NovelToon NovelToon
EFEK MANDAROBA

EFEK MANDAROBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: just Zii

Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.

Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.

​Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.

Alden.

Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.

​BRAAKK!

​Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:

​"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: KONTAK TERSEMBUNYI

Matahari siang merambat naik di atas perbukitan, memancarkan cahaya terik yang membakar kabut pagi.

Di dalam kediaman megah milik Alden, suasana terasa teramat sangat sunyi. Alden telah berangkat dua jam lalu menuju gedung pusat PT Mandaroba Medika untuk menghadiri rapat darurat bersama para investor dan pejabat kementerian.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan sedikit pun oleh Sesil.

Sesil berdiri di lorong lantai satu, memperhatikan Ibu Marta—kepala ART kepercayaan Alden—yang sedang sibuk merapikan area ruang makan utama bersama dua pelayan lainnya.

Suara denting piring dan gemericik air dari dapur menjadi latar belakang yang sempurna untuk menyamarkan pergerakannya.

Sesil menarik napas panjang, menetralkan ritme napasnya, lalu memasang kembali raut wajahnya yang bingung dan polos. Dengan langkah-langkah gontai yang diperhitungkan, ia berjalan mendekati tangga melingkar di sudut lorong belakang—tangga kayu tua yang menuju ke area gudang dan ruang bawah tanah (basement).

Selama berminggu-minggu mengamati denah kediaman ini di bawah kedok "pemulihan amnesia", mata jurnalis Sesil tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun.

Ia tahu bahwa seluruh jalur komunikasi modern di lantai atas—telepon genggam, saluran internet nirkabel, hingga telepon kabel utama—telah dipasangi perangkat peretas dan penyadap suara (wiretapping) yang terhubung langsung ke ponsel pintar Alden.

Namun, ada satu celah yang luput dari jangkauan teknologi canggih sang sosiopat:

sebuah saluran telepon analog lama terpasang di dinding ruang penyimpanan anggur tua di ruang bawah tanah.

Telepon itu adalah bagian dari sistem komunikasi darurat internal bangunan lama sebelum tanah ini dibeli dan direnovasi oleh keluarga Alden.

Karena terhubung langsung ke kawat kabel tembaga bawah tanah milik penyedia layanan publik tua dan bukannya router jaringan rumah, saluran ini sama sekali tidak terpantau oleh sistem keamanan digital Alden.

Sesil menyusup menyusuri anak tangga kayu tua satu per satu. Setiap pijakan mengeluarkan suara derit halus yang diredam oleh suara kipas penyedot debu Ibu Marta di atas.

Suhu udara mendadak merosot tajam begitu ia sampai di dasar tangga. Ruang bawah tanah itu remang-remang, beraroma kayu lapuk, kelembapan tanah, dan keasam anggur tua yang disimpan dalam tong-tong kayu besar.

Sesil menyusuri lorong semen yang dingin, melewati tumpukan kardus barang-barang lama, menuju sudut paling belakang gudang anggur.

Di sana, tertutup oleh tumpukan kain penutup furnitur bekas, melekat sebuah kotak kayu kecil bertuliskan "TELECOM 1998".

Sesil menyibakkan kain pelindung itu. Di balik pintunya yang berdebu, terpasang sebuah telepon analog bertombol putar (rotary phone) berwarna krem kusam dengan gagang berat.

Jemari Sesil gemetar halus saat ia mengangkat gagang telepon tua itu dan menempelkannya ke telinganya.

TUUUT... TUUUT... TUUUT...

Nada panggil analog yang mendengung rendah memecah keheningan.

Saluran itu masih aktif!

Sebuah helaan napas lega keluar dari tenggorokan Sesil.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sesil memasukkan jarinya ke lubang pemutar nomor. Ia memutar nomor telepon pribadi Rian yang telah dihafalnya di luar kepala—nomor cadangan rahasia yang biasa mereka gunakan saat menjalankan tugas investigasi berisiko tinggi.

KREK-KREK-KREK...

Suara roda pemutar berputar kembali ke posisi semula. Suara detak sinyal analog bergema di telinganya, berpacu searah dengan detak jantungnya yang membakar dada.

Dua kali nada panggil... tiga kali nada panggil...

KLIK.

"Hallo?" suara Rian terdengar di ujung telepon, parau, berbisik, dan sarat akan kecemasan mendalam.

"Rian... ini aku, Sesil," bisik Sesil cepat, suaranya sangat rendah namun tegas dan padat.

Keheningan pendek terjadi di ujung saluran, disusul oleh suara desah napas lega Rian yang tertahan. "Sesil! Tuhan... kamu menelepon dari mana? Apakah aman? Pria itu tidak ada di sekitarmu?"

"Aku di saluran telepon analog tua di ruang bawah tanah," sahut Sesil. "Alden sedang rapat di kantor pusat. Dengarkan aku baik-baik, Rian. Waktu kita sangat terbatas sebelum para pelayan sadar aku tidak ada di lantai atas."

"Katakan padaku, Sil. Bagaimana situasi di sana? Kamu berhasil mendapatkan buktinya?" tanya Rian tergesa-gesa.

Sesil mengepalkan tangannya yang memegang gagang telepon.

"Semalam aku berhasil menembus kamar rahasianya. Aku sudah memegang jurnal hitam milikku, seluruh laporan medis eksperimen Compound-9 pada manusia, serta rekaman CCTV dan video laboratorium yang membuktikan Alden memalsukan kecelakaanku dan menjadikanku subjek uji coba."

Suara erangan kemarahan terdengar halus dari mulut Rian di ujung telepon. "Iblis itu... Jadi semua dugaan kita benar. Kita bisa menghancurkannya sekarang juga, Sesil! Serahkan data itu padaku, aku akan langsung menyebarkannya ke seluruh jaringan media nasional!"

"Tidak sekarang, Rian. Tidak dengan cara emosional," tegur Sesil dingin, jiwa jurnalis seniornya mengambil alih seluruh kendali.

"Alden memiliki Komisaris Hendra dari kepolisian dan Deputi Bambang dari kementerian di dalam saku celananya. Jika kita hanya merilisnya secara acak ke media, mereka akan dengan mudah melabeli data itu sebagai manipulasi AI atau hoaks, lalu menyita server media dan memburu kita sebelum kasus ini masuk ke persidangan."

"Lalu apa rencana kamu, Sil?" tanya Rian, meredakan emosinya dan mendengarkan dengan penuh kepatuhan.

Sesil menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin, matanya menatap tajam ke arah kegelapan gudang bawah tanah.

"Kita harus memancing mereka semua berkumpul di satu tempat di mana mereka tidak bisa melarikan diri atau menyangkalnya," desis Sesil penuh kalkulasi.

"Dua hari lagi, PT Mandaroba Medika akan menggelar Konferensi Pers Peluncuran Nasional Obat Pemulihan Saraf Mandaroba-9 di Ballroom Hotel Grand Hyatt. Acara itu akan disiarkan secara langsung (live streaming) oleh sepuluh stasiun televisi nasional dan dihadiri langsung oleh jajaran kementerian serta petinggi kepolisian."

Di ujung telepon, Rian menarik napas panjang saat menyadari arah pemikiran sahabatnya. "Kamu ingin membongkarnya di tengah siaran langsung acara puncak mereka?"

"Tepat," jawab Sesil tegas. "Rian, aku butuh kamu meretas atau mengambil alih kendali sistem master control room (MCR) jaringan audio-visual di hotel tersebut satu jam sebelum acara dimulai. Aku akan membawa flashdisk berisi seluruh salinan data eksperimen dan video kecelakaan rekayasa itu."

"Aku punya kenalan peretas jaringan dari tim redaksi lama kita yang bisa menembus pemancar MCR hotel," sahut Rian cepat, suaranya kini dipenuhi keyakinan tinggi. "Tapi bagaimana dengan jurnal hitam fisiknya? Dan bagaimana caramu membawa data itu keluar dari rumah yang dijaga ketat itu, Sesil?"

"Aku akan membawa jurnal hitam dan flashdisk itu melekat di tubuhku pada hari peluncuran," jawab Sesil. "Alden pasti akan membawaku ke acara tersebut sebagai 'contoh kesuksesan pemulihan saraf' terbaiknya untuk dipamerkan kepada media dan investor. Dia akan merasa berada di atas angin, tidak menyadari bahwa ia sendiri yang sedang menuntun bom waktunya ke atas panggung."

"Itu sangat berisiko, Sesil. Jika Alden menyadari pergerakanmu sedikit saja sebelum panggung menyala—"

"Dia tidak akan menyadarinya," potong Sesil mantap. "Pagi ini aku telah memantapkan aktingku. Alden percaya 100% bahwa aku masih merupakan boneka rapuh yang bergantung sepenuhnya pada racunnya. Dia sangat buta oleh ego dan obsesinya sendiri."

"Baik," ujar Rian mantap. "Aku akan menyiapkan tim penyaran independen, mengunci sinyal pemancar luar, dan memastikan seluruh stasiun TV tidak bisa memutus umpan video saat kita menayangkannya. Kamu hanya perlu menancapkan flashdisk itu ke konsol panggung atau menyerahkannya padaku saat kamu tiba di backstage."

"Bagus," puji Sesil. "Ingat Rian, jangan hubungi nomor ini lagi. Ini adalah kontak terakhir kita sampai hari peluncuran. Jaga dirimu baik-baik."

"Kamu juga, Sesil. Bertahanlah dua hari lagi. Kita akan mengakhiri kejahatan mereka bersama-sama," bisik Rian penuh emosi.

"Sampai jumpa di hari penghakiman," sahut Sesil pelan.

KLIK.

Sesil mengembalikan gagang telepon analog tua itu ke tempatnya.

Ia menyapukan kain pelindung berdebu kembali ke kotak kayu TELECOM 1998, memastikan tidak ada sidik jari atau jejak pergerakan yang tersisa.

Ia berdiri sebentar di dalam kegelapan gudang bawah tanah, menghembuskan napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya. Kontak rahasia telah berhasil dilakukan, rencana pengungkapan telah terkunci rapat, dan panggung eksekusi telah disiapkan.

Sesil memutar tubuhnya, melangkah naik kembali menyusuri tangga kayu tua menuju lantai atas kediaman.

Saat ia kembali melangkah ke area ruang makan yang terang benderang, raut wajah dingin dan tajamnya mendadak menguap tanpa bekas—berganti kembali menjadi senyuman tipis yang linglung dan mata yang rapuh dari sang mangsa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!