Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Bayangan Masa Lalu
Satu bulan berlalu sejak Wang Dahu resmi menyandang status sebagai murid luar Sekte Awan Surgawi.
Selama rentang waktu itu, pola kesehariannya tampak begitu monoton. Setiap pagi ia bergabung dalam barisan latihan bersama ratusan murid lain, menyimak instruksi para penguji, lalu kembali ke kamarnya saat jadwal usai.
Namun, begitu jam wajib latihan selesai, Wang Dahu selalu menghilang dari pandangan.
Ia kerap menyusuri titik-titik terpencil di dalam kawasan sekte untuk menempa diri seorang diri. Terkadang di balik rimbunnya hutan bambu berkabut, di atas tebing batu yang sunyi, atau di dalam cekungan lembah kecil yang jarang terjamah kaki manusia.
Di sanalah ia membedah dan mengulang seluruh teknik bela diri yang telah dipelajarinya:
Pukulan dasar, sabetan telapak tangan, ilmu langkah bayangan, teknik pertahanan tubuh, hingga penguasaan pedang.
Ia tidak sekadar menghafal gerakan di luar kepala. Lebih dari itu, ia meresapi bagaimana setiap jurus diaplikasikan dalam situasi maut yang nyata.
Satu hantaman akurat jauh lebih bernilai dibanding sepuluh tebasan membabi buta yang menguras tenaga.
Satu langkah menghindar yang presisi bisa menyelamatkan nyawa.
Prinsip itu tertanam kuat di kepalanya.
Sementara itu, para pengawas suruhan yang bertugas memata-matainya mulai mengeluh frustrasi.
“Apakah kalian berhasil mendapati jejaknya?”
“Sama sekali tidak. Pemuda itu selalu menghilang begitu latihan selesai.”
“Dia bahkan tidak pernah terlihat melompati gerbang keluar sekte. Kami sudah menyisir semua jalur.”
Mereka tentu tidak tahu bahwa Dahu telah menguasai peta topografi sekte dan menemukan beberapa jalur rahasia alami untuk berpindah tempat tanpa terdeteksi.
Di dalam alam kesadarannya, si iblis mendengus. “Ulahmu ini sudah mirip tikus yang bersembunyi di liang gelap.”
Dahu menimpali dalam batin dengan tenang. “Setidaknya tikus tidak perlu risau ada penguntit kurang kerjaan yang mengawasinya.”
“Hmph! Jangan samakan aku dengan hewan itu!”
Di sisi lain kompleks sekte, Zhou Tianhe tampak duduk bersantai di sebuah paviliun mewah bersama seorang pemuda berbalut jubah putih bersulam perak—simbol status murid dalam.
Pemuda itu bernama Zhou Mingxuan.
Ia adalah kakak seperguruan Zhou Tianhe sekaligus kerabat dari satu marga keluarga Zhou yang memiliki pengaruh lumayan di dalam struktur sekte. Selain bakat kultivasinya yang di atas rata-rata, Zhou Mingxuan dikenal ambisius dan memiliki koneksi luas dengan para senior murid dalam lainnya.
Namun, ada satu motif personal lain yang membuatnya tertarik mendengarkan keluh kesah Zhou Tianhe: Liu Yuran.
Wanita berparas jelita itu merupakan salah satu muteri berbakat di jajaran murid dalam yang sudah lama diincarnya untuk didekati.
“Kau bilang pemuda bernama Wang Dahu itu sempat berinteraksi langsung dengan Liu Yuran di perpustakaan?” selidik Zhou Mingxuan menyipitkan mata.
Zhou Tianhe mengangguk geram. “Benar, Kakak Senior! Aku sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa sampah dari desa antah-berantah itu bisa kenal dengannya. Tapi semenjak insiden di perpustakaan, aku merasa bajingan itu sengaja mencari muka.”
Zhou Mingxuan menyesap tehnya perlahan. “Apakah Liu Yuran menaruh perhatian khusus padanya?”
“Entahlah, tapi aku benci melihatnya!” Wajah Zhou Tianhe memerah padam. “Dia cuma murid luar rendahan, Kakak. Aku tidak paham kenapa para Tetua seolah membiarkan tingkahnya.”
Zhou Mingxuan meletakkan cangkirnya dengan anggun. “Kalau begitu, selidiki latar belakangnya lebih dalam. Aku ingin tahu seberapa bersih akar rumput pemuda bernama Wang Dahu itu.”
Zhou Tianhe tersenyum penuh kemenangan. Dengan backingan sang kakak senior, ia merasa di atas angin untuk menghabisi riwayat Dahu.
Malam terakhir di bulan pertama.
Di tengah keheningan lembah terpencil, Wang Dahu duduk bersila di atas bongkahan batu datar.
Pusaran energi spiritual alam perlahan bergemuruh, tersedot deras menembus pori-pori kulitnya dan mengalir memenuhi jalur meridian. Setelah sebulan penuh menempa diri tanpa kenal lelah, dinding pembatas di dalam tubuhnya akhirnya menunjukkan tanda-tanda melunak.
Pusaran Qi berputar makin kencang. Jalur meridian yang telah terbuka bergetar hebat, sementara cadangan energi di dantiannya memadat pekat.
BOOM!
Sebuah gelombang kejut tenaga spiritual meledak keluar dari tubuhnya, membuat kerikil-kerikil di sekitar batu bergetar keras.
Dahu membuka kedua matanya perlahan. Secercah pendar cahaya melintas tajam.
“Pembukaan Meridian tingkat kedua.”
Ia mengepalkan tinjunya. Sensasi kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya kini jauh lebih kokoh dan stabil dibanding sebelumnya.
Di dalam ruang kesadaran, si iblis tertegun sejenak. “Kecepatan perkembanganmu benar-benar di luar nalar manusia normal.”
Dahu tersenyum tipis. “Bukankah kau sudah sering memuji sekaligus mengomeliku soal itu?”
“Aku sedang heran, bukan memuji, bodoh!”
“Kalau begitu, anggap saja itu pujian.”
Si iblis mendengus kesal. Namun sesaat kemudian, tatapannya beralih meneliti perubahan struktur raga Dahu, hingga ia menyadari satu hal krusial.
“Anak muda... rasakan baik-baik sirkulasi energimu.”
Dahu mengernyit. “Ada apa?”
“Selama ini kukira metode penyamaran kekuatanmu murni karena tekanan formasi bawaan di meridianmu. Tapi sekarang aku baru paham...” Si iblis menatap lekat-lekat ke arah gerbang hitam di kejauhan, di mana rantai-rantai kuno bergetar lembut. “Sebagian sisa kekuatanku ternyata telah menyatu secara permanen dengan ragamu. Bukan cuma melipatgandakan fisikmu, tapi juga berfungsi mengaburkan level kultivasimu dari pandangan luar.”
Dahu terkesiap. “Mengaburkan kultivasi?”
“Betul. Orang lain tidak akan pernah bisa membaca tingkat kekuatanmu yang sesungguhnya. Mereka hanya akan mendeteksi lapisan aura semu yang terpancar di permukaan kulitmu.”
“Seberapa efektif kemampuan itu?”
Si iblis tertawa meremehkan. “Jangan meremehkannya. Bahkan para Tetua di sekte ini dipastikan tidak akan mampu menembus selubung penyamaran ini.”
Dahu mengangkat sebelah alisnya. “Artinya, mereka tidak akan tahu kalau aku sudah menembus tingkat kedua Pembukaan Meridian?”
“Tepat sekali!” si iblis menegaskan. “Saat ini, siapa pun yang memeriksamu hanya akan melihatmu berada di puncak Ranah Pengumpulan Qi. Semakin tinggi kau naik, makin sempurna tabir penyamarannya. Selama kau tidak dengan sengaja memamerkannya, dunia luar hanya akan melihat level murahan yang kau izinkan untuk terlihat.”
Sebuah senyum penuh arti merekah di bibir Dahu. “Kemampuan yang sangat berguna.”
“Tentu saja! Kau pikir kekuatan seorang iblis purba itu main-main?”
“Kalau begitu, aku harus lebih berhati-hati agar penyamaran ini tidak bocor.”
“Setidaknya otakmu kali ini dipakai dengan benar.”
Keesokan harinya, Wang Dahu kembali melangkahkan kaki menuju perpustakaan sekte.
Meski ia telah menelan habis literatur lantai satu dan dua, ia tetap menyukai atmosfer tempat itu yang sunyi, jauh dari kebisingan latihan fisik maupun persaingan antar murid.
Ia mengambil sebuah gulungan babad sejarah wilayah timur, lalu duduk tenang di pojok ruangan.
Sang penjaga perpustakaan meliriknya sekilas sambil menggelengkan kepala. Anak itu lagi... kerjanya cuma bolak-balik halaman buku secepat kilat.
Dahu tidak peduli dengan pandangan orang.
Namun di tengah keheningan membaca, sebuah aroma wangi yang lembut tiba-tiba tercium di dekatnya.
“Kita bertemu lagi, Wang Dahu.”
Dahu mendongak.
Seorang wanita berbalut jubah putih keperakan khas murid dalam berdiri anggun di hadapannya. Rambut hitam legamnya tergerai rapi, memancarkan pesona kecantikan yang elegan.

Liu Yuran.
Dahu menutup gulungan di tangannya dengan tenang. “Salam, Kakak Senior.”
Liu Yuran menyunggingkan senyuman tipis. “Tidak usah terlalu kaku begitu. Sepertinya kau sangat rajin mengunjungi tempat ini.”
“Tempat ini tenang. Aku menyukainya.”
“Apa kau tidak bosan membaca buku-buku tebal setiap hari?”
“Tidak. Pengetahuan di dunia ini terlalu luas untuk dilewatkan.”
Liu Yuran menatapnya lekat-lekat. Sebagian besar murid luar yang berpapasan dengannya selalu menunjukkan gelagat gugup, salah tingkah, atau terang-terangan mencari perhatian. Namun pemuda di hadapannya ini bersikap sangat santai, seolah ia sedang berbicara dengan orang biasa di pinggir jalan.
“Namamu benar Wang Dahu, kan?” tanyanya memastikan.
“Benar, Senior.”
“Apakah keluargamu adalah kaum kultivator?”
“Bukan. Aku berasal dari Desa Cangmu.”
Senyum di wajah Liu Yuran seketika membeku.
Desa Cangmu?
Nama tempat itu bergeming keras di kepalanya, memicu ingatan usang yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Beberapa waktu lalu, di sebuah desa terpencil yang nyaris tak berpenghuni, ada seorang pemuda bertubuh gemuk menjijikkan yang secara lancang menyatakan perasaan suka kepadanya. Pemuda kumal itu nekat menyerahkan sebuah jepit rambut murah sebagai persembahan.
Saat itu, Liu Yuran merasa jijik luar biasa. Ia menghina pemuda itu habis-habisan di hadapan publik—mencaci penampilannya yang gemuk, bodoh, tidak berguna, dan ditakdirkan menjadi sampah fana selamanya.
Bahkan, ia dengan sengaja menghancurkan jepit rambut pemberian itu di depan mata pemuda tersebut tanpa rasa bersalah.
Dan siapa nama pemuda menyedihkan itu?
Wang Dahu!
Mata Liu Yuran membelalak lebar. Ia mengamati pemuda di depannya dari ujung kepala sampai kaki.
Wang Dahu. Nama yang identik. Asal desa yang sama.
Tapi... bagaimana mungkin?!
Pria tambun yang dulu tak layak menatap matanya kini bertransformasi menjadi sosok pemuda tegap berpostur proporsional, berwajah tampan tegas, dan memiliki aura ketenangan luar biasa. Perubahan fisik itu bagaikan langit dan bumi.
“A-apakah... kau sudah tinggal di Desa Cangmu sejak kecil?” tanyanya dengan nada suara yang mulai bergetar.
Dahu mengerutkan kening tipis melihat perubahan ekspresi wanita itu. “Ya. Aku dibesarkan di sana.”
Jantung Liu Yuran berdegup kencang tak karuan. Ia hampir seratus persen yakin. Namun akal sehatnya masih menolak mempercayai bahwa pemuda karismatik di hadapannya adalah orang yang sama dengan si gemuk buangan masa lalu.
“Apa... apa kau pernah mengenal seseorang bernama Liu Yuran sebelum masuk sekte ini?” desaknya hati-hati.
Dahu menatap manik mata wanita itu lekat-lekat beberapa detik. Kemudian, sebuah senyum hambar terukir di bibirnya.
“Nama itu cukup populer. Tentu saja aku pernah mendengarnya.”
Jawaban mengambang itu membuat Liu Yuran dilanda dilema hebat—antara lega karena mengira mereka orang yang berbeda, sekaligus gelisah tak menentu.
“Begitu rupanya...” gumamnya pelan.
Dahu sama sekali tidak berniat mengungkit luka lama. Bagi dirinya, babak hidup bernama Wang Dahu si pemuda bodoh yang memuja wanita arogan sudah lama mati di parit desa. Ia tidak datang ke sekte untuk menagih utang masa lalu ataupun memohon validasi dari siapa pun.
Liu Yuran menarik kursi di dekatnya dan duduk dengan gelisah. “Lalu... siapa yang membimbing kultivasimu?”
“Aku belajar sendiri dari buku-buku dasar.”
“Belajar otodidak? Itu mustahil bagi orang kebanyakan.”
“Memang sulit. Makanya aku harus membayar usahanya dengan kerja keras.”
Semakin lama Liu Yuran mengamatinya, semakin kuat rasa penasarannya bercampur rasa bersalah yang aneh. Pemuda ini tidak pamer, tidak angkuh, dan sama sekali tidak terpesona oleh statusnya sebagai murid dalam.
“Kau benar-benar sosok yang unik, Wang Dahu,” puji Liu Yuran tulus.
“Terima kasih atas sanjungannya, Senior.”
Setelah bertukar kalimat singkat, Dahu kembali membuka bukunya, mengisyaratkan bahwa percakapan telah usai.
Liu Yuran bangkit berdiri dengan pikiran berkecamuk hebat. Bayangan pemuda tambun yang ia injak-injak harga dirinya di masa lalu terus berkelebat di benaknya, bertubrukan dengan sosok tenang di hadapannya.
Apakah mereka benar-benar orang yang sama?
Dan jika iya... apakah dia menyimpan dendam padaku?
“Aku harus pergi dulu,” pamit Liu Yuran canggung. “Semoga kita bisa mengobrol lagi lain waktu.”
“Silakan, Senior.”
Liu Yuran melangkah meninggalkan perpustakaan dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
Sementara Dahu kembali fokus membaca, sementara si iblis di dalam batinnya tertawa mengejek. “Wah, wah... mantan pujaan hatimu mulai menyadari siapa dirimu yang sebenarnya, bocah.”
Dahu merespons dingin dalam hati. “Dia cuma wanita masa lalu yang salah mengenali orang. Tokoh dalam cerita itu sudah lama mati.”
Malam harinya, di kamar asrama, Dahu kembali memusatkan pikiran menyerap energi.
Tanpa ia ketahui, di belahan sekte yang lain, laporan intelijen tentang dirinya sudah mendarat di tangan Zhou Mingxuan, dan badai persaingan yang sesungguhnya bersiap menghantam jalurnya dalam waktu dekat.