dari bibirnya, tetapi kali ini ia tidak berusaha terlalu keras menahannya.
Ketika panas Arka akhirnya melewati batas terakhir, Yulia memeluknya erat-erat. Tubuhnya kaku sesaat, lalu perlahan melemas di bawah ritme yang Arka tekan dengan sabar namun tidak lagi terlalu lembut. Napasnya pecah di telinga laki-laki itu, panjang, panas, dan beberapa kali berubah menjadi panggilan nama yang tidak selesai.
"Ah... panas..." Yulia memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya mencengkeram bahu Arka sampai kemeja laki-laki itu kusut. "Arka... ah..."
Yulia sempat menutup wajah dengan punggung tangan. Arka menyingkirkan tangannya, membuatnya terpaksa menerima tatapan laki-laki itu saat tubuhnya sendiri berkali-kali mengkhianati rasa malu.
"Jangan..." bisiknya.
"Jangan apa?"
Yulia tidak bisa menjawab. Ia hanya menarik Arka lebih dekat. Suaranya pecah lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
"Hh... jangan berhenti dulu."
Arka menekan ritme lebih dalam. Yulia menggigit bibir, tetapi suara tertahan tetap lolos. Punggungnya melengkung dari kasur, jari kakinya mencengkeram seprai lalu lepas begitu gelombang panas itu lewat.
Malam menjelang pagi itu dipenuhi napas yang saling mengejar, selimut yang kusut, tangan Yulia yang sesekali kembali mencengkeram rambut Arka, dan suara yang beberapa kali terputus saat laki-laki itu membuat tubuhnya lupa pada rasa sakit.
Di kamar seberang, Pak Sari yang bangun untuk minum air sempat berhenti di lorong.
Ia mendengar suara samar dari kamar Yulia, lalu wajah tuanya berubah aneh.
"Nona Yulia... sedang latihan vokal pagi-pagi?"
Ia menggeleng bingung dan kembali ke kamar.
Pagi harinya, Arka keluar untuk berlari. Udara masih segar, jalan kecil di sekitar apartemen belum terlalu ramai. Cincin giok di jarinya terus menarik qi tipis dari udara, membuat langkahnya terasa ringan.
Beberapa hari lalu, ia masih laki-laki yang dikhianati, diracuni, dan diperas.
Sekarang utangnya lunas, tubuhnya pulih, warisan Hantala mulai terbuka, dan perempuan-perempuan yang dulu berada jauh di atas hidupnya satu per satu masuk ke lingkarannya.
Namun sebelum pikirannya sempat terlalu jauh, dari mulut gang muncul puluhan pria berbaju hitam.
Mereka bergerak cepat, menutup jalan depan dan belakang.
Pria berkacamata hitam di depan menunjuk Arka.
"Kamu Arka Pradana?"
Arka berhenti berlari.
"Kalau kalian sakit, rumah sakit di sebelah sana."
Wajah pria itu mengeras.
"Bos kami ingin bertemu. Ikut ke rumah sakit sekarang."
Arka menatap puluhan orang itu, lalu tersenyum tipis.
"Cara mengundang dokter kalian buruk sekali."
Pria berkacamata hitam mengangkat tangan.
"Tangkap."
Puluhan tubuh bergerak serentak.