Sempurna... Wanita Cantik, sexy, keturunan dari keluarga terpandang. namun sudah hidup seorang diri, kini sudah memiliki suami, namun tidak di perlakukan selayaknya istri. Bagaimana cerita Divine mendapatkan cinta suaminya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 22
Gara sudah pergi meninggalkan Divine.
Divine melanjutkan apa yang sedang mau ia lakukan tadi.
"lihat saja Tuan Gara aku akan membuat mu berlutut bilang cinta padaku " hahahaha Divine tertawa karena merasa geli dengan ucapan nya sendiri.
"sekarang aku sudah boleh melakukan apapun yang aku mau kan, ini saat nya memperbaiki rumah tangga ku yang kacau ini, walau sekarang dia sedang berperan sebagai ayah ku, aku akan melakukan yang bisa aku lakukan, hahaha tunggu saja kau Tuan Gara"
"ehh tapi kenapa dia tadi tidak mau saja bercerai dengan ku, kenapa malah mau jadi ayah ku" Divine terus berbicara, hingga terhenti karena memikirkan jawaban, alasan Gara tidak ingin bercerai dengannya.
Divine sudah merebahkan tubuhnya di tempat tidur mengenakan baju tidurnya yang biasa itu, pikirannya masih berlarian memikirkan alasan Gara hingga ia tertidur.
Gara sedang bermain Game di bawah bersama Ben. "Ben aku mau tidur" Gara sudah gak betah dari tadi mau balik ke kamar, tapi Ben menghalangi terus dengan kata-kata "sudah ga sabar mau lihat Divi ya", Gara yang gengsi nya sangat besar tidak mau menerima hal ini terpaksa ia terus menemani Ben bermain.
"baiklah, kamu sudah dari tadi mau balik, sana balik ke kamar, Divi sudah nungguin"
"terus ya, sampe ga ada gaji bulan ini"
mulut Ben yang celamitan tiba-tiba tertutup rapat.
mereka pun beranjak bersama, Gara lebih dulu sampai di kamarnya saat Gara membuka pintu kamarnya, Ben celingukan mau lihat ke dalam tapi Gara dengan cepat masuk dan menutup pintu kamar nya. ia melihat Divine sudah tertidur.
"sepertinya dia ketiduran, gak seperti biasanya dia tidur seperti ini" Gara menarik selimut dan menutupi tubuh Divine dengan selimut hingga ke leher Divine.
Gara pergi ke sisi tempat tidurnya, "egh ada yang lupa" Gara kembali menghampiri Divine, ia mencium kening divine yang tertutup rambut dan tiba-tiba detak jantungnya berdegup kencang. "ehh kenapa ini, ini sering terjadi akhir-akhir ini, aku harus bilang sama Ben besok dan periksa ke dokter, aku ga mau kalau mati muda, Aku belum punya anak".
"Hah anak" Gara memandangi istrinya yang sedang tidur lelap.
"Hah sudahlah, apa yang ku pikirkan ini". Gara berjalan menuju sisi tempat tidurnya, kini ia sudah berbaring dan meletakkan kedua tangan nya dibawah kepalanya.
"Kenapa malam ini tidak mati lampu, aku jadi ada alasan tidur dekat dia, atau ya petir guntur saja dia pasti akan menempel padaku" Gara tersenyum kecil.
Pikir Gara tidak mungkin dia tidur dekat-dekat divine dengan peran ayah lagi. Gara pun tertidur.
Pagi hari,
Gara terbangun dan melihat Divine sudah tidak ada, ia pun bergegas mandi dan memakai pakaian yang sudah di siapkan Divine. Gara pun turun dan menuju ke meja makan terlihat di sana sudah ada Ben dan Divine yang sedang menyiapkan sarapan pagi.
"selamat pagi Boss" ucap Ben saat melihat Boss nya sudah tiba di meja makan.
"ya pagi" Gara menduduki kursi yang sudah di tarik oleh seorang pelayan.
"apa yang terjadi semalam Boss, Divi semangat sekali hari ini pagi-pagi sudah memasak di dapur" Ben berbisik dan menaik turunkan alisnya.
Divi datang dan duduk di kursinya "ayoo silahkan di makan".
mereka semua pun mulai sarapan.
"waaawww ini enak sekali Divi" ucap Ben dan mengingat kata-katanya semalam "akhirnya aku bisa merasakan masakan Nona Divine, kalau begini aku tarik kata-kata ku semalam, aku mau tinggal disini saja, tidak mengapa jika aku harus gila karena tingkah Gara".
"terimakasih Ben, kamu terlalu memuji" ucap Divi dan melirik suaminya, namun orang yang ingin Divine senangkan hanya diam tidak berkata apapun.