Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Natal 1
Cia dan Ino sudah selesai membuat kue kesukaannya. Rencananya besok Cia dan Ino akan ke Papua berdua hanya tiga hari Ino mau melayat ke kubur mertuanya, waktu papa Rudy meninggal Ino ada menjalankan tugas di Colombia. Takut Ino tidak sempat karena penugasan berikutnya. Nuel tinggal bersama mamim, opa dan omanya. Dan Cia tidak kuatir.
Jam enam sore Ino dan Cia sudah ke bandara di antar oleh pak Iwan. Sengaja hanya pak Iwan yang mengantar, buar Nuel tidak mencari papi dan maminya. Pesawat baru berangkat jam sepuluh malam. Ino dan Cia berada di lounge VIP bandara terminal tiga. Jam sepuluh tepat mereka sekua sudah ada di dalam peswat dan bersiap untuk meninggalkan landasan bandara Soekarno Hatta.
Pukul enam pagi mereka tiba di Biak Papua. Papa Buce yang menjemput mereka. Di rumah semua adik - adik mama sudah menunggu. Masuk rumah yang di tanya adalah Nuel. Cia langsung menghubungi mamimnya Nuel, ternyata Nuel ada di rumah sakit di ruangan opanya, karena mamim dan omanya mau operasi pasien mereka.
"Pi, Nuel repoti papi ya?"
"Ngak sayang. Lihat dia ketiduran. Nyenyak lagi."
"Terima kasih ya pi."
"Iya sayang."
Cia jadi sedikit lega, dan merasa bahagia, karena walaupun kedua mertua dan iparnya sangat sibuk, namun perhatian mereka kepada anaknya sangay besar. Karena Nuel itu darah daging mereka.
"Semenjak kita menikah, baru pertama kali mas tidur di kamarmu."
"Iya ya, kalau kesini pasti malam kembali ke rumah dinas."
Sore harinya setelah beristirahat mereka berdua langsung ke makam. Ino dan Cia pergi di antar oleh Papa Buce dan mama Ice yang menjaga rumah Cia, mereka sudah seperti orang tua kandung Cia, karena sedari Cia bayi, merekalah yang merawat Cia, seperti anak mereka sendiri. Papa Buce di kursusi membawa mobil sampai mempunyai SIM (Surat Ijin Mengemudi) semua ini untuk mengantar Cia ke sekolah dan menjemput, karena pada saat itu selain usaha perikanan baru di rintis. Mereka juga seorang pegawai negeri sipil di pemerintah daerah.
Cia memanen bunga di kebun mereka untuk di bawa ke kubur. Setelah membersihkan kuburan kedua orangtua Cia mereka meletakan bunga di tempatnya. Tidak lama semua adik - adik mama datang. Akhirnya kami cerita sampai matahari terbenam. Malam harinya Cia ada janji makan malam dengan investor dari China untuk membahas kelanjutan dan penanda tanganan kontrak. Cia datang bersama suaminya.
"Let me introduce my husband.(Kenalkan ini suami saya)."
"Martinus Revelino Rehata."
"It is a pleasure to meet you, Mr. Martinus.(Senang berkenalan denganmu tuan Mertinus).
Investor China ternyata peka dengan postur tubuh Ino dan dia bisa menebak bahwa Ino itu seorang tentara. Maka Ino pun sedikit bercerita tentang profesinya. Ternyata investor yang mau bekerja sama dengan perusahaan A&R Grup adalah pensiunan tentara angkatan laut China. Kesepakatan sudah di capai dan mereka bersedia menerima hasil export mentah maupun kalengan dari ikan tuna. Dalam pertemuan ini kedua adik mamanya papi dan mami juga hadir.
Besok paginya Ino melapor ke kesatuan, walaupun dia sedang cuti. Selesai bertemu dengan komandan yang adalah letting Ino, dia juga berkesempatan bertemu dengan mantan anggotanya di kantor intel. Gerson yang paling semangat juga Max. Di mobilnya ada ole - ole buat Gerson. Sedangkan siang itu Ino memesan makanan buat anggotanya dari restoran terkenal di kota ini.
"Komandan sendiri kesini?"
"Tidak mungkin, aku datang bersama istriku, sekarang dia ada di perusahaan."
"Komandan bawa aku jadi supirnya komandan."
"Saya belum di tempatkan. Tetapi kalau saya penempatan saya akan hubungi kamu." Gerson sangat senang, mendengar apa yang baru saja di katakan oleh mantan komandannya. Kemudian Ino mengeluarkan kantong yang berisi ole - ole yang dia beli dari bandara Doha di Dubai.
"Terima kasih komandan."
"Sekarang kamu antar saya ke rumah Max, mau bertemu orangtuanya dan anak mereka."
Dari Jakarta memang Ino khusus membeli mainan dan baju khusus buat Arnold karena selama hampir dua bulan dia menemani Nuel. Sekalian hadiah natal.
"Terima kasih om. Arnold senang."
"Sama - sama anak hebat."
"Adik Nuel tidak ikut om."
"Tidak sayang. Om sama tante hanya sebentar disini, Nuel di Jakarta bersama opa dannomanya."
Tidak lama Cia telepon minta di jemput. Akhirnya Gerson yang pergi menjemput karena Ino masih asik ngobrol sama orangtua Max yang juga adalah pensiunan angkatan laut dengan pangkat pembantu letnan satu.
Ino dan Cia di rumah dinas Max sampai sore. Dia juga sempat membantu mamanya Max buat kue natal, hasilnya Cia pulang membawa tiga toples besar berisi kue natal kesukaan Cia dari dahulu. Kalau sudah makan kue itu selalu berebut dengan Max. Sebelum pulang, Cia menyerahkan uang tunai lima belas juta yang dia ambil dari bank kepada kedua orangtuanya Max.
"Sehat - sehat ya ma, pa."
"Sayang ini banyak bangat."
"Cia mau kasih kepada mama dan papa. Jangan di tolak ya. Kebaikan, kasih sayang mama dan papa buat Cia itu tidak bisa di bayar. Ingat ada apa - apa telepon Cia. Atau Arnold yang hubungi tante Cia ya kalau oma dan opa sakit atau apa saja."
"Iya tante Cia."
"Selamat merayakan natal."
"Ini THR natal buat Gerson. Terima kasih juga karena sudah menjaga kami waktu di sini kemarin."
Ino dan Cia juga memberi uang kepada Gerson lima juta. Dia sangat senang sekali. Sengaja di bawa ke rumah Max karena di sana ada anggota yang lain. Sampai sore baru Cia dan Ino pulang ke rumah Cia, setelah menurunkan Gerson di mesnya.
"Kamu tunggu kabar saja ya."
"Siap komandan."
Ino dan Cia kembali ke rumah, mandi dan mereka akan makan malam bersama di rumah adek kandung mamanya yang biasa Cia panggil mami karena natal ini semua anak - anaknya pulang merayakan natal. Sepanjang jalan Cia dan Ink menikmati keindahan kota dengan dekorasi natal, sangat indah. Karena Cia tidak menyiapkan kado natal maka Ino dan Cia memberikan THR yang berisu dua juta buat setiap keponakan mereka.
Besok pagi, jam delapan Ino dan Cia sudah berada di bandara, mereka hari ini kembali ke Jakarta. Pergi bawa satu koper sedang pulang bawa satu koper besar karena ada bawa ole - ole juga hadiah ulang tahun buat Nuel dari Jepang dan Australia dari kedua tantenya.
Jam enam lewat tiga puluh menit, Ino dan Cia tiba di Jakarta di ruang tunggu kedatangan sudah ada Nuel bersama mamim, opa dan omanya.
"Mami..... Nuel rindu. Pokoknya malam ini Nuel bobo sama mami titik." mamim, oma dan opanya langsung tertawa. Anak ini baru sekali pisah dari maminya beberapa hari. Ternyata dia berusaha tegar.