Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Tak Pernah Menyapa
Angin sore berhembus pelan, membuat dedaunan di sekitar kami berdesir lembut. Kami duduk di bawah pohon beringin tua itu, persis seperti biasa. Hanya saja kali ini rasanya berbeda — tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rahasia besar yang tersembunyi di antara kami. Tapi justru karena itulah, hatiku terasa berat. Aku ingin tahu segalanya, tapi aku juga takut mendengar betapa lamanya dia harus menanggung kesepian sendirian.
Orion menatap ke kejauhan, ke arah cakrawala yang perlahan berubah warna menjadi ungu tua. Dia menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang kasar itu, lalu menghela napas panjang, seolah sedang mengangkat beban yang sudah dibawanya ribuan tahun lamanya.
"Kau tahu, Aruna..." mulainya pelan, suaranya tenang tapi ada getaran halus di sana, "sebelum aku bertemu denganmu, aku pikir keheningan adalah satu-satunya bahasa yang aku kuasai. Di tempatku berasal, tidak ada suara tawa. Tidak ada percakapan yang tidak berakhir dengan perdebatan atau perintah. Tidak ada seseorang yang akan duduk di sebelahmu hanya untuk mendengarkanmu bernapas."
Aku memeluk lututku, menatapnya lekat-lekat. "Bagaimana rasanya? Hidup di tempat di mana tidak ada yang menyapamu?"
Dia terdiam sejenak, jemarinya menyentuh tanah berlumut di antara akar pohon, seolah mencoba mencari kata-kata yang tepat.
"Sulit dijelaskan dengan kata-kata duniamu. Bayangkan kau terbangun setiap pagi — kalau di sana bisa dibilang pagi — dan kau tahu bahwa hari ini akan sama persis dengan kemarin. Dan dengan besok. Dan dengan seribu tahun ke depan. Tidak ada perubahan musim. Tidak ada bunga yang mekar. Tidak ada matahari yang terbit untuk memberi tahu bahwa hari baru telah tiba. Hanya kegelapan yang sama, abadi, dan sunyi."
"Apakah tidak ada siapa pun di sana sejenak pun yang kau anggap teman?" tanyaku pelan, hatiku terasa perih membayangkannya.
Dia menggeleng pelan. "Ada banyak makhluk di sana, Aruna. Tapi kesepian bukan berarti sendirian — kesepian berarti tidak ada yang mengerti siapa dirimu. Di sana semua orang hanya peduli pada kekuasaan, pada siapa yang lebih kuat, siapa yang harus ditakuti. Aku adalah putra penguasa, jadi semua orang menunduk saat aku lewat. Tapi tidak ada yang berani menatap mataku. Tidak ada yang berani bertanya bagaimana hariku berlalu. Mereka takut aku, bukan karena aku kejam, tapi karena aku adalah putra dari kegelapan. Sejak lahir, identitasku sudah ditentukan oleh siapa ayahku, bukan oleh siapa diriku sebenarnya."
"Itu tidak adil," kataku tak kuasa menahan emosiku. "Kau bukan itu, Orion. Kau bukan kegelapan. Kau orang yang paling lembut yang pernah aku kenal."
Dia menoleh, menatapku, dan tersenyum tipis — senyum yang menyimpan ribuan kerinduan yang tak terucap.
"Terima kasih, Aruna. Kau tahu... itulah yang membuatmu begitu istimewa bagiku. Kau tidak melihat aku sebagai Pangeran Kegelapan yang ditakuti banyak orang. Kau melihat aku sebagai Orion. Hanya Orion."
Dia menarik napas lagi, lalu melanjutkan ceritanya, matanya kembali menerawang ke masa lalu yang jauh.
"Aku menghabiskan waktu berabad-abad hanya berjalan sendirian di perbatasan dua dunia ini. Mengamati dari jauh. Melihat anak-anak bermain di sungai, melihat pasangan berjalan bergandengan tangan, melihat keluarga berkumpul di teras rumah mereka. Dan aku hanya berdiri di sini, di batas kabut, berharap suatu hari aku bisa ikut duduk di antara mereka. Tapi aku tahu aku tidak boleh. Setiap kali aku mencoba melangkah lebih jauh, rasa sakit itu datang — seperti kulitku terbakar, seperti udara di duniamu menolak keberadaanku. Jadi aku mundur, kembali ke bayang-bayang, dan menunggu sampai keinginan untuk ikut serta mereda sendirian."
"Kau selalu menahan diri sendirian..." bisikku, air mata mulai menggenang di mataku. "Selama ini kau terluka dan kau tidak pernah bercerita pada siapa pun."
"Aku sudah terbiasa, Aruna. Sampai suatu hari... aku melihatmu." Dia berhenti sejenak, menatapku dengan pandangan yang begitu lembut sampai hatiku terasa hangat sekaligus teriris. "Kau masih kecil waktu itu. Mungkin berumur tujuh atau delapan tahun. Kau sedang bermain di tepi sungai tidak jauh dari sini, mengejar kupu-kupu yang terbang rendah. Kau tertawa begitu keras, suaramu menembus kabut tebal yang biasanya memisahkan tempatku berdiri dari duniamu. Saat itu cahayamu... begitu terang, begitu hangat. Rasanya seperti seseorang menyalakan obor tepat di depan wajahku setelah aku berada dalam gelap selama ribuan tahun."
"Dan kau... kau mulai mengikutiku sejak saat itu?" tanyaku lembut.
"Awalnya hanya sesekali. Aku hanya ingin melihatmu. Tapi lama-kelamaan aku menyadari sesuatu yang aneh — setiap kali kau dalam bahaya, aku bisa merasakannya. Seperti ada tarikan di dadaku yang menyuruhku segera ke tempatmu. Saat kau hampir terjatuh dari tebing kecil di hutan belakang rumahmu... aku berlari secepat yang kubisa. Aku tidak berani menampakkan diriku, jadi aku hanya mendorong dahan kecil agar berbunyi keras. Kau terkejut, berhenti, dan saat itulah tanah di tempat kau berdiri longsor tepat di belakang kakimu."
Aku menutup mulutku dengan tangan, terkejut. "Jadi itu kau? Waktu itu aku selalu heran kenapa tiba-tiba ada suara yang membuatku berhenti."
Dia mengangguk pelan. "Aku melakukan apa saja yang kubisa tanpa menampakkan diriku. Menahan pintu yang hampir menutup di jarimu, menegakkan sandalmu yang lepas saat kau berjalan di jalan berbatu, meniupkan angin ke arahmu saat kau kepanasan. Hal-hal kecil yang kau bahkan tidak pernah sadari ada yang melakukannya. Tapi bagiku... hal-hal kecil itu adalah momen terindah dalam hariku. Karena untuk sesaat, aku merasa aku berguna. Aku bukan lagi sekadar pengamat yang tak diinginkan siapa pun."
"Orion..." namanya terucap pelan dari bibirku, dan air mata akhirnya jatuh di pipiku. "Kau menjagaku begitu lama... tanpa mengharap apa pun sebagai gantinya."
"Bagiku melihatmu baik-baik saja sudah cukup," katanya tulus. "Sampai akhirnya kau tumbuh dewasa, dan ikatan di antara kita makin kuat. Aku mulai bisa mendengar pikiranmu yang terucap pelan, bisa merasakan saat kau sedih atau sendirian. Tapi semakin dekat aku merasa denganmu, semakin aku harus berhati-hati. Cahaya duniamu... ia perlahan melemahkan aku, Aruna. Setiap kali aku berada terlalu lama di dekatmu, aku merasa kekuatanku berkurang. Seolah aku tidak pantas berada di tempat yang begitu terang."
"Tapi kau tetap datang?" aku menatapnya tak percaya. "Meskipun itu menyakitimu?"
Dia mengulurkan tangannya, telapaknya menghadap ke atas seolah membiarkan cahaya senja menyentuhnya.
"Lebih menyakitkan lagi jika aku tidak datang. Percayalah, rasa sakit di tubuhku jauh lebih ringan dibanding rasa rindu yang kurasakan saat aku tidak melihatmu selama berhari-hari. Aku lebih memilih melemah di sisimu daripada menjadi yang terkuat di tempat yang sepi tanpamu."
Kata-katanya membuat hatiku terasa penuh hingga sesak. Aku tidak tahan lagi — aku bergerak mendekat, memeluknya erat, menyembunyikan wajahku di dadanya. Dia terkejut sejenak, lalu perlahan tangannya melingkar di punggungku, lembut dan berhati-hati, seolah aku adalah benda paling rapuh di dunia.
"Maafkan aku..." isakku pelan, "maafkan karena kau harus menanggung semua itu sendirian. Mulai sekarang tidak lagi, ya? Kau tidak sendirian. Aku di sini. Setiap hari, setiap saat. Kalau kau merasa kesepian, panggil namaku. Aku akan datang. Aku akan menemani kau, mendengarkan ceritamu, apa pun yang terjadi. Kau tidak perlu menanggung semuanya sendiri lagi."
Dia membelai rambutku pelan, napasnya terasa hangat di atas ubun-ubunku.
"Aku tahu, Aruna. Kau sudah mengubah segalanya. Kau mengajarkanku bahwa di antara terang dan gelap tidak harus selalu ada pertempuran — bisa ada pelukan. Bisa ada kita."
Aku mendongak, menatap matanya yang berkilauan di bawah sisa cahaya senja.
"Kita akan menciptakan kenangan baru, Orion. Bukan kenangan kesepian seperti yang kau alami dulu. Kita akan menanam bunga di tempat pertemuan kita. Kita akan tertawa bersama sampai perut kita sakit. Kita akan bercerita sampai pagi datang. Dan suatu hari... aku ingin kau melihat matahari terbit bersamaku setiap hari. Bukan di balik jendela, tapi berdiri tegak di sampingku, bebas, tanpa takut apa pun."
Dia tersenyum, senyum yang kali ini terasa lebih lepas, lebih hidup. Dia mencium keningku dengan lembut.
"Aku percaya padamu, Aruna. Karena kau adalah cahaya yang tidak hanya menerangi jalanku... tapi juga menghangatkan hatiku yang sudah lama membeku."
Saat itu aku berjanji dalam hatiku — apa pun yang terjadi di masa depan, betapa pun beratnya perjalanan yang harus kita tempuh, aku tidak akan pernah membiarkannya merasa sendirian lagi. Karena rumah bukanlah tempat di mana kita tinggal, melainkan seseorang yang membuat kita merasa di rumah. Dan bagiku, rumah itu adalah dia.
Namun di kejauhan, di batas kabut yang mulai turun perlahan, ada bayangan samar yang bergerak cepat menghilang di antara pepohonan. Seolah seseorang baru saja selesai mendengarkan percakapan kami dari kegelapan. Dan entah mengapa, hatiku berdebar tidak tenang. Seperti cerita masa lalu yang baru saja selesai diceritakan, belum tentu benar-benar berakhir.
Bersambung 😊🖤