"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafa Melamar Giska?
Sesuai dengan yang dikatakan Azzam semalam, mulai hari ini Andara tidak lagi pergi sendiri. Demi keselamatannya, dua orang bodyguard akan selalu mengawasi dari dekat.
Meski begitu, Andara tetap merasa canggung.
"Abi..."
Azzam yang sedang merapikan jasnya menoleh. "Iya?"
"Mereka harus nungguin Andara di depan kelas juga?"
"Iya."
"Abi... Malu tau. Teman-teman nanti ngira Andara anak manja."
Azzam tersenyum tipis. "Mereka tidak akan masuk ke dalam kelas, hanya menunggu di depan. Kalau jam kuliah selesai, mereka mengantar kamu lagi."
Andara masih mengerucutkan bibirnya.n"Di parkiran aja, Bi. Nanti kalau di depan kelas semua orang lihat."
Azzam menggeleng pelan.n"Tidak. Ini bukan soal malu. Ini soal keselamatan kamu. Abi nggak mau kejadian kemarin terulang lagi. Lawan kamu bukan tiga orang itu saja. Bisa jadi masih ada orang lain yang belum tertangkap."
Andara menghela napas panjang. "Iya deh... Aku nurut."
Baru setelah itu Azzam tersenyum.n"Nah, begitu. Sekarang kenalan dulu."
Azzam mengisyaratkan dua pria berbadan tegap yang berdiri tak jauh dari ruang tamu.
"Yang ini Doni."
Pria itu sedikit menundukkan kepala. "Selamat pagi, Nona."
"Dan yang satu lagi Sam." "Selamat pagi, Nona Andara."
Andara membalas dengan senyum ramah. "Pagi juga. Nanti jangan manggil Nona deh. Panggil Andara aja."
Kedua bodyguard itu saling berpandangan. "Maaf Nona, kami tidak bisa."
Andara mengembuskan napas pasrah. "Iya deh."
Tak lama kemudian, mereka pun berangkat. Doni duduk di balik kemudi. Sam berada di kursi penumpang depan. Sementara Andara duduk sendirian di kursi belakang.
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai ramai. Namun sejak tadi, perhatian Andara sama sekali tidak tertuju ke luar jendela. Jemarinya terus menggenggam ponsel. Layar chat seseorang tak pernah ia tutup.
My Future Husband
Voice note yang ia kirim pukul tiga dini hari masih berada di posisi paling bawah. Belum ada tanda centang biru. Belum ada balasan.
Andara menggigit pelan bibir bawahnya. "Hm... Kok belum dibaca ya?"
Padahal biasanya, Kafa akan membalas pesannya, setidaknya dengan ucapan singkat.
Meski hanya... "Makasih, Dara."
Atau... "Pagi."
Hari ini justru tidak ada apa-apa. Andara kembali melihat jam di layar ponselnya.
"Masih pagi sih, mungkin belum sempat luar hp."
Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun beberapa detik kemudian ia kembali membuka ruang chat yang sama.
Masih sama. Belum berubah.
Sam yang sesekali melihat ke kaca spion menangkap ekspresi gelisah Andara. "Nona sedang menunggu kabar seseorang?"
Andara spontan mengangkat kepala. "Hah?"
"Oh... Hehe... Iya. Teman."
Sam hanya mengangguk kecil tanpa bertanya lebih jauh. Sementara Andara kembali memandang layar ponselnya.
Di dalam hati, ia bergumam pelan. "Selamat ulang tahun sekali lagi ya, Kak... Semoga hari ini Kakak bahagia. Dan... semoga Kakak segera baca voice note aku."
Sementara itu...
Di apartemennya, Kafa sudah bersiap berangkat ke kantor. Ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja sejak tadi beberapa kali menyala. Satu notifikasi yang paling ia kenali selalu berada di urutan paling atas.
Andara.
Kafa memejamkan mata sejenak. Ia sudah tau. Tanpa perlu membuka isi pesannya pun, ia tau apa yang dikirim Andara.
Setiap tahun tepat pukul tiga dini hari, Andara tidak pernah lupa mengirimkan ucapan ulang tahun.
Kadang berupa pesan panjang. Kadang berupa video konyol. Namun yang paling sering voice note.
Kafa mengembuskan napas panjang. Tangannya sempat meraih ponsel itu. Ibu jarinya bahkan sudah berada di atas ruang obrolan Andara.
Namun, ia mengurungkan niatnya. Perlahan ia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja.
"Tidak. Aku tidak boleh."
Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pikirannya kembali pada kejadian di dalam mobil kemarin.
Saat tanpa sadar ia mengusap pipi Andara. Saat ia mengecup pipi gadis itu.
Kafa langsung meremas pelipisnya. "Aku sudah kelewatan, itu tidak seharusnya terjadi."
Selama ini ia selalu menganggap Andara sebagai adik yang harus ia lindungi. Namun beberapa waktu terakhir perasaannya mulai berubah ke arah yang tidak seharusnya.
Dan itu membuatnya takut. Takut pada dirinya sendiri. Takut jika suatu hari ia benar-benar tidak mampu mengendalikan hati.
Karena itulah, ia mengambil keputusan.
Mulai hari ini... ia harus menjaga jarak. Bukan karena membenci Andara. Justru karena terlalu menyayanginya.
"Aku harus berhenti memberi harapan."
Kalimat itu terasa berat keluar dari bibirnya.
Kafa kembali melirik ponselnya. Notifikasi dari Andara masih ada.
Belum ia buka. Belum ia dengarkan.
"Maaf, Dara. Kali ini kakak nggak bisa."
Ia kemudian berdiri, merapikan jas yang dikenakannya. Sebelum melangkah keluar, matanya kembali jatuh pada layar ponsel. Lalu sebuah pemikiran lain muncul di kepalanya.
"Mungkin... sudah waktunya aku menikah." Ia mengucapkannya lirih.
Selama ini ia selalu menghindari pembicaraan tentang pernikahan. Merasa belum siap. Merasa masih ingin fokus bekerja. Namun kini alasannya berbeda.
Jika ia memiliki seorang istri, Andara pasti akan berhenti mengejarnya. Perasaan gadis itu perlahan akan menghilang. Dan dirinya pun tidak akan terus-menerus diuji oleh perasaan yang seharusnya tidak tumbuh.
"Itu yang terbaik."
Setidaknya... begitulah yang terus ia yakinkan kepada dirinya sendiri.
Meski entah mengapa saat membayangkan Andara suatu hari tersenyum untuk laki-laki lain dadanya justru terasa sesak.
Ia mengepalkan tangan pelan. "Lupakan. Dia akan menemukan laki-laki yang lebih baik. Dan aku... harus belajar melepaskan."
Dengan tekad itu, Kafa mengambil kunci mobilnya dan melangkah keluar apartemen.
Sementara di atas meja kerjanya ponsel itu kembali menyala. Nama Andara masih terpampang di layar. Namun kali ini pun Kafa memilih berjalan pergi tanpa membukanya.
***
Begitu mobil berhenti di halaman kampus, Andara mengembuskan napas pelan.
"Nona, kami akan tetap mengawal sampai depan kelas," ucap Doni sambil membuka pintu mobil.
Andara hanya mengangguk pasrah. "Iya, iya."
Baru beberapa langkah memasuki area kampus, suasana mendadak ramai.
Mahasiswa yang sejak semalam melihat berita tentang penyelamatan anak-anak itu langsung mengenali Andara.
"Itu Andara!"
"Yang semalam viral!"
"Masya Allah, keren banget!"
Tak lama kemudian, tepuk tangan bergema di sepanjang koridor.
"Selamat ya, Dara!"
"Keren banget!"
"Pahlawan kita!"
Andara langsung salah tingkah. "Ih... jangan gitu dong. Malu tau."
Ia hanya bisa tersenyum kecil sambil sesekali menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasih.
Di belakangnya, Doni dan Sam sigap mengawasi sekitar. Ketika beberapa mahasiswa mulai terlalu dekat, keduanya segera memberi ruang agar Andara tetap bisa berjalan dengan nyaman.
"Permisi, mohon beri jalan."
"Kami minta jaraknya dijaga."
Melihat dua pria bertubuh tinggi dan berwajah tegas itu, beberapa mahasiswi justru salah fokus.
"Wih... Dara bawa bodyguard! Kenalin dong, Dar!"
"Cakep-cakep banget bodyguard lo."
"Iya, yang sebelah kiri senyumnya manis."
"Yang kanan juga ganteng!"
Andara menoleh sebentar, lalu menggeleng geli. "Ck, Kalian tuh ada-ada aja. Mending fokus kuliah daripada fokus sama bodyguard."
Semua tertawa.
Doni dan Sam sendiri tetap memasang wajah datar seolah sudah terbiasa menerima komentar seperti itu.
Sesampainya di depan tangga menuju kelas, Andara berbalik. "Mending kalian tunggu di sini aja. Jangan ikut masuk."
Sam menggeleng sopan. "Maaf, Nona. Sesuai perintah Pak Azzam, kami hanya menunggu di luar kelas."
Andara mendengus pelan. "Ck, yaudah. Tapi jangan masuk kelas."
"Siap, Nona."
Begitu Andara melangkah masuk, lima sahabatnya langsung menoleh bersamaan. Mulut Zuleykha dan Nuha sampai menganga.
"Woy... Beneran dikawal bodyguard?"
"Buset! Keren banget!"
"Ganteng-ganteng lagi."
Zuleykha sampai melongok ke luar pintu, sementara Nuha berbisik heboh. "Kalau ada yang kayak gitu jagain gue tiap hari, gue rela berangkat pagi."
"Ck, dasar," celetuk Andara sambil terkekeh.
Azlan justru tidak ikut bercanda. Begitu melihat luka kecil di sudut bibir Andara, wajahnya langsung berubah serius.
Ia buru-buru menghampiri. "Lo gapapa, Dar?"
Belum sempat mendekat, Sam refleks maju satu langkah, menghalangi.
Azlan langsung mengangkat kedua tangannya. "Bro, santai. Gue temennya."
Andara langsung menepuk pelan lengan Sam. "Plis deh. Dia sahabat saya. Tenang aja."
Sam segera mundur. "Maaf, Nona."
Azlan menatap Andara dengan kesal sekaligus lega. "Lo bohong sama gue. Lo bilang nggak bakal nekat."
Andara menggaruk tengkuknya sambil nyengir tipis. "Maaf..."
Azlan menghela napas panjang. "Dar... Lo bikin gue kepikiran semalaman."
Andara menatap sahabatnya itu beberapa saat, lalu berkata pelan, "Lan... Gue emang nggak bisa diem. Untung aja gue nekat nyamar. Coba kalau engga, anak-anak itu mungkin udah nggak ada di Indonesia sekarang. Mereka rencananya mau dipindahin malam itu juga."
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Azlan memejamkan mata sejenak. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengembuskan napas panjang.
"Lo memang keras kepala. Tapi gue bersyukur. Karena kali ini keras kepala lo berhasil nyelametin sembilan anak."
Andara tersenyum jumawa.
"Tunggu dulu, Dar."
"Hm?"
"Bukannya waktu kita ke kantor polisi, jumlah anak yang hilang itu sepuluh orang?"
Andara mengangguk pelan. "Iya."
"Nah... Semalam yang berhasil diselamatkan cuma sembilan anak. Kalau ditambah Raju yang baru diculik harusnya ada sebelas anak."
Suasana mendadak hening. Raut wajah Andara perlahan berubah serius. Ia mengembuskan napas panjang.
"Gue juga kepikiran itu."
Semua sahabatnya langsung menoleh ke arahnya.
"Waktu gue sama Kak Kafa masih ngumpet di luar bangunan itu, gue sempat denger pembicaraan mereka."
"Apa?" tanya Azlan cepat.
"Mereka bilang dari 10 anak itu hanya 8 yang lolos uji semuanya, termasuk ada Riri. Dan ada Raju jadi 9 anak. Ada 2 yang gak lolos. Karena Raju baru, dan yang akan dikirim cuma 8 anak dulu."
Andara menundukkan pandangannya. "Yang jadi pertanyaan sekarang ke mana dua anak yang nggak lolos itu. Apakah dilepas? Atau... Justru mereka dipindahkan ke tempat lain."
Kalimat terakhir itu membuat bulu kuduk mereka meremang.
Azlan mengepalkan tangannya. "Berarti kasus ini belum selesai."
Andara mengangguk pelan. "Belum. Masih ada sesuatu yang disembunyikan."
Saat Andara menjelaskan, pandangan Azlan beberapa kali tertuju pada sudut bibir gadis itu yang masih tampak lebam. Ia lalu bertanya lagi untuk kedua kalinya.
"Dar..."
Andara menoleh.
"Itu bibir lo..."
"Ck. Gapapa, Lan. Cuma kena pukul dikit."
Azlan menggeleng pelan. "Untung aja nggak lebih parah. Kalau sampai kenapa-kenapa. Gue pasti nyalahin diri sendiri."
Andara menepuk pelan bahu sahabatnya. "Jangan gitu. Beruntung kemarin Kak Kafa ada. Kalau gak, gue bisa nekat sendiri."
Azlan tersenyum tipis. Meski begitu, rasa bersalah masih tergambar jelas di wajahnya.
Tiba-tiba Zuleykha menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jadi selama ini kalian pergi berdua terus karena lagi punya misi nyelametin anak-anak?"
"Iya." Azlan menjawab santai.
Zuleykha langsung memonyongkan bibir. "Gila ya kalian. Kenapa nggak ngomong sama kita?"
Andara mengangkat bahu. "Karena ini bahaya. Semakin sedikit yang tau, semakin aman. Emangnya kenapa?"
Kiki langsung menyahut sambil mengangkat tangan.n"Ya kita juga mau bantu, lah! Ya kaleee kalian mau dapet pahala, masuk berita, sama masuk TV, nggak ngajak-ngajak."
Nuha langsung mengangguk semangat. "Betul! Gue juga mau jadi pahlawan."
Vano terkekeh. "Pahlawan apa konten kreator? Jangan-jangan nanti pas lagi nangkep penjahat, malah selfie dulu. Hari ini kita nangkep mafia, guys. Jangan lupa like, comment, and subscribe!" ucap Vano menirukan gaya kreator konten.
Seketika satu kelas tertawa.
Bahkan Andara yang sejak tadi tegang ikut terkekeh. "Dasar kalian."
Zuleykha kemudian menghampiri Andara dan memeluknya singkat.n"Walaupun gue kesel karena nggak dikasih tau tapi gue bangga sama lo."
Nuha ikut memeluk Andara dari sisi lain. "Iya. Makasih udah nyelametin anak-anak itu."
Andara tersenyum haru. "Doain aja semoga dua anak yang belum ditemukan juga bisa segera ketemu. Dan gak ada lagi korban-korban lainnya."
Ucapan itu membuat senyum mereka perlahan memudar. Karena mereka sadar, meski sembilan anak telah kembali ke pelukan orang tuanya, masih ada dua anak lain yang keberadaannya belum diketahui.
Dan di balik semua itu... dalang sebenarnya masih belum tertangkap.
"Terus kenapa ceritanya sekarang ada bodyguard, Dar?"
Andara mengembuskan napas. "Biasa, Jul. Abi gue khawatir banget. Beliau takut kalau bos dari komplotan itu masih berkeliaran. Apalagi misi mereka kan gue yang gagalin. Takutnya mereka nyari gue buat balas dendam."
Semua yang mendengar langsung terdiam.
"Ih..." Nuha bergidik. "Ngeri banget."
Andara mengangkat bahu. "Nah, makanya sekarang gue nggak boleh ke mana-mana sendirian. Abi langsung nyewa dua bodyguard buat jagain gue. Katanya sampai pelaku utamanya ketangkep."
Kiki melirik ke arah luar kelas, tempat Doni dan Sam masih berdiri tegak. "Pantes aja. Gue kira mereka bodyguard dari Kak Kafa."
Andara langsung menggeleng. "Bukan. Mereka khusus buat gue."
Vano menyenggol bahu Azlan sambil berbisik pelan. "Saingan lu nambah dua."
Azlan mendelik. "Apaan sih."
"Tuh bodyguard jagain Dara dua puluh empat jam. Lu mah cuma jam kuliah."
Semua kembali tertawa.
Azlan hanya memutar bola matanya.n"Gue serius, oi. Kalau ada apa-apa sama Dara, bukan cuma Abi dan Bundanya yang kepikiran. Kita juga."
Andara tersenyum kecil. "Iya, iya. Makasih ya kalian."
Zuleykha kemudian menatap Andara dengan serius. "Dar."
"Hm?"
"Lo janji ya. Jangan nekat lagi. Minimal kalau emang mau ngelakuin sesuatu kasih tau kita. Walaupun kita nggak ikut, setidaknya kita tau keberadaan lo."
Nuha ikut mengangguk. "Bener. Kemarin tuh kita semua panik. Pas lihat berita, kita baru sadar ternyata yang di TV itu beneran lo."
Andara mengusap tengkuknya dengan wajah bersalah. "Iya... Maaf ya. Gue cuma nggak mau kalian ikut kena bahaya."
Azlan menyilangkan kedua tangannya. "Pokoknya mulai sekarang nggak ada lagi main pahlawan sendirian."
Andara tersenyum jahil. "Oke, kalau rame-rame boleh?"
"ANDARA!"
Satu kelas langsung berseru kompak. Andara pun tertawa lepas melihat ekspresi kesal teman-temannya, sementara Azlan hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar keras kepala."
"Ya gimana..." Andara nyengir. "Kalau ada orang butuh ditolong, masa gue pura-pura nggak lihat?"
***
"Tuan..."
Max kembali memasuki ruang kerja Tristan sambil membawa sebuah map hitam yang tampak lebih tebal dari sebelumnya.
Tristan yang sedang berdiri menghadap jendela tidak menoleh.
"Langsung saja, Max."
"Baik, Tuan." Max membuka map itu. "Hasil penyelidikan tambahan mengenai masa lalu Tuan Willy sudah kami dapatkan."
Tristan akhirnya berbalik. "Bagaimana?"
"Dulu, saat polisi melakukan penggerebekan terhadap kelompok Daddy Anda, Tuan Willy berhasil melarikan diri karena dibantu oleh seseorang."
"Siapa?"
"Tuan Smith."
Alis Tristan terangkat. "...Uncle Smith?"
"Iya, Tuan."
Beberapa detik Tristan hanya diam. Ia mengenal nama itu. Smith bukan orang sembarangan.nPria yang sangat disegani sekaligus ditakuti di dunia bawah.
"Jadi, Uncle Smith yang membantu Daddy kabur?"
"Benar. Setelah itu Daddy Anda dijadikan anak buah kepercayaannya. Semua jaringan bisnis gelap yang dimiliki Tuan Smith juga mulai melibatkan Daddy Anda."
Tristan mengembuskan napas pelan. "Jadi begitu awalnya..."
Max kembali membalik halaman berikutnya. "Masih ada satu informasi lagi."
"Katakan."
"Waktu masih berada di Indonesia, Tuan Willy pernah menghamili seorang perempuan."
Tristan langsung menatap Max tajam. "Apa?"
"Iya, Tuan. Perempuan itu ternyata merupakan saudara tiri dari ibu Andara."
Ruangan mendadak sunyi. Tristan mematung. Beberapa detik ia bahkan tidak berkedip.
"Jadi, Daddy pernah memiliki hubungan dengan istri dari Azzam Malik?"
"Bisa dibilang begitu, Tuan. Tapi hubungan itu bukan hubungan yang baik. Tuan Willy menghilang setelah kejadian tersebut. Perempuan itu kemudian menjalani hidupnya sendiri."
Tristan memijat pelipisnya. "Apakah Daddy pernah menemui wanita itu setelah kabur?"
"Saya kurang tau, Tuan. Tuan Willy tidak pernah membicarakan masa lalunya secara terbuka kepada siapapun. Informasi ini saya dapatkan dari orang suruhan kita di kantor polisi.
Tristan mengangguk pelan. "Baik. Kamu boleh keluar."
"Baik, Tuan." Max membungkukkan badan singkat sebelum meninggalkan ruangan.
Klik.
Pintu kembali tertutup. Kini hanya Tristan seorang diri. Ia berjalan perlahan menuju rak minuman. Mengambil segelas whisky. Namun gelas itu hanya diputar-putarnya tanpa diminum. Pikirannya dipenuhi potongan demi potongan masa lalu yang mulai tersusun.
"Jadi hubungannya seperti ini."
Smith. Willy. Keluarga Malik. Dan kini... Andara.
Tristan tersenyum tipis. Senyum yang sulit ditebak artinya.
Ia teringat bagaimana gadis itu berani menyusup ke markas anak buahnya, menyelamatkan sembilan anak, bahkan menggagalkan rencana pengiriman manusia yang telah disusun berbulan-bulan.
Kebanyakan orang akan memilih melapor kepada polisi lalu menjauh. Namun Andara justru memilih mempertaruhkan dirinya sendiri.
"Berani. Baik hati dan sangat keras kepala."
Tristan terkekeh pelan. "Aku meremehkanmu, Andara. Dan itu kesalahan terbesarku."
Tatapannya kemudian berubah tajam. "Mulai sekarang, aku tidak akan meremehkanmu lagi."
Ia meletakkan gelas di atas meja.
"Justru aku ingin melihat seberapa jauh kau mampu bertahan."
Senyumnya kembali terukir. Kali ini lebih tipis. Lebih dingin. "Benar-benar gadis yang menakjubkan."
***
"Kita mau ke mana sih, Abi, Bunda?"
Andara mengernyit bingung saat melihat seluruh anggota keluarganya sudah tampil rapi. Azzam mengenakan kemeja berwarna gelap, Aira tampak anggun dengan gamis dan hijab senada, sementara Azra juga sudah bersiap sejak tadi.
Andara sendiri baru saja selesai berganti pakaian. Ia mengenakan gamis berwarna maroon dengan hijab senada. Di tangannya tergenggam sebuah paper bag berisi scrapbook yang semalam ia buat khusus untuk Kafa.
Sepulang kuliah tadi, ia langsung diminta bersiap. Awalnya ia mengira perayaan ulang tahun Kafa akan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sederhana. Makan malam di rumah. Bunda memasak makanan favorit Kafa. Lalu mereka berkumpul di ruang makan sambil bercanda.
Namun ternyata... semuanya berbeda.
"Bukannya hari ini Kak Kafa ulang tahun, ya?" tanya Andara penasaran. "Biasanya Bunda masak banyak banget. Kok sekarang nggak?"
Aira tersenyum sambil merapikan ujung hijab putrinya. "Sayang... Justru karena hari ini ulang tahun Kak Kafa. Makanya kita diundang buat makan malam keluarga."
"Diundang?" Andara mengedip bingung.
"Iya. Kafa yang ngajak."
"Oh..." Andara mengangguk pelan. "Jadi gitu."
Azzam terkekeh melihat ekspresi putrinya. "Udah, ayo. Nanti keburu telat."
Mereka pun berjalan menuju garasi.
Azra yang sejak tadi melirik paper bag di tangan Andara akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Kamu ngadoin apa, Dar?"
Andara langsung memeluk paper bag itu erat. "Kepo."
Azra mendengus. "Ya kali nanya adik sendiri dibilang kepo."
Andara menjulurkan lidah. "Weee..."
"Cegil."
"Biarin. Aku bangga jadi cegil."
Azzam dan Aira hanya saling pandang sambil tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya yang tak pernah akur.
"Udah, udah. Kalau berantemnya di jalan aja, nanti Abi tinggal."
"Ih, Abi!"
"Iya deh."
Tak lama kemudian, mobil keluarga Malik keluar dari halaman rumah.
Sepanjang perjalanan, Andara beberapa kali menatap paper bag di pangkuannya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan hanya karena malam ini adalah ulang tahun Kafa. Namun juga karena sejak kejadian di mobil kemarin hubungan mereka terasa berbeda.
Ia bahkan belum sempat membicarakan apa yang terjadi saat Kafa tanpa sadar mengecup pipinya. Dan sejak pagi tadi, Kafa juga belum membalas ucapan ulang tahun yang ia kirim lewat voice note.
Andara menggigit bibir bawahnya pelan. "Masih marah ya..." gumamnya dalam hati.
Mobil akhirnya memasuki area parkir sebuah restoran mewah yang menghadap taman dengan lampu-lampu hangat menghiasi setiap sudutnya.
"Sudah sampai," ujar Azzam.
Andara menarik napas panjang. "Semoga hari ini berjalan lancar..." ucapnya lirih sebelum ikut turun dari mobil sambil menggenggam erat hadiah untuk laki-laki yang diam-diam selalu memenuhi isi hatinya.
Mereka berjalan mengikuti pelayan menuju ruangan VIP yang telah dipesan Kafa.
Begitu pintu dibuka, pandangan Andara langsung tertuju pada sosok yang berdiri di dekat meja.
Kafa.
Malam itu laki-laki itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih. Rambutnya tertata rapi. Di bawah cahaya lampu restoran, ia terlihat semakin tampan dan berwibawa.
Tanpa sadar, senyum Andara mengembang. "Masya Allah... ganteng banget..." batinnya.
Namun... senyum itu perlahan memudar.
Di samping Kafa berdiri seorang perempuan yang sangat ia kenal.
Bu Giska. Dosennya sendiri.
Andara sontak mengernyit. "Lho... Bukannya ini makan malam keluarga? Kenapa Bu Giska ada di sini?"
Azzam dan Aira saling berpandangan sesaat. Mereka juga tampak sedikit terkejut.
Sementara Azra diam-diam melirik wajah adiknya yang perlahan berubah datar.
"Kafa..." panggil Azzam sambil tersenyum.
Kafa segera menghampiri. "Abi... Bunda."
Ia menyalami Azzam, lalu mencium tangannya dengan penuh hormat.
"Selamat ulang tahun, Nak. Semoga Allah selalu menjaga kamu, memberi kesehatan, keberkahan umur, dan memudahkan semua urusanmu."
"Terima kasih banyak, Bunda, Abi."
Giska kemudian melangkah maju. Ia mencium tangan Aira dengan sopan. "Assalamu'alaikum, Tante. Apa kabar?"
Aira tersenyum ramah. "Wa'alaikumussalam. Tante baik, nak. Kamu?"
"Saya juga baik."
Giska membalas senyumnya dengan ramah. Sementara kepada Azzam dan Azra, Giska hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai salam.
"Malam, Om."
"Malam."
Andara hanya berdiri memandangi semuanya. Tatapannya beberapa kali berpindah antara Kafa dan Giska.
"Wah, Kak Kafa bawa siapa itu?" tanya Azra penasaran. Wajah perempuan itu memang terasa asing baginya.
Kafa menoleh sekilas ke arah Giska. "Ini Giska. Abi dan Bunda sudah pernah kenal sebelumnya."
"Oh..." Azra mengangguk pelan. "Salam kenal, Mbak Giska."
Giska tersenyum ramah. "Salam kenal juga."
Sementara itu, Andara hanya terdiam. Tatapannya sempat bertemu dengan mata Giska sebelum ia buru-buru mengalihkan pandangan. Entah mengapa, dadanya terasa sedikit sesak melihat Giska berada di sisi Kafa pada malam ulang tahunnya.
Anehnya... Kafa pun tidak menyapa Andara secara khusus. Tidak menanyakan kabarnya. Tidak menyinggung luka di bibirnya. Seolah-olah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Sikap itu membuat hati Andara terasa sesak.
"Dia benar-benar menghindariku..." gumamnya dalam hati.
Kafa kemudian mempersilakan semuanya. "Ayo, duduk dulu."
Semua mengambil tempat masing-masing.
Azzam duduk di samping Aira. Azra memilih kursi di seberang mereka. Andara duduk paling ujung, tanpa banyak bicara.
Sementara Giska duduk tidak jauh dari Kafa. Pemandangan itu membuat Andara refleks menggenggam erat ujung gamisnya di bawah meja. Ia berusaha mengalihkan pandangan Namun matanya berkali-kali kembali melihat keduanya.
Kafa menuangkan minuman ke gelas semua orang satu per satu.
Ketika sampai di depan Andara, ia hanya meletakkan gelas itu tanpa menatap wajah gadis tersebut.
Andara menunduk. Entah mengapa, hal itu jauh lebih menyakitkan daripada jika Kafa memarahinya.
Keheningan akhirnya dipecahkan oleh Kafa. "Abi, Bunda. Silakan makan dulu. Nanti setelah selesai makan, Kafa ingin menyampaikan sesuatu."
Kalimat itu membuat semua orang mengangkat kepala.
Azzam tersenyum kecil. "Oh? Apa itu?"
Kafa hanya membalas dengan senyum tipis. "Nanti saja."
Sementara itu jantung Andara mendadak berdegup tak menentu. Ia memiliki firasat yang tidak enak.
***
Usai makan malam, suasana meja masih dipenuhi obrolan ringan. Pelayan baru saja selesai membersihkan piring-piring yang telah kosong.
Kafa berdeham pelan. "Abi, Bunda... boleh Kafa bicara sebentar?"
Azzam mengangguk. "Tentu."
Aira tersenyum hangat. "Ada apa, Nak?"
Kafa menarik napas panjang. Pandangannya sempat beralih kepada Giska yang duduk di sampingnya.
Giska ikut menundukkan kepala, tampak gugup.
Kafa kembali menatap Azzam dan Aira. "Jadi... kabar yang ingin Kafa sampaikan mungkin akan membuat Abi dan Bunda terkejut. Tapi semoga juga membuat Abi dan Bunda senang."
Aira tersenyum semakin lebar. "Wah... jadi penasaran. Apa itu, Nak?"
Kafa menggenggam kedua tangannya di atas meja. Lalu, dengan suara mantap ia berkata, "Kafa datang malam ini untuk meminta restu Abi dan Bunda."
"Kafa ingin segera melamar Giska."
Deg!
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰