Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Kekasih Gelap
Aura membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang telah menidurinya, ternyata adalah CEO Gorge Group!
Darrel juga tampak terkejut. Ia menatap Aura dengan pandangan tak percaya. Wajah wanita di depannya persis seperti wanita yang ada di tempat tidurnya semalam, namun tatapan mata, cara bicara, dan aura kepribadiannya 180 derajat berbeda.
"Aura Clarissa..." gumam Darrel lirih, teringat kartu nama di sakunya.
Aura tersenyum ramah, mencoba menyembunyikan keterkejutannya. "Selamat malam, Pak Darrel. Saya Aura Clarissa, penulis buku ini," ujarnya sopan, mengulurkan tangannya.
Darrel menyambut uluran tangan Aura. Tangannya terasa hangat, namun tatapannya tajam, seolah berusaha menembus pertahanan Aura.
"Senang bertemu denganmu, Aura. Saya sangat menyukai novelmu," ujar Darrel datar, namun suaranya terdengar intim.
Jantung Aura berdebar ketakutan. Ia merasa Darrel menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, seolah ia tahu rahasia besarnya.
Di tengah ketegangan itu, Daffa Gorge mendekat, bersama istrinya, Sofie. Hanya beberapa langkah lagi menuju tempat berdirinya Aura, namun Daffa lebih dulu berhenti tepat di samping Aura, lelaki itu nampak terkejut setengah mati saat melihat wajah Aura. Wajah itu... wajah yang sama dengan wanita simpanannya!
7 hari yang lalu...
Klik...
Pintu apartemen itu terbuka, seorang wanita dengan balutan dress hitam melangkah masuk, tubuhnya terasa ringan seperti kapas setelah ia meneguk satu botol whiskey di kelab malam tadi.
Ia berdiri sambil menahan tubuhnya di sisi tembok agar tak terjatuh. Ia berhenti melangkah saat melihat kepulan asap samar dari kegelapan, berkali-kali ia mengusap matanya, pandangannya tak salah. Didepan dia melihat seorang lelaki duduk sambil menyilangkan kakinya, hembusan asap rokok mengepul menutupi wajahnya.
Perempuan itu mendekat sambil meraba-raba mencoba mencari saklar lampu karena ruangan yang sedikit gelap.
"Clara... Kamu terlambat" suara itu lebih dulu membuat lututnya goyah.
"D...Daffa.." ujar Clara sambil berusaha untuk berbalik arah menuju pintu keluar.
Namun tangan lelaki itu lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya dengan erat.
"Berapa kali saya bilang, jangan menghindar dari saya dimanapun itu!" suara Daffa sengaja ditekan agar membuat sang perempuan takut. Cengkraman tangannya di pergelangan tangan Clara dibuat makin kuat.
"I...iya, aku gak akan menghindari kamu. Tapi aku sudah lelah bersembunyi selama ini" suara Clara bergetar, ada sesuatu yang hendak meledak saat itu. Kesadarannya mendadak normal kembali.
Daffa melepaskan cengkramannya. Di berdiri, sedangkan Clara masih duduk di lantai sambil memeluk lututnya, dia menangis.
Lelaki itu sedikit menundukkan badannya "Kamu tetap menjadi kekasih saya, sampai kapanpun" bisiknya kepada Clara yang membuat perempuan itu menangis lebih keras.
Daffa bereaksi, dia membopong tubuh Clara ala bridal style dan membantingnya diatas kasur. Jelas Clara merangkak mundur, berusaha menghindar, hingga tubuhnya terpojok menabrak sandaran kasur, isakan tangisnya belum usai bahkan semakin parah.
"Aku ingin menerkammu malam ini, sayang" suara serak Daffa mulai membuat Clara merinding.
Awalnya ia sangat bahagia menjadi kekasih dari seorang pengusaha kaya, berwajah tampan dan sangat royal. Namun, ia harus terus bersembunyi agar orang-orang tak pernah tau tentang dirinya, tentang status Clara yang sebenarnya adalah wanita simpanan.
"Daffa... STOP!" teriak Clara dalam tangisnya.
Daffa tak mau berhenti, dia meraih wajah Clara, menciumnya kasar, beberapa pukulan yang perempuan itu lakukan kepada lelaki bertubuh atletis didepannya tak mempan sama sekali. Tak menyurutkan aksi gila Daffa ketika sedang emosi.
Seminggu kemudian, mereka bertemu lagi setelah kejadian yang membuat Clara menangis hingga pagi. Dan panggilan telepon Daffa yang tidak Clara angkat beberapa hari yang lalu, siapa sangka justru yang bertemu dengan Daffa saat ini bukanlah Clara, melainkan Aura.