Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pria itu masuk, dia menghampiri Carol yang sedang terbaring lemas.
Carol menoleh dan bersuara, "Aku.."
"Aku disini Carl. Kamu akan baik-baik saja." Andrew langsung menyahut. Pria itu berjalan mendekat dan mengusap pelan perban yang masih melingkar di kepala Carol.
Carol terdiam, dia menatap Andrew dengan bingung. Dia mulai ingat jika sebelumnya dia dan Andrew sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku salah bicara?"
Belum sempat Carol menjawab seseorang lebih dulu mengetuk pintu, dia adalah petugas dapur rumah sakit yang datang untuk mengantarkan makanan Carol.
"Selamat menikmati, Nona. Semoga lekas sembuh." petugas itu keluar dan meninggalkan mereka berdua lagi di dalam ruangan.
"Mau makan sekarang?"
Carol mengangguk pelan.
Andrew memencet tombol yang ada di bawah bed yang secara otomatis bed itu terangkat ke atas membuat Carol terduduk dengan nyaman.
Dia berdiri di depan meja saji sambil memilah makanan yang tepat untuk Carol, setelah mengambilnya dia kemudian duduk tepat di kursi samping bed Carol.
"Aku bisa sendiri." protes gadis itu.
Tapi Andrew tidak menghiraukannya dia ingin menyuapi Carol sendiri. Dan Carol pun mau tidak mau menerima setiap suapan yang datang itu.
"Aku sudah tidak apa-apa, aku akan makan sendiri." ucap Carol saat makanannya tersisa setengahnya.
Lagi-lagi Andrew tetap di posisinya tanpa menghiraukan ucapan Carol sama sekali. Karena kesal tidak kunjung mendapat jawaban akhirnya Carol berhenti membuka mulut.
"Carl, buka mulutnya."
"Gak!" nadanya sedikit merengek walau terdengar masih lemah.
Andrew tersenyum tipis, jika sudah seperti ini berarti Carol akan segera baik-baik saja,"Apa?"
"Nyebelin."
"Selama ini jika kita sedang makan bersama kau selalu curi-curi perhatian supaya aku suapi. Lalu kenapa sekarang kau malah menolak, hm?" godanya.
Carol mencubit tangan Andrew dengan tenaganya yang tidak seberapa itu. Membuat Andrew geli saja.
"Kenapa? Yang aku bicarakan itu kan fakta."
Carol melengos kesal, dia kembali menerima suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulutnya meskipun tanpa melihat ke arah Andrew sama sekali.
Bahkan saat makanannya habis Carol tetap memalingkan wajahnya.
"Untuk cuci mulutnya kau ingin apa?" tanya Andrew sangat lembut.
Seperti sedang menginap di hotel bintang lima, sarapannya memang sangat lengkap mulai dari makanan berat, dessert, buah-buahan dan minuman sehat.
Dan lagi, Carol masih tidak menyahut.
"Aku sedang bertanya, Carl."
Mata Carol memicing kesal, "Terserah."
"Kau masih marah padaku gara-gara masalah tempo hari itu?"
"Tidak!"
"Bohong!"
"Tidak!"
"Aku tahu kau bohong."
"Sudah kubilang aku tidak bohong."
"Lalu?"
"Apa?"
"Ya, lalu apa?" tanya Andrew balik.
"Astaga, Andrew! Aku baru saja.."
Carol langsung terdiam saat satu jari telunjuk menempel di bibirnya. Dia menatap pemilik telunjuk itu dengan mata yang melotot.
"Bisa diam kan? Jangan marah-marah dulu, kepalamu juga belum sembuh." bisiknya pelan.
Wajah mereka kali ini terlihat sangat dekat karena Andrew yang menunduk ke arahnya.
Pandangan mereka bertemu, sejenak mereka hanya saling pandang. Mereka terjebak dalam isi kepala masing-masing namun berada di dalam naluri yang sama.
Andrew menurunkan jari telunjuknya, sementara kepalanya bergerak maju dan Carol nampak menutup mata karena tidak siap.
Kurang dari lima detik bibir mereka akhirnya bertemu, Andrew memberikan kecupan lembut disana. Ya, hanya kecupan.