Maura Anastasia, seorang arsitek muda berusia 23 tahun yang bekerja pada sebuah perusahaan kontruksi di kota Jakarta. Terlibat hubungan rumit dengan seorang pria matang berusia 45 tahun bernama Kenneth Tanaya karena suatu peristiwa mendesak, dia terpaksa menjadi wanita simpananan laki-laki yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Maura terpaksa mengkhianati kekasihnya, Jericho Pratama yang sudah empat tahun terakhir ini mendampinginya. Ditambah lagi dengan adanya perjodohan antara Jericho dan Kiara, membuat kisah cinta mereka semakin pelik.
Sanggupkah Maura mengungkapkan kejujurannya pada Jericho? Apakah dengan merelakan Jericho untuk dimiliki gadis lain adalah salah satu caranya meminta maaf atas pengkhianatan yang dilakukan olehnya? Akankah dia menjalani perannya sebagai wanita simpanan sesuai perjanjian awalnya dengan Kenneth?
Happy reading ya guys, semoga suka. Jangan lupa vote, rate, like, comment, dan share juga kisah ini.
Follow IG q juga : @lannytan2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanny Tanuwidjaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris saja
From author :
Buat para pembaca setiaku, thx buat semua supportnya sejauh ini ya. Aq sangat menghargai semua dukungan kalian baik itu dalam bentuk vote, rate, like, comment, n share. Kita lanjut lagi ya, semoga makin suka sama kisah ini.
Sambil nunggu update novel ini, kalian juga bisa baca karyaku yang udah end ya, judulnya HARD TO SAY GOODBYE.
Happy reading, luv u as always..
Lanny Tan
***
Maura POV
Aku merasakan hawa panas merambat di sekujur tubuhku, rasa ini begitu asing namun memabukkan, membuaiku dalam ilusi yang begitu menyenangkan buatku. Aku tak dapat mendeskripsikannya dengan kata-kata, rasa baru yang diberikan oleh setiap kecupan dan sentuhan lembut dari Jericho memberiku sensasi yang menggetarkan seluruh tubuhku.
Aku dalam keadaan sadar sepenuhnya, aku tahu ini salah dan melewati batas, tapi aku begitu terbuai dan tak ingin rasa ini berakhir. Pikiran dan tubuhku seolah bertolak belakang, aku ingin menghentikan ini, tapi tubuhku merespon bahkan menikmati rasa nyaman yang diberikan melalui sentuhan dan kecupan dari Jericho.
Aku sangat pasrah saat ini, aku membiarkan Jericho mencumbuku, ini pengalaman baru untuk kami berdua. Sebelumnya selama empat tahun kami berpacaran, kami hanya melakukannya sebatas ciuman saja, kami saling menjaga batas dan rambu dengan disiplin. Atau lebih tepatnya selama ini Jericho menjaga kesucianku, dia tak ingin merusakku. Dia ingin kami melakukannya pada saat kami sudah sah sebagai suami istri.
Tapi entah kenapa saat ini dia melanggar rambu itu, dia mengingkari janjinya sendiri untuk menjagaku. Mungkinkah karena dia sebenarnya sudah menyerah akan hubungan kami yang sudah tak mungkin lagi? Apakah pemikiran seorang Jericho tak jauh berbeda denganku? Karena terus terang aku tak menghalanginya melakukan ini karena kupikir kami memang akan berpisah, aku merelakan kesucianku direnggut olehnya sebagai tanda perpisahan kami. Miris memang, tapi apapun jalan yang kupilih toh pada akhirnya tubuh ini juga telah dijual. Tinggal menunggu waktu saja untukku memenuhi kewajibanku pada Kenneth yang telah membayarku sekalipun aku belum pernah memenuhi kewajibanku padanya.
Dengan susah payah kuenyahkan pikiran-pikiran yang membuat kepalaku berdenyut hebat, aku hanya ingin menikmati sisa waktu yang kupunya bersama Jericho saat ini, aku akan memberikan kesucianku padanya. Setidaknya ini akan menjadi kenangan indah untukku dan dirinya, aku tak ingin berpikir berat lagi.
Kutatap matanya yang berkabut, aku melihat gairah berpendar membakarnya, peluh di pelipisnya menandakan bahwa dia pun merasakan panas saat ini. Kamar yang sebenarnya berpendingin ini menjadi sangat panas karena gairah sudah membakar kami berdua. Dia kembali memagut bibirku sambil tangannya terus menyentuh setiap bagian tubuhku yang seperti mendamba setiap sentuhan yang diberikannya.
"Aku sangat mencintaimu, Ra. Aku sangat takut kehilanganmu," ujar Jericho lirih di sela pagutannya pada bibirku.
Saat ini aku benar-benar pasrah, kurespon setiap hal yang dilakukannya padaku. Aku ingin dia tahu bahwa aku juga menikmati momen indah ini. Entah bagaimana penampilanku saat ini, aku yakin wajahku sudah sangat merona karena hasrat yang terpancing. Aku mendesah tanpa malu ketika Jericho mengecup puncak payudaraku, aku merasakan basah yang sangat panas disana, lidahnya menari-nari bermain dan membuatku semakin melayang.
Katakanlah aku sudah tidak waras, cara Jericho memperlakukan tubuhku membuatku merasa menjadi gadis yang sangat dipujanya. Aku meremas rambutnya dan menarik kepalanya lebih dalam untuk menghisap dadaku, rasanya sangat nikmat, aku berteriak kecil ketika dia menggigit puncak payudaraku. Sumpah ini sangat nikmat, aku belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya, inikah yang disebut surga dunia?
Jericho semakin bergairah, kini dia berhasil melucuti pakaianku dan membuatku sangat polos tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhku. Dia memandangi ketelanjanganku dengan intens, membuatku kian merona dan menutupi wajahku.
"Kau malu padaku, sayang? Ya Tuhan, kau sangat indah. Aku sangat menginginkanmu saat ini, maafkan aku melanggar janjiku padamu. Apakah kau mengijinkanku?" Tanya Jericho seraya menarik tanganku yang sedang menutupi wajahku.
Masih dengan malu-malu, aku menganggukkan kepalaku. Aku hanya tak sanggup mengatakan padanya bahwa aku juga sangat menginginkannya, aku mengiinkannya dan dengan sukarela aku akan memberikan kesucianku padanya. Jericho mengusap bibirku yang sedikit membengkak akibat ulahnya, dia mengulas senyum kemudian mengecup bibirku ringan. Dia mulai menyusuri leherku dan memberikan tanda kepemilikan di sana, entah bagaimana akan kututupi tanda itu nanti, aku tak terlalu ingin memikirkannya sekarang.
Dengan lembut Jericho terus mencumbuku, menyentuh dan menikmati setiap bagian tubuhku hingga suatu ketika aku merasakan panas di sekitar perutku, tubuhku bergetar, menggelinjang tak karuan, inikah yang dinamakan orgasme? Ya, aku merasakan orgasme pertamaku. Dan rasanya tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, tapi ini benar-benar membuatku sangat melayang. Semua penatku seolah menghilang saat itu juga.
"Jericho..."
Dia tersenyum sangat manis padaku, wajahnya yang tampan semakin membuatku mengaguminya.
"Kau menyukainya?" Tanyanya seraya mengusap intiku yang tadi sempat dibuatnya bergetar hebat karena permainan jari dan mulutnya.
Dengan wajah merona, keringat membasahi dahiku, aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Aku sangat menyukai perlakuannya pada tubuhku.
"Aku..."
Belum sempat kulanjutkan kalimat yang ingin kuucapkan pada Jericho, dering ponselnya memecahkan suasana yang ada. Jericho tetap menatap wajahku dan berbaring di sampingku sambil memelukku dengan posesif. Dering teleponnya tak kunjung berhenti, dia mulai terusik.
"Sebentar ya, sayang," Jericho mengecup dahiku dan turun dari ranjang mencari ponselnya.
Kupandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu, aku baru menyadari saat ini keadaanku sangat menyedihkan. Bagaimana bisa aku tak memakai sehelai benangpun, sementara Jericho masih berpakaian lengkap? Ini terlalu gila, aku merasa sangat malu dengan keadaan ini.
***
Author POV
Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, Maura yang menutupi tubuh polosnya dengan selimut yang ada di tempat tidur itu, melihat Jericho kembali ke kamar menghampirinya dengan wajah gusar. Maura menangkap ada kemarahan sedang menguasai Jericho saat ini, apakah panggilan telepon tadi penyebabnya? Kini wajah yang tadinya berkabut gairah, berubah menjadi sangat serius dan kaku.
"Ra, aku ada pekerjaan penting yang tidak bisa kutunda. Maaf, aku..."
Jericho mendekati Maura dan duduk di sampingnya, dia mengelus lembut puncak kepala Maura. Dia tak melanjutkan kalimatnya, dia menatap sedih wajah kekasihnya. Seandainya saja malam ini bukanlah acara pertunangan pura-puranya dengan Kiara, dia sangat ingin menghabiskan malam dengan Maura.
Maura memejamkan matanya sesaat, dia mencoba mengumpulkan kesadarannya Dering telepon tadi menyelamatkannya, tapi dari apa? Maura tertawa dalam hatinya. Toh tadi dia sudah rela menyerahkan segalanya untuk Jericho, dan tadi itu nyaris saja dia kehilangan kesuciannya. Meskipun Jericho telah menyentuh seluruh tubuhnya saat ini, tapi kesuciannya belum terenggut. Apakah inii pertanda bahwa memang dengan cara apapun mereka tidak bisa saling memiliki?
"Tidak apa, Jer. Antarkan saja aku pulang," ujar Maura masih dengan mata terpejam.
Sungguh saat ini Maura tak sanggup menatap mata Jericho, dia merasa begitu bodoh masih berharap memetik kebahagiaan di sisa waktu kebersamaan mereka. Pada akhirnya dia benar-benar harus melepaskan Jericho sepenuhnya, merelakannya meraih kebahagiaan dengan gadis lain.
"Kau menginap disini saja, Ra. Tunggu aku pulang nanti malam."
Menunggumu pulang setelah acara pertunanganmu dengan Kiara? Aku tak ingin memiliki harapan semu lagi, inilah saat terakhir kita. Bahkan Tuhan pun tak berpihak pada kita,.
"Aku tak bisa, Jer. Ibuku tak ada yang menjaga," Maura menolak tawaran Jericho dengan alasan yang tepat.
Ibunya dijadikan alasan untuk menolak permintaan Jericho untuk memintanya menginap dan menunggunya pulang, Maura memilih kejam pada dirinya sendiri. Biarlah dia menikmati luka ini sendirian, inilah yang terbaik menurutnya.
***
kamu yg ingin mengikat Maura kn,
jd Maura tu ga mudah. TERPAKSA meninggalkan Jericho, TERPAKSA jd wanita simpanan utk mendapatkan uang, dan TERPAKSA jg menikah karena utk kebahagiaan mamanya
dia melakukan segala sesuatu bukan karena kemauan dirinya. semua karena TERPAKSA