NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

orang asing

"Tha, bentar lagi sampai. Aku sama Haseena udah di jalan, nih," ucap Wafiza sambil menjepit ponselnya di antara bahu dan telinga. Motor yang dikendarainya melaju pelan membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan.

Di belakangnya, Haseena hanya diam menikmati hembusan angin pagi. Tatapannya kosong menelusuri pepohonan yang berbaris di sepanjang jalan. Sudah beberapa hari berlalu sejak pemakaman Syafa, tetapi rasanya waktu seolah berhenti tepat di hari ketika ibunya mengembuskan napas terakhir.

"Ya ampun, cepetan, dong," suara Aretha terdengar dari seberang telepon. "Aku udah nunggu di taman hampir lima belas menit. Panas tau."

"Iya, iya. Lima menit lagi juga nyampe."

Telepon pun ditutup.

Hari itu mereka memang sudah berjanji bertemu. Sehari sebelum acara perpisahan sekolah, mereka ingin kembali membuat konten seperti biasanya. Selama beberapa hari terakhir akun media sosial mereka nyaris tak tersentuh. Tidak ada siaran langsung, tidak ada video baru, bahkan komentar para pengikut pun dibiarkan menumpuk tanpa balasan.

Bukan karena mereka kehilangan ide.

Melainkan karena salah satu dari mereka sedang belajar menerima kehilangan.

---

Motor Wafiza berhenti di depan taman kota yang dipenuhi pepohonan rindang. Beberapa keluarga terlihat sedang berpiknik, anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun, sementara pedagang kaki lima sibuk menawarkan jajanan kepada para pengunjung.

Di bawah sebuah pohon flamboyan, Aretha melambaikan tangan tinggi-tinggi.

"Woy!"

Haseena dan Wafiza tertawa kecil.

Baru saja Haseena turun dari motor, Aretha langsung berjalan cepat menghampirinya.

Tanpa berkata apa pun, ia merentangkan kedua tangannya.

Haseena memahami maksud sahabatnya.

Mereka berpelukan.

Pelukan itu berlangsung cukup lama.

Bukan pelukan untuk menyapa.

Melainkan pelukan yang mencoba menggantikan ribuan kalimat yang sulit diucapkan.

"Seen..." suara Aretha terdengar lirih. "Aku turut berduka cita, ya."

Haseena memejamkan mata.

"Semoga kamu tetap kuat. Aku yakin... suatu hari nanti kamu bakal jadi orang hebat. Cobaan sebesar ini nggak akan Allah kasih kalau kamu nggak mampu melewatinya."

Haseena tersenyum tipis meski matanya mulai berkaca-kaca.

"Aamiin."

"Terima kasih, Tha."

Beberapa saat mereka saling diam.

Wafiza yang sejak tadi berdiri di samping akhirnya membuka suara.

"Terus... tentang Kak Husna gimana, Seen?"

Haseena mengembuskan napas pelan.

Pertanyaan itu masih terasa menyakitkan, tetapi kini ia tidak lagi menghindarinya.

"Kemarin Abah dapat email dari tim pencarian."

Aretha dan Wafiza langsung menatapnya serius.

"Mereka bilang operasi pencarian resmi dihentikan. Cuacanya terlalu ekstrem dan sudah membahayakan tim penyelamat."

Suara Haseena mulai bergetar.

"Karena sampai batas waktu yang ditentukan nggak ada tanda-tanda keberadaan Kak Husna..."

"...beliau akhirnya dinyatakan meninggal dunia secara administratif."

Kalimat terakhir nyaris tak terdengar.

Hening.

Suara tawa anak-anak di taman terasa begitu kontras dengan kesunyian yang kini menyelimuti mereka bertiga.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." lirih Wafiza.

"Maaf, Seen," sambungnya pelan. "Aku nggak tahu kalau hasil pencariannya udah keluar."

Haseena menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Nggak apa-apa."

"Aku juga masih belajar nerima semuanya."

Ia mendongakkan wajah ke langit.

"Aku cuma berharap..."

"...di mana pun Kak Husna sekarang, semoga beliau benar-benar sudah tenang."

Tidak ada lagi yang berbicara.

Angin berembus pelan, menggugurkan beberapa bunga flamboyan hingga jatuh di sekitar mereka.

Aretha menepuk kedua tangannya pelan, berusaha mengubah suasana.

"Oke!"

"Nggak boleh sedih terus."

"Kita ke kafe dulu, yuk. Aku yang traktir."

Wafiza langsung mengangkat tangan.

"Setuju! Aku haus banget. Panasnya minta ampun."

Aretha tertawa.

"Kan tadi aku bilang cepetan."

Haseena ikut tersenyum.

"Boleh."

"Tapi habis itu kita bikin konten, ya."

"Nah, gitu dong!" seru Aretha sambil menggandeng kedua sahabatnya menuju sebuah kafe kecil di seberang taman.

Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari...

Dari balik batang pohon yang cukup jauh, seseorang berdiri memperhatikan langkah mereka.

Wajahnya tertutup topi dan masker hitam.

Di tangannya tergenggam sebuah ponsel yang sejak tadi diam-diam mengarah ke Haseena.

Beberapa detik kemudian...

Layar ponsel itu mati.

Sosok tersebut berbalik, lalu menghilang di antara keramaian taman.

Sementara Haseena terus berjalan tanpa sedikit pun menyadari...

Bahwa sejak hari itu...

Ia mungkin tidak lagi berjalan sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!