Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Rumah Besar
Fajar Wicaksono menunggu di tepi jalan ketika Edric keluar dari Kantor Catatan Sipil.
Wajah mantan prajurit itu tetap datar, tetapi matanya sempat turun ke map tipis di tangan Edric. Ia tidak bertanya. Fajar tahu kapan seorang komandan ingin bicara dan kapan semua orang lebih baik diam.
"Oma?" tanya Edric.
"Di Rumah Besar, Pak. Katanya sakit."
"Katanya?"
Fajar membuka pintu mobil. "Saya lihat video yang dikirim Feli. Oma masih bisa marah-marah."
Edric masuk ke mobil, menutup mata sesaat. "Berarti belum sekarat."
"Belum, Pak."
Mobil hitam bergerak menuju Menteng. Di layar ponsel, kontak baru bertuliskan Nyonya Kho belum sempat ia hubungi lagi. Edric menatap nama itu, lalu menyimpan ponselnya saat gerbang besar Rumah Besar Kho terbuka.
Rumah itu berdiri di lahan luas yang hampir tidak masuk akal untuk pusat Jakarta. Bangunan kolonial tua dengan pilar putih, lantai marmer, dan halaman yang dijaga pohon beringin raksasa. Tidak ada papan nama, tidak ada kemewahan yang berteriak. Justru karena itu semua orang tahu, keluarga yang tinggal di sana tidak perlu membuktikan apa-apa.
Di ruang tengah, Liana Kho duduk tegak di kursi kayu ukir.
Tidak ada selimut. Tidak ada wajah pucat. Tidak ada orang sakit.
Yang ada hanya Oma Kho dengan gelang giok di pergelangan tangan, teh panas di sampingnya, dan tatapan siap mengadili cucu sulungnya.
"Edric."
"Oma."
"Kalau Oma benar-benar mati tadi, kamu baru pulang besok?"
Felicia Kho yang duduk di sofa langsung menahan tawa. "Koh Edric, Oma bilang kalau kamu nggak pulang, dia mau mati tiga kali."
"Feli," Hendra Kho menegur pelan.
Yuliana Kho duduk di samping suaminya, anggun seperti biasa, tetapi mata tajamnya memindai wajah Edric dari ujung rambut sampai sepatu. "Kamu dari mana? Kemejamu kusut."
"Urusan pribadi."
Oma Kho mengetuk meja dengan cangkir. "Urusan pribadi? Bagus. Oma juga punya urusan pribadi. Kamu sudah dua puluh delapan. Cucu teman-teman Oma sudah punya anak tiga. Kamu mau Oma mati tanpa lihat cicit?"
Edric mengambil tempat duduk. "Oma belum mati."
"Jangan mengalihkan."
"Saya tidak mengalihkan. Saya hanya menyampaikan fakta."
Feli tertawa kecil. Hendra menutup mulut dengan tangan, pura-pura batuk. Yuliana melirik mereka berdua seolah memperingatkan bahwa ruang tengah ini bisa berubah menjadi ruang sidang kapan saja.
Oma Kho mencondongkan tubuh. "Keluar dari TNI. Masuk Kho Group. Papa kamu tidak muda lagi. Hendra butuh kamu. Perusahaan juga butuh kamu."
"Saya masih mempertimbangkan."
"Kamu mempertimbangkan sejak enam tahun lalu."
"Karena enam tahun lalu saya sedang bertugas."
"Sekarang tugasmu pulang."
Kalimat itu membuat ruang tengah diam sesaat. Edric memandang ayahnya. Hendra tidak memaksa. Seperti biasa, Papa-nya memberi ruang, tetapi kelelahan di wajah pria itu tidak bisa disembunyikan.
Edric tahu. Kho Group bukan sekadar perusahaan. Itu medan perang lain, dengan dasi, saham, senyum palsu, dan keluarga yang saling menunggu celah.
Ia dulu memilih seragam loreng karena perang di lapangan lebih jujur.
"Soal perusahaan, saya pertimbangkan," katanya akhirnya.
Oma Kho menyipit. "Dan soal istri?"
Feli langsung duduk tegak.
Yuliana meletakkan cangkir. "Oma, jangan mulai lagi."
"Oma akan mulai terus sampai dia membawa perempuan pulang."
Edric diam selama satu detik terlalu lama.
Oma menangkapnya.
"Ada?"
Feli hampir melompat dari sofa. "Ada?! Koh Edric punya pacar?! Siapa? Dari keluarga mana? Cantik nggak? Dia tahu kamu galak?"
"Feli."
"Apa? Ini berita nasional keluarga Kho."
Edric menyandarkan punggung. "Mungkin sebentar lagi saya bawa seseorang pulang."
Ruangan itu benar-benar berhenti.
Hendra mengangkat alis. Yuliana dan Oma bertukar pandang, satu penuh perhitungan, satu penuh kemenangan.
"Siapa?" tanya Oma pelan. "Dari keluarga mana?"
"Nanti Oma tahu."
"Edric."
"Saya serius."
Dua kata itu cukup. Oma Kho hidup cukup lama untuk membedakan cucunya sedang menunda atau sedang menjaga sesuatu yang belum siap disentuh.
Yuliana menatap putranya lebih lama. "Kamu bertemu dia di mana?"
Edric mengambil cangkir teh yang belum ia minum. "Di tempat yang ramai."
Feli mengerang. "Jawaban macam apa itu?"
Oma tidak ikut tertawa. "Afrika Selatan?"
Jari Edric berhenti di gagang cangkir.
"Kamu pulang dari misi PBB dua tahun lalu dengan mata yang berbeda," lanjut Oma. "Oma bukan buta. Ada orang yang kamu lihat di sana?"
Edric tidak menjawab.
Keheningan itu lebih keras dari pengakuan.
Sementara itu, di kos kecilnya, Eve mengunci pintu dan akhirnya menangis sampai tenggorokannya sakit.
Ia tidak menangis saat Rangga menggandeng Jess. Tidak saat ponsel orang-orang mengarah padanya. Tidak saat menandatangani akta di Catatan Sipil. Namun begitu sendirian, tubuhnya menyerah.
Ia menangisi uang satu miliar yang mungkin tidak kembali. Ia menangisi Mama Lili yang tidak ada untuk memeluknya. Ia menangisi dirinya sendiri yang selama tiga tahun percaya bahwa kesetiaan bisa membuat orang lain ikut setia.
Setelah dua jam, air matanya habis.
Eve mencuci wajah. Matanya bengkak, hidungnya merah, tetapi ia masih bisa berdiri. Di cermin, ia melihat perempuan yang kemarin diselingkuhi, pagi tadi menikah, dan sekarang tidak tahu harus menyebut dirinya apa.
Istri?
Kata itu terlalu aneh.
Ia mengambil ponsel dan menelepon Daniel Tjioe.
"Dan."
Di seberang, suara Dan langsung berubah. "Eve? Suaramu kenapa?"
"Malam ini temenin aku minum. Aku butuh teman."
"Rangga?"
Eve diam.
Dan mengumpat pendek. "Di mana? Velvet Lounge? Aku booking."
"Jangan tanya dulu."
"Aku tidak tanya. Aku cuma siap-siap menghajar orang."
Untuk pertama kalinya hari itu, Eve hampir tersenyum.
Malamnya, Velvet Lounge di Kuningan menyambutnya dengan lampu redup, musik rendah, dan aroma parfum mahal. Dan sudah menunggu di lobi dengan jaket hitam dan wajah marah yang ditahan.
Begitu melihat mata Eve, ia tidak mengatakan "kan sudah kubilang". Ia hanya membuka tangan. Eve masuk ke pelukannya sebentar, lalu cepat-cepat melepaskan diri sebelum menangis lagi.
Mereka duduk di ruang privat biasa. Dan memesan minuman yang tidak terlalu keras, tetapi Eve meminum semuanya seperti air putih.
"Rangga sama Jess," kata Eve akhirnya.
Dan meletakkan gelasnya terlalu keras. "Aku dari dulu sudah bilang dia nggak bener."
"Jangan."
"Apa?"
"Jangan bilang begitu malam ini." Eve menatap gelasnya. "Aku tahu kamu benar. Itu yang paling sakit."
Dan langsung diam.
Mereka minum dalam hening yang tidak canggung. Dan tidak memaksa. Ia hanya duduk di sana, memastikan gelas Eve tidak terlalu cepat kosong, memastikan tidak ada orang asing mendekat, memastikan sahabatnya tidak sendirian.
Menjelang pukul sebelas, Eve berdiri.
"Toilet."
"Aku antar?"
"Aku masih bisa jalan."
Dan memandang langkahnya yang sudah tidak lurus. "Itu definisi masih bisa jalan versi siapa?"
Eve melambaikan tangan tanpa menoleh.
Koridor Velvet Lounge bercabang dua. Lampu dindingnya redup, pintu-pintu privat memakai nomor emas. Eve menyipit, mencoba mencari tanda toilet. Musik dari ruang lain berdenyut pelan di telinganya.
606.
Entah kenapa angka itu terlihat seperti pintu yang benar.
Ia mendorongnya.
Di dalam, tiga laki-laki menoleh.
Dan di tengah sofa, dengan gelas wiski di tangan, duduk suaminya.