NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Hannah

Di Balik Cadar Hannah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.

Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.

Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Arif Yang Janggal

Seharian penuh Hannah berkutat dengan konsep pemotretan yang akan ia ajukan kepada Faz. Berbagai ide ia tuangkan, lalu ia susun menjadi sebuah presentasi yang menarik. Sesekali ia mengoreksi bagian yang dirasa kurang sesuai, memastikan setiap detail memiliki makna.

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.

Hannah menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembuskan napas lega. Setelah memastikan semua berkas tersimpan dengan baik, ia meraih ponsel dan menghubungi Farah. Ia membutuhkan bantuan gadis itu untuk merencanakan pemotretan ke depannya.

“Assalamu'alaikum, Farah. Besok libur, nggak?”

“Wa'alaikumussalam. Longgar, Kak. Memangnya kenapa?”

“Syukurlah. Besok kita rapat, ya, di studioku. Sekalian aku mau menunjukkan beberapa konsep yang sudah kusiapkan. Kamu belum pernah ke studioku, kan?”

“Belum, Kak!” jawab Farah antusias. “Wah, pasti asyik, nih. Jadi penasaran sama studio Kak Hannah. Sudah nggak sabar!”

Hannah terkekeh mendengar semangat gadis itu.

“Nanti aku kirim lokasinya, ya.”

“Siap, Kak!”

Setelah berbasa-basi sebentar, Hannah mengakhiri panggilan. Ia kemudian mengirimkan lokasi studionya melalui WhatsApp.

Di tempat lain, Farah yang baru saja membuka pesan tersebut mendadak mengernyit. Ia memperhatikan titik lokasi di layar ponselnya, lalu memperbesarnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Lho, bukankah itu lokasi di sebelah Coffee Aroma Waktu milik kakaknya?

Farah langsung teringat pada Arif. Selama ini, kakaknya memang sering berada di kedai kopi tersebut, bahkan lebih sering terlihat sibuk mengurus berbagai pekerjaan di lapangan daripada duduk di belakang meja.

Jangan-jangan, Kak Arif mengenal Kak Hannah?

Tanpa membuang waktu, Farah segera membuka ruang obrolan dengan kakaknya.

Farah: Kakak kenal Kak Hannah, ya?

Balasan Arif datang beberapa saat kemudian.

Arif: Apaan, sih? Tiba-tiba nge-chat nggak jelas.

Farah: Yee, aku cuma nanya. Sewot amat, sih!

Farah menyertakan emotikon kesal di akhir pesannya.

Awalnya Arif tidak terlalu memedulikan pertanyaan adiknya. Namun, beberapa detik kemudian, ia teringat sesuatu.

Bukankah kemaren Hannah bercerita bahwa ia sedang bekerja sama dengan Farah?

Arif mendadak menegakkan duduknya.

Aduh, jangan-jangan Farah baru menyadari bahwa studio Hannah berada tepat di sebelah kedai kopinya.

Arif terdiam menatap layar ponselnya. Ada satu hal yang sejak awal memang sengaja ia jaga: identitasnya sebagai pemilik Coffee Aroma Waktu.

Bagi orang lain, mungkin tidak ada yang aneh dengan mengakui kepemilikan sebuah usaha. Namun, bagi Arif, persoalannya bukan sesederhana itu.

Sejak kuliah, ia terbiasa hidup hemat meskipun keluarganya berkecukupan. Ia lebih suka mengerjakan sesuatu sendiri daripada terus bergantung pada fasilitas yang bisa diberikan keluarganya. Dan sejak awal Hannah mengenal Arif bahwa ia lelaki yang sederhana.

Pun ketika perempuan itu bercerita bahwa ia membutuhkan tempat untuk studio. Arif pun menawarkan tempat di samping kedai kopinya tanpa menjelaskan bahwa ia pemiliknya. Saat mengurus penyewaan tempat tersebut, Arif memastikan Hannah mendapatkan harga yang cukup terjangkau. Ia tahu Hannah sedang membangun usahanya sendiri dan ingin memberikan kesempatan yang layak tanpa membuat perempuan itu merasa berutang budi.

Namun, Arif juga memahami satu hal tentang Hannah: perempuan itu sangat menghargai kemandiriannya.

Hannah bukan tipe orang yang senang mendapatkan perlakuan istimewa hanya karena seseorang memiliki lebih banyak uang. Ia ingin setiap pencapaian yang diraihnya merupakan hasil kerja kerasnya sendiri. Bahkan ketika menerima bantuan, ia ingin bantuan itu diberikan secara wajar, bukan karena orang lain menganggapnya tidak mampu.

Arif menghormati prinsip tersebut.

Karena itulah ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya pemilik Coffee Aroma Waktu. Ia juga tidak pernah menjelaskan bahwa harga sewa studio yang didapatkan Hannah merupakan keputusan yang ia setujui sendiri.

Baginya, selama Hannah bisa menjalankan pekerjaannya dengan tenang, tidak ada alasan untuk membuat persoalan itu menjadi besar.

Akan tetapi, belakangan Arif menyadari bahwa alasan tersebut bukan satu-satunya hal yang membuatnya memilih diam.

Ia mulai menikmati percakapannya dengan Hannah. Ia menyukai cara perempuan itu berbicara tentang pekerjaannya, kesungguhannya ketika menyusun rencana, dan caranya mempertahankan pendapat tanpa merendahkan orang lain.

Tanpa sadar, Arif ingin Hannah mengenalnya lebih jauh.

Namun, ia ingin perempuan itu mengenal dirinya yang sekarang. Laki-laki yang bekerja, mengambil keputusan, dan menjalani hari-harinya dengan sederhana. Bukan seseorang yang langsung dipandang berbeda setelah mengetahui jumlah kekayaannya.

Ia tidak ingin sikap Hannah berubah hanya karena statusnya.

Dan, yang paling tidak ingin ia akui, Arif takut jika setelah mengetahui semuanya, Hannah justru menjaga jarak darinya.

Arif mengusap wajahnya, lalu kembali menatap pesan Farah.

Masalahnya, ia tahu cepat atau lambat kebohongan kecil ini akan terbongkar. Terlebih sekarang Farah bekerja sama dengan Hannah.

Kalau Farah sampai membocorkan identitasnya, ia tidak akan punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya dengan caranya sendiri.

Arif menghela napas panjang.

Ia seharusnya bisa menghadapi persoalan sesederhana ini dengan tenang. Namun, mengapa kalau menyangkut Hannah, semuanya terasa jauh lebih rumit?

Arif: Far, jangan cerita ke Hannah kalau kamu adikku, ya.

Farah yang membaca pesan itu langsung mengangkat alis.

Farah: Lho, kenapa emangnya?

Arif: Pokoknya jangan. Nggak usah tanya alasannya.

Farah: Lah, malah makin bikin penasaran.

Arif mengembuskan napas panjang.

Farah: Padahal besok aku mau ke studio Kak Hannah, Kak. Kami mau meeting.

Arif langsung memijat pelipisnya.

Besok?

Artinya, kemungkinan besar Farah akan bertemu dengannya di kedai kopi. Kalau gadis itu sampai keceplosan memanggilnya kakak di depan Hannah, habislah sudah.

Arif: Ya sudah. Besok kalau kamu ketemu aku, pura-pura nggak kenal, ya.

Farah: Ih, Kakak aneh banget! Kenapa harus sembunyi-sembunyi begitu?

Arif: Farah.

Farah: Iya, iya. Tapi harus ada hadiahnya kalau aku disuruh tutup mulut.

Arif memejamkan mata sesaat.

Benar-benar adik yang satu ini.

Arif: Kamu sudah mirip buzzer aja. Minta bayaran buat tutup mulut.

Farah: Yee, kalau nggak mau, ya sudah. Gampang, kan?

Arif menatap layar ponselnya dengan pasrah. Ia tahu betul bahwa semakin ia menolak, semakin besar kemungkinan Farah justru membocorkan semuanya.

Arif: Baiklah. Kamu mau apa?

Balasan Farah datang nyaris seketika.

Farah: Asyiiik! Aku mau jalan-jalan ke mal bareng Kak Hannah. Nanti Kakak yang traktir semuanya!

Arif menghela napas lega sekaligus kesal.

Arif: Oke.

Farah: Deal! Tenang aja, rahasia Kakak aman di tanganku.

Arif hanya bisa menggelengkan kepala. Ia berharap keputusan menyetujui permintaan adiknya itu tidak akan menjadi awal dari masalah yang lebih besar.

Sementara itu, Farah meletakkan ponselnya di atas kasur. Senyum lebar masih menghiasi wajahnya.

Ada sesuatu yang terasa janggal dari sikap Arif. Kakaknya itu biasanya tidak pernah repot-repot menyembunyikan identitas atau urusan pekerjaannya. Lantas, mengapa kali ini ia sampai meminta Farah berpura-pura tidak mengenalnya?

Jangan-jangan, Kak Arif juga menyembunyikan sesuatu dari Kak Hannah?

Farah mulai menerka-nerka.

Atau...

Jangan-jangan Kak Arif suka sama Kak Hannah?

Seketika, Farah menutup mulutnya sendiri, menahan tawa yang hampir meledak. Matanya berbinar, membayangkan berbagai kemungkinan yang mulai bermunculan di kepalanya.

Wah, kalau benar begitu, besok sepertinya bakal seru!

Farah meraih ponselnya lagi, menatap nama Hannah di daftar percakapan, lalu tersenyum penuh arti.

Sepertinya, rapat besok bukan hanya akan membahas konsep pemotretan.

1
naar0rrrr
lanjutt yaa kakk, semangatt💪 jangan lupa mampir cs ku yakk/Smile/
naar0rrrr
Hannah kayak nya bingung mau jawab apa ya..
naar0rrrr
kenapa faz nya gak jujur ya?
naar0rrrr
lanjuttt kakk, semngatttt
naar0rrrr
di ingetinn dongg, lanjutt yaa kaaa
naar0rrrr
lanjutttt thorrrrr
Putry Chan
kmu ingin mempertemukan hannna Dengan masa lalu nya apakah mereka ini gak tau
Putry Chan
berdoa dulu insyaallah aman kok
Putry Chan
faz itu masa lalu Hannah btw mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Hannah kamu knp
Putry Chan
Hannah kamu kenal dia
aefpe fp
mampir juga ya...sesama pemula ini😍
jinggaarundari
yahhhh gantung.... lanjut terus kaa😍😍
jinggaarundari
ya ampun Hannah...
jinggaarundari
Faz cek lagi ke RS bikin dejavuu akuu, baru awal udh deep 🫠
semangat terus kaa😍😍
Renjana
pertemuan dengan siapa tu?🤭
R: dengan masa lalu 🤭
total 1 replies
Renjana
bagus kak,
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!