Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diselamatkan Lagi
Setelah kepergian Paula, Aaron mengacak rambutnya frustasi, menendangkan kaki ke udara. Sungguh ia kecewa melihat dirinya yang memang terlihat seperti pecundang sejati. Ia ingin marah, tapi kepada siapa ia harus marah. Kekacauan yang ada adalah akibat ulahnya sendiri, ia tahu itu. Dan kapan semuanya harus berakhir, ia pun bertanya-tanya, karena yang ia tahu dan sadari, ia mulai tersesat dalam hubungan rumit yang menyesakkan.
Ia menginginkan Paula sejak lama, dan ia yakin Paula juga menginginkannya sama seperti dirinya. Tapi mendengar Paula menyebutnya orang asing kenapa rasanya sangat sakit sekali, dan yang membuatnya paling marah adalah saat gadis itu mengatakan dirinya terlihat seperti simpanan, apakah Paula tidak merasakan kerinduan yang sangat mendalam atas sentuhan yang ia berikan. Benarkah Paula ingin ia pergi lagi?
“Bodoh! Idiot!” Aaron memaki dirinya sendiri. “Sialan! Ck, Pax harusnya bertanggung jawab atas semua ini. Tapi pria bodoh itu justru menyebutku pecundang. Entah kapan semua ini akan berakhir.” Aaron mengusap wajahnya dengan kasar.
Aaron membawa nampan yang sudah disusun Paula dengan rapi. Di meja makan, ia sudah tidak menemukan Paula lagi. Meletakkan nampan tersebut, ia melayangkan tatapan, berharap Paula masih ada di ruangan itu.
“Kau membuat ulah apa lagi?” desisan Pax, membuatnya menoleh pada pria itu.
“Di mana, Paula?”
“Ck!” Pax berdecak kesal, memilih untuk tidak memberikan jawaban pada Aaron. Pax berdiri, beringsut dari tempatnya, berjalan mendekati Mommy-nya, lalu memberikan sebuah kecupan. “Aku harus pulang,” pamitnya.
“Tidak menginap di sini?” protes Daddy-nya yang diangguki oleh Mommy-nya.
Pax menggelengkan kepalanya, “Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, mungkin Lux akan menginap menggantikanku,” Pax menoleh, menatap Pollux yang sedang menikmati dessert yang dibawakan Aaron.
Pria itu terlihat sedang bercengkram bersama Ansel dan juga uncle mereka. Apa lagi yang mereka bahas jika tidak mengenai bisnis, dan pamannya pasti sedang berusaha membujuk putra tertuanya, Ansel untuk segera terjun ke perusahaan milik mereka, yang dengan tegas ditolak pria itu.
“Aku lebih suka bermain-main dengan pisau, Dad.” Ansel memberikan alasan. “Mintalah putrimu yang menanganinya.”
“Satu tahun, kami akan memberimu waktu satu tahun untuk bermain-main. Setelahnya kembali lah pada tanggung jawabmu yang sebenarnya.” Alceo, Ayah Ansel memberi keputusan dengan tegas.
Ansel mengidikkan bahu seakan tidak peduli, “Biar kupikirkan nanti,”
“Itu sudah keputusan, bukan penawaran.” Tegas Alceo.
“Itu membosankan, Uncle.” Pax menimbrung, berdiri di belakang Alceo dan memijat bahunya.
“Jangan meracuni otaknya hanya karena rumah sakit Willson tidak ingin kehilangan Dokter muda yang sangat berpotensi,” Alceo membalas ucapan Pax yang membuatnya tergelak.
“Ya, dedikasinya di rumah sakit bisa menghantarkan Mom dan Dad berkeliling dunia, berkat putramu, rumah sakit keluarga kita semakin di depan. Baiklah, Uncle, aku permisi dulu. Aunty, kau terlihat semakin mengagumkan,” Pax mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka.
***
Alena mengompres wajahnya dengan air es, tendangan Alexa cukup membuat wajahnya memar dan membiru. Selesai mengompres, ia mengoleskan salep di lukanya, agar memarnya cepat menghilang.
“Cih, dugaanku tidak salah, Kevin adalah Lotsu, dan bisa dipastikan dia ada hubungannya dengan kematian yang dialami, Dafa. Dafa sebelumnya juga sering menyebut nama Kevin. Mendekati Kevin, tidak mungkin lagi untuk sekarang. Pria itu bahkan dengan cepat tahu bahwa aku lah penyebab kecelakaan yang ia alami dan tahu bahwa aku juga lah yang menghajarnya. Hais, aku salah langkah dan memulai genderang perang dengan pria itu,” Alena membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menatap selembar foto pria yang ia sebut sebagai Dafa. “Kenapa aku masih tidak yakin kau sudah pergi? Aku merasakan kau masih hidup, lalu di mana kau sebenarnya?”
Tidak berapa lama, matanya pun terpejam. Baru beberapa menit tertidur, ia kembali terusik dengan suara gaduh di luar kamarnya. Ya, Alena tidak kembali ke rumahnya, tapi hotel yang ia sewa untuk beberapa bulan.
Alena turun dari ranjang secara perlahan, mengintip melalui lobang pintu dan melihat beberapa pria terlihat sedang berdebat dengan pelayan hotel. Alena tersenyum sinis, dua dari tiga pria yang berdebat dengan pelayan hotel, wajahnya ia kenali. Penjaga pintu masuk ke nightmare. Alena bisa menyimpulkan, Alexa dan Kevin adalah orang dalam tempat menyesatkan itu.
Alena segera bergegas, mengambil barang-barangnya yang memang tidak seberapa, ia segera ke luar melalui balkon, berharap pelayan hotel menahan lebih lama para pria bedebah yang sepertinya akan membuat perhitungan dengannya karena sudah dengan berani membuat ratu mereka kalah telak dan juga membuat Kevin masuk rumah sakit.
Alena tidak tahu apakah identitasnya sebagai Jessie sudah terbongkar, atau justru Kevin yang masih menaruh dendam kepadanya meminta orangnya untuk mengikutinya. Apapun alasannya, untuk saat ini ia harus kabur, menyelamatkan diri.
Alena mempercepat gerakannya begitu mendengar pintu kamarnya mulai didobrak paksa. Dengan gesit ia melompat dari lantai satu ke lantai lainnya. Alena mendarat dengan sukses di tanah, mendongak dan melambaikan tangan begitu ketiga pria itu menatapnya dari jendela.
Ketiganya bergegas ke luar, dan Alena pun segera melanjutkan aksi pelariannya. Ia mengambil ponselnya, menghubungi Josh dan meminta pria itu segera mengirimkan nomor ponsel Kevin.
Tidak berapa lama, ponselnya berbunyi, sebuah notif pesan masuk. Nomor ponsel milik Kevin. Tidak menunggu lama ia segera menghubunginya. Panggilannya dijawab.
“Wah Kevin, sepertinya kau sangat dendam sekali padaku sehingga memerintah beberapa orang untuk menyerangku. Yang menjadi pertanyaanku, kenapa bukan kau saja yang turun tangan, apakah kau takut padaku?” Alena tertawa, sengaja untuk mencemooh pria itu.
“Alena?”
“Ya, itu aku. Aku tersanjung kau mengingat namaku.”
Kevin tergelak, “Melihat kau yang masih bisa menghubungiku, itu artinya kau masih baik-baik saja. Tapi mendengar napasmu yang memburu, sepertinya kau dan orangku sedang bermain kejar-kejaran,” ucapan Kevin benar adanya, Alena menelepon sambil berlari, menghindar dari anak buah Kevin yang semakin mendekat.
“Sepertinya kau sangat kecewa, beberapa anak buahmu tidak berhasil melumpuhkanku.” Sahut Alena dengan santai. Dari percakapan mereka, Alena menduga bahwa sepertinya identitasnya sebagai Jessie belum terbongkar. “Tapi percayalah, peluru anak buahmu cukup melukaiku hari itu. Ayolah, bukankah kita sudah impas. Kau yang memulai berlaku kurang ajar padaku, jadi wajar saja aku mematahkan lenganmu...”
Ciiiittt!!
Decitan mobil yang direm secara mendadak membuat Alena terpekik kaget. Ia juga tidak menyadari bahwa ia berlari ke tengah jalanan.
“WOI... jika ingin bunuh diri, carilah tempat yang tidak merugikan orang lain,” Alena yang sedang membelakangi si pengendara segera berbalik untu meminta maaf.
“Kau?” Pax mengerutkan dahi begitu melihat Alena. Pertemuan mereka selalu di luar dugaan.
“Ya, aku.” Alena segera berlari mendekat ke arahnya, “Buka pintunya,” perintahnya yang dengan polosnya dituruti pria itu.
“Jalankan mobilnya, beberapa pria sedang mengejarku,” tunjuk Alena ke arah tiga pria tersebut. Pax mengerutkan dahinya, tentu saja ia mengenal pria-pria itu.
“Apa kau seorang penjahat?” Pax mulai melajukan mobilnya.
“Apakah aku terlihat seperti itu?”Alena balik bertanya.
“Ya, penjahat cantik yang mengagumkan,” Pax mengerling nakal. “Kejahatan apa yang sudah kau lakukan?”
“Mematahkan tangan pria mesum.”
“Woaahhh, selangkangaanku terasa ngilu kembali.”
“Jika gesreknya kumat, tidak akan ada obatnya,” Alena memalingkan wajahnya. “Aku menyukainya dalam mode kalem.” Alena bergumam.
“Bicaralah dengan bahasa yang mudah kumengerti, Nona,”
“BODO AMAT!” Alena memejamkan mata, memberi kode bahwa pembicaraan selesai. Ia butuh tidur.