Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Aku Bangkit Dari Keterpurukan Bersama Suami Pengacara
Tiga hari setelah kehilangan bayiku, aku masih terbaring lemah di rumah sakit. Aku tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau bicara dengan siapapun. Aku hanya menatap kosong ke langit-langit rumah sakit sambil memeluk boneka bayi kecil yang dibelikan Arya.
"Una sayang, makan sedikit ya. Kamu sudah tiga hari tidak makan. Nanti kamu sakit lagi. Saya mohon makan ya sayang," bujuk Arya sambil menyuapiku bubur dengan air mata di matanya.
Aku menggeleng lemah, "Untuk apa aku makan kak? Anakku sudah tidak ada. Untuk apa aku hidup lagi? Aku gagal jadi ibu, aku gagal jaga anakku sendiri."
Arya meletakkan bubur itu dan memelukku erat, "Jangan bilang begitu Una. Kamu tidak gagal. Kamu ibu yang hebat. Kamu sudah berjuang sampai pendarahan untuk anak kita. Anak kita pasti bangga punya mama sekuat kamu. Dan anak kita di surga pasti mau lihat mamanya kuat dan bahagia, bukan lihat mamanya sedih begini terus."
Kata-kata Arya membuatku menangis lagi. Arya benar, bayiku di surga pasti sedih melihatku begini.
Rizal datang setiap hari ke rumah sakit membawakan bunga dan buah, tapi Arya melarangnya masuk kamar.
"Pak Arya, saya mohon izinkan saya bertemu Una sekali saja untuk minta maaf. Saya tahu ini semua salah saya. Saya yang bikin dia stres dan keguguran," kata Rizal di depan pintu kamar sambil menangis.
Arya menatap Rizal dengan dingin, "Tidak perlu. Una butuh istirahat, bukan butuh lihat kamu dan ingat masa lalu yang menyakitkan. Anak itu sudah tenang di surga. Lebih baik kamu pergi dan bertobat, jangan ganggu istri saya lagi."
Rizal akhirnya pergi dengan tertunduk sedih.
Setelah satu minggu di rumah sakit, aku akhirnya diperbolehkan pulang ke apartemen. Arya menggendongku masuk ke apartemen kami. Apartemen yang seharusnya diisi tangisan bayi kini sepi.
Malam itu, aku dan Arya duduk di balkon apartemen melihat lampu kota.
"Kak, apakah kakak masih mau sama aku? Aku sudah tidak punya anak lagi, aku sudah tidak perawan, aku janda miskin yang keguguran. Apa kakak tidak menyesal menikahi aku?" tanyaku dengan suara pelan dan minder.
Arya langsung menatapku serius dan menggenggam kedua tanganku, "Una, dengarkan saya baik-baik. Saya menikahi kamu bukan karena kamu hamil. Saya menikahi kamu karena saya cinta kamu, cinta ketulusan kamu, cinta kekuatan kamu. Anak itu memang titipan Allah, Allah ambil lagi karena Allah sayang dia. Tapi cinta saya ke kamu tidak akan hilang karena anak tidak ada. Justru saya semakin cinta sama kamu karena kamu wanita paling kuat yang pernah saya kenal."
Arya mencium keningku dengan lembut.
"Mulai besok kita mulai hidup baru ya sayang. Kita kubur kesedihan kita dalam-dalam. Kamu tidak boleh sedih lagi. Kita fokus bangun usaha. Kamu kan jago masak? Bagaimana kalau kita buka restoran? Saya modalin. Kamu yang jadi chef nya, saya yang urus surat-suratnya. Kita jadi pasangan pengusaha sukses. Dan kalau Allah izinkan, nanti kita bisa punya anak lagi, anak kita berdua, darah daging kita berdua," kata Arya dengan penuh semangat.
Ide Arya membuka restoran membuat mataku berbinar. Selama ini aku memang jago masak. Waktu di desa aku sering jualan kue dan laris manis.
"Benar kak? Aku boleh buka restoran? Tapi aku tidak sekolah tinggi kak, aku hanya lulusan SMP," kataku tidak percaya diri.
Arya tersenyum, "Sekolah tinggi tidak menjamin sukses Una. Yang menjamin sukses adalah kerja keras dan ketulusan, dan kamu punya dua-duanya. Saya yakin restoran kamu akan sukses besar. Namanya Restoran Una Bahagia ya."
Aku memeluk Arya dengan bahagia. Untuk pertama kalinya setelah kehilangan bayiku, aku tersenyum tulus.
"Terima kasih kak Arya, terima kasih sudah tidak tinggalkan aku di masa terpurukku. Aku janji akan jadi istri terbaik dan pengusaha sukses. Kita akan buktikan ke semua orang yang dulu hina aku, terutama Rizal dan Bu Ratna, bahwa aku bisa sukses tanpa mereka!"
Semangatku kembali bangkit. Bersama suami pengacara tampanku, aku akan membangun kerajaan bisnis kuliner dari nol.
Apakah restoran ku akan sukses? Apakah Rizal akan kembali mengemis cinta saat melihat aku sudah sukses dan kaya?