Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 22
Batu-batu tebing di sepanjang selasar luar kantin masih membiaskan sisa hawa dingin sore ketika tiga anak desa itu menjejakkan kaki ke pelataran terbuka. Namun, keheningan yang diharapkan usai bentrokan di dalam kantin rupanya tak bertahan lama. Belum sempat Ruan Xi'er menepuk debu yang menempel di ujung jubahnya, helaan napas kuda dan derap langkah kaki berat yang teratur mendadak mengepung lorong keluar.
"Tahan langkah kalian!" seru sebuah suara nyaring yang bergema tebal di balik pilar batu utama.
Delapan orang murid tingkat dua berjubah biru tua berhias sulam perak mendadak muncul dari dua sisi selasar, membentuk barikade melingkar yang menutup rapat jalan menuju Kompleks Asrama Barat. Mereka bukan lagi murid baru yang ceroboh, melainkan petarung jajaran atas dari perkumpulan murid senior yang bertindak sebagai pengawal pribadi klan besar di dalam akademi.
Di barisan terdepan kelompok itu, melangkah seorang pemuda jangkung berwajah dingin bernama Lu Ming. Di tangannya, menggantung sebilah pedang tipis lentur bertatahkan batu akik merah—senjata yang terkenal akan kecepatan tusukannya yang sulit dibaca mata telanjang.
"Senior Lu Ming!" panggil Mo Qi yang baru saja berlari keluar dari kantin dengan wajah masih pucat. "Bocah berkerudung linen itu menggunakan ilmu terlarang untuk merusak meja dan merobohkan Chen Xiang! Dia harus ditangkap!"
Lu Ming mengangkat tangan kanannya pelan, menghentikan igauan Mo Qi. Matanya yang sempit dan tajam menatap Shen Jue dengan kecurigaan yang tebal.
"Melukai murid lain di area fasilitas akademi adalah pelanggaran berat," kata Lu Ming dengan nada suara dingin dan menindas. "Terlepas dari trik apa yang kau pakai untuk merobohkan Chen Xiang, kalian bertiga harus menyerahkan senjata kalian dan ikut bersama kami ke Balai Disiplin."
Xi'er melangkah maju satu tindakan, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Mereka yang menyerang kami duluan! Kenapa kami yang harus menyerahkan senjata?!"
"Di Asrama Barat, kata-kata murid senior adalah kebenaran," sahut Lu Ming angkuh sambil menarik pedang tipisnya dari sarung. "Kalau kalian menolak secara halus, kami terpaksa menggunakan kekerasan."
Sret!
Dua murid senior bertubuh kekar di sebelah Lu Ming langsung memanggil Roh Senjata mereka—dua buah Perisai Besi Berat yang memancarkan pendar cahaya cokelat tanah. Mereka melompat maju bersamaan, sengaja menghantamkan perisai tebal mereka ke arah Gongsun Zhi untuk mengunci ruang gerak Tombak Besi Hitam-nya.
Brakkk!
Gongsun Zhi menahan benturan dua perisai berat itu dengan batang tombaknya. Meskipun fisiknya kokoh bagai karang, dorongan gabungan dua murid senior tingkat dua itu berhasil mengunci ayunan tombaknya dalam himpitan besi yang amat rapat. Di saat yang sama, dua petarung lain meluncur dari samping untuk memblokir pergerakan Xi'er menggunakan jaring energi.
"Gongsun! Xi'er!" panggil Shen Jue tenang.
Lu Ming tersenyum culas saat melihat dua rekan Shen Jue berhasil ditahan. Bagi Lu Ming, pemuda berkerudung abu-abu yang berdiri sendirian di tengah pelataran itu tidak lebih dari seorang pemikir lemah yang mengandalkan perlindungan teman-temannya.
"Sekarang giliranmu, bocah penipu," gertak Lu Ming penuh percaya diri.
Wusss!
Pedang tipis di tangan Lu Ming meledak dalam pendar cahaya merah menyala. Tubuhnya meluncur deras bagai anak panah yang terlepas dari busurnya, memangkas jarak lima meter dalam sekejap mata. Ujung pedang tipisnya bergetar hebat di udara, membiaskan lima bayangan tusukan palsu yang membingungkan mata, semuanya mengincar titik vital di dada dan leher Shen Jue.
Ini adalah *Teknik Tujuh Bayangan Jarum*, jurus tusukan tercepat di antara murid tingkat dua yang terkenal tak pernah gagal melumpuhkan lawan dalam sekali serang.
Beberapa murid yang mengintip dari balik jendela kantin menahan napas cemas, membayangkan Shen Jue akan roboh tersungkur oleh tusukan mematikan tersebut.
Namun, di hadapan lintasan lima tusukan cepat itu, mata gelap Shen Jue sama sekali tidak berkedip. Insting bertarung dari kehidupan lalunya membaca pergerakan Lu Ming bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai deretan alur otot yang penuh dengan celah terbuka.
Shen Jue tidak melangkah mundur. Ia justru mengambil satu langkah pendek ke depan, mengikis jarak tembak ideal milik pedang panjang lawan.
Sret!
Dari saku jubah linen abu-abunya, belati kecil berkarat sepanjang satu jengkal itu meluncur keluar ke telapak tangan kanan Shen Jue. Gerakannya teramat halus, hampir tanpa desiran angin.
Dalam hitungan sepersekian detik, sebelum ujung pedang Lu Ming sempat menyentuh serat pakaian Shen Jue, tubuh Shen Jue memiring secara eksentrik. Ia menyusup tepat di antara celah lima bayangan tusukan palsu lawan dengan kelincahan yang rasional dan efisien.
"Apa?!" seru Lu Ming terperanjat saat tusukannya hanya mengenai angin hampa.
Sebelum Lu Ming sempat menarik kembali lengannya, Shen Jue memutar pergelangan tangannya. Ujung belati berkarat itu tidak diayunkan untuk memotong atau menyayat daging, melainkan ditusukkan dengan ketukan yang sangat ringan, presisi, dan secepat kilat ke tiga titik saraf utama di tubuh Lu Ming.
Tuk! Tuk! Tuk!
Ketukan pertama mendarat tepat di titik *Shousanli* di bawah siku kanan Lu Ming, memutus seketika aliran energi spiritual yang sedang membanjiri lengan pemegang pedangnya.
Ketukan kedua menghantam titik *Jianjing* di pangkal bahu, membuat seluruh sel otot dada Lu Ming kejang mendadak.
Dan ketukan ketiga, yang dilakukan dengan totokan halus pangkal belati, mendarat tepat di titik *Qihai* di bagian perut bawah.
Seluruh rangkaian tiga totokan itu terjadi dalam satu hembusan napas yang teramat singkat—begitu cepat hingga mata para murid senior di sekitarnya hanya melihat kilatan bayangan abu-abu yang bergetar tipis di udara.
Ujung pedang tipis Lu Ming seketika padam dari pendar cahaya merahnya. Matanya membulat lebar dalam ketakutan yang luar biasa saat ia mendapati seluruh lengan kanannya mendadak mati rasa total, lumpuh tak berdaya seolah-olah ikatan sarafnya telah dipotong dari dalam.
"Ugh... a-apa yang kau lakukan pada tanganku?!" jerit Lu Ming histeris, pedang mewahnya terlepas jatuh menghantam lantai batu.
Shen Jue tidak memberikan jawaban verbal. Dengan gerakan langkah kaki *Langkah Bayangan* yang dingin, tubuhnya bergeser cepat bagai angin malam, menyusup ke tengah-tengah formasi enam murid senior yang masih terpana.
Sswwt! Tuk! Tuk!
Shen Jue bergerak di antara kepungan musuh bagai penari di tengah badai. Setiap kali belati kecil berkaratnya berkelebat tipis, selalu terdengar ketukan halus yang disusul oleh erangan tertahan. Shen Jue mengincar titik-titik saraf persendian dan pembuluh darah utama lawan dengan ketepatan anatomi yang sempurna.
Totokan pada titik *Neiguan* di pergelangan tangan membuat dua murid pemegang perisai berat mendadak kehilangan daya cengkeram, menyebabkan perisai besi mereka jatuh meluncur menghantam kaki mereka sendiri.
Totokan pada titik *Futu* di paha membuat dua murid pengguna jaring melintir jatuh terjerembap dengan lutut yang terkunci kaku.
Hanya dalam kurun waktu lima detik penuh, delapan murid senior tingkat dua yang tadinya berdiri angkuh mengepung pelataran kini semuanya tergeletak dan terduduk kaku di atas tanah batu. Tidak ada darah yang mengalir, tidak ada luka tebasan yang menganga, namun tubuh mereka gemetar hebat, sama sekali tak sanggup menggerakkan jemari atau memanggil energi spiritual mereka kembali.
Atmosfer di pelataran luar kantin mendadak sunyi senyap, dicengkeram oleh keheranan yang teramat tebal dan mencekat dada.
Xi'er dan Gongsun Zhi yang baru saja terbebas dari himpitan perisai berdiri terpana dengan mata membulat lebar. Mereka menatap Shen Jue yang berdiri tenang di tengah-tengah delapan murid senior yang mengerang lumpuh di atas tanah.
Shen Jue memutar belati berkaratnya secara perlahan di antara jemarinya, mengibaskan debu tak kasat mata di ujung logam tua itu sebelum memasukkannya kembali ke balik saku jubah abu-abunya.
"Otot dan saraf manusia selalu punya jalur aliran yang sama," pungkasi Shen Jue datar sambil merapikan kerudungnya yang agak miring. "Tanpa perlu membuang energi spiritual secara berlebihan, mematikan tiga titik utama sudah cukup untuk membuat petarung terkuat sekalipun menjadi patung bernapas."
Gongsun Zhi menelan ludah kasar, menatap sahabat sekamarnya itu dengan rasa hormat yang kian membuncah mendalam. Kecepatan dan presisi totokan Shen Jue tadi bukan lagi sekadar teknik bertarung biasa, melainkan penguasaan tingkat tinggi atas struktur fisik manusia yang teramat langka.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah pergi dari pelataran yang mencekam itu, sebuah wibawa suara yang amat berat dan sarat akan energi spiritual tingkat tinggi mendadak menggema dari arah tangga atas.
"Hentikan kekacauan ini!" seru suara tua yang menggetarkan batu-batu dinding di sekitar mereka.
Sesosok pria tua berjubah hitam dengan janggut putih panjang melangkah turun dari selasar atas, didampingi oleh dua pengawal balai disiplin. Tatapan matanya yang tajam bagai elang menatap luruh ke arah delapan murid senior yang lumpuh di tanah, lalu terpaku lurus pada wajah Shen Jue yang tetap tenang tanpa cela.