(Buku ini sedang direvisi penulis untuk pengalaman membaca lebih baik)
*****
Shena yang baru ditinggal menikah oleh pacarnya pergi ke Afrika Selatan untuk bersafari menghibur diri. Dalam perjalanan, Shena satu pesawat dengan seorang dokter bedah tampan yang akan melamar pacarnya yang juga seorang dokter dan bekerja di Afrika.
Malangnya, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan dan mendarat darurat di hutan belantara sesaat sebelum mereka tiba di Johannesburg.
Firza, sang dokter bedah berhasil membawa Shena keluar dari pesawat.
Dan di tengah kekacauan dan kesulitan mereka untuk bertahan hidup sambil menunggu bantuan, ternyata ada sosok makhluk yang mengintai mereka.
Akankah para penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup?
Mampukah Shena bertahan dari makhluk hutan dan pesona Firza yang telah memiliki pacar?
Originally Story by juskelapa
Insta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Para Teman Baru
Mata Shena masih melihat helikopter yang membawa Firza semakin menjauh dan hilang dari pandangan. Dia baru menyadari ada seorang petugas yang sedari tadi sedang berbicara kepadanya.
Terburu-buru wanita itu menghapus airmatanya untuk menoleh menghadap petugas yang berdiri sambil membawa papan dan menuliskan sesuatu. Helikopter yang membawanya tadi kini sudah pergi menjauh menuju hutan, mungkin untuk menjemput Hilmi dan teman-temannya yang lain.
Terlihat banyak orang berkumpul di pos penjagaan yang kesemuanya berbicara dalam bahasa lokal. Shena mengisi sebuah form yang disodorkan padanya dengan setengah melamun.
Di tangan kirinya tergenggam sebuah cangkir kertas berisi teh yang asapnya masih mengepul. Tujuannya melakukan perjalanan sendirian ke Afrika adalah untuk menikmati waktu bersama dirinya sendiri.
Tapi entah kenapa meski keadaan di sekelilingnya sudah aman dan tampak normal hatinya merasa ada sesuatu yang kurang.
Sebuah helikopter kembali mendarat dan para petugas mendatangi heli itu dengan sebuah tandu, Shena melongokkan kepalanya untuk melihat siapakah gerangan penumpang heli itu.
Ketika seorang wanita asia dinaikkan ke atas tandu dan seorang pria berjalan menemani di sebelahnya Shena langsung mengenali itu adalah Chen dan Mei.
Para petugas langsung menggiring mereka menuju sebuah ambulans yang sudah terparkir sejak tadi menunggu.
Petugas yang berada di dekat Shena menawarkan padanya untuk ikut ke dalam ambulans yang juga membawa Chen dan istrinya, tapi Shena menolak.
Dia mengatakan akan menunggu ketiga orang temannya yang lain. Iya. Shena sedang tak ingin sendirian sekarang, Chen akan fokus merawat istrinya.
Shena merasa bersama pasangan itu pasti kurang mengenakkan suasana di antara mereka. Jadi dia memutuskan menunggu ketiga pemuda untuk bersama-sama menuju rumah sakit terdekat.
Di antara percakapan para petugas yang sangat riuh dan membingungkan Shena menangkap beberapa kalimat yang bisa dicernanya. Ada beberapa penumpang selamat lainnya yang ditemukan di sisi lain hutan oleh Tim Pencari lain.
Informasi yang diperoleh dari salah satu penumpang itu mengatakan bahwa jumlah mereka sebelumnya ada tujuh orang. Salah seorangnya merupakan Pramugara pesawat dan keenam lainnya penumpang pesawat itu. Seorang wanita tua meninggal pada hari keempat karena sakit, dan mayatnya ditemukan tidak jauh dari posisi mereka ketika ditemukan.
Dan dua orang penumpang lainnya menghilang saat terpisah. Jadi jumlah mereka saat ditemukan hanya tersisa empat orang.
Dari total ratusan penumpang dan awak kabin hanya tersisa sebelas orang yang selamat. Bisa jadi sebenarnya banyak yang keluar dari pesawat itu hidup-hidup, tapi kebanyakan tidak bisa bertahan hidup di dalam hutan itu.
Shena bergidik membayangkan apa yang dialami oleh masing-masing penumpang itu. Dan satu hal yang sangat membuatnya heran adalah tak seorang pun petugas menanyakan perihal sisa bangunan yang hangus terbakar di hadapan mereka di hutan tadi. Seolah semua petugas tadi tidak melihat hal apa pun.
Shena memikirkan kata-kata 'wanita tua yang meninggal di hari keempat karena sakit' apakah itu Ibu temannya seperjalanan menuju Singapura? Atau itu orang yang berbeda?.
Shena hanya bertanya-tanya dalam pikirannya. Belum sanggup untuk banyak bicara, bertanya atau memikirkan nasib orang lain. Karena pikirannya sudah penuh sesak oleh seseorang yang dibawa pergi dengan heli tadi.
Tak berapa lama sebuah heli kembali mendarat, dan Shena memberitahu petugas bahwa dia pasti akan ke rumah sakit bersama orang yang keluar dari heli itu. Shena memikirkan soal ponsel, paspor dan dompetnya yang berada di dalam tasnya.
Tas itu terakhir kali ditinggalkan di tepi sungai tempat mereka terakhir bermalam. Tas yang selama di hutan seperti menjadi milik Firza, pria itu menjepitnya di lengan kemana pun mereka pergi. Belum sejam berlalu dan Shena sudah merindukan pria itu.
...--oOo--...
Shena dan ketiga pemuda tiba di sebuah rumah sakit lokal milik pemerintah. Dalam perjalanan ke rumah sakit mereka membahas soal hal yang sama dengan di pikiran Shena.
Mereka berbicara dalam bahasa melayu, sehingga mereka memastikan tak ada seorang pun petugas yang duduk di dekat mereka mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
Ternyata hal yang mereka semua pikirkan sama. Kenapa semua petugas dan orang-orang terlihat tidak mempedulikan bangunan di tengah hutan yang terbakar.
Kenapa tidak ada yang bertanya pada mereka tentang hal yang terjadi di hutan. Dan mereka semua seperti menangkap atmosfer aneh, bahwa hal itu merupakan suatu hal yang tabu untuk dibahas.
Di dalam ambulans tadi mereka sepakat untuk tidak membicarakan apa yang terjadi di hutan jika tidak ada yang menanyakannya secara terang-terangan kepada mereka.
Karena beberapa dari mereka juga telah melakukan pembunuhan meski terhadap makhluk aneh, apapun alasannya mereka tidak ingin membuat urusan itu menjadi panjang dan menyebabkan mereka tertahan di negara itu lebih lama.
Seluruh bukti yang mendukung keberadaan makhluk itu juga telah hangus terbakar. Dan mereka ragu akankah kepolisian negara itu mempercayai perkataan turis orang asing. Sepertinya mustahil.
Keinginan mereka bersafari di negara itu telah lama menguap sejak malam pertama mereka tiba. Safari mereka di hutan belantara selama empat malam sudah lebih dari cukup untuk memenuhi memori mereka akan negara itu.
Kesemuanya memiliki keinginan yang sama, kembali secepatnya ke negara asal mereka setelah urusan mereka selesai di negara itu.
...--oOo--...
Shena mendapatkan perawatan selama tiga malam di rumah sakit. Wanita itu tiba dengan kondisi tubuh yang sedang demam. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa dirinya memerlukan perawatan lebih lama, tetapi setelah semua hasil pemeriksaan lengkap telah keluar dan menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja, Shena bersikeras ingin keluar dari rumah sakit itu.
Dia meyakinkan dokter bahwa dirinya hanya perlu istirahat dan tidur yang cukup di tempat tenang. Bukan di rumah sakit. Karena Shena sedari dulu sebisa mungkin menghindar untuk dirawat di rumah sakit.
Alasannya cukup sederhana, dia takut tidur sendirian di ranjang kamar rumah sakit. Sedangkan jika seseorang menawarkan diri untuk menemaninya, Shena selalu risih dan merasa tak enak hati. Dia tidak mau merepotkan orang lain.
Dan untuk sekarang alasannya masih sama. Dia takut sendirian di rumah sakit yang terlihat sangat vintage di kota kecil itu.
Luka di dahinya tidak dijahit tapi hanya ditutup oleh steri strip, dan dokter mengatakan dalam beberapa hari dia bisa kembali ke rumah sakit untuk membuka plester yang merekatkan kulit terbuka di dahinya.
Rumah sakit itu hanya merawat beberapa penumpang korban pesawat dengan trauma ringan termasuk dirinya dan ketiga pemuda, selebihnya bagi penumpang dengan trauma yang lebih berat telah dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan lengkap peralatannya di Johannesburg.
Pasangan suami istri Chen dan Mei telah berada di Johannesburg sejak hari pertama mereka ditemukan.
Pihak maskapai menjenguknya sehari sekali ke rumah sakit ketika ia dirawat. Dan pihak perwakilan maskapai yang terdiri dari dua orang pria muda memberitahu padanya, jika mereka mendapatkan penginapan gratis di Johannesburg dari pihak maskapai selagi mereka mengurus semua berkas yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat di negara itu.
Untuk informasi soal barang pribadi para korban, Shena diminta mendatangi posko darurat kecelakaan pesawat yang bertempat di salah satu kantor perwakilan maskapai di kota yang sama.
Pihak maskapai menyediakan transportasi lewat darat untuk mereka yang akan menuju kota terbesar di Afrika Selatan itu.
Beberapa orang dari pemerintah setempat juga mendatanginya ke kamar tempat dia dirawat, terdiri dari beberapa pria dan seorang wanita yang memberikan amplop berisi uang.
Shena hanya diminta menandatangani sebuah tanda terima uang tersebut. Katanya itu merupakan uang saku untuknya selama dia menyelesaikan urusannya nanti.
Karena belum pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya, Shena menganggap apa yang dilakukan pemerintah adalah hal yang wajar-wajar saja.
Setelah mengganti seragam rumah sakitnya dengan pakaian miliknya yang telah dikembalikan dalam keadaan bersih, Shena menjenguk ke bagian ruang rawat pria.
Dan menemukan ketiga pemuda berada dalam satu ruang yang sama, mereka sedang mengobrol dan tertawa-tawa. Shena yang terbiasa melihat mereka dengan ekspresi takut, lelah, putus asa, jadi merasa seperti baru mengenal mereka semua. Chris melambai pada Shena ketika pemuda itu melihatnya membuka pintu kamar.
...***...
...To Be Continued...
...Terimakasih sudah klik tombol like ya.......
kemana saja aku baru nemu cerita ini?