NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~23

Keesokan harinya, suasana di kamar Zia masih sunyi senyap. Semua orang sudah sibuk di dapur, kecuali Salsa. Ia terpaku di depan lemari pakaian sambil melipat baju dengan sangat rapi.

Sesekali gerakannya berhenti, matanya menatap kosong ke arah dinding, membawa pikirannya terbang entah kemana.

Salsa masih kebingungan dengan perasaannya sendiri. Namun, memori tentang momen-momen manis bersama Mas Charis mendadak berputar kembali di kepalanya, menerbitkan senyum tanpa beban di wajahnya.

Di luar kamar, langkah Zia yang baru saja kembali dari dapur terdengar terburu-buru. Ia berniat mengambil dompet untuk pergi ke pasar. Langkah kakinya yang penuh semangat mendadak terkunci tepat di ambang pintu saat pandangannya menangkap sosok Salsa yang tengah melamun sembari tersenyum.

Seketika, luka yang coba ia kubur kemarin kembali berdenyut perih. Rasa sakit itu kian menyesakkan dada ketika ia menyadari betapa renggangnya hubungan persahabatan mereka sekarang. Persahabatan yang dulunya begitu hangat dan tanpa rahasia.

Zia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menahan gemuruh di dadanya. Ia tidak ingin Salsa tahu betapa hancur hatinya, apalagi mengira dirinya sedang menaruh dendam.

Di tengah rasa sakit yang terus bertubi-tubi, Zia masih saja berusaha menjaga perasaan sahabatnya itu.

"Bismillah, Zia. Kamu enggak boleh marah, enggak boleh kelihatan sedih, dan jangan ketus. Oke?" bisik Zia dalam hati, menguatkan sisa-sisa keberaniannya sebelum melangkah masuk.

"Assalamu'alaikum," sapa Zia lirih, matanya sengaja dialihkan ke arah lemari tanpa mau menatap Salsa.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Salsa, tersentak dari lamunannya. "Eh, Zia..."

"Iya, Mbak," sahut Zia datar. Ia membuka pintu lemari dengan gerakan kaku untuk mencari dompetnya.

Meski otaknya memerintahkan untuk bersikap biasa saja, seluruh tubuh Zia menolak. Lehernya terasa kaku, enggan menoleh sedikit pun. Rasa kecewa yang telanjur mengendap terlalu dalam membuat dadanya sesak.

"Astaghfirullah, ada apa dengan aku? Kenapa rasanya sakit sekali sampai menatap wajahnya saja aku tidak sanggup? Aku sama sekali tidak ada niat sedikitpun untuk membencinya, Ya Allah. Tapi kenapa hati ini seolah melarangku untuk berbicara dengannya? Maafkan hamba..." batin Zia berkecamuk, merasa bersalah atas egonya yang tak bisa diredam.

Salsa menangkap perubahan drastis pada sikap Zia. Keheningan yang tercipta di antara mereka mendadak terasa mencekam dan mengintimidasi. Pikiran Salsa langsung dihantam rasa bersalah yang hebat.

"Kenapa sikap Zia mendadak sedingin ini? bisik Salsa cemas.

"Aku harus bicara dengannya. Tapi, apa dia mau mendengarkan penjelasanku, apakah dia masih bisa memaafkanku? Bismillah, aku yakin Zia masih punya sedikit ruang maaf untukku."

Menit demi menit berlalu, udara di dalam kamar seolah menipis. Suasana di antara kedua sahabat itu terasa begitu berat. Salsa dilingkupi ketakutan untuk memulai obrolan, sementara Zia mati-matian menahan benteng pertahanannya agar tidak runtuh. Seribu kali Zia meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja, seribu kali pula hatinya meneriakkan fakta yang sebaliknya. Menepikan luka ternyata tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan.

Akhirnya, Salsa memberanikan diri memecah keheningan yang menyiksa keduanya itu. "Eh, Zi... kamu lagi cari apa?" tanya Salsa, suaranya bergetar, sangat berhati-hati.

Zia tetap bergeming, tangannya terus membongkar tumpukan baju dengan gerakan yang mulai tidak beraturan. "Dompet, Mbak. Mau ke pasar," jawab Zia, suaranya terdengar datar dan dingin.

Seketika Zia merutuki dirinya sendiri. "Astaghfirullah, jangan ketus, Zia. Enggak boleh begitu."

Jawaban singkat dan dingin dari Zia laksana hantaman keras bagi Salsa. Dada Salsa berdenyut nyeri mendengarnya. Ia merindukan Zia yang dulu, merindukan kedamaian persahabatan mereka sebelum badai ini datang memporak-porandakan segalanya.

"Ya Allah, sakit sekali..." rintih Salsa dalam hati, menahan sesak sebelum mencoba lagi untuk memperbaiki keadaan.

Setelah menemukan dompetnya, Zia meraih botol parfum dan menyemprotkannya ke pakaian. Ia ingin menyamarkan bau asap dapur yang melekat di tubuhnya. Tanpa membuang waktu, ia menutup pintu lemari, berbalik, dan langsung melangkah menuju pintu luar tanpa sedikit pun melirik Salsa yang duduk hanya beberapa jengkal di sampingnya.

Namun, langkahnya kembali tertahan saat sebuah panggilan berat menghentikannya.

"Zi..." panggil Salsa. Nada suaranya terdengar begitu getir, sarat akan permohonan.

Zia menghentikan langkah. Ia menarik napas panjang, mencoba berdamai dengan gemuruh di dadanya. Ia sengaja tidak menoleh ke belakang, khawatir gerakannya akan terlihat seperti gestur membuang muka yang menyakitkan. Demi menyembunyikan kecanggungan, Zia berpura-pura memeriksa kantong kresek di rak dekat pintu.

"Iya, Mbak? Ada apa?" tanya Zia, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Salsa menatap nanar punggung Zia yang membelakanginya. "Kalau kamu ada waktu luang... aku mau bicara, Zi." Pertanyaan itu membuat dada Zia bergemuruh hebat, seolah dihantam ombak besar.

"Aku punya banyak waktu, Mbak. Aku juga berusaha untuk tidak membencimu. Tapi jujur, hatiku belum siap mendengarkan apa pun. Aku takut rasa sakitku membuat aku kehilangan kendali dan mungkin justru melukaimu lebih dalam," jerit Zia dalam hati.

Tanpa bisa dibendung, setetes air mata jatuh di pipinya. Zia dengan cepat mengusapnya sebelum Salsa sempat melihat. Ia tidak ingin membuat suasana yang sudah keruh ini menjadi semakin hancur.

Setelah berhasil menguasai diri, Zia mengembuskan napas perlahan. "Huft... iya, Mbak. Nanti malam saja, ya."

Salsa mengangguk lega, meski gumpalan sesak masih bersarang di dadanya. "Oke, Zi. Terima kasih ya.

"Iya, Mbak. Assalamu'alaikum."

Tanpa menunggu jawaban, Zia bergegas melangkah lebar meninggalkan kamar, melarikan diri sebelum pertahanan hatinya benar-benar hancur berkeping-keping.

Sementara itu, Salsa hanya bisa termangu menatap pintu yang kini telah kosong. Tatapannya layu, memandang lurus ke arah jalan depan kamar tempat Zia baru saja menghilang.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Salsa lirih, suaranya lemas bercampur suasana sepi kamar yang kembali mencekam.

***

Di tengah suasana kamar santri yang sedang mencekam, area dapur justru mendadak gempar oleh tawa. Penyebabnya tidak lain adalah gurauan receh dari Sindi, si santriwati yang mendadak merasa paling puitis sedunia. Targetnya kali ini adalah Ratna.

"Heh, kalian tahu nggak? Tadi waktu mengaji, bolpoinnya Ratna mendadak diam di tempat. Aku kira dia sedang khusyuk menghayati kitab Abah sampai ke relung jiwa. Pas aku nengok wajahnya... astaghfirullah, ternyata dia sudah begini!" Sindi memperagakan posisi kepala Ratna yang terantuk-antuk menahan kantuk dengan sangat akurat. Kalau urusan me-roasting teman, Sindi memang juaranya.

Semua orang di dapur langsung tertawa terkekeh. Mereka sudah khatam dengan tabiat satu sama lain, jadi tidak ada yang dimasukkan ke dalam hati. Seni saling meledek sudah menjadi makanan sehari-hari perekat persahabatan mereka.

Sementara itu, Ratna yang sedang mencuci piring langsung memasang wajah tidak terima. Tanpa aba-aba, ia mencipratkan air sabun ke wajah Sindi yang sedang sibuk memotong sayur. "Dasar tukang bongkar aib! Awas kamu, ya!" seru Ratna gembira sambil kembali memercikkan air sampai wajah Sindi basah kuyup.

"Sudah, woy! Ini namanya sabotase konsumsi! Kapan selesainya potong sayur kalau begini?" keluh Sindi.

Sindi mencoba mengusap air di wajahnya. Namun, ia tidak sadar bahwa tangannya penuh dengan remahan daun hijau. Alhasil, wajahnya kini sukses belepotan potongan sayur halus, mirip karakter fiksi Buto Ijo versi kearifan lokal.

Rara, yang sedang sibuk membantu Sinta memasak, langsung tertawa renyah. "Eh, Sin, sekalian saja wajahmu ditumis. Sudah hijau merata begitu, tinggal tambah garam."

Ratna tertawa puas tanpa henti melihat mahakaryanya. "Rasakan itu! Makanya jangan hobi mencari perkara. Ini namanya azab instan, dibayar tunai di dunia!"

Sindi yang penasaran langsung berlari mencari cermin di dekat lemari dapur. Begitu melihat pantulan dirinya, ia menjerit histeris. "Aaaaaah! Kok aku jadi mirip monster rawa begini?! Awas kamu, Ratna!"

Detik berikutnya, dapur luas itu berubah menjadi arena balap lari. Mereka berdua kejar-kejaran mirip Tom and Jerry versi syariah. Beruntung ukuran dapur mereka cukup lapang, sehingga cukup ramah untuk dijadikan tempat berputar-putar sebanyak lima keliling oleh kedua "bocah" tersebut.

Zia yang baru saja hendak melangkah masuk ke dapur langsung disuguhi pemandangan ajaib itu. Rasa sedih akibat ketegangan yang baru saja ia alami di kamar seketika menguap, digantikan tawa yang menggelitik perut.

"Ada-ada saja tingkah kalian berdua ini," gumam Zia sambil menggelengkan kepala. Ia segera melangkah ke tengah ruangan untuk menengahi tawuran tersebut. "Hust, sudah, sudah! Nanti kalau Abah tiba-tiba datang bagaimana?" ancam Zia.

"Tidak apa-apa, Zi. Biar sekalian mereka dihukum berdiri di depan asrama putra sampai jam malam. Lumayan, biar kapok," celetuk Sinta sambil menahan tawa sembari mengaduk masakan di wajan.

Mendengar nama asrama putra disebut, kedua "atlet lari" mendadak itu langsung mengerem mendadak. Napas mereka terengah-engah. "Ampun, Mbak, nggak diulang lagi," ujar Sindi sambil menautkan kedua tangannya, memohon kedamaian.

"Makanya berhenti. Lagian ada saja drama kalian setiap hari," kata Zia geleng-geleng kepala, habis pikir dengan kelakuan sahabat-sahabatnya.

"Ayo, Ra, antar aku ke pasar sekarang."

Rara yang dipanggil langsung menegakkan tubuh. Tangannya menempel di dahi, berposisi hormat gerak seperti sedang upacara bendera. "Siap, Mbak!"

Keduanya pun segera melangkah pergi, meninggalkan area dapur yang perlahan-lahan kembali kondusif, meskipun sisa-sisa tawa masih tertinggal.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!