DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Bisikan Maut Darel
Aira baru saja melangkah keluar dari area UKS saat bel istirahat kedua berkumandang. Kepala Aira sudah tidak terlalu pusing berkat teh manis dan minyak angin yang dipaksakan Vino tadi. Saat ia berjalan melewati lorong menuju kelasnya yang sepi, sosok Darel muncul dari sudut koridor perpustakaan.
Darel berjalan mendekat dengan senyuman hangat nan menenangkan—penampilan khas yang selama ini selalu menjadi "oase" bagi Aira di tengah kerasnya sikap Vino.
"Aira? Kamu sudah mendingan?" tanya Darel dengan nada sarat kelembutan. "Saya dengar dari anak-anak tadi kamu hampir pingsan di lapangan?"
Aira menghentikan langkahnya, menunduk sopan. "Iya, Kak Darel. Tapi sekarang udah agak mendingan kok."
Darel menghela napas panjang, menatap Aira dengan raut wajah yang memancarkan keprihatinan mendalam. "Saya khawatir banget waktu dengar kabar itu, Aira. Maaf ya, saya gak bisa langsung menyusul ke UKS tadi... Kamu tahu sendiri kan gimana temperamennya Vino?"
Mendengar nama Vino disebut, Aira terdiam sejenak. "Vino tadi... cuma bantulah, Kak."
Darel tersenyum tipis, menggeleng pelan seolah-olah prihatin atas kepolosan Aira. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, merendahkan intonasi suaranya hingga terdengar seperti bisikan rahasia yang intim.
"Aira... kamu yakin Vino murni mau membantu?" bisik Darel halus namun tajam. "Kamu ingat gak gimana perlakuan dia ke kamu selama berbulan-bulan ini? Bentakannya, caranya memandang kamu seperti penjamin utang yang tidak ada harganya?"
Jantung Aira berdesir pelan. Bayangan masa-masa awal ia tinggal di rumah Pradipta kembali terlintas.
"Vino itu orang yang sangat menjunjung tinggi citra dan gengsi, Aira," lanjut Darel, memperkuat racun gaslighting-nya. "Apalagi dia baru saja putus sama Caren dengan cara yang bikin geger sekolah. Dia sekarang cuma lagi panik, mencoba memperbaiki citranya dengan kelihatan 'heroik' di depan anak-anak lain lewat kamu. Bawa kamu naik mobilnya, bawain tas kamu, gendong kamu di lapangan... Bukannya itu semua cuma panggung buat dia?"
Aira meremas pinggiran rok seragamnya. Kalimat Darel merayap masuk ke dalam benaknya, mengusik rasa hangat yang baru saja mulai tumbuh untuk Vino.
"Tapi Kak... Vino tadi yang buatkan teh manis dan..." Aira mencoba menyanggah, walau suaranya terdengar ragu.
"Itu namanya manipulasi emosional, Aira," potong Darel lembut seraya mengusap pelan pundak Aira dengan kehangatan palsu. "Gila, kan? Setelah bikin kamu takut setengah mati berbulan-bulan, sekarang dia ngasih sedikit perhatian manis supaya kamu merasa 'berutang budi' dan bergantung sama dia. Jangan sampai kamu terkecoh, ya?"
Aira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kebingungan yang besar kembali menghantam pikirannya. Apakah rasa khawatir di mata Vino tadi siang cuma akting demi gengsi dan citra?
"Kalau kamu butuh tempat cerita atau butuh bantuan untuk keluar dari tekanan Vino, kamu tahu kan harus ke mana?" Darel menyunggingkan senyum manisnya kembali, menepuk pundak Aira pelan sebelum berlalu pergi meninggalkan Aira yang berdiri mematung di koridor sepi.
Dari balik dinding belokan koridor, Vino berdiri membeku.
Kepalan tangannya di dalam saku celana mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. Vino telah mendengar sebagian besar bisikan manis Darel dari balik tembok. Amarahnya membakar dada, namun ada kepahitan luar biasa yang merayapi benaknya saat melihat raut ragu dan bimbang di wajah Aira setelah mendengar omongan Darel.
Jadi di mata lu... semua usaha gue cuma manipulasi buat gengsi, Darel? batin Vino menggeram pahit.
Vino menarik napas panjang, merapikan kerah seragamnya, lalu melangkah keluar dari balik dinding dengan raut wajah dibuat seangkuh dan segalak mungkin untuk menutupi rasa sakit hatinya.
"Woy, Aira!" panggil Vino kasar dari ujung koridor.
Aira tersentak kaget, buru-buru menoleh dengan wajah pucat. "Vi—Vino?"
Vino berjalan menghampiri Aira dengan langkah lebar, menyipitkan matanya tajam. "Ngapain lu ngelamun di tengah jalan kayak patung? Dibilangin habis dari UKS balik ke kelas, malah keluyuran! Dasar lelet!"
Aira menatap Vino dengan pandangan yang kini dipenuhi keraguan. Perubahan raut galak Vino saat ini seolah mengonfirmasi kata-kata Darel baru saja.
"Iya, Vin... aku balik ke kelas sekarang," sahut Aira pelan tanpa berani menatap mata Vino lagi, lalu berjalan terburu-buru melewatinya.
Vino membalikkan badan, menatap punggung Aira yang menjauh dengan tatapan mata yang meredup penuh penyesalan dan keputusasaan. Dinding raksasa yang dibangun Darel di antara dirinya dan Aira ternyata masih begitu kokoh untuk dihancurkan.