Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan Dua Alpha dan Hukuman Tanpa Ampun
BOOOM!
Balkon pualam Kastil Valesia bergetar hebat bagaikan dihantam gempa dahsyat. Ledakan aura merah pekat dari tubuh Fenrir Volkov menghancurkan deretan pilar batu penyangga hingga berkeping-keping, melempar serpihan marmer berukuran besar melayang di udara malam. Udara dingin di luar aula pesta seketika berubah menjadi badai es hitam yang mencekam, menusuk hingga ke tulang sumsum siapa pun yang menghirupnya.
Kaelen Blackwood bergerak cepat melepaskan tekanannya dari tubuh Ceisya. Dengan refleks bertarung tingkat tinggi, Pemimpin Klan Blackwood itu melompat mundur beberapa langkah ke belakang sembari merentangkan dinding sihir pelindung berwarna keemasan di udara.
BANG!
Cakar bayangan raksasa milik Fenrir menghantam dinding sihir Kaelen hingga retak seketika, menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. Iris mata merah menyala milik Sang Alpha King berkilat terang oleh amarah pekat dan rasa cemburu gila. Melihat pria lain menyentuh leher wanita yang paling ia agungkan di dunia ini membuat gairah membunuh di dalam dadanya meledak tak terkendali.
"Kau melangkah terlalu jauh, Kaelen," suara Fenrir bergetar rendah bagaikan gemuruh guntur neraka yang tertekan. "Langkahmu malam ini adalah tiket kematianmu."
Kaelen menyunggingkan senyuman provokatif yang dipenuhi rasa percaya diri tinggi. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat kibasan energi es Fenrir menggunakan punggung tangannya.
"Mata dan hatinya tidak menginginkanmu, Fenrir. Kau hanya mengurungnya di sangkar emas yang dipaksakan," pangkas Kaelen dengan nada beracun, mata keemasannya melirik ke arah Ceisya. "Dia pantas mendapatkan Alpha yang menghargai kebebasannya, bukan penguasa diktator yang memenjarakannya!"
"Dia milikku! Jiwa, tubuh, dan napasnya adalah milikku mutlak!" bentak Fenrir murka, suaranya menggetarkan seluruh permukaan kaca jendela di sekeliling balkon.
Kedua Alpha King itu melesat bersamaan, saling bertabrakan di tengah udara malam yang membeku. Dentuman sihir merah dan keemasan serta benturan cakar-cakar mematikan mereka menimbulkan gelombang kejut yang meretakkan seluruh dinding batu balkon. Hantaman energi mereka begitu pekat hingga membuat tirai-tirai tebal di dalam aula pesta terkoyak-koyak.
Di tengah kekacauan bentrokan fisik yang tidak manusiawi itu, Ceisya memanfaatkan kelincahan tubuhnya untuk mundur ke area aman di dekat sudut lorong. Ia membetulkan bagian atas gaun zamrudnya yang agak tersingkap dengan napas terengah-engah, mata cokelatnya menatap ngeri pada kehancuran di hadapannya.
Buset dah... dua serigala gila ini beneran mau meruntuhkan kastil cuma gara-gara aku?! Batin Ceisya panik, matanya mengikuti pergerakan bayangan gila Fenrir dan Kaelen yang bergerak secepat kilat.
Namun, kepalanya seketika mendingin saat mengingat ancaman mematikan yang diucapkan Fenrir saat mengurungnya: 'Jika kau berdekatan dengan pria lain... aku tidak akan menahan diri lagi untuk menanam benihku berkali-kali selama seminggu...'
Mampus aku! Tadi Kaelen bukannya cuma berdekatan, tapi sampai megang dan ngusap leherku! Fenrir yang lagi dalam mode cemburu gila seperti ini pasti enggak bakal terima alasan atau penjelasan apa pun! Jerit Ceisya dalam hati, sekujur tubuhnya merinding hebat membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah pertarungan ini selesai.
BUMMM!
Fenrir memanfaatkan celah kecepatan sihirnya, mendaratkan tendangan telak bermuatan aura Alpha mutlak tepat di dada Kaelen! Dentuman dahsyat itu membuat Pemimpin Klan Blackwood tersebut terlempar menembus benteng luar kastil, melayang bebas di udara sebelum jatuh menghantam tumpukan salju tebal di lembah bawah kastil.
Belva Vespera yang sejak tadi bersembunyi di balik bayangan lorong lantai dua segera melesat menolong Kaelen. Menggunakan sihir terlarang dari Artefak Bulan Merah, Belva menembakkan bom asap sihir pekat untuk mengalihkan perhatian dan membawa Kaelen melarikan diri sebelum Fenrir sempat melompat turun untuk menghabisi mereka sampai tuntas.
Fenrir tidak mengejar. Pria itu berdiri kaku di tengah tumpukan puing-puing balkon yang hancur berantakan. Napas baritonnya memburu beraturan, cakar serigalanya yang tajam perlahan-lahan memendek kembali menjadi jemari tangan manusia. Namun, aura kegelapan dan keposesifan di sekeliling tubuhnya justru semakin pekat, dingin, dan menakutkan.
Fenrir membalikkan tubuhnya secara perlahan. Mata merahnya yang menyala liar bagaikan kawah api neraka terkunci lurus pada Ceisya yang berdiri kaku di sudut lorong.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Fenrir melangkah mendekat. Setiap pijakan boot kulitnya di atas serpihan pualam memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh pertahanan mental Ceisya runtuh seketika.
Sebelum Ceisya sempat merangkai kata untuk menjelaskan situasi, tangan besar dan hangat milik Fenrir menyambar pinggang ramping Ceisya. Dengan satu pukulan tenaga penuh yang tanpa kompromi, Fenrir menyampirkan tubuh Ceisya di atas bahu kokohnya (fireman's carry) tanpa memedulikan gaun zamrud gadis itu yang menjuntai pasrah.
"Woi! Fenrir! Lepasin! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Ceisya memukul-mukul punggung keras Fenrir dengan kedua tinju kecilnya. "Tadi itu bukan mauku! Dengarkan penjelasan dulu, dasar serigala impulsif!"
Fenrir membisu total. Pria itu melangkah lebar menembus koridor utama kastil. Ia mengacuhkan puluhan pengawal pribadi, pelayan, dan para bangsawan yang berdiri menunduk gemetar ketakutan melihat aura murka Sang Raja. Dengan langkah dominan, Fenrir menendang pintu kayu jati kamar utamanya hingga terbuka lebar.
BANTING!
Pintu kamar dikunci rapat menggunakan sihir isolasi mutlak—sebuah sihir pengunci tingkat tinggi berwarna merah darah yang membuat suara atau getaran apa pun dari dalam kamar tidak akan pernah bisa terdengar atau menembus ke luar.
Fenrir melempar tubuh Ceisya ke atas tempat tidur king-size berbulu angsa yang empuk. Belum sempat Ceisya melompat bangun atau berguling ke tepi ranjang, Fenrir sudah merangkak naik ke atas tempat tidur dengan kecepatan tidak manusiawi, mengurung tubuh ramping gadis itu di bawah kuncian tubuh kekarnya yang berat dan hangat.
"Fenrir, dengar dulu! Tadi itu si Kaelen yang tiba-tiba muncul dari balik pilar! Aku gak sengaja berdekatan sama dia, lagian aku udah mau patahin tangannya sebelum kamu datang!" pangkas Ceisya cepat dengan kalimat bertubi-tubi, mencoba membela diri dengan mata membelalak menatap wajah tampan di atasnya.
Fenrir menundukkan wajahnya hingga jarak ujung hidung mereka saling bersentuhan. Napas panas Sang Raja terasa membakar kulit pipi Ceisya yang memerah. Iris matanya yang merah berkilat dipenuhi rasa cemburu, dominasi, dan keposesifan gila yang tak lagi bisa dibendung oleh akal sehat apa pun.
"Aku sudah memperingatkanmu, Ceisya..." bisik Fenrir dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan berbahaya. "Aku sudah memberitahumu apa konsekuensinya jika kau melanggar ucapanku... jika ada pria lain yang menyentuh kulitmu."
Tangan Fenrir yang kasar dan hangat menyusup ke leher mulus Ceisya. Ibu jarinya mengusap bekas sentuhan jari Kaelen tadi dengan usapan yang teramat intim namun tegas, menekan kulit leher gadis itu seolah ingin menghapus dan membakar jejak pria lain itu sampai bersih tak berbekas.
"Dia menyentuh lehermu... Di depan mataku sendiri," bisik Fenrir lagi, napas memburunya mendarat tepat di atas permukaan bibir Ceisya. "Kau membuat gila seluruh akal sehatku, manis."
"Fenrir... tunggu—"
Kalimat Ceisya tenggelam total saat Fenrir menunduk dan melumat bibirnya secara brutal. Ciuman kali ini bukan sekadar hukuman, melainkan sebuah pengambilalihan mutlak atas jiwa dan tubuh gadis itu. Fenrir menciumnya dengan gairah yang begitu menuntut dan dalam, mengikis habis seluruh pertahanan mental dan fisik Ceisya hingga gadis itu kehabisan napas dan lemas tak berdaya di dalam lingkar dekapannya.
Fenrir melepaskan bibirnya sejenak hanya untuk membiarkan Ceisya menyedot udara malam, lalu bibir hangat Sang Raja meluncur turun ke leher mulus Ceisya.
GIZ!
Gigitan dalam dan panas mendarat tepat di lekukan leher Ceisya, disusul oleh isapan intim yang menyebarkan rasa hangat memabukkan ke seluruh aliran darah gadis itu.
"Ngh... Fenrir..." desah Ceisya pasrah, jemarinya secara refleks meremas bahu kokoh Fenrir, tak sanggup lagi melawan sengatan sihir dan sentuhan memabukkan dari Sang Alpha.
Sialan... cowok ini benar-benar bertindak sesuai ucapannya! Dia enggak main-main soal hukuman seminggu itu!! Jerit batin Ceisya yang pasrah namun dadanya berdegup liar tak terkendali di bawah kungkungan kekar Fenrir.
Fenrir mengangkat wajahnya sedikit, menatap ke dalam mata cokelat Ceisya yang sayu, basah, dan dipenuhi gairah pasrah. Senyuman gelap nan posesif terkembang di bibir tampannya.
"Kau tidak akan keluar dari kamar ini selama seminggu ke depan, sayang..." bisik Fenrir di telinga Ceisya dengan nada memabukkan, tangannya perlahan melonggarkan ikatan gaun zamrud gadis itu hingga bahunya terekspos sempurna. "Aku akan memastikan seluruh tubuhmu, rahimmu, dan jiwamu terisi penuh oleh keberadaanku... sampai kau tidak akan pernah bisa melirik pria lain lagi."
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊